RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
291. AGUSTA BERSAMA DENGAN KELUARGA PAK DIRAN


__ADS_3

Selamat pagi siang malam….


Alhamdulillah hari selasa malam sudah dilakukan operasi usus buntu dengan lancar, hanya saja saya belum bisa melakukan aktifitas secara normal akibat dari beberapa larangan yang berkaitan dengan pasca operasi.


Setelah beberapa hari saya harus istirahat, tidak melakukan kegiatan yang berat, akhirnya dengan  ijin yang sangat terpaksa dan berat dari suami, saya menulis lagi untuk melanjutkan novel ini.


\===========================


Tiga hari setelah istriku menghadap leluhurnya.


Hari ini kami harus memutuskan siapa yang tinggal bersama kami dan siapa yang harus kami pisahkan.


Menurut pembicaraan antara istriku bersama dengan leluhurnya tentang yang mana anak kami dan yang mana penjaga anak kami, semua itu bisa dilihat dari salah satu yang peduli dengan satunya.


Jadi kata leluhur istriku, sifat dari penjaga itu melindungi, maka dari itu sebisa mungkin aku dan istriku Tina melihat tingkah polah kedua anak kami. Tingkah polah mana yang dilindungi dan mana yang melindungi akan terlihat secara tidak sengaja.


“Mas… sudah tiga hari kita amati Agusta dan Agustin, menurut mas Agus yang mana yang merupakan anak kita mas?”


“Sampai saat ini yang kelihatan baru si Agusta yank… tingkah laku Agusta berbeda ketika Gustin nangis minta susu atau Gustin sedang kesulitan dengan mainan yang dia sedang pegang”


“Iya mas…. Kalau kita lihat Gusta lebih dewasa dari pada Gustin, meskipun mereka baru juga berusia tiga bulan, tetapi dari tingkah laku mereka berdua bisa kelihatan mas”


“Jadi kesimpulannya si Gusta itu merupakan penjaga, sedangkan Gustin itu yang dijaga?”


“Saat ini iya mas, coba lihat tiga hari ini, atau ketika mas lagi godain Gustin, pasti Gusta akan bereaksi kan, berbeda ketika mas Agus godain Gusta, Gustin cuek dan gak peduli kan mas?”


“Iya yank, yang bisa aku lihat sih seperti itu yank…. Sudah tiga  hari ini aku coba untuk membedakan sifat dan karakter mereka berdua, dan kesimpulanku Gusta adalah sang penjaga”


“Tapi mas, eh kalau sifat itu berasal dari gender mereka gimana mas, biasanya kan perempuan dijaga oleh saudara laki-lakinya?”


“Heheheh gak mesti yank. Buktinya kamu sering menjaga aku yank, apalagi ketika aku sedang sakit di rumah sakit ketika aku secara sengaja di pukul solikin waktu itu?”


“Iya sih mas… tapi kita saat ini kan sudan dewasa, sudah tau mana yang baik dan buruk, sedangkan anak kita berdua saat ini kan masih  tiga bulan saja mas….”


“Ya sudah yank, kita sepakat memisahkan Gusta ya?”


“Hufff, Tina gak tega mas…. Tapi mau gimana lagi”


"Harus secepatnya yank, mumpung mereka berdua masih umur segini, jadi mereka tidak akan ingat ketika mereka berdua kita pisahkan”


“Eh tapi apa kita yakin keluarga pak Diran mau menerima bayi kita mas?”

__ADS_1


“Kan udah kita bicarakan sebelumnya yank, apalagi biaya susu dan perlengkapan lainnya nanti kan dari kita semua, keluarga pak Diran hanya menjaga anak  kita saja kan”


“Iya mas…eh apa kita bicara dengan pak Diran lagi aja mas, hanya untuk memastikan saja apakah pak Diran sudah siap untuk menerima anak kita?”


“Aku rasa pak Diran sudah setuju kok yank, istri dia kan sudah kita ajak bicara juga dua hari lalu kan. Tapi yang aku belum bisa menerima adalah satu syarat dari leluhurmu yang agak berat itu”


“Syarat dimana kita tidak boleh menjenguk anak kita ketika dia belum akil baliq, agar tidak ada keterkaitan batin antara anak dan orang tuanya Yank”


“Jadi agar si Gusta  merasa bahwa orang tua nya adalah keluarga pak Diran”


Syarat yang diberikan leluhur Istriku sangat berat, selain kami harus memisahkan anak, juga anak yang sudah dipisahkan itu jangan sampai tau bahwa kami adalah orang tua sah dia.


Pokoknya harus dipisah dan dilupakan hingga aku dan istriku tidak merasa ada lagi hubungan atau ikatan keluarga dengan anaku yang aku titipkan ke pak Diran.


Kadang seorang anak akan merasa ada ikatan batin apabila orang tua si anak selalu menampakan wajahnya ketika berkunjung.


Semua harus diputus tus tus… tidak ada rasa batin dan rasa apapun…!


