RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
226. ADA PENYUSUP


__ADS_3

“Gak bisa pak Agus.. dia tidak mau bicara sama sekali, mungkin  dia tidak percaya sama saya. Lebih baik pak Diran saja yang ajak dia bicara pak”


“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya mbak Tina


“Kembali ke ruangan utama dan menunggu hingga pagi datang, setelah itu telepon pak Diran agar datang ke sini” kata Jiang


“Jangan Jiang, pak Diran malam nanti kan jaga malam… saya gak mau ganggu dia untuk datang ke sini”


“Kita tunggu orangnya pak Jay datang untuk ambil tempat tidur dan yang lainya itu saja”


“Ya sudahlah pak… lebih baik kita kembali ke ruang utama saja… saya kok agak merinding disini pak” kata Jiang


“Dan Ingat jangan menoleh ke kamar sepuluh….”


Aku coba untuk flashback ketika ketemu dengan pak Owo ketika dia menyalakan dupa di pasir pantai pinggir sungai. Ketika itu dia hanya bicara ingin menghormati dan menyapa lelembut yang ada di sekitar sungai.


Dan dia menyalakan dupa, dupa setahuku itu adalah kesenangan dari mahluk ghaib atau dedemit, sedangkan untuk menyapa dan menghormati kan tidak perlu ada dupa hingga beberapa batang yang dia nyalakan.


“Mas….. mas Agus kok melamun sih… ayo kita balik ke ruangan utama” kata mbak Tina


“Eh nggak  kok mbak… saya nggak melamun, saya hanya memikirkan apa yang sedang dilakukan pak prabowo ketika ada di pinggir sungai waktu itu… ayo kita balik ke ruangan utama.. Eh Jiang nyalakan sentermu, saya yang bawa lampu petromak”


Gelap dan harus melewati kamar nomor sepuluh yang pintunya tertutup… ketika akan melewati kamar itu perasaan untuk menoleh dan melihat kamar itu sangat besar.


Aku susah payah berusaha agar tidak melihat kamar nomor sepuluh yang keadaanya gelap gulita itu, tapi keinginan itu sangat kuat… aku berusaha untuk melihat kedepan tanpa menoleh sama sekali ke kiri….


“Aarrghh tolong jangan ganggu saya untuk melihat kamar ituuuuuu!!!!.. Saya capeeeek!!!!”


“Mas.. mas Agus ini kenapa sih?” tanya pak Tina


“Tenang pak Agus… ayo terus jalan lurus saja pak” kata Jiang


Nggak tau apa yang terjadi dengan diriku, sepertinya ada kekuatan yang super kuat untuk membelokan leher dan kepalaku agar melihat ke arah kamar sepuluh.


Aku harus menahan kepalaku agar tidak melihat ke kamar itu dan itu sangat sakit dan bikin leherku pegal, belum lagi berbagai bisikan agar aku menoleh ke samping kiri.


Jalanku menjadi terhuyung huyung akibat dari ketidak seimbangan yang ada di tubuhku…. Aku butun bantuan untuk menyangga tubuhku.


“Jiang tolong pegang saya…..” aku semakin terhuyung ke kiri dan ke kanan


“Bu Tina.. bawa senter saya, saya akan bantu pak Agus agar bisa berjalan sampai ke ruang utama”


Rasanya kepalaku penuh dan akan meledak… karena tiba-tiba rasa pusing yang amat sangat ketika kami melewati kamar nomor sepuluh.


Telingaku  berdengung dan kadang rasanya buntu, seperti kalau kita dari daerah pegunungan yang tinggi dan tiba-tiba turun ke dataran rendah…


Aduuuh kenapa pandanganku sekarang menjadi berkunang kunang dan agak kabur…. Jangan!, aku tidak boleh pingsan disini… aku harus kuat sampai ke ruangan utama


Kupejamkan mataku beberapa kali agar mataku  bisa kembali normal,  tapi tidak bisa.. Tetap kabur dan kadang berkunang kunang


Bau dupa… iyaaa  bau dupa wangi ketika tadi hampir melewati kamar sepuluh itu yang membuat kepalaku menjadi pusing luar biasa…. Entah apakah mbak Tina dan Jiang juga merasakan apa yang aku rasakan sekarang.


