
Pak Diran sedang berkomunikasi dengan kunti yang ada di atas pohon beringin, kunti dan teman-temannya yang mengerikan itu melihat kami dengan tatapan mengerikan.
Pak Diran sedang berkomunikasi sembari membakar kemenyan yang dia taruh tepat di bawah pohon beringin, bau kemenyan wangi yang merupakan kesukaan makhluk seperti itu.
Mereka yang ada di pohon itu sedang menikmati asap yang keluar dari tungku perapian kecil yang dibawa pak Diran, tiap asap yang keluar dari tungku itu mereka hisap seperti sedang menikmati sesuatu yang sangat enak.
Aku tau kunti itu senang dengan apa yang pak Diran lakukan, tetapi wajahnya itu lho, tetap mengerikan, meskipun aku tau dia senang dengan pemberian pak Diran, tapi wajahnya tetap kaku dan matanya itu tetap melotot, apa tidak capek ya tetap melotot seperti itu.
Tidak hanya kunti itu saja yang menikmati dan mendekati asap kemenyan, kerabat kunti yang lainya macam poci yang melayang, ada lagi yang penuh bulu dan hitam mas Gerderuwo dan yang kecil-kecil lainya.
Hanya itu yang bisa aku lihat, aku tidak bisa melihat mahluk yang lainnya.
“Jadi intinya pak Diran ingin mengajak kerjasama kunti dan penghuni disini untuk mengusir yang ditaruh Watuadem disini Koh” kata pak Hendrik kepada pak Jay
“Tapi lebih baik pak Diran saya yang menjelaskan ke pak Jay apa yang pak Diran bicarakan dengan kunti itu” lanjut pak Hendrik
“Jadi begini pak Jay….” pak Diran mulai memberi tahu kepada pak Jay tentang apa yang dibicarakan oleh Kunti itu
“Ternyata penghuni pohon ini juga tidak suka dengan apa yang ditaruh Watuadem disini pak Jay, dan ternyata yang ada di pohon ini bukan penyuka darah seperti yang sekarang ada di kamar tiga, sembilan, dan sepuluh….”
“Yang ada di pohon ini berbeda dengan mereka yang masih ada disana menghirup aroma darah yang masih menempel di lantai dan tembok kamar ” kata pak Diran
“Bukanya semua mahluk halus suka dengan darah dan semacamnya pak Diran?” tanya pak Jay
“Tidak semua pak Jay… tidak semua suka dengan darah, yang ada disini lebih suka dengan bau wangi dari kemenyan atau bisa juga dari dupa atau bau wangi bunga bungaan… saat ini mereka berkumpul sambil menghisap asap kemenyan yang sedang saya bakar ini pak” jawab pak Diran
__ADS_1
“Pembicaraan saya tadi adalah untuk meminta bantuan mereka yang ada disini untuk membantu saya dan pak Hendrik dalam upaya mengusir iblis-iblis yang berkeliaran disini”
“Kalau seumpama masih belum bisa, terpaksa kita harus cari rumah tinggal si watuadem….di rumahnya pasti ada semacam kamar yang dia gunakan untuk melakukan ritual, dan disana pasti ada sesuatu yang digunakan untuk mengekang ibli-iblis itu, sehingga iblis itu mau saja menjadi suruhan Watuadem”
“Lho bukannya mereka ini adalah hanya suruhan Watuadem saja?” tanya pak Jay
“Mereka ini hasil dari pencarian Watuadem pak… dan mereka dikurung, dikekang, sehingga mereka tidak bisa lepas dari Watuadem….”
