
“Saya heran deh mbak….sebenarnya apa maunya orang yang mengikuti mbak Tina dan berusaha menemui mbak Tina”
“Dan orang itu dipanggil dengan nama Nyuk… yang bisa saja itu berarti Kunyuk kan mbak Tina”
“Iya mas Agus… apakah itu kunyuk yang bersama dengan mas Agus waktu itu mas?”
“Wah…saya tidak tau mbak, yang pasti sudah ada orang yang mendatangi rumah mbak TIna, dan semua ini gara-gara saya”
Sore hari menjelang senja….
kamar rumah sakit yang aku tempati ini masih saja kosong, hanya ada aku dan TIna saja.
Ataukah memang tidak ada orang yang rawat inap disini… atau memang orang sini kalau sakit tidak mau rawat Inap.
Ah buat apa kupikir terlalu keras, daripada kepalaku sakit lagi.
“Mas… nanti Tina mau tanya ke suster jaga, kalau memang sebelah tempat tidur mas Agus itu memang kosong, Tina nanti malam tidur di situ mas”
“Iya mbak, tanya saja dari pada tidur di lantai mbak. jugaan malam ini kita aman dari mereka yang sedang mencari saya mbak”
“Heheh bukan cuma mas Agus saja yang dicari, sekarang Tina juga lagi dicari hehehe… tapi Tina tidak merasa susah kok mas”
Suara adzan maghrib berkumandang di sekitar rumah sakit, kelihatannya di sekitar sini ada masjid yang lumayan besar juga.
Tina sudah menyiapkan alat sholatnya, tetapi tentu saja dia akan sholat sendiri, yah karena keadaanku yang belum sembuh ini.
Selesai Tina sholat, pintu kamar terbuka, seorang suster masuk ke dalam dengan membawa alat tensi seperti biasanya.
Seperti biasanya pemeriksaan rutin yang dilakukan oleh suster apabila kita sedang rawat inap.
Setelah suster itu pergi, sekarang gantian petugas yang membawa makan malam untuk aku datang.
“Tina suapin sini mas….”
“Menu hari ini hanya telor rebus dengan bumbu semacam kare dan sayur sop mas”
“Ndak papa mbak, yang penting dapat makan dan dapat tempat untuk tinggal hehehe”
“Ih mas Agus ini ada ada saja”
“Eh mbak Tina sudah tanya susternya… apakah tempat tidur sebelah itu kosong?”
“Nantu Tina akan tanyakan mas, yang penting sekarang mas Agus makan malam dulu”
“Nanti Tina tanyakan suster jaga… sekalian Tina mau beli nasi goreng yang di depan rumah sakit itu “
Kamar rumah sakit ini sebenarnya nyaman juga dengan satu kipas angin yang letaknya di atas, hanya saja satu yang aku rasa aneh itu peneranganya.
Lampu kamar rumah sakit ini menggunakan lampu dop yang sinarnya berwarna kuning kecoklatan.
Memang sih dop itu cukup terang juga… tetapi bila dibandingkan ruangan kamar yang bisa menampung empat tempat tidur ini tentu saja cahaya lampu ini sangat kurang.
Tapi bagi aku yang sudah terbiasa di rumah penggergajian dengan menggunakan lampu minyak, aku rasa cahaya lampu ini lebih dari cukup.
“Mas…Tina pergi dulu cari makan dan tanya ke suster jaga ya….”
“Iya mbak Tina…”
Untungnya setelah seharian aku ada disini mataku sekarang berangsur angsur mulai pulih, aku sekarang sudah bisa melihat jarum jam yang ada di dinding.
Hmm sekarang baru pukul 19.40…
Bosan juga ada di kamar sendirian gini, tapi mau gimana lagi..
Karena suasana yang sepi dan angin dari kipas angin yang ada di dinding atas,... perlahan lahan aku menjadi ngantuk
Ndak terasa aku memejamkan mata…
Aku mencari posisi tidur yang enak.. agar bisa lelap, dan akhirnya aku bisa nyaman dengan menghadap ke arah tembok sebelahku…
Tapi aku belum benar-benar tidur… karena aku dengar pintu kamarku terbuka kemudian tertutup lagi.