Jiang merangkulku dan menuntun hingga dekat dengan ruangan utama….


Semakin dekat dengan ruangan utama rasa sakit di kepalaku berangsur angsur hilang… hanya saja aku masih lemas untuk melangkah ke dalam ruang utama.


“Sedikit lagi sampai mas…. Ayo mas… sedikit lagi kita sampai di ruangan utama” samar suara mbak Tina yang menyemangati aku


“Bu Tina, tolong buka pintu ruangan utamanya dulu… “ samar suara Jiang menyuruh mbak Tina untuk membuka pintu ruangan utama


Aku tetap memejamkan mata hingga kemudian Jiang secara perlahan lahan mendudukan aku di sofa ruang utama di depan meja resepsionis.


Aku terhenyak dan entah apa yang terjadi… karena telingaku masih berdengung keras, meskipun sakit di kepalaku berangsur angsur berkurang.


“Bu Tina… hubungi pak Diran sekarang … saya rasa keadaan kita saat ini tidak baik baik saja, saya rasa sudah ada yang masuk ke wilayah ini bu”


“Mana tadi nomor telepon pak Diran Jiang….?”


“Itu di dekat buku besar itu bu…. Ayo cepat bu”

__ADS_1


Terserah mereka berdua mau menghubungi pak Diran atau apa…. Sekarang yang aku rasakan mual.. Perutku sangat mual.. Rasanya aku akan muntah…


Aku hrus minta tolong Jiang lagi untuk membawa ke kamar mandi, aku gak mau  muntah disini!


“Jiaaang tolong saya ke kamar mandi… saya mau muntah…..”


“Iya pak…. Mbak Tina cepat hubungi pak Diran ya… saya mau antar pak Agus ke kamar mandi dulu” kata suara Jiang kepada mbak Tina


Posisi kamar mandi di sini tetap ada di belakang… tidak berubah seperti ketika hotel ini masih berupa rumah penggergajian.


Jiang menuntunku ke kamar mandi yang sekarang sudah berubah menjadi mewah dan bersih, berbeda dengan kamar mandi ketika hotel ini masih berupa rumah penggergajian.


Setelah di kamar mandi, aku dengan suksesnya mengeluarkan isi perutku hingga kosong, hingga rasa mual itu hilang.


Entah bagaimana kemudian mbak Tina datang dan membawa minyak kayu putih yang dia gosokan di bagian perutku.


“Sudah pak Agus.....?”


“Kalau sudah enakan, ayo kita kembali ke duduk di sofa, dan istirahatkan tubuh pak Agus disana dulu, saya akan bikinkan teh hangat untuk pak Agus”


“Gimana bu Tina, apakah pak Diran sudah bisa dihubungi?”


“Sudah Jiang….. Dia akan berangkat kesini sebentar lagi”


“Ya sudah kalau begitu bu… tolong jaga pak Agus, saya akan buatkan teh untuk pak Agus dulu bu”


Aarrghhh sakit kepala ini muncul lagi, sebenarnya apa yang terjadi dengan ku, kenapa hanya aku saja yang terkena, kenapa mbak Tina dan Jiang hingga kini baik baik saja.


Apakah ini ada hubunganya dengan hal ghaib pak Prabowo.. Atau ada hal lain selain dari kematian pak Owo itu.


Kupejamkan terus mataku hingga kemudian Jiang membangunkan aku dan menyuruhku untuk meminum teh yang dia bikin.


“Pak Agus..ayo diminum dulu teh hangatnya… biar tubuhnya gak lemas pak” kata suara Jiang


Kuminum sedikit demi sedikit teh yang dibuat Jiang… dan tubuhku yang tadi dingin dan berkeringat sekarang menjadi hangat dan perutku pun menjadi sedikit lebih baik.


