
Ide pak Pangat jelas gak masuk akal, tapi apabila hanya itu satu satunya cara ya apa boleh buat, karena memang kita harus lawan Inggrid.
Hanya saja bagaimana menaruh tubuh kita agar aman dan tidak ada yang mengganggu itu yang sulit, tadi aja waktu aku sedang diselamatkan pak Pangat, mas Agus sempat meninggalkan tubuh ku dan tubuh pak Pangat.
Jadi memang harus taruh tubuh ini di suatu tempat yang terlindung…
Hanya saja kenapa harus bertanya ke dokter Joko?
“Menurut sampeyan pak, apa yang akan kita lakukan?”
“Masuk ke dunianya mbak, kemudian kita cari Inggrid, musnahkan dan kembali ke dunia kita lagi”
“Apa hanya semudah itu saja pak?”
“Yang saya pikirkan ya hanya semudah itu mbak, karena saya sendiri belum pernah melakukanya”
“Lha tadi waktu bapak selamatkan saya itu, apa bukan di dalam dunianya Inggrid?”
“Bukan mbak… mbak Tina sedang ada di dalam permainannya, itu lebih sederhana daripada masuk ke dunianya dan melakukan sesuatu disana”
“Karena yang akan kita lawan bukan permainanya, tetapi si Inggrid dengan pasukannya mbak”
“Dan kita bertiga yang harus masuk ke sana pak, apakah bukan bapak sendiri yang harus melakukanya?” tanya mas Agus
“Seharusnya saya sendiri yang kesana mas, tetapi karena tadi malam kalian berdua sudah dalam keadaan kritis, dan memerlukan bantuan saya, maka dari itu saya pikir kita harus tetap bertiga untuk menyelesaikan masalah ini” jawab pak Pangat
“Ya sudah lah pak, kalau memang keadaannya harus seperti ini ya mau gimana lagi pak” kata mas Agus
“Besok pagi, saya akan ke rumah sakit, kalian lebih baik ikut bersama saya ke rumah sakit juga”
“Bantu saya bicara dengan Joko, karena dia kelihatannya sudah tidak mau lagi bantu saya”
“Bapak bapak kendaraan?” tanya mas Agus
“Bawa… saya sewa motor yang saya sembunyikan di balik pohon beringin juga…..”
*****
Pagi hari sebelum adzan subuh kami bertiga pergi meninggalkan rumah penggergajian.
Pak Pangat membawa sepeda motor sendiri, sedangkan aku tetep berboncengan dengan mas Agus
Sebenarnya aku dan mas Agus marah kepada pak Pangat yang dengan tega menyerahkan nyawa ku kepada Inggrid untuk ditukar dengan harta yang ada di kuburan.
Tetapi percuma juga mau marah, karena semua ini kan sudah kejadian….dan harus segera diselesaikan bersama sama.
Tidak ada lagi yang harus dibahas dan dibantah karena pak Pangat sendiri yang sudah memulai ini, dan penyelesaianya harus melibatkan aku dan mas Agus.
*****
Rumah sakit kota, rumah sakit dengan kenangan ketika aku dan mas Agus dikejar kejar anak buah Solikin, dan Wandi.
Aku penasaran dengan keadaan sepeda motorku yang pernah ada disini, sudah setahun lalu harusnya sudah disingkirkan dari lahan parkir rumah sakit ini hehehehe
Kami bertiga sudah ada di parkiran sepeda motor, dan ternyata motorku sudah tidak ada disana, entah sudah dibawa atau sudah disingkirkan dari sana.
“Kita langsung saja ke belakang, biasanya Joko ada disana”
“Apa kita tidak perlu menghindar dari dokter Joko? Dia kan belum tau kalau kita sekarang sudah muncul lagi pak?” tanya mas Agus
“Gak perlu mas…saya yang akan bicara dengan Joko, kalian tenang saja dan bantu saya bicara dengan dia saja”
Rumah sakit kota… pagi ini sekitar pukul 06.00 keadaanya masih sepi, bahkan pos jaga satpamnya pun masih kosong.
