
Aku dan mbak Tina ada di ruang dokter bersama dokter Joko, untung pagi ini dia ada di ruang dokter, sehingga aku dan mbak Tina tidak usah sungkan cerita tentang pak Pangat dan yang terjadi di hotel Singgasana adem ayem.
Dokter Joko awalnya tidak percaya dengan yang pak Pangat lakukan, setelah mayatnya hilang dan sekarang menghantui hotel Singgasana adem ayem yang dulunya adalah rumah penggergajian.
“Jadi kalian masih terganggu oleh Pangat?” tanya dokter Joko
“Bukan terganggu dok, tapi pak Pangat yang mengganggu, dengan datang ke hotel dalam keadaan mayat yang amburadul”
“Mayat Pangat yang hilang itu hidup di hutan, dan dalam keadaan tersesat?” tanya dokter Joko
“Benar dok, hanya saja sekarang pak Pangat belum menampakan diri, karena saat ini dia sedang disesatkan oleh penduduk ghaib hutan… tapi dia pasti suatu saat akan menampakan diri juga dok”
“Hmm Pangat yang saya kira lebih baik dari pada Paijo…..”
“Tapi kami kesini bukan karena mayat pak pangat dok, kami kesini hanya ingin tau apakah jasad keluarga yang bunuh diri itu sudah diambil keluarganya atau belum?” tanya mbak Tina
“Begini mbak Tina… kami sudah berusaha menghubungi dengan mengirimkan surat kepada keluarga mereka yang ada di kota S , tapi sayangnya sampai sekarang belum ada yang datang kesini”
“Bahkan juga pihak kepolisian juga sudah mengirimkan surat pemanggilan untuk keluarganya yang ada di jawa tengah, tetapi sama saja, tidak ada yang datang ke sini” kata dokter Joko
“Eh maksudnya bagaimana dok, kan ada nomor telepon rumah atau nomor ponsel?”
“Tidak ada pak Agus… tidak ada nomor telepon dan ponsel, kami hanya mengirimkan surat resmi ke alamat yang ada pada KTP keluarga itu”
“Eh ada nomor telepon rumah sebenarnya… dari kepolisian sudah melacak alamat beserta nomor teleponnya, tetapi rumah itu dalam keadaan kosong dan nomor teleponnya sudah tidak aktif”
“Sik pak… kirim surat dari sini ke jawa tengah butuh berapa hari pak?” kata mbak Tina
“Heheh bukan kirim surat dari sini bu Tina, tapi rumah sakit ini kan juga ada kerjasama dengan rumah sakit yang ada di kota itu, nah rumah sakit yang ada disana itu kami suruh untuk membuat surat dan kemudian dikirim melalui kurir ke alamat yang ada di ktp”
“Begitu pula dengan pihak kepolisian juga begitu, tetapi sepertinya rumah yang sesuai ktp itu kosong” jawab dokter Joko
“Ah kok aneh sih pak, jadi belum ada keluarganya yang menghubungi rumah sakit ini atau kepolisian setempat?” kata mbak Tina
“Belum ada mbak… kan juga baru sehari, mungkin dari pihak kepolisian akan mengusut kasus ini lebih lanjut bu Tina”
“Tidak ada yang tanya ke RT atau RW gitu ta pak… kok hanya menyerah pada surat yang ditinggalkan di rumah itu saja pak?” tanya mbak Tina
“Sudah.. Dari kepolisian sudah mendatangi RT dan RW setempat, tetapi sayangnya tidak ada data yang valid tentang sanak keluarga yang lainya. Dan keluarga itu adalah keluarga yang tertutup” jawab dokter Joko
“Tapi ada sesuatu yang aneh dengan mayat mereka bertiga, dan saya masih meneliti lebih lanjut“ kata dokter Joko lagi dengan wajah yang sedang berpikir
Dokter Joko kelihatannya agak ragu menceritakan kejanggalan mayat keluarga Prabowo, dia diam dan terus berpikir. Tapi tidak lama kemudian dia bicara…
“Begini pak Agus dan bu Tina…. Saya sebagai orang lama di rumah sakit ini selalu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap mayat-mayat yang datang ke sini, baik meninggal dalam keadaan normal atau tidak normal”
“Sebenarnya saya ini bukan tenaga untuk urusan evakuasi mayat, hanya saja saya selalu punya keinginan untuk meneliti lebih lanjut kenapa kok sampai mati”
“Selain daripada itu saya kan juga mempelajari ilmu pengobatan ghaib seperti juga si Pangat. Nah dari situ saya selalu mempelajari mayat baik yang sudah lama mati maupun yang baru saja mati.