Apakah aku hanya masuk angin saja?


“Mas Agus tidur saja dulu… biar Tina dan Jiang yang jaga disini” kata suara mbak Tina


Aku hanya mengangguk saja, aku belum bisa membuka mata, karena tiap aku buka mata, yang kulihat semuanya berputar putar dan membuat aku semakin pusing dan mual saja.


Benar kata mbak Tina, lebih baik aku gunakan untuk tidur saja……


*****


“Saya setelah dari sini sore hari itu kepikiran dengan kalian bertiga… malam tadi pun saya tidak bisa tidur, saya menunggu salah satu dari kalian menelpon saya” samar-samar suara pak Diran aku dengar


“Kami sebenarnya ingin hubungi pak Diran, tapi dicegah oleh pak Agus” kata Jiang


“Pak Diran.. Tadi lihat posisi springbed, sprei dan selimut yang di parkiran tidak?” tanya mbak Tina


“iya … kenapa bu Tina?”


“Keadaanya bagaimana pak… apakah terlipat rapi dan ada di atas spring bed atau tidak?”


“Keadaanya tetap seperti sebelumnya bu… berantakan di samping tempat tidur itu…. Memangnya ada apa bu”


Mbak Tina menceritakan kepada pak Diran tentang spring bed, sprei , dan selimut yang tertata rapi di parkiran sebelum kami menuju ke belakang.


“Itu tipuan mata bu Tina…”


“Jadi pada intinya seperti yang tadi saya ceritakan ketika saya hilangkan demit yang ada di dalam tubuh pak Agus… Disini di area ini sudah ada lubang, eh maksud saya area ini sudah berlubang, tapi lubang itu kecil”


“Dari lubang itu masuk berbagai jenis makhluk halus yang sifatnya mengganggu, mereka masuk karena kamar sepuluh yang mengundang”


“Kamar sepuluh itu mirip mata pancing yang berumpan, dan menarik perhatian  demit iseng jahat untuk masuk ke sini, tetapi bukan dari golongan seberang sungai yang berenergi besar”


“Kamar sepuluh itu sangat lezat dan menggairahkan bagi demit yang doyan dengan darah dan kematian yang tidak wajar.

__ADS_1


“Sampai sekarang kamar sepuluh itu masih bau kematian dan bau darah, dan itu yang disukai oleh demit-demit jahat dan iseng, bisa saja mereka akan merubah bentuk menjadi siapapun yang kita pernah kenal”


“Tapi pak Diran.. Apakah Fong atau pak Pangat bisa masuk ke sini?” tanya mbak Tina


“Mereka belum bisa masuk ke sini, mereka bisa masuk apabila lubang itu makin besar, tapi dari lubang kecil ini mereka bisa merusaknya hingga menjadi lubang yang besar”


“Lubang kecil ini terjadi karena ada yang merusak dari dalam, kalau tidak dirusak dari dalam tidak akan bisa berlubang.


“Berarti dalam hal ini ada yang sudah masuk ke dalam sini… dan orang yang masuk itu sudah merusak pagar ghaib area ini”


“Apa itu yang dimaksud oleh kata-kata pak Cheng yang disampaikan oleh mbak Kunti itu pak?” tanya mbak Tina


“Bisa juga bu Tina… tapi kemungkinan kecil, karena lubang itu kecil dan mereka yang berenergi besar akan kesulitan masuk ke sini” jawab pak Diran


“Pak Diran… menurut saya pak Owo dan keluarganya itu dibunuh” sought Jiang tiba-tiba


“Bagaimana kamu bisa menebak itu Jiang… karena menurut saya memang keluarga itu dibunuh, dibunuh dalam arti ada yang menyuruh mereka untuk menghabisi dirinya sendiri” jawab pak Diran


“Saya hanya menebak saja pak… karena tidak mungkin satu keluarga melakukan ritual bunuh diri tanpa sebab”


“Pak Diraaan.. Bagaimana dengan jejak kaki misterius itu..”