Hanya ada beberapa orang penunggu pasien rawat inap saja yang berseliweran di sekitar rumah sakit, entah sedang mencari sarapan atau aktivitas merokok di halaman rumah sakit.
Kami bertiga menuju ke bagian belakang rumah sakit, di bagian UGD. Karena memang dokter Joko biasanya jaga di bagian UGD.
Keadaan masih sangat sepi ketika kami bertiga sekarang sudah ada di belakang rumah sakit.
“Kalian tunggu dulu disini, saya akan masuk dan cari Joko di dalam ruang UGD dulu”
Pak Pangat masuk ke dalam ruang UGD yang sepi untuk pagi ini…
__ADS_1
Mas Agus dari tadi hanya diam saja mungkin dia merasa ada sesuatu yang sedang mengganjal pikirannya.
“Kenapa kok diam saja mas?”
“Nggak tau mbak Tina, saya rasa kita sekarang ada di masalah yang semakin tidak jelas, beda dengan masalah kita bersama para pengedar narkoba”
“Semua jelas, dan ada pihak kepolisian yang akhirnya bisa menyelesaikannya, tetapi yang ini beda sekali mbak… tidak ada polisi di alam ghaib heheheh”
“Tina juga khawatir mas, karena yang kita lawan ini kan bukan manusia, dan dia punya koloni besar disana, apakah kita yang bertiga ini akan mampu melawan Inggrid”
“Bukanya mbak Tina akan dibantu oleh leluhurnya mbak Tina?
“Harusnya begitu mas, tetapi kemarin waktu Tina ada di dalam permainan Inggrid, tidak ada yang membantu Tina sama sekali”
“Atau bisa saja karena keadaan Tina yang tidak terlalu berbahaya ya , sehingga leluhur Tina belum merasa perlu untuk membantu Tina”
“Ya mungkin bisa saja itu alasannya mbak, mungkin leluhurnya mbak Tina merasa akan ada yang membantu mbak Tina untuk pergi dari permainan Inggrid itu mbak”
Ketika kami sedang ngobrol. Pak Pangat dan dokter Joko keluar dari ruangan UGD…. mereka berdua berjalan menuju ke arah kami berdua.
Mata dokter Joko tidak pernah lepas melihat kami berdua, mungkin dia merasa heran dengan kedatangan aku dan mas Agus disini.
“Kita bicara di kamar mayat saja, jangan disini….” kata Dokter Joko
“Disana lebih aman, jam segini penjaganya biasanya sedang tidak ada disana, kalau disini takutnya ada yang akan mendengarkan pembicaraan kita” lanjut dokter Joko.
Kamar mayat rumah sakit ini sebenarnya amat jarang berisi mayat, karena di kota kecil ini jarang ada yang menitipkan mayat keluarganya di kamar mayat.
Kecuali apabila ada korban tabrakan yang dibawa ke rumah sakit ini sembari menunggu keluarganya untuk menjemput, atau bisa saja apabila ada mayat yang gak jelas tanpa ada identitas sama sekali.
Kami berempat sudah ada di depan ruangan kamar mayat, ruangan kamar mayat ini letaknya di ujung belakang rumah sakit, dan dibatasi oleh tanaman dan pohon, agar tidak terlihat oleh pasien yang ada di UGD.
Kami masuk ke area ruang tunggu kamar mayat, yang letaknya di depan di depan kamar mayat.. Disini ada kursi-kursi yang berjajar.
“Kita disini saja ngobrolnya” kata dokter Joko
“Silahkan duduk.. Pangat, kamu gak perlu ceritakan lagi apa yang terjadi, karena saya bisa menebak kalau kalian pasti sedang dalam kesulitan, tapi ceritakan apa tujuan kalian kesini”
“Gini Jok… kami akan melakukan ngeraga sukma untuk melawan ghaib yang nantinya akan berbahaya bagi penduduk sini apabila dibiarkan saja”
“Iya benar Jok.. semua memang salah saya, tapi saya akan menebusnya dengan melawan mereka” kata pak Pangat
“Kamu akan ajak mereka berdua untuk membantumu Ngat?”
