RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
58. AKU TIDUR?


__ADS_3

Pintu kamar mandi itu kan tidak pernah terbuka….


Meskipun sudah aku buka, pintu itu pasti akan tertutup lagi, tetapi kenapa sekarang pintu itu bisa terbuka lebar?


Ah tidak perlu mencari  jawaban yang aneh-aneh, yang pasti pintu itu terbuka bisa jadi karena angin kencang dan hujan lebat yang sebelumnya mengguyur.


Yang harus kulakukan untuk saat ini adalah mencari minyak tanah…


Agar lampu petromak itu bisa nyala lagi, agar tidak ada hal menakutkan di rumah ini karena keadaan yang gelap gulita.


Mungkin sudah saatnya aku harus bisa mulai menyelesaikan apa yang ada disini, termasuk apa yang terjadi antara pak Wandi, Solikin dan Burhan, bahkan bisa juga almarhum Mamad.


Cahaya senter masih kuarahkan ke pintu kamar mandi yang terbuka lebar….


Haduh… kenapa engsel pintu kamar mandi itu ada di sebelah kanan, bukan di kiri, aku tidak bisa dengan mudah melihat bagian dalam kamar mandi karena enselnya ada di sebelah kanan.


Aku harus melewati daun pintu itu untuk bisa lihat bagian dalamnya, coba kalau engsel pintu kamar mandi itu ada di sebelah kiri, jadinya aku dengan mudah bisa lihat bagian dalam  kamar mandi!


Aku harus nekat….


Tapi sebenarnya niatku kan hanya mengambil minyak tanah yang letaknya ada di dekat sana, buat apa aku harus lihat bagan dalam kamar mandi


Tetapi masalahnya untuk mengambil jerigen minyak tanah juga harus melewati kamar mandi.


Senter kuarahkan ke sekitar dapur dan bagian belakang sebelum aku berjalan menuju kesana, sekali lagi kucoba telusuri  apabila ada sesuatu  yang mencurigakan.


Tetapi tetap saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan.


Tidak ada apapun disini, kuyakinkan diriku semua aman, aku harus cepat-cepat menyalakan lampu petromak!


Aku masih berdiri di depan kamar tanpa berani bergerak satu langkah pun ke arah bagian dapur atau yang dekat dengan kamar mandi….


Pintu kamar mandi pun tetap dalam keadaan terbuka lebar, tidak ada gerakan apapun di balik pintu itu…


Aku menoleh ke belakang ke pintu ruang tamu…


Sama saja tidak ada hal yang mengerikan hanya saja kabut yang ada di luar kini mulai semakin banyak yang masuk ke dalam rumah.


Akibat masuknya kabut maka membuat hawa di dalam rumah semakin dingin.


Kuarahkan cahaya senter ke area dapur lagi…..


Ternyata tidak ada yang berubah sama sekali , semua tetap sama, pintu kamar mandi itu …


Pintu kamar mandi itu tetap dalam keadaan terbuka.


“Harusnya keadaan aman!” gumamku


“Aku harus mengambil jerigen berisi minyak tanah itu!”


Kugeser tubuhku menuju ke arah dapur, harus sekarang juga ambil jerigen untuk menyalakan lampu petromak, atau aku akan ketakutan terus dalam keadaan gelap gulita seperti ini.


Perlahan-lahan aku bergerak maju…. kuberanikan melangkah ke arah dapur yang sangat dekat dengan posisiku berada kini.

__ADS_1


Mungkin tidak ada lima meter dari tempatku berdiri, tetapi rasanya jauuuuh sekali, bahkan langkahku untuk ke arah dapur rasanya berat sekali, seolah olah ada batu besar yang diikatkan ke sepasang kakiku.


Pintu kamar mandi sudah bisa kugapai, aku harus melewati pintu yang sedang terbuka itu untuk bisa melihat bagian dalam kamar mandi, Karena sisi daun pintu itu jelas menghalangi aku….


Tapi perasaan takut ini semakin menjadi-jadi ketika aku akan melewati pintu yang terbuka…


Perasaan takut yang disertai oleh bulu kuduk yang mulai meremang…


Detak jantungku pun semakin berdebar-debar… kepalaku rasanya kayak balon karena kepalaku rasanya berubah ubah membesar dan mengecil seiring dengan irama degupan jantungku.


Aku berdiri mematung untuk mengurangi rasa takut yang semakin menjadi jadi, aku harus bisa melawannya…


Setelah sejenak aku berdiri , akhirnya aku bisa melawan rasa takut, perlahan lahan rasa takut itu berkurang.


Kutarik nafas panjang melalui hidung, kemudian ku hembuskan melalui mulut, berkali-kali kulakukan hal itu hingga semua rasa takut ini Sirna.


Aku mulai bergerak…. kudorong pintu kamar mandi agar aku bisa  lewat di sisi baliknya.


Senter diarahkan ke depan, hingga cahaya senter menerangi pintu yang ada di belakang rumah. aku belum berani mengarahkan cahaya senter ke arah kamar mandi.