“Untuk mayat keluarga Prabowo ini ada yang janggal. Boleh percaya atau tidak ya pak Agus dan bu Tina…mayat yang sekarang ada di kamar mayat itu sebenarnya mati bukan karena bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya”
“Melainkan mati karena kehabisan nafas… otot pada paru-paru dua mayat itu membesar, eh…mayat anak dan istri pak Prabowo, seolah mereka sedang berusaha keras untuk bernafas ketika mereka berdua sedang sekarat”
“Jadi untuk ibu dan anak itu bukan mati bunuh diri dengan memutus urat nadi, tetapi mati dibunuh, kemudian secepatnya yang membunuh itu memotong urat nadi kedua ibu dan anak itu”
“Namun mayat pak Prabowo berbeda, otot paru dia normal, dia mati memang kehabisan darah dengan memotong urat nadi pergelangan tangannya”
“Lho dokter Joko melakukan otopsi?… mayat itu dokter Joko bedah?”
“Tentu saja tidak pak Agus… pembedahan mayat harus ada prosedurnya sendiri…untuk mengetahui kenapa dan apa yang terjadi pada mayat itu saya cukup lihat dan pegang tubuh mayat itu saja”
“Apakah dokter Joko sudah melaporkan ke kepolisian?”
“Hehehe tentu saja tidak pak… bagaimana mereka bisa percaya dengan apa yang saya lakukan hehehehe”
__ADS_1
“Informasi ini hanya untuk kalian berdua saja, dan tergantung pada kalian berdua mau percaya atau tidak. Kejadian ini masih dua harian, kemungkinan besar arwah masih ada dikamar mayat atau di kamar hotel. Coba bawa orang yang paham tentang persoalan seperti ini agar semua menjadi jelas”
*****
“Benar dengan yang dikatakan Jiang mas….”
“Iya mbak…dan yang membunuh itu pasti pak Prabowo, dan kemungkinan besar pak Owo membunuh karena dia dirasuki sesuatu yang haus darah… seperti yang dia bilang ketika dia ada di pinggir sungai itu”
“Tapi mas… kenapa pak Owo malah dirasuki… dan kenapa bisa masuk ke hotel itu?”
“Ingat kata pak cheng mbak…. Arwah jahat yang merupakan suruhan Fong itu bisa masuk ke dalam dengan bantuan tubuh seseorang”
“Jadi menurut asumsi saya mbak… ketika pak Owo menyalakan dupa untuk menyapa dan berkomunikasi, dia tidak merasa ada yang ikut dengan dia, dan masuk ke tubuhnya”
“Jadi roh jahat itu bersama pak owo berhasil masuk ke hotel, dan kemungkinan besar yang terjadi adalah tumbal nyawa seperti yang dia bilang sebelumnya kan mbak”
Penjelasan dokter Joko tadi menguatkan apa yang dikatakan pak Cheng dan pak Diran, jadi memang tetap ada ancaman dari seberang sungai yang pasti akan masuk dalam hotel.
Hanya saja yang tadi pak Diran bilang bahwa pertahanan ghaib hotel itu sudah berlubang… apakah dengan apa yang dibawa pak Owo itu menyebabkan pertahanan hotel itu berlubang?”
Dan bagaimana dengan si Watuadem yang pergi tanpa pesan sebelum membersihkan kamar nomor sepuluh itu, dan lalu bagaimana dengan jejak misterius yang hilang tiba-tiba. Dan bagaimana juga dengan mimpi mbak Tina yang aneh itu.
Aku yakin semua itu ada hubunganya….
“Sudah siang ini mbak… kita langsung balik ke hotel atau gimana mbak?”
“Langsung balik saja mas, kasihan Jiang dia mungkin butuh bantuan kita mas”
Aku dan mbak Tina dalam perjalanan menuju ke hotel, setelah tadi kami selesai dengan dokter Joko, dan mendapat keterangan yang mengejutkan yang membuat kami kaget bahwa ada pembunuhan di hotel Singgasana Adem Ayem.
