
Aku dan mas Agus duduk di bangku depan ruang UGD….dan aku tau apa yang sedang terjadi disana….aku bisa menebak dengan mudah dan pasti ada apa di bagian kamar mayat itu.
“Mas.. apa mas Agus berpikir apa yang sedang TIna pikirkan mas?”
“Iya mbak, tapi apa ya mungkin kalau yang saya pikirkan ini benar-benar terjadi mbak?”
“Nah itu mas… Tina takut memikirkannya mas”
“Yah tetap harus kita hadapi mbak, karena urusan kita kan belum selesai, kita tidak tau apa yang sedang mengejar kita dan apa yang akan mereka lakukan dengan kita mbak”
Mayat pak Pangat… pasti ada yang sedang terjadi pada mayat pak Pangat….
Aku yakin mayat pak Pangat pasti hilang, entah dicuri orang atau entah bagaimana caranya, karena semua itu kan bisa saja terjadi secara ghaib.
Apapun bisa saja terjadi dengan ghaib….
Kuperhatikan dokter Joko selesai bicara dengan orang-orang yang ada disana, sekarang dokter Joko menghampiri aku dan mas Agus.
“Mbak Tina dan mas Agus… kami tidak tau harus bicara apa, tetapi ini diluar kemampuan kami, dan waktu itu keadaan disini sedang tanpa penjaga sama sekali”
“Mayat Pangat hilang… tapi anehnya tidak ada yang melihat siapa yang mengambil mayat Pangat, bahkan petugas penjaga rumah sakit juga tidak tau tau tidak melihat ada seseorang yang datang dan pergi dengan membawa mayat yang sebegitu besarnya”
“Saya rasa ada yang mengambil secara ghaib dengan tujuan yang saya belum bisa memprediksi”
“Dan saya atau kami tidak bisa melaporkan hal ini kepada polisi, karena keberadaan mayat pak Pangat itu bukan karena korban pembunuhan dan bukan karena sebuah tindak kejahatan atau juga bunuh diri”
“Mayat Pangat ada disini karena kegiatan kalian bertiga yang menuju ke alam ghaib.. Jadi dalam hal ini saya tidak bisa melaporkan hilangnya mayat ke polisi”
“Tadipun saya berusaha keras menjelaskan kepada orang-orang yang ada disana bahwa ada mayat disini karena titipan keluarga saya yang tidak saya laporkan ke bagian administrasi rumah sakit, dan itu semua biar saya yang atur”
“Yang penting sekarang kalian tau bahwa bahaya akan segera datang dengan hilangnya mayat Pangat”
“Ya dok.. Saya tau apa yang sedang terjadi pada kita ini tidak terlepas dari apa yang sedang kami lakukan, dan semua ini juga terjadi akibat kerakusan sifat manusia” kata mas Agus
“Oh iya dok… Tina bingung dengan istri pak Pangat, bagaimana dengan istri dia pak, apakah istrinya sudah tau keadaan pak Pangat?”
“Istri Pangat?..... Jangan pikirkan dia mbak.. Nanti kalian akan tau bagaimana kabarnya dia… yang penting kalian harus berpikir apa yang akan terjadi dengan hilangnya mayat Pangat”
“Dok.. saya mau cerita dengan apa yang terjadi di rumah penggergajian” kata mas Agus
“Jangan cerita sekarang mas, saya harus selesaikan dulu urusan tentang hilangnya mayat Pangat, nanti malam saja kalian kesini lagi, saya jaga di UGD kok”
Tidak ada yang bisa aku dan mas Agus lakukan, bahkan hingga sekarang pun kami belum bisa bertemu dengan pak Cheng dan Jiang.
Dan semakin rumit dengan hilangnya tubuh atau mayat pak Pangat.
“Mas… kita mau ke mana sekarang?”
“Ndak tau mbak… saya juga bingung, karena pasti mayat pak pangat sedang mencari kita mbak”
“Eh kita ke rumah penggergajian saja, siapa tau pak Cheng dan Jiang ada disana mbak.. Karena kita janji kepada pak Jay untuk menemukan dia dengan pak Cheng dan Jiang.
“Iya mas.. Batas waktunya kan besok untuk mempertemukan dengan pak Jay”
Pagi menjelang siang motor milik pak Pangat ini kami arahkan ke rumah penggergajian, tetapi kami mampir sebentar ke penjual bensin eceran yang berjualan di jalan yang menuju ke desaku.
Aku tau siapa yang berjualan bensin di warung ini, dia tetanggaku…tetangga yang tidak terlalu dekat dengan aku, tetapi tetap saja dia dianggap penyebar gosip di desaku.
Tapi gak masalah dia tau aku, biar dia menyebarkan gosip bahwa aku masih hidup heheheh.