“Iya Jok, saya akan ajak mereka berdua…”
“Hehehe hebat kamu Ngat, sudah bikin masalah dengan kedua orang ini, sekarang kamu minta bantuan mas dan mbak Ini untuk menyelesaikan sampah yang sudah kamu buat Ngat”
“Ya sudahlah Ngat, semoga kalian bisa menyelesaikan semuanya….sekarang tentang tubuh kalian bertiga, apa yang akan kalian lakukan dengan tubuh kalian bertiga?”
“Ya ini masalahnya Jok… saya butuh orang yang bisa menjaga tubuh kami ketika ruh kami sedang tidak ada di dalam tubuh kami”
“Terus maumu bagaimana Ngat?” tanya dokter Joko
“Maksud saya, apakah kamu ada ide untuk ini Jok, mengingat saya kesulitan mencari tempat yang aman bagi tiga tubuh ini untuk menunggu ruh kami datang lagi?”
“Hehehe taruh saja tubuh kalian disini Ngat… selama kamar mayat ini kosong, kalian bisa gunakan untuk menaruh tubuh kalian disini”
“Waduh…lalu yang jaga siapa Jok?”
“Tenang saja Ngat, ada saya kan, nanti akan saya kasih tau penjaga kamar mayat, tapi ya tolong kasih uang penjaga kamar mayat ini, agar kalian tidak khawatir dengan keadaan tubuh yang kalian tinggalkan itu”
“Rencananya kapan kamu akan lakukan ngerga sukmanya, dan bagaimana dengan mbak dan mas ini, tentu saja mereka kan tidak mungkin bisa melakukan seperti kamu Ngat?”
“Tenang saja Jok, akan saya aturnya nanti, yang penting kami sudah ada tempat untuk menitipkan tubuh kami”
“Mungkin nanti malam akan kami lakukan Jok, tapi gimana.. Kami kan harus lakukan di mana tubuh kami berada Jok”
“Heheheh ya nanti malam kalian datang kesini, kalian tidur saja di brankar kamar mayat, nanti setelahnya biar saya yang urus” kata dokter Joko
“Dokter Joko… saya boleh nitip ransel ini?” kata mas Agus
“Wah ransel yang sangat besar hehehe nanti akan saya bawa pulang saja, gak mungkin kalau harus dititipkan disini, eh tapi apakah ada barang berharganya atau tidak didalam ransel ini?”
__ADS_1
“Ada pak.. Ada uang yang kami gunakan untuk hidup dalam keadaan pelarian semacam ini pak hehehehe” jawab mas Agus
“Hmm kalau begitu kalian masukan ke bank dulu saja uangnya”
“Waduh hehehe saya tidak punya rekening bank pak”
“Kalau begitu saya amankan , saya masukan ke rekening bank saya saja gimana, agar saya jaga kalian tidak was was dengan uang kalian”
“Ya sudah pak… ndak papa kalau begitu…”
Setelah urusan dengan masalah penitipan raga, uang, dan tas ransel selesai….untuk menghabiskan waktu, kami menuju ke rumah penggergajian lagi, kami akan menuju ke makam Inggrid yang ada di seberang sungai.
Pagi menjelang siang hari, kami sudah ada di belakang rumah penggergajian….
Keadaan disini memang enak kalau pagi siang dan sore.. Karena akibat dari rindangnya pohon beringin yang ada disini.