“Paling itu Tina yang datang….” gumamku
Aku tidak berusaha bangun karena memang rasa kantuk ku mengalahkan mataku yang ingin kubuka.
Tapi tidak ada suara Tina. aku juga tidak mendengarkan sapaan Tina.
Mungkin dia tau kalau aku sedang tidur, sehingga dia tidak mau membangunkanku.
Samar-samar aku dengar seseorang naik ke tempat tidur sampingku….
Bukan..bukan..kalau dari suaranya bukan tepat di sampingku, tetapi di tempat tidur yang agak diujung sana.
“Ya sudah lah…”
Tina pasti juga tidur, karena dia mungkin capek setelah seharian ini mengurusi aku..
Kulanjutkan tidur sajalah…biarlah Tina tidur di tempat tidur sebelahku.
baru saja aku merasa dalam keadaan tidur, tiba-tiba pintu kamar terbuka…
“Assalamualaikum mas….”
“Waalaikumsalam mbak…. lho mbak Tina dari mana lagi?”
“Lho tadi Tina kan udah pamit sama mas Agus, Tina beli makan dan cari suster jaga untuk tanya apakah ada yang akan menempati tempat tidur sebelah”
“Lho… tadi perasaan ada yang masuk kesini dan kemudian tidur di sebelah saya mbak”
“Apa mas Agus tadi liat siapa yang tidur di sebelah itu mas?”
__ADS_1
“Ndak mbak, saya dalam keadaan setengah tidur”
“Hehehe.. berarti tadi itu mas Agus sudah setengah mimpi mas…”
“Sudahlah, mas Agus lanjutkan tidur dulu saja, Tina mau makan dulu mas”
“Aduuuhh masak tadi saya mimpi sih mbak, ah masa bodoh ah mbak”
“Mbak Tina beli makan malam apa?”
“Nasi goreng mas… mau?, sini Tina suapin kalau mau?”
“Nggak mbak.. saya agak ngantuk, tapi anehnya saya tidak bisa memejamkan mata mbak”
“Oh iya… tadi apa mbak Tina sudah tanya tentang tempat tidur sebelah saya itu?”
“Sudah mas…kamar ini kosong kok.. belum ada yang akan rawat inap disini mungkin sampai beberapa hari kedepan”
“Tadi kata suster yang jaga, Tina dibolehin tidur disini mas, tapi tidak boleh tidur di tempat tidur yang sebelah sana” tunjuk Tina pada tempat tidur yang nomor dua dari ujung
“Memangnya kenapa mbak?”
“Nggak tau mas, susternya ndak kasih alasan, dia hanya ngomong jangan tiduri tempat tidur yang nomor dua dari ujung sana”
“Mas Agus istirahat saja mas.. sudah jam sembilan lebih… semoga besok bisa pulih kesehatan mas Agus”
Aku jelas tidak bisa tidur…. tadi itu jelas sekali aku dengar ada yang buka pintu, kemudian tidur di salah satu tempat tidur yang ada disini.
Tapi kenapa Tina baru saja datang… lalu yang datang tadi itu siapa?
Sudahlah… benar Tina… aku mungkin tadi dalam keadaan mimpi.
TINA POV
Aku masih ingat apa yang dikatakan penjual nasi goreng yang mangkal di depan rumah sakit tadi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Pak.. saya beli nasi goreng satu bungkus ya pak”
“Iya bu….ibu jaga pasien di rumah sakit itu?” tanya penjual nasi goreng yang sedang kubeli
“Iya pak.. suami saya jadi korban tabrak lari di desa”
“Wah.. disana kok katanya sering terjadi tabrak lari ya bu. apa disana itu sepi keadaanya?” tanya penjual itu lagi
“Kalau malam sepi dan gelap pak”
“Rumah sakit ini sepi yang rawat inap ya pak?”
“Siapa bilang bu, kamar di rumah sakit ini selalu penuh, dan kalau terpaksa karena tidak ada kamar kosong, maka pasien biasanya akan ditaruh di kamar yang dibelakang”
“Itu kamar yang paling ujung, yang nomornya 12 itu”
“Kamar nomor 12 itu selalu kosong, dan kalau bisa memang dikosongkan, kecuali keadaan rumah sakit penuh baru kamar itu akan digunakan bu”
“Kenapa kok selalu dikosongkan pak?”