Setelah beberapa saat aku pegang pintu kamar mandi, baru aku bisa rasakan bahwa kemungkinan besar kamar mandi ini tidak ada sesuatu yang menakutkan.


Aku tidak masuk ke dalam kamar mandi, aku hanya berdiri di ambang pintu kamar mandi saja…


Sudah kuyakinkan tidak ada apapun yang akan terjadi apabila aku melihat apa yang ada di dalam kamar mandi!...


Bismillah…. kuarahkan cahaya senter me dalam kamar mandi…


Alhamdulillah… tidak ada apa-apa di kamar mandi….


Jantungku kembali berdegup kencang, kepalaku pun berdenyut denyut.. aku harus melihat apa yang ada di kloset itu.


Kutoleh kepalaku ke arah kanan, ke arah kloset yang dibatasi oleh dinding penyekat…


Sekilas tidak ada apa-apa, semua terlihat wajar meskipun aku tidak mengarahkan cahaya senter ke arah kloset…


Aku hanya melihat bagian bawah saja kloset saja, dan keadaan di sini aman, tidak ada apapun yang mencurigakan.


Tapi kenapa perasaanku berkata lain, kenapa perasaanku berkata bahwa aku harus melihat ke atas!


Tidak… aku harus lawan perasaan yang kadang membuat kacau keadaan yang sudah aman, tetapi tidak bisa cocok dengan hati kecilku.


Hati kecilku terus menerus menyuruhku untuk melihat ke atas…..


Kupaksakan untuk menolak perintah hati kecilku. aku tidak boleh mengikuti perintahnya untuk melihat sesuatu yang aku tidak mau!


Aku terus bergulat dengan  kata hatiku, tapi akhirnya kata hatiku pun menang.


Tanpa diterangi dengan senter, perlahan lahan aku menengadahkan kepala…


Tidak ada apa-apa yang nampak, yang ada hanya gelap, tidak ada putih-putih maupun sesuatu yang menakutkan.


“Alhamdulilah…. aku lega… tapi…”

__ADS_1


Tapi harus kulihat lagi dengan menggunakan penerangan senter, agar aku bisa lihat apa yang ada di dalam sana, yah hanya untuk memastikan bahwa segalanya aman.


Aku masih ada di ambang pintu kamar mandi, tapi untuk memeriksa apa yang ada di dalam sana aku harus masuk ke dalam…


Ku Toleh ke belakang, ke arah dapur, ternyata tidak ada siapapun, yang ada hanya kabut dari luar yang mulai masuk ke dalam rumah.


Terus terang aku tidak berani menerangi kamar mandi, sudah cukup puas dengan melihat di kegelapan bahwa tidak ada apapun di dalam sini.


Tapi kata hatiku menyuruhku untuk masuk dan mengecek apa yang ada di dalam sana….


Untuk masuk ke kamar mandi posisi badan kita agak sedikit membungkuk karena kusen dan pintu kamar mandi ini agak rendah, sehingga kepala kita akan terbentur kalau tidak membungkuk.


Kubungkukan sedikit badanku untuk masuk ke dalam kamar mandi.. setelah ada di dalam aku berdiri seperti semula….


“ADUUUH….. apa ini yang membentur kepalaku!!!”


Reflek kunyalakan senter dan kuarahkan ke atas, aku penasaran dengan sesuatu yang tadi membentur kepalaku dengan keras.


“ASTAGFIRULLAHALADZIM………!”


*****


“Pak…. pak.. bangun pak..”


Lamat-lamat kudengar suara seseorang yang kukenal sedang membangunkan aku …


Kubuka mataku….


“Iya.. iya mas, sebentar mas…”


“Pak Agus ngapain tidur  di depan kamar mandi kayak gini pak”


Mataku terbelalak, aku bangun dan duduk di lantai dapur…


“Pak Agus pasti semalam mimpi sambil jalan ya, hati-hati lho pak, bisa bahaya itu hehehe” kata Burhan sambil membantuku berdiri dari posisi duduk


Aku belum bisa menjawab pertanyaan Burhan…


Aku hanya menurut saja ketika Burhan menyuruhku duduk di kursi ruang tamu…


“Sebentar pak, saya akan bikinkan minuman hangat dulu pak, bapak ndak usah cerita dulu apa yang bapak mimpikan”


“Duduk santai dulu saja pak, dan jangan bingung”


Kulihat melalui jendela….


Ternyata hari sudah pagi, sudah ada matahari  pagi yang mulai masuk ke dalam rumah, suara cicitan burung juga terdengar bersahutan.


Aku hanya diam, aku masih ingat dengan jelas apa yang terjadi denganku tadi malam!


Aku masih ingat dengan jelas semua yang terjadi kepadaku, aku masih ingat sesuatu yang membuatku pingsan….


Aku pingsan…. aku  bukan tertidur.. tapi pingsan!

__ADS_1


58. AKU TIDUR?58. AKU TIDUR?


__ADS_2