“Kalian lihat di seberang sana…” kata pak Pangat
“Mulai dari jembatan disana itu, sampai ke makam Inggrid adalah tempat tinggal atau lebih tepatnya adalah koloni, dimana penguasanya adalah sepasang suami istri orang tua Inggrid”
Sedangkan disini, di sekitar hutan, kalau dilihat dengan menggunakan mata batin adalah sebuah perkampungan yang luas, perkampungan yang dihuni oleh makhluk ghaib yang merupakan leluhur mbak Tina”
“Sedangkan rumah penggergajian ini…. Tanah yang ada di bawah rumah ini adalah daerah netral, daerah aman. Karena jaman dulu rumah ini adalah pos pribumi yang digunakan untuk menaruh mayat yang dibuang di sungai, sebelum kemudian dikuburkan”
“Nanti malam kita akan kesana”
“Tapi ingat… perjalanan dari rumah sakit hingga ke daerah ini pasti akan berbahaya, karena kita akan menempuh jalan yang berbeda dengan saat ini, bisa saja nanti kita akan mampir ke desa tengah hutan yang hilang itu”
“Mungkin bahkan bisa saja nanti mbak Tina akan bertemu dengan leluhur-leluhurnya mbak Tina juga”
“Karena kita nanti ada di alam yang berbeda dengan alam kita sekarang”
“Kalian tau bagian sungai yang dalam itu, nanti kalian akan kaget apa sebenarnya bagian itu…”
“Ayo sekarang kita balik ke rumah saya dulu saja untuk melakukan beberapa persiapan, juga saya akan beritahu istri saya tentang apa yang akan kita lakukan nanti malam”
“Pak… apakah istri bapak tau apa yang pak Pangat lakukan dengan mencari harta itu?” tanya mas Agus tiba-tiba
“Hufff, sayangnya tidak mas….istri saya sama sekali tidak tau apa yang sedang saya lakukan dengan kalian berdua”
“Yang dia tau hanya kalian ini sedang dalam kekuasaan mahluk halus saja, bukan akibat dari saya yang melakukan perjanjian dengan Inggrid”
“Apakah saya perlu memberitahu istri saya mas?”
“Yah itu terserah pak Pangat saja, saya tidak bisa memberikan masukan, karena yang tau bagaimana kondisi istrinya pak Pangat kan ya hanya pak Pak Pangat sendiri”
“Jangan sepelekan seorang istri pak… beritahu dia” aku mulai muak dengan pak Pangat yang sepertinya tidak terbuka kepada istrinya tentang apa yang sedang dia lakukan
“Jangan biarkan istrimu kamu bohongi seperti ini pak, sekarang kita balik ke rumah pak Pangat, dan ceritakan apa yang menyebabkan semua ini terjadi”
“Doa istri kepada suaminya itu mujarab pak… jangan meremehkan kaum perempuan” aku benar-benar jengkel dengan pak Pangat
*****
Perjalanan pulang ke rumah pak Pangat setelah semalaman aku dan mas Agus mengalami kejadian yang mengerikan, kami tiba di rumah pak Pangat pada siang hari.
Rumah yang letaknya di sebuah gang pinggir kota…
Saat ini aku dan mas Agus sedang ada di luar gang, di sebuah warung kopi. Pak Pangat menyuruh kami menunggu disini, karena dia akan terus terang kepada istrinya tentang apa yang dia lakukan ini.
“Mas… kira-kira apa yang akan kita lakukan ketika kita ada di alam sana mas?”
“Saya kurang tau mbak, mungkin saja kita akan cari Inggrid dan kedua orang tuanya, kemudian dibunuh pak Pangat, mungkin saja seperti itu mbak”
“Dan mungkin juga keadaanya seperti keadaan waktu kita ada di desa yang hilang itu mbak”
“Nah itu yang dari tadi Tina pikirkan mas…. Seandainya kita lakukan kekerasan disana, kemudian ada apa-apa dengan kita, lalu bagaimana mas, apa kita bisa kembali ke masa ini?”
‘’Yakinlah bisa mbak… kita tidak akan apa-apa disana, apalagi mbak Tina akan dibantu oleh mbah-mbahnya mbak Tina kan”
Aku nggak tau apa yang sedang dibicarakan pak Pangat kepada Istrinya, karena sudah hampir tiga puluh menit aku dan mas Agus ada di warung depan gang rumah pak Pangat.
Mungkin sekedar kata-kata permintaan maaf dan perpisahan karena suaminya akan melakukan perjalanan yang berbahaya.
__ADS_1
Keadaan ini sebenarnya sama juga dengan yang sedang aku dan mas Agus alami, harusnya kami juga pamit pamitan kepada keluarga hehehe.