“Karena kamar itu dulunya adalah bekas ruangan untuk kamar mayat…”
“kemudian karena kamar mayatnya pindah di belakang, maka disana dibangun sebuah kamar untuk rawat inap bu”
“Memangnya pernah ada kejadian apa disana pak?”
“Macam macam gangguan bu. yang penting selalu berdoa dan ucapkan salam dimanapun kita berada bu hehehe”
“Suami ibu ada di kamar nomor berapa?”
“Di kamar 8 kok pak…” aku bohongi saja penjual nasi goreng yang banyak omong itu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Waduuuh, aku baru tau tadi dari penjual nasi goreng kalau kamar paling ujung yang aku dan mas Agus tempati ini angker.
Pantesan kamar ini kosong, sedangkan kamar yang lainya tadi aku intip penuh dengan orang yang sedang sakit.
Mangkanya tadi waktu aku masuk kamar, aku ucapkan salam… seharusnya salam itu untuk yang ada di dalam kamar ini heheheh, bukanya untuk mas Agus.
Apalagi letak kamar ini lumayan jauh dari tempat suster jaga yang ada di tengah-tengah sana.
Dan alhasih jarang ada suster yang berjalan ke arah sini!.
Tapi aku tidak akan bicara ke mas Agus apabila kamar ini adalah kamar yang mengerikan di rumah sakit ini.
*****
Mas Agus sudah mulai ngorok.. dia sudah tertidur, sedangkan aku masih cerah, tidak ada rasa kantuk sama sekali.
Aku ada di tempat tidur dengan mata menghadap ke langit langit kamar.
Kutoleh ke kiri, ada dua tempat tidur yang kosong, dan itu tentu saja nampak mengerikan bagiku.
“Lebih baik aku tutup saja gorden pemisahnya..”
Untungnya gorden pemisah tiap tempat tidur ini bisa menutup hingga lantai.
Kadang gorden seperti ini hanya menutup hanya dua puluh senti dari lantai, sehingga kadang kita masih bisa melihat orang yang sedang berjalan.
Gorden sudah kututup. tetapi masih ada rasa takut.. kulihat jam dinding di kamar sudah menunjukan pukul 22.30.
Suasana di luar kamar dan di dalam kamar ini sangat sepi, tidak ada suara apapun selai suara nafas dan suara dengkuran dari mas Agus.
__ADS_1
Ya.. suara nafas yang berasal dari hidungku dan suara dengkuran yang berasal dari mas Agus!
Malam berjalan dengan lambat, karena aku selalu melihat jam dinding kamar.
“Aduh…pagi kok ya masih lama sih.. ini masih jam 23.05”
Kadang ketika aku mulai ngantuk, ada saja suara langkah kaki sepatu suster berjalan santai, dan kadang juga suara langkah kaki suster yang berjalan cepat. seolah ada tindakan emergency yang harus mereka tangani.
Atau kadang ada suara bel, yang menandakan bahwa di salah satu kamar itu butuh bantuan.
Kulihat di atas kepala ada semacam tombol untuk memanggil suster, jadi aku rasa aku akan aman apabila ada sesuatu yang menakutkan.
Aku coba untuk memejamkan mata agar malam ini berakhir dengan cepat.
Pelan-pelan aku mulai ngantuk, aku merasakan rasa kantuk yang pelan-pelan mulai menyerangku… hingga akhirnya akupun tertidur!.....
Tiba-tiba aku terbangun… terus terang aku terganggu dengan suara mendengkurnya mas Agus…
Kalau di rumahku mas Agus biasa tidur di sofa, dan aku di kamar sehingga aku tidak terlalu terganggu dengan suara dengkurannya mas Agus.
“Sialan.. masih jam 24.10….”
