RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
233. KEPULANGAN PAK HENDRIK


__ADS_3

Aku diam mematung, aku merasa ada sesuatu di belakangku….


Saat ini posisiku duduk selonjor di sofa… tapi tiba-tiba kakiku, tanganku, tubuhku dan semua anggota tubuhku tidak bisa digerakan sama sekali, bahkan untuk menggerakan kepalaku saja aku tidak bisa…


Setelah seluruh anggota badanku tidak bisa digerakan, ketika aku sedang memikirkan apa yang terjadi, tiba-tiba mataku tertutup dengan sendirinya….


Aku berusaha membuka mataku….. Aku memaksa membuka mataku.. Aku berusaha bergerak… tapi tetap saja nihil.


Aku berusaha membuka mulutku untuk menyebut nama Allah dan meminta pertolongan kepadaNya akan bahaya yang sedang aku alami…. Tetapi semua mustahil…. Aku sama sekali tidak bisa membuka mulutku.


Aku hanya bisa berdoa dalam hati… terus berdoa dan terus berdoa dalam hati.. Tiada pernah berhenti menyebut nama Allah….


Tiba-tiba aku merasa sesuatu…..aku  merasakan sesuatu di bagian belakang kepalaku di bagian yang dekat dengan tengkuk…


Tiba-tiba ada seperti benda runcing dingin mengenai kepala bagian belakangku… sesuatu yang runcing dingin itu menyentuh kulit kepalaku dari bawah kepala dan bergerak menuju ke atas kepala.


Perlahan lahan benda runcing yang dingin  itu bergerak dari bagian  bawah kepala hingga ke bagian atas kepala


Geli…..dingin…!


Iya .. geli dingin dan rasa takut campur jadi satu…tapi aku tidak bisa bergerak untuk melawan…!


Aku sudah  pasrah.. Aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi…!


Selain berdoa… aku terus berusaha agar aku bisa bergerak meskipun sedikit…..aku juga berusaha untuk berteriak!


Tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi….aku bisa menggerakan jempol kakiku… terus dan terus kakiku bisa bergerak, dan akhirnya……


“RRRRR..GGRRHHH……!


“TOLOOOONGG!!!... AAAAH TOLOOOOONG!!!!!”


Kini aku bisa membuka mataku… aku terbangun….


“Apa yang terjadi pak Agus…..!” kata Jiang yang ada disebelahku dengan nafas terengah engah…


“Dimana aku Jiang…!”


“Pak Agus sedang tidur di sofa… saya tadi ada di belakang untuk menunggu orang catering datang, karena biasanya mereka datang setelah adzan subuh berkumandang”


“Tadi saya dengar suara aneh, dan ketika saya menuju ke sini, pak Agus  minta tolong”


“Ya sudah Jiang… saya tadi mungkin sedang mimpi buruk…. Kamu kembali ke belakang saja Jiang, eh bu Tina apa sudah bangun Jiang?”


“Belum pak….”


“Ya sudah Jiang, akan saya bangunkan, sekalian saya mau sholat subuh”


Nafasku terengah engah, keringat masih membasahi tubuhku…


Aku mimpi….mimpi yang mengerikan, mimpi yang aku jelas tidak bisa dicerna dengan akal sehat. Aku duduk sebentar di sofa ruang utama sebelum kubangunkan mbak Tina.


Ketika aku akan berdiri untuk mengetuk pintu kamar mbak Tina, ternyata dia sudah bangun dan membuka pintu kamar.


“Barusan saya mau bangunin mbak Tina”


“Iya mas…udah subuhan mas?”


“Belum mbak.. Ini juga mau bangunin mbak Tina trs habis itu saya mau ambil air wudhu”


“Kok baju mas Agus basah kuyup gitu?”


“Eh keringat mbak… ini keringat”


“Kok Keringatan, hawanya kan dingin mas?”


“Nanti akan saya ceritakan mbak, saya mau ambil air wudhu dulu mbak”


Mimpi yang mengerikan, dan seolah nyata… apakah arti mimpi itu, dan apakah mimpi itu akan berulang lagi malam nanti.


Ugh aku gak bisa bayangkan apa yang akan terjadi lagi dengan diriku.


Setelah aku selesai sholat subuh, aku ada di ruang utama bersama mbak Tina, Jiang sedang membantu parkir kendaraan catering yang datang.


“Tadi jam setengah tigaan, setelah pak Diran kembali ke pos jaga dan pak Hendrik masuk ke kamarnya… saya mimpi buruk mbak”


“Berarti tadi malam nggak ada kejadian aneh-aneh lagi?”

__ADS_1


Aku ceritakan kepada mbak Tina tentang pesan dari pak Cheng kepada kita yang disampaikan oleh mbak Kunti, kemudian tentang apa yang aku lihat di halaman parkiran depan. Dan tentu saja tentang mimpiku yang barusan ini.


“Nanti malam Tina akan ke tengah hutan mas… tapi Tina gak berani ke sana sendirian mas”


“Nanti kita bicara dengan pak Diran dulu saja mbak. Sebenarnya ini kan masalah internal dari keluarga leluhur mbak Tina, jadi harusnya ya hanya mbak Tina saja yang boleh berdiskusi dengan leluhurnya mbak Tina”


“Iya mas… Tina nanti sore minta pendapat dari pak Diran dulu”


“Dan soal mimpinya mas Agus ini… Tina bingung mas… apa benar keadaan hotel ini seperti yang mas Agus mimpikan itu?”


“Mimpi itu kan semacam alam bawah sadar kita yang seolah berkelana ke mana-mana, dan berpikir seenaknya sendiri, jadi bisa saja apa yang saya mimpikan itu ulah dari alam bawah sadar saya mbak”


“Dan mungkin juga saya tadi itu dalam keadaan tindihan”


Percakapan dengan mbak Tina selesai karena jam enam lebih saya dan Jiang harus membagikan sarapan untuk tamu hotel.


Yah pekerjaan rutin dari pagi hingga sekitar jam sembilan nanti.


Sedangkan mbak Tina harus menyiapkan dokumen yang berupa invoice hotel bagi tamu yang  jadwal check outnya sesuai dengan yang diemailkan  anak buah pak Robert.


Setelah urusan sarapan selesai, aku menunggu di sebelah meja resepsionis, siapa tau ada tamu yang memerlukan bantuan untuk membawa tas atau koper mereka ke mobil.


Sekitar jam sepuluhan pak Hendrik berjalan ke arah meja resepsionis dengan membawa travel bagnya.


“Selamat pagi mas Agus dan mbak Tina.. bagaimana mas Agus.. setelah saya semalam balik ke kamar, apakah ada sesuatu yang mengganggu lagi?”


“Pagi pak Hendrik… hanya mimpi buruk dan mungkin juga saya dalam keadaan tindihan pak”


Aku ceritakan kepada pak Hendrik tentang mimpi yang semalam itu.


“Hmmm cukup ngeri juga mas… dan semoga itu hanya tindihan biasa mas… oh iya mbak Tina, saya checkout sekarang ya, soalnya saya nanti siang ada keperluan”


“Ini kartu nama saya, disitu ada nomor telepon rumah, kantor, dan ponsel saya. Tolong hubungi saya kalau ada sesuatu yang terjadi disini, dan saya juga minta nomor telepon disini mbak” kata pak Hendrik


“Mas Agus, sudah cerita ke mbak Tina tentang apa yang tadi malam kita bicarakan kan?”


“Sudah pak”


“Ya sudah kalau begitu mas Agus dan mbak Tina, saya pamit dulu, dan tolong hubungi saya apapun yang terjadi disini” kata pak Hendrik kemudian buru-buru pergi dari hotel ini


Pak Hendrik sudah pulang… kini tinggal aku , mbak Tina, Jiang, dan pak Yogi yang dinas pagi hingga sore hari.


Siang hari hingga sore seperti biasa, aku ada di pinggir sungai untuk mengawasi tamu-tamu yang sedang bermain di pinggir aliran sungai yang lumayan bersih.


Siang hingga sore ini tidak ada yang aneh dengan tamu-tamu yang ada disini, dan memang begitu seperti sebelum sebelumnya, tidak ada yang aneh disini.


Tadi dari pagi hingga siang ini beberapa orang dari perusahaan pemeliharaan taman datang untuk memotong rumput dan bunga yang mulai tumbuh liar, mereka bekerja dengan cepat, sehingga sore hari mereka sudah selesai dengan urusan taman hotel.


Sore hari menjelang senja seperti biasa perusahaan catering datang untuk menyiapkan makan malam yang akan aku antar ke kamar-kamar tamu.


Pak Diran datang, dan seperti biasa dia tanda tangan di buku absen petugas keamanan dan kemudian keliling di sekitar lahan parkir mobil untuk memeriksa apakah ada mobil yang belum terkunci atau sudah.


Setelah selesai dengan urusan mobil dan lahan parkir dan setelah pak Diran menutup pintu pagar hotel. Kemudian seperti biasa pak Diran masuk ke ruang utama.


“Bagaimana keadaan hotel pak Agus?”


“Pagi hingga sore aman-aman saja pak. Seperti biasa tidak ada kejadian yang spesial”


“Tadi pagi pak Hendrik juga checkout… oh iya pak, saya mau cerita tentang mimpi saya ketika saya tidur di sofa ini pak”


*****


“Aneh juga ya yang pak Agus mimpikan itu… dan tentang keadaan hotel ini yang hancur berantakan seperti ada orang atau sesuatu yang menghancurkanya” gumam pak Diran


“Hancur berantakan sepertinya ada orang atau sesuatu yang sedang mencari sesuatu disini” lanjut pak Diran


“Dan tentunya yang dicari itu ya pasak yang ada di sekitar hotel ini pak Agus”


“Oh iya pak Diran… Tina mau ke tengah hutan untuk bicara dengan leluhur Tina pak, tapi Tina takut sendirian ada di tengah hutan pak”


“Kalau seumpama mas Agus yang antar Tina gimana pak?” tanya mbak Tina


“Begini bu Tina, bu Tina dan pak Agus apa pernah kesana sebelumnya tidak?”


“Kami pernah ke sana beberapa kali pak” jawab mbak Tina


“Ok bu Tina. kemudian perlu berapa waktu untuk ada disana?... pasti menghabiskan beberapa jam hingga hari hanya untuk bicara dengan leluhur bu Tina yang hanya beberapa menit saja kan?”

__ADS_1


“Iya betul pak Diran…..” jawab mbak Tina


“Nah kalau bu Tina ada disana agak lama, lalu untuk urusan hotel ini bagaimana bu, takutnya bu Tina ada disana hingga beberapa hari” kata pak Diran lagi


“Iya ya pak… bener juga… lalu apa yang harus Tina lakukan pak, semakin hari pengganggu ini semakin sering melakukan gangguanya disini pak”


“Izin dulu ke pak Jay untuk satu hari saja bu Tina, kemudian urusan kerjaan pak bu Tina nanti pak Agus yang handle, untuk bersih bersih kamar nanti saya yang akan bantu Jiang….. Dulu saya pernah kerja sebagai room service juga soalnya hehehe”


“Nah ide pak Diran ini bener juga mbak Tina… hanya saja mbak Tina harus sendirian saja ke tengah hutannya”


“Lho jangan gitu mas.. Anter Tina sampai tengah hutan, setelah itu mas Agus tinggal juga nggak papa” jawab mbak Tina


“Tapi untuk melaksanakan hal itu tidak bisa sekarng bu Tina, paling tidak besok pagi atau siang bu Tina kabari pak Jay dulu, sehingga besok malam saya ke sini dengan membawa pakaian ganti juga” kata pak Diran


Urusan tentang mbak Tina yang akan menemui leluhurnya sudah beres, sekarang urusan malam ini….urusan yang tiap malam selalu disibukan dengan urusan ghaib.


Seperti biasa malam hari setelah urusan makan malam selesai biasanya aku dan pak Diran melakukan patroli di sekitar halaman parkir dan bagian belakang hotel.


Dan bagian yang harus kami sering datangi adalah bagian pinggir sungai.


“Bu Tina… walky talky hotel saya bawa satu mbak…”


“Hehehe biasanya pak Diran gak pernah bawa HT maupun Walky Talky pak?” tanya mbak Tina


“Iya mbak, soalnya suara berisik yang keluar dari radio dua arah itu  kadang membuat tamu tidak tenang… suara kemresek itu kan gak enak untuk di dengar mbak hehehe”


“Kan bisa dikecilkan suaranya pak”


“Tetap terdengar bu.. Malam hari sepi, tidak ada suara lain lagi, sehingga suara sepelan apapun pasti akan terdengar dari dalam kamar, dan menyebabkan tamu terganggu juga bu”


“Tapi kali ini saya bawa bu, dan akan saya pelankan suaranya hehehe”


“Bu Tina istirahat tidur saja.. Biar yang jaga disini Jiang… saya dan pak Agus akan berkeliling dulu”


Aku dan pak Diran menuju ke bagian depan hotel dulu… kami ada disini tidak lama, karena kata pak Diran di bagian depan untuk sementara waktu tidak ada apa-apa.


Kemudian aku dan pak Diran masuk ke ruang utama untuk menuju ke bagian belakang hotel.


Di ruang hanya ada Jiang saja, sedangkan mbak Tina keliatanya sudah masuk ke dalam kamarnya.


Aku dan pak Diran basa basi kepada jiang sebentar kemudian kami berdua menuju ke halaman belakang seperti biasanya.


Entah kenapa malam hari  ini hawanya sangat dingin dan sedikit berangin, sehingga aku yang baru beberapa menit ada di halaman belakang merasa kedinginan, sehingga aku harus balik ke ruangan utama untuk mengambil jaket yang kusimpan di gantungan baju kamar.


Jiang ada di pintu kaca yang membatasi antara ruangan utama dengan bagian belakang hotel..ketika aku sudah dekat dengan ruang utama


Keadaan di ruang utama sudah gelap karena lampu ruang utama dimatikan, dimatikan karena sudah tidak ada aktifitas lagi di ruang utama.


Hanya lampu yang ada di atas pintu kaca yang membatasi ruang utama dan bagian belakang hotel yang nyala, dan Jiang dri tadi duduk di sebuah kursi kayu yang memang disediakan disini.


“Jiang… mbak Tina sudah tidur?” tanyaku sambil masuk ke dalam ruang utama


“Sudah, dari tadi kan sudah  masuk ke kamarnya pak Agus… ini walky talkynya diserahkan kepada saya pak”


“Eh iya sih Jiang… terus perempuan yang sedang berdiri dan melihat ke arah luat itu siapa Jiang?” sambil aku menoleh ke arah Jiang


Samar samar aku lihat sosok perempuan yang berambut panjang, panjangnya persis seperti milik mbak Tina sedang berdiri dan menatap ke arah luar.


Sosok perempuan itu berdiri dekat dengan sofa yang menghadap ke arah belakang… perempuan itu berdiri membelakangi aku…


Apa itu mbak Tina yang sedang menatap ke arah luar?


Padahal tadi kata Jiang mbak Tina sudah masuk ke kamarnya…


“Perempuan yang mana pak Agus?” tanya Jiang yang tiba-tiba sudah ada di sebelahku.


“Nggak ada siapa siapa gitu pak”


“Eh  apa mungkin saya tadi salah liat ya Jiang”


“Iya pak Agus ini kadang salah lihat juga pak” kata Jiang yang kemudian kembali ke kursi kayu yang dia duduki tadi


Tidak ada siapa-siapa di ruang utama, tidak ada perempuan apapun maupun mbak Tina yang ada di ruang utama ini, ruang utama ini kosong, hanya ada perabotan saja!


Aku berjalan mendekati ruang utama yang gelap, kemudian aku membuka kamar untuk mengambil jaketku.


Ketika kututup pintu kamar…aku seperti mendengar suara orang yang sedang bicara…

__ADS_1


Suara samar-samar seorang perempuan yang sedang bicara.


__ADS_2