“Mas… yang tadi dikatakan dokter Joko… apa mas Agus percaya?”
“Bisa iya bisa tidak mbak, tetapi saya tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya mbak, karena hal yang bersinggungan dengan hal ghaib bisa saja terjadi dengan tanpa alasan”
“Iya sih mas… Tina juga gak ada alasan untuk tidak percaya setelah apa yang kita lalui ini mas”
Perjalanan siang ini sama sekali tidak ada halangan untuk menuju ke hotel, tadi aku juga membelikan nasi bungkus untuk Jiang dan pak Yogi.
Kasihan mereka berdua berjag di hotel yang sepi dan kosong itu, apalagi baru juga sehari ada kematian disana.
Ketika motor memasuki parkiran hotel, ternyata spring bed, sprei dan selimut sudah tidak ada di lahan parkir, yang artinya barang-barang itu sudah diambil oleh anak buah pak Jay.
Setelah memarkir motor, aku dan mbak Tina masuk ke dalam ruang utama, dan disana ternyata ada Jiang dan pak Yogi-dalmu yang sedang duduk di sofa.
“Tempat tidurnya kapan diambil tadi Jiang” tanya mbak Tina
“Tadi pagi kira-kira satu jam setelah kalian pergi….”
“Eh ini ada nasi bungkus buat kamu dan pak Yogi Jiang” kata mbak Tina sambil menyerahkan satu tas kresek kepada mereka berdua.
“Eh pak Agus… tadi ada kejadian aneh ketika orang pak Jay mengambil tempat tidur yang banyak darahnya itu” kata pak Yogi-dalmu
“Ketika orang-orang pak Jay mengangkat tempat tidur itu, tiba tiba ada salah satu pintu di kamar-kamar belakang yang tertutup dengan sangat keras… eh mirip dibanting gitu pintunya pak”
“Hehehe mungkin kena angin itu pak Yog… yah kita berpikir positif saja disini pak, karena kalau berpikir negatif takutnya kita akan capek sendiri” aku berusaha menanamkan sesuatu yang tidak menakutkan kepada pak Yogi
Siang menjelang sore hari ada mobil box datang, ternyata mobil itu membawa spring bed plus beberapa sprei putih dan beberapa selimut baru.agar
Dan pada akhirnya siang menjelang sore hari ini aku harus membuka pintu kamar nomor sepuluh untuk memasukan spring bed yang baru.
Suasana muram dan sedikit seram aku rasakan ketika aku membuka pintu kamar nomor sepuluh…
Tapi untungnya tidak terjadi apapun ketika supir mobil box bersama seorang kernetnya menaruh spring bed baru itu. Bahkan aku sempat duduk di kursi dalam kamar nomor sepuluh ini.
“Mas… apa mas Agus gak merasa sedikit seram ketika masuk ke kamar itu untuk pertama kali setelah kita bersihkan?”
__ADS_1
“Hehehe perasaan itu tentu saja ada mbak, tapi yah kita berdoa saja, karena disini tempat kita kerja, dan disini juga pertahanan kita untuk melawan fong”
Tadi memang mbak Tina tidak ikut aku ketika mengantar masuk springbed ke dalam kamar sepuluh, mungkin ada baiknya juga mbak Tina tidak masuk ke sana, karena takutnya ada apa-apa dengan mbak Tina.
Sore hari menjelang senja pak Yogi pulang setelah penggantinya yaitu pak Diran datang.
Aku heran dengan satpam disini, harusnya ada tiga satpam, sehingga bisa ada pergantian shift, yang shift malam ganti menjadi pagi begitu sebaliknya, dan juga ada hari liburnya juga kan.
Tapi entah bagaimana menajemen disini, satpam hanya ada dua orang saja, tentu saja yang enak ya yang shift pagi macam pak yogi gitu. Gak koyok kalong ya yang shift malam macam pak Diran.