“Mereka menjadi prajurit Watu… mereka yang awalnya tidak sejahat ini dan tidak doyan darah, tetapi setelah mendapatkan darah dari korban Watu maka mereka menjadi iblis yang mengerikan”
“Mereka ini sebenarnya mahluk bebas, hanya saja mereka sudah dikurung oleh Watu, dan diberi makan darah, maka mereka akan terus meminta darah”
“Tetapi kalau kita bebaskan mereka, maka lambat laun mereka akan berubah seperti semula lagi pak. Nah kalau usaha saya dan pak Hendrik ini tidak berhasil, maka kita harus cari tempat tinggal Watu, dan membakar semua apa yang ada di dalam kamar ritualnya pak” kata pak Diran
“Tapi kayaknya kita harus tetap mencari rumah Watu pak, saya pesimis bisa membersihkan hotel ini tanpa membakar tempat ritual Watu terlebih dahulu”
“Untuk saat ini saya sedang tanya-tanya kemungkinan untuk membakar mereka pak, hanya saja sulit untuk mengumpulkan mereka yang begitu banyak di satu tempat dan membakar mereka dalam waktu yang tidak sebentar, karena menurut kunti ini, mereka ini mereka gesit dan dengan cepat bisa meloloskan diri” kata pak Diran
“Lalu apa yang harus kita lakukan pak Diran?” tanya pak Jay
“Tetap cari rumah Watu, dan masuk ke kamar tempat dia ritual, disna yang kita bakar, nanti yan ada disini akan kebingungan, dan pada saat itu kita bisa kumpulkan mereka dalam satu tempat untuk kita bakar pak”
“Kita tidak bisa meminta bantuan leluhur bu Tina, karena urusan mereka jauh lebih berat dari pada yang sekarang kita hadapi ini pak” kata pak Diran
“Jadi bagaimana untuk hotel ini pak Diran?”
__ADS_1
“Sementara ini biarkan seperti ini dulu, karena penghuni pohon ini yang akan menjaga hotel ini. Selama belum ada tamu yang ada disini, iblis iblis itu tidak akan melakukan kejahatan”
“Mereka iblis itu tidak akan bisa keluar dari sini, mereka itu terkurung disini karena pagar ghaib yang dibuat oleh leluhur bu Tina”
“Mereka bisa masuk ke sini karena ada yang membawa… kalau tidak ada yang membawa mereka tidak bisa masuk ke sini, dan yang bawa kesini hingga dua kali itu ya teman bapak yang sudah mati itu” kata pak Diran
“Tugas dari iblis yang ada disini sesuai dengan perintah dari Watu disini adalah hanya membunuh tamu yang ada disini” kata pak Diran lagi
“Koh Jay… lu tau kan rumahe Watu ndek mana, nek tau kita ke sana ntik pagi, secepete ae bok lama lama Koh” kata pak Hendrik
“Gua tau Koh Hendrik, coba ntik tak tilpune anak buahku, tak suruh pantau rumahe Watu dulu sebelum kita ke sana, takute rumahe wis kosong Koh” kata pak Jay
“Eh pak Jay… eh menurut Tina ada baiknya kita cek rumahnya pak Solikin dulu pak, karena saya kok curiga, Watu itu ada hubungan dengan Solikin, atau bisa saja Watu itu adalah Solikin sendiri pak”
“Menurut Tina, ada baiknya pak jay juga cek email, siapa tau pak Burhan sudah email wajah Solikin” kata mbak Tina
Setelah selesai dengan diskusi, kami pergi dari area hotel, pak Diran juga menambah bakaran kemenyan untuk penghuni pohon beringin sebagai hadiah karena mereka sudah membantu kami.
Tidak ada yang aneh setelah ini, kami pergi dari area hotel menuju ke tempat menyembunyikan sepeda motor. Tapi ada yang aneh di sekitar hotel, kenapa tadi waktu Watu teriak minta tolong, polisi yang berjaga di depan sama sekali tidak ada yang masuk ke dalam hotel untuk mencari sumber suara itu.
Bisa juga mereka takut untuk masuk ke area dalam hotel, apalagi di bagian belakang tempat terjadinya pembunuhan.
“Eh mas Agus… nanti ketika lewat rumah Solikin perlambat laju motornya ya, Tina pingin lihat rumah Solikin dulu mas”
“Iya mbak, saya juga kepingin tau keadaan rumah Solikin setelah tenggelamnya Watu”
__ADS_1
Tiga motor melaju dari sisi sungai menuju ke desa sebelah sungai, kami berjalan beriringan, paling depan aku dan mbak Tina, kemudian motor pak Jay bersama pak Hendrik, dan yang paling belakang adalah pak Diran bersama Jiang.
Ketika motor melewati rumah Solikin, ternyata lampu minyak rumah itu sudah padam, rumah itu dalam keadaan gelap, kecuali salah satu jendela yang terlihat dari luar…. Ada cahaya yang sangat redup, dan kemungkinan besar itu adalah cahaya lilin atau lampu teplok yang apinya dikecilkan.