RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
92. NAH….


__ADS_3

“Ayo kita pergi dari sini mas, keadaan sudah aman….”


“Pokoknya bisa pergi dari sini saja rasanya sudah bahagia mas”


“Iya mbak….”


“Tapi sebentar mbak”


Sebelum aku dan Tina pergi dari tempat ini, aku harus pastikan semuanya aman.


Aku harus pastikan tidak ada lagi orang yang tertinggal kecuali tubuh yang tadi jatuh karena terpukul itu.


Tapi apa iya tubuh yang tadi terjatuh karena pukulan atau hantaman itu tidak bangun lagi, apakah ini suatu jebakan untuk mengetahui siapa saja yang datang kesini?


Ah… itu hanya pikiranku yang sok detektif-detektifan saja, aku yakin tubuh yang tadi dipukul itu pasti dalam keadaan pingsan.


“Eh Mas, tapi apa tidak sebaiknya kita tunggu yang tadi terjatuh itu?”


“Kenapa mbak, mbak Tina curiga apa?”


“Tina kok ndak dengar suara erangan sama sekali, atau suara orang merubah posisinya”


“Tina curiga sama yang ada disana itu mas”


“Iya mbak Tina saya kok juga merasa ada yang aneh dengan orang yang jatuh itu, harusnya apabila dia merasa kesakitan pasti ada suara erangan, atau suara dia membalik tubuhnya”


“Tapi kalau seumpama dia pingsan gimana mas, apa orang pingsan atau mati ada suara erangan atau suara yang sedang bergerak atau membalikan tubuhnya?”


“Paling tidak waktu dipukul itu ada suara mengaduhnya mbak, tidak hanya diam saja kan….benar mbak Tina, ini agak mencurigakan mbak”


“Lebih baik kita tunggu beberapa menit dulu saja mas, masalah pak Wito dan Yetno biarkan saja dulu, Tina merasa ada yang ndak beres disini”


“Sik bentar mbak Tina, apa kamu yakin yang disana itu adalah Burhan? bukannya Yetno, atau pak Wito atau juga bukan Mamad?”


“Ndak  tau mas, pokoknya ada yang tidak beres disana mas”


Akhirnya aku dan Tina memutuskan untuk tinggal disini beberapa saat, karena kami berdua merasa ada yang tidak beres dengan orang yang tadi dipukul itu.


Lima.. sepuluh menit, tidak ada perubahan di bagian belakang rumah…


Ketika kami merasa tidak ada perubahan dan kami putuskan untuk kembali karena hari sudah melewati tengah malam dan akan menjelang pagi.


“Mas, tidak ada suara gerakan sama sekali di bagian belakan rumah ini, ayo kita kesana mas, Tina kan bawa senter”

__ADS_1


“Iya mbak Tina, saya rasa keadaan sudah aman dari tiga orang yang tadi sudah pergi dari sini, kita bisa lihat apa yang terjadi disana mbak”


Setelah aku yakin bahwa keadaan sudah aman, maka kuputuskan untuk menuju ke tempat dimana aku dan Tina mendengar suara pukulan dan suara sesuatu yang jatuh.


Senter milik Tina ada di tanganku, tapi hingga saat ini aku belum berani menyalakan senter ini.


Aku masih ragu apabila ada yang melihat cahaya senter yang nanti kunyalakan.


“Mas Senternya kok ndak dinyalakan saja?”


“Jangan dulu mbak, saya ragu… takutnya ada orang disana yang sudah sadar atau memang dalam keadaan sadar” bisikku kepada Tina


“Maksudnya dalam keadaan sadar itu bagaimana mas?”


“Kita ini ndak tau dalam keadaan bagaimana mbak..”