Kulirik mas Agus yang sedang lelap… tapi ternyata mulut dia dalam keadaan tertutup. Orang mendengkur itu bisanya mulutnya dalam keadaan terbuka waktu tidur…
Tapi aku masih dengar suara dengkuran itu…
Aku berusaha mendengarkan suara dengkuran dan suara nafas…
Tapi suara dengkuran itu sekarang hilang…
Yang ada hanya suara nafasnya mas Agus saja.
Dan tentu saja sura nafasku juga terdengar olehku…
Tidak…. ketika lebih kuperjelas lagi….
Ternyata ada tiga suara nafas yang sahut menyahut…
Pertama adalah suara nafasku, kemudian ketika kuperhatikan dada mas Agus yang naik turun.. ternyata suara nafasnya juga terdengar teratur…
Tapi aku merasa dengar suara nafas lagi selain aku dan mas Agus, suara nafas selain suara nafasku dan suara nafasnya mas Agus.
“Yang ketiga itu suara nafas siapa……?”
Bulu kudukku mulai meremang, aku tidak berani menoleh ke kiri meskipun di sebelah kiriku dibatasi oleh gorden yang cukup tebal.
Apa mungkin tadi ada orang yang baru datang rawat inap, dan ditaruh di sebelahku, apakah itu alasannya bahwa aku tidak boleh tidur di tempat tidur itu?
Suara nafas itu masih ada, berselingan dengan suara nafasku dan suara nafasnya mas Agus…
Aku terus berpikir siapa yang ada di sebelahku ini, rasanya ada keinginan untuk membuka gorden yang membatasi tempat tidurku dan tempat tidur sebelahku.
Ketika aku sedang sibuk berandai andai… tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Langkah kaki seseorang yang menggunakan sepatu bersol keras pun masuk…
“Permisi.. mau periksa tensi dulu…”
Oh itu suster yang jaga malam, sebenarnya aneh juga, tengah malam gini kok ada pemeriksaan tekanan darah segala.
Tapi mungkin itu sudah prosedurnya….
Suster itu sekarang ada di sebelah tempat tidurku… suara pompa tensi terdengar hingga di telinga, setelah selesai dan mengucapkan terimakasih, sekarang pasti giliran mas Agus.
Jantungku deg deg an menanti kedatangan suster itu… biasanya aku tidak pernah deg deg an seperti ini.
“Permisi bu…mau periksa tensi bapak dulu” kata suster itu tiba-tiba sudah ada di depan ku sambil tersenyum
“Monggo sus….”
Seorang suster yang berwajah cantik dengan hidung mancung dan rambut yang sebahu tersenyum kepadaku.
Tapi pakaian yang dikenakan berbeda modelnya dengan yang biasa dikenakan suster disini.
Pakaian yang agak ketat dengan rok pendek di atas lutut serta topi suster yang agak berbeda bentuknya.
Dan yang pasti sepatu yang dia kenakan berbeda dengan yang dikenakan suster disini.
Sepatu model pantofel hitam dengan hak rendah tanpa kaos kaki yang menampakan indahnya kaki suster itu.
“Biar saya bangunkan suami saya sus…”
“Jangan bu..biarkan saja dia tidur… saya sudah terbiasa untuk melakukan pemeriksaan tekanan darah pada waktu pasien sedang tidur seperti ini”
Kuperhatikan suster itu… ternyata di cekatan dan penuh senyum, tidak ada gambaran cepek di wajahnya karena kerja shift malam.
Bahkan riasan di wajahnya yang tipis itu malah menampakan wajah suster itu yang segar.
“Suster kerja malam gini tapi wajahnya masih seger saja ya?”
“Iya bu…yang penting kita tetap kerja dengan lapang dada, dan jangan mengeluh apapun yang sedang terjadi”
“Sudah selesai bu, saya pamit dulu…. selamat malam”
Suster itu melangkah keluar dengan suara khas dari sepatunya yang berbahan sol agak keras, alias bukan berbahan karet.
Pintu kamar ditutup dengan pelan sehingga tidak mengganggu pasien yang sedang istirahat.
Tapi ada yang aneh dengan cara dia berjalan..
Cara berjalan suster itu kok sepertinya aneh. tidak ada gerakan di bahu seperti layaknya manusia yang sedang berjalan.
__ADS_1