“Pak Agus, bu Tina dan Jiang…. Saya siang ini baru saja dari kediaman guru saya”
“Mengenai masalah di hotel ini semakin hari semakin mengkhawatirkan, dalam artian seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya bahwa sudah ada lubang kecil disini’
“Selain lubang kecil ada kamar yang sangat menarik perhatian demit-demit yang doyan darah, mereka akan tinggal di kamar itu selama bau darah masih menempel”
“Dan tentu saja lubang kecil itu lama kelamaan akan membesar juga apabila banyak energi negatif yang masuk ke sini”
“Kabar baiknya adalah untuk energi yang ada di seberang sungai hingga saat ini belum bisa masuk ke sini.. Sehingga siapapun atau leluhur mbak Tina masih punya kesempatan untuk menutup lubang itu”
Pak Diran diam sejenak sebelum bicara lagi, karena kayaknya akan ada perkataan yang lebih serius lagi setelah apa yang dia ucapkan tadi.
“Ada sebuah rahasia yang tidak pernah kalian ketahui disini, bahkan mbak Tina pun tidak akan diberitahu oleh leluhurnya… dan rahasia itu lah yang dikejar oleh penduduk seberang sungai”
“Selain mereka ingin menguasai tanah ini, mereka juga ingin menguasai rahasia itu, dan sayangnya guru saya tidak tau apa yang ada di tanah hotel ini”
“Lebih baik bu Tina dan pak Agus menanyakan kepada leluhur bu TIna tentang apa yang ada di bawah hotel ini dan bagaimana solusinya”
“Sik sebentar pak…. “ sela mbak Tina
“Kalau di bawah hotel ini ada sebuah rahasia yang dicari oleh penduduk seberang sungai, kenapa nggak dari dulu saja, ketika disini masih berupa rumah penggergajian”
“Bukanya dulu disini ada hantu yang bernama Fong, dan mas Agus juga beberapa kali dilihatian wujudnya, bahkan hantu itu bebas bergerak di rumah penggergajian ini kan?” tanya mbak Tina
“Tapi dulu itu belum ada bu Tina kan… ingat, bu Tina adalah keturunan terakhir dari penduduk ghaib disini yang masih hidup, dan bu Tina tau tidak apa artinya keturunan terakhir itu?”
“Keturunan terakhir adalah kunci…itu yang bisa saya katakan kepada bu Tina… ingat turunan terakhir adalah kunci”
“Apa dulu sebelum bu Tina kesini bu Tina pernah ditemui leluhur bu Tina?” tanya pak Diran
“Nggak pernah pak” jawab mbak Tina
“Nah berarti bu Tina ditemui penduduk asli dan leluhur itu ketika bu Tina menginjakan kaki disini kan?”
“Nah itu… setelah bu Tina kesini maka semua mulai terbuka, apa yang dicari Fong pun mulai kelihatan, dan itu mengkhawatirkan penduduk ghaib disini..”
“Hanya saja Fong belum bisa menguasai, karena perjuangan dari leluhur bu Tina dalam melindungi daerah ini”
“Bukan daerah ini….. Lebih tepatnya hotel ini, hanya area hotel ini yang menjadi incaran mereka”
“Eh pak Diran… eh info yang kami dapatkan kok beda ya dengan yang bapak dan pak Cheng katakan?”
“Begini pak Agus.. semua hal ghaib itu ada tingkatannya… apabila yang melihat itu tingkatnya hanya dasar saja, tentu saja tidak akan bisa melihat yang bagian paling dalam” jawab pak Diran
“Dan saya percaya kepada guru saya… karena dari beliau saya mendapatkan ilmu yang sangat berguna”
“Berbeda dengan pak Cheng, berbeda dengan saya, dan berbeda dengan guru saya…kami punya tingkatan dan keterbatasan”
“Jadi apa yang saya katakan ini dasarnya dari apa yang guru saya dalami hanya dalam waktu semalam saja”
Mbak Tina diam membisu.. Aku rasa pasti dia tidak mengira akan terjadi seperti ini dengan dia menginjakan kaki pertama kali di rumah penggergajian.
Sebetulnya aku juga bingung, karena ada beberapa gambaran tentang siapa itu mbak Tina, bahkan leluhurnya pun juga sedikit berbohong kepada mbak Tina tentang siapa dia dan kenapa dan mengapa….
Berbohong demi kebaikan dan secara diam-diam leluhur mbak Tina melakukan perlawanan dan perlindungan terhadap mbak Tina dan hotel ini.
__ADS_1