“Takutnya kita berada dalam permainan mereka, jadi yang saya takutkan itu apabila kita ini dalam jebakan yang bukan diperuntukan untuk kita  berdua”


“Yang harus kita ingat adalah Burhan dan Yetno itu tidak berteman, dan saling menjelekan satu sama lain”


“Disini tadi ada dua kelompok kan mbak…kelompok Wito Yetno dan Burhan  Mamad”


“Iya benar mas”


“Dan Tiba-tiba muncul Mamad dan pak Wandi naik motor, tetapi kemudian pak Wandi pergi naik travel entah kemana dia perginya”


“Lalu tiba-tiba kemungkinan besar itu adalah Mamad dan Burhan yang menuju ke belakang rumah”


“Ndak tau untuk melakukan apa, pokoknya tadi terdengar ada suara pukulan dan kemudian ada orang yang lari ke depan rumah”


“Dan yang sangat aneh disini tadi adalah Mamad dan pak Wandi yang naik motor tadi itu  mbak…”


“Lha sekarang orang yang tadi lari itu ndak  tau menuju kemana, lalu motor yang ada di rumah penggergajian itu bagaimana”


“Maksud saya, tertuduh utama disini kan Mamad mbak, apabila Mamad minggat entah kemana, lalu motor yang ada di halaman rumah ini bagaimana?”


“Nah disini kan sudah banyak yang ganjil mbak, jadi ada baiknya orang yang ditinggal di belakang itu harus kita waspadai juga mbak”


Setelah kupikir masa-masak, aku putuskan untuk menunggu hingga ada pergerakan dari satu orang yang ada di bagian belakang rumah ini.


Kami masih merunduk di antara semak belukar yang ada di samping kamarku.


Hingga tidak beberapa lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki dari depan rumah menuju ke samping rumah, menuju ke tempat aku dan Tina sembunyi.

__ADS_1


“Mas, ada orang yang sedang berjalan kesini” bisik Tina


“Iya… sssstt. agak merunduk lagi mbak”


Suara langkah kaki yang berjalan pelan menuju ke arah belakang rumah itu langkahnya berat dan sangat pelan.


langkah kaki itu menuju ke bagian belakang rumah, tempat tadi ada seseorang yang dipukul jatuh.


Suara langkah kaki itu  terus menuju ke arah belakang rumah, hingga pada suatu tempat, langkah kaki itu berhenti.


“Bagaimana” kata suatu suara dengan berbisik


“Mereka berdua sudah kabur” jawab satunya dengan berbisik juga


“Ayo kita bongkar sekarang,  pak Wandi akan datang satu jam lagi” kata suara orang yang pertama


Tidak lama kemudian aku mendengar seperti suara sesuatu yang sedang dibuka, kemudian ditutup kembali. hingga keadaan menjadi hening lagi.


“Mas.. itu apakah suara Mamad dan Burhan?”


“Iya mbak, itu memang suara Mamad dan Burhan, tapi sandiwara apa yang mereka lakukan tadi, dan tujuannya apa?”


Tina tidak menjawab pertanyaanku, karena tidak lama kemudian aku mendengar suara semacam mesin diesel kecil yang nyala.


Kemudian ada suara logam berat yang berusaha dipindahkan, dan semua itu ada di dalam bagian belakang rumah penggergajian.


Tepatnya di bagian pembuatan palet, dimana biasanya pak Solikin merakit palet yang terdiri dari beberapa lembar kayu yang dipaku.


“Mas, sudah jelas kan apa yang mereka lakukan mas. mumpung keadaan sudah aman, ada baiknya kita pergi dari sini saja mas”


“Tina ndak mau ada disini apabila sebentar lagi banyak orang disini yang akan mengambil solar yang mereka curi itu mas”


“Iya bener mbak, ayo kita pergi dari sini, mumpung mereka masih sibuk”


Aku harus periksa keadaan disini dulu, jangan sampai ketika aku dan Tina sudah berjalan menuju ke arah depan rumah tiba-tiba ada sesuatu yang datang lagi.


Setelah semua kurasa aman, kuajak Tina untuk berjalan pelan menuju ke pepohonan di depan rumah penggergajian.


Kami berjalan dengan sangat hati-hati dan sangat pelan, agar tidak menimbulkan suara sama sekali.


“Mas… bau bunga ini muncul lagi.. bau harum yang khas”


“Iya mbak, dan kayaknya antara bau bunga ini dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang disini itu sangat berhubungan”

__ADS_1


__ADS_2