“Bu.. satu liter bensin premium ya” kata mas Agus kepada ibu-ibu gemuk penjual bensin eceran yang sedang duduk di dalam warungnya
“LHOOO INI MBAK TINAAA!” teriaknya dengan terkejut
“Heheh iyo mbok…. Kok keliatanya kaget gitu se mbok”
“GAK GITU MBAK… KATANYA SAMPEAN SUDAH MATI” teriak nya lagi
“Sssstttt jangan teriak teriak kalau ngomong mbok, gak enak sama warung sebelah”
“Eh iya mbak…. Katanya sampean sudah mati mbak?” tanyanya lagi dengan nada yang lebih pelan
__ADS_1
“Nggak mbok… saya tinggal di kota S, cari kerja disana sekalian menikah sama mas Agus ini mbok”
“Lhoalaaaah tiwas semua orang taunya mbak Tina sudah mati… itu si Pangat yang dukun itu yang ngomong, bahkan dia juga menemukan mayat di sungai lho mbak”
“Hehehe itu salah mbok… wong saya masih sehat gini kok, tanya aja sama suami saya ini mbok,, saya masih sehat atau tidak heheheh”
“Lha ini ke desa lagi dalam rangka apa mbak TIna…?”
“Saya kangen sama desa ini mbok… ada rencana tinggal disini dan buka usaha disini nantinya heheheh, di kota S itu sumpek, berisik, polusi udara dan panas”
“Eh mbok… ayo disini bensinya, masak cuman ngobrol aja mbok”
“Eh iya mbak… sampek lupa…”
Begitulah mbok Siti.. dia sampai lupa untuk mengisi bahan bakar yang dibeli mas Agus… dan yang pasti besok kabar bahwa aku masih hidup dan masih sehat akan tersebar ke seluruh desa.
Dan memang sengaja aku bikin begitu agar stigma masyarakat tentang aku akan berubah.
“Mbak Tina.. kok mbakTina malah bilang ke penjual bensin eceran itu bahwa mbak Tina dan saya masih sehat, tau gitu tadi kita cari penjual bensin eceran yang lainya mbak?”
“Iya mas.. Sengaja…memang sengaja saya bikin seperti itu, agar penduduk desa mempunyai pandangan yang negatif kepada pak Pangat”
“Selama ini kan pak Pangat memberikan informasi bahwa kita mati dan dia pun menguburkan mayat palsu tentang kita mas, dan menurut pikiran Tina, hal itu disengaja oleh pak Pangat agar kita tidak lagi dicari orang”
“Agar orang taunya kita ini sudah mati, dan apabila kita ditangkap suruhan Fong… penduduk desa tidak ada yang mencari kita mas”
“Hmm benar juga apa yang mbak Tina lakukan tadi…sekarang tugas kita adalah mencari Pak Cheng dan jiang mbak. Kita mulai dari hutan yang menuju ke rumah penggergajian saja mbak”
Kami teruskan perjalanan, ketika kami sudah dekat dengan jalan masuk ke rumah penggergajian, ternyata di jalan masuk itu sekarang sedang dilakukan pengaspalan jalan, sehingga kami tidak bisa masuk ke rumah penggergajian.
Dan pengaspalan itu baru saja dimulai dari jalan masuk ke hutan..
Di sekitar jalan masuk itu sekarang sedang dilakukan pemasangan lampu jalan dan sebuan papan nama yang masih tertutup oleh kertas.
Ada empat orang yang sedang melakukan pemasangan papan nama yang cukup besar, dua orang sedang menggali tanah dan dua orang sedang mencampur semen dan pasir untuk pondasi papan nama, tapi ternyata dua orang itu berwajah tidak asing bagiku…
Kuperhatikan terus wajah dua orang yang sedang mencampur semen dengan pasir untuk dimasukan ke lubang yang akan digunakan untuk cagak papan nama itu.
“Iya mbak…mereka adalah pak Cheng dan Jiang… sayangnya mereka belum melihat ke arah kita, mereka masih sibuk dengan campuran semen itu” bisik mas Agus
“kita tinggal dulu saja mas… biarkan mereka kerja dulu, nanti siang kita ke sini lagi, kita lebih baik masuk ke sana melalui desa sebelah sungai saja mas… kita temui dulu pak Jay dan bicarakan tentang pak Cheng dan Jiang”
“Jangan mbak, lebih baik kita bicara dulu dengan mereka berdua, baru setelah itu kita bicara dengan pak Jay tentang mereka berdua”
“Ya wis mas…. Ndang disapa mereka berdua”
Mas Agus memarkirk motornya di pinggir jalan yang lebih aman, kemudian dia berjalan pelan menuju ke arah dua orang yang sedang mencampur semen dan pasir.
Sementara itu aku tetap ada di atas jok sepeda motor, menunggu apa yang sedang dibicarakan mas Agus kepada mereka berdua.
“Permