RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
251. RUMAH SOLIKIN


__ADS_3

“Pak.. kalau memang Solikan sudah ada di penjara dan bisnis narkobanya sudah tamat tapi kenapa Solikin tetap menteror hotel itu dan berusaha berbuat ulah disana?” tanya pak Diran


“Kemungkinan besar itu ada hubunganya dengan perempuan yang ada di foto itu pak Diran, bisa saja dia punya hubungan khusus dengan perempuan itu dan dia pernah melakukan perjanjian untuk sesuatu yang ada di hotel  itu” jelas pak Hendrik


“Jadi bisa jadi antara Solikan dan Solikin itu mempunyai tujuan yang berbeda, dan sementara Solikan ada di penjara, Solikin yang memakai brewok dan kumis palsu bisa mengelabui kita dengan nama Watuadem punya tujuan khusus dengan setan yang ada di seberang sungai.


“Dan jangan salah sangka, polisi yang menangkap itu tidak salah tangkap, karena benar-benar Solikan yang berkecimpung di dunia narkoba, Solikan yang merupakan saudara kembar dari Solikin…..itu prediksi saya saja lho ya. Kalau kalian punya prediksi sendiri ya silahkan diutarakan” kata pak Hendrik


“Malam ini saya akan ke rumah Solikin”kata pak Diran


“Saya Ikut pak Diran” jawab pak Hendrik


“Jangan pak Hendrik, lebih baik jangan beramai ramai kalau ke sana, cukup saya dan pak Agus sebagai penunjuk jalan dan yang tau rumah Solikin saja yang ke sana”


“Pak Jay dan pak Hendrik usahakan mencari tau tentang tahanan yang bernama Solikan, usahakan kita bisa berkunjung ke penjara tempat Solikan berada untuk mengatakan bahwa saudara kembar nya mati tenggelam” kata pak Diran


Menjelang malam hari ini aku dan pak Diran sudah siap untuk menuju ke rumah Solikin, untuk sementara ini kami hanya ingin mengetahui dimana  letak ruangan tempat Solikin melakukan ritual.


Dan tempat itu harus dihancurkan, dengan tujuan agar demit-demit yang ada di hotel berangsur angsur kehilangan kekuatan dan akhirnya bisa kami musnahkan.


*****


Motor sewaan ini sudah kami naiki… aku dan pak Diran menuju ke rumah Solikin dengan tujuan untuk menghancurkan tempat ritual Solikin.


Suasana malam ini belum begitu sepi, karena belum terlalu malam bagi penduduk disini untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Pak Diran aku bonceng, selama perjalanan pak Diran sama sekali tidak mengajak aku bicara, mungkin dia saat ini sedang berpikir sesuatu, tapi nanti saja kita akan lihat apa yang terjadi di rumah Solikin.


Kami sudah berbelok ke jembatan besi, sebuah jembatan yang mengerikan, karena waktu itu aku dan mbak Tina pernah melihat penampakan  cikar yang membawa banyak mayat.


“Sudah dekat ya pak Agus?”


“Sudah pak, sebentar lagi kita masuk ke desanya Solikin pak”


Gapura desa yang ada di sebelah  kanan kami sudah terlihat, kendaran roda dua sudah jarang kami temui di malam ini. Di jalan desa ini hanya ada motor yang aku tumpangi bersama pak Diran.


Akhirnya kami masuk juga ke desa, jalan desa yang tidak begitu lebar tetapi sepi.


“Pak, kita sudah sampai, kita parkir di depan rumahnya atau gimana pak?”


Rumah solikin gelap…. Hanya ada cahaya kecil di dalam rumah, beda dengan rumah WIto yang tadi kami lewati, rumah itu terang dengan cahaya lampu Petromak.


“Gimana pak Diran?”


“Ayo kita ketuk rumahnya pak Agus, kita bertemu seperti biasa saja, pokoknya kita tidak menunjukan wajah mencurigakan saja” kata pak Diran


Kami turun dari sepeda motor, kemudian berjalan menuju ke pagar rumah pak Solikin.


Pak Diran diam di depan pagar bambu rumah Solikin, kemudian dia perlahan lahan memegang pagar bambu rumah itu dengan kedua telapak tangannya.


“Uuugh… panas sekali pagat ini” kata pak Diran kaget kemudian melepas pegangan tangannya di pagar rumah Solikin

__ADS_1


“Energi yang ada disini besar, dan energi itu sama dengan yang ada di hotel kite pak Agus” gumam pak Diran


“Jadi saya yakin sekali kalau yang ada di hotel itu berasal dari rumah ini…. Eehhm sebentar pak Agus… kayaknya panitia penyambutan tamu baru saja keluar dari dalam rumah”


“Maksudnya apa pak Diran?”


“Ada setan yang mengerikan keluar dari dalam rumah ini pak Agus… dan kemungkinan besar pak Agus tidak bisa melihat, karena energi dan frekuensi iblis ini tinggi”


Pak Diran mundur beberapa langkah dari pagar rumah Solikin, akupun juga ikut mundur, karena aku tidak tau apa yang terjadi di depanku.


“Jangan halangi kami.. Kami hanya ingin masuk ke rumah itu” kata pak Diran dengan suara pelan


“Lebih baik kamu pergi dari depanku, atau kamu akan saya bakar seperti yang ada di hotel itu”


“Iya…saya mengerti kamu hanya suruhan saja dan kamu melakukan tugasmu, tapi  kami juga punya tugas yang harus kami lakukan, dan saya akan melawan kamu apabila kamu  halangi saya”


Tangan pak Diran bergetar… aku nggak tau apakah dia sedang melakukan penyerangan kepada mahluk itu atau apa, pokoknya yang aku tau suhu udara di sekitar sini meningkat perlahan-lahan.


“Pergi dari sini selama-lamanya iblis penghianat” geram pak Diran kemudian dilanjutkan dengan menghentkan kakinya di tanah


Bertepatan  dengan itu terdengar suara letusan di belakang rumah Solikin… aku nggak tau itu suara letusan apa, tetapi yang pasti suhu udara di sekitar sini berangsur-angsur normal lagi, dan pak DIran menghembuskan nafas panjang.


Pak Diran melangkah maju  mendekati pagar bambu rumah Solikin lagi…


“Penjaga rumah sudah bisa kita taklukan pak Agus….sekarang pak Agus ketuk pintu rumah itu, karena ada sesuatu yang akan menghampiri kita”

__ADS_1


__ADS_2