Aku sudah mulai sadar sepenuhnya, kalau tadi aku hanya bisa mendengar mereka bicara, tetapi aku masih kesulitan untuk membuka mulut untuk berbicara. Tetapi sekarang aku sudah merasa lebih sehat.


“Ah pak Agus ternyata sudah siuman.. Bagaimana keadaan tubuh pak Agus?“ tanya pak Diran


“Jauh lebih baik pak.. Eh sekarang jam berapa?”


“Sudah hampir jam lima pagi mas….” jawab mbak Tina


“Tentang jejak yang hilang itu sampai sekarang masih  dalam pikiran saya pak Agus… saya belum bisa perkirakan jejak kaki siapa itu pak”


“Ya sudah.. Keadaan sudah membaik dan matahari sebentar lagi akan muncul, saya pulang dulu saja, karena nanti ada si Yogi yang akan jaga disini” kata pak Diran


“Pak tentang yang berlubang itu bagaimana pak?”


“Siang ini saya akan ke guru saya lagi pak Agus, saya mau tanya tentang keadaan yang ada disini, malam nanti kita ke belakang untuk bertanya ke mbak Kunti”


*****


“Waktu tadi pak Diran datang, mas Agus dalam keadaan pingsan. Kemudian pak Diran mendeteksi ada demit iseng yang menempel di tubuh mas Agus, dan itu yang mulai merusak dan membuat mas Agus sakit”


“Kemudian pak Diran membuang demit yang tadi menempel di tubuh mas Agus, setelah itu pak Diran menuju ke halaman belakang untuk melihat apa yang terjadi”


“Tapi tadi kata pak Diran belum terlalu parah.. Gitu aja yang dilakukan pak Diran mas”


Mbak Tina menceritakan apa yang terjadi pada diriku ketika aku tak sadarkan diri…. Tapi sebenarnya aku bukanya pingsan, yang kurasakan aku dalam keadaan tidur pulas, aku sampai mimpi bahwa hotel ini berkembang dan semakin luas dengan belasan pegawai.


Sudah kukatakan kepada mbak Tina bahwa aku tadi itu tidak pingsan, hehehehe


“Yah kalau mas Agus merasa tidur ya nggak papa mas, karena tadi itu kami bertiga berusaha membangunkan mas Agus, tetapi mas Agus gak bisa bangung sama sekali” kata mbak Tina


“Ya sudah mbak…. Yang penting saya sudah sehat.. Eh mbak, saya kok kepingin mendatangi dokter Joko ya… saya penasaran dengan mayat pak Owo”


“Jiang… siang ini kamu kalau disini bersama pak Yogi nggak masalah kan, saya dan mbak Tina mau datangi rumah sakit yang menampung mayat pak Owo”


“Gak papa pak Agus… saya sekalian nunggu mobil yang akan membawa tempat tidur itu” jawab Jiang


“Mas Agus… kenapa kok kita mau ke tempat dokter Joko?” tanya mbak Tina


“Ndak tau mbak,  aku kok tiba-tiba kepikiran dengan dokter Joko, mungkin ada sesuatu disana yang kita tidak tau mbak”


Ketika pak Yogi yang biasanya jaga pagi hingga sore datang, aku dan mbak Tina pergi ke rumah sakit kota untk mengunjungi dokter Joko.


Yah hanya sekedar menyapa saja kepada dokter Joko, karena dia dan teamnya yang waktu itu mengevakuasi mayat pak Owo, jadi mungkin dia mendapat informasi lain yang kita nggak tau sebelumnya.


“Mas… nanti mau bicara apa sama dokter Joko mas?” tanya mbak TIna yang ada di boncenganku


“Saya belum tau mbak Tina, hanya saja pasti ada sesuatu yang dokter Joko ketahui, mungkin siapa tau dokter Joko  tau tentang pak Pangat juga”

__ADS_1


“Iya mas… terserah mas Agu saja lah…. Eh tapi kita nanti sarapan dulu mas”


“Iya mbak… kita cari sarapan yang dekat dengan rumah sakit saja mbak”


__ADS_2