“Nanti malam pak Diran akan aku suruh kesini yank?”


“Iya mas, nanti malam pak Diran suruh ke sini saja, kita bicarakan lagi dan kita matangkan apa yang akan menjadi tugas kita dan pak Diran”


Tetapi tetap saja ada saja pekerja yang sakit akibat penyakit medis maupun penyakit non medis, bahkan kadang ada saja kejadian yang aneh dan tidak bisa dinalar di proyek itu.


Dan aku bisa mengira bahwa kejadian di proyek itu akibat dari energi yang terpancar dari kedua anakku si Gusta dan Gustin.


“Selamat malam pak Agus….” sapa pak  Diran yang sedang bertamu ke rumah kami sebelum pak Diran menuju ke proyek


“Gimana pak Diran?”


“Yah begitu itu pak Agus, tetap saja ada kejadian yang aneh aneh di proyek, tetap saja ada sesuatu yang mengganggu, meskipun tidak sampai menimbulkan korban”


“Gimana pak Agus, apa ada yang mau kita bicarakan?” tanya pak Diran


“Iya pak,  kami sudah memutuskan tentang anak kami pak Diran, meskipun berat, tetapi memang harus seperti itu ya harus dijalani pak”


“Eh begini pak Diran, anak yang akan saya titipkan ke pak Diran adalah anak laki-laki kami… istri saya sudah setuju dengan keputusan bahwa anak laki-laki kami yang akan kami titipkan kepada pak Diran”


“Dan untuk segala keperluannya sesuai dengan perjanjian, akan  kami penuhi semua pak. Oh iya, bagaimana dengan istri pak Diran?”


“Tidak masalah pak Agus, istri saya kan kebetulan sendirian di rumah, anak saya sudah berumah tangga dan tinggal di desa sebelah, jadi gak masalah kalau ada satu bayi yang akan meramaikan rumah kami” kata pak Diran dengan wajah tersenyum

__ADS_1


“Jadi kapan saya bisa serahkan anak saya pak Diran?”


“Besok pagi pak Agus, besok pagi setelah saya pulang dari jaga malam di sini, kita bersama sama menuju ke rumah saya saja”


Penitipan bayi sudah disetujui di kedua belah pihak….


Gimana perasaanku dan perasaan istriku?... jelas gak karu-karuan lah, tetapi semua ini kan ada tujuannya, bukan semata-mata kami memisahkan bayi kembar kami kan.


*****


Pagi hari setelah matahari mulai nampak dari ufuk timur…


Pak Diran datang ke rumah kami untuk bersama sama menggunakan mobil menuju ke rumah pak Diran, untuk menyerahkan atau menitipkan bayi laki-laki kami yang bernama Agusta.


Semua perlengkapan bayi mulai dari susu hingga pakaian sudah disiapkan istriku, semuanya tanpa terkecuali termasuk box dan mainan bayi.


Kebetulan kedua bayi kembarku ini sudah tidak minum ASI lagi, mereka berdua sudah minum susu formula, sehingga bisa mempermudah untuk memisahkan dari ibunya.


Istriku sudah begitu tegarnya sehingga dia tidak menangis ketika kami berangkat menuju ke rumah pak Diran, di kursi belakang mobil istriku duduk bersama kedua bayiku yang dalam posisi didudukan, mereka berdua bisa duduk dengan baik di kursi belakang mobil.


Istri pak Diran menyambut kami  ketika aku sedang memarkirkan mobil di depan rumah pak Diran. Sebenarnya suami istri pak Diran ini belum begitu tua, mungkin mereka berdua ini nikah ketika berumur masih muda.


Beda dengan aku dan mbak Tina yang sudah berumur baru memiliki bayi. Mungkin umurku dan umur pak Diran hanya selisih beberapa tahun saja hehehe.


“Ya Allah, ganteng sekali mas Gusta ini” kata istri pak Diran yang sedang menggendong Gusta


“Iya bu, dia kayaknya sudah nyaman ada di dalam gendongan ibu” kata Tina istriku dengan suara yang dikuat kuatkan


“Bapak… coba lihat bayi ini… dia tidak menangis ketika aku gendong” kata istri pak Diran kepada suaminya


*****


 Kami dalam perjalanan pulang, istriku duduk di sbelah ku sambil menggendong Gustin,  dia hanya memandang ke depan tanpa berkata sepatah katapun.


Aku tau dia pasti sedang sedih ketika harus melepas Gusta di rumah pak Diran.


“Udah yank, jangan sedih, yang penting Gusta mendapat tempat berteduh yang tenang bersama keluarga pak Diran”


“Aku yakin pak Diran dan istrinya bisa menjaga Gusta dengan sebaik baiknya”


“Iya mas… yah namanya juga seorang ibu, siapa yang tega menitipkan anaknya ke orang lain mas, tapi Tina percaya kok sama keluarga pak Diran”

__ADS_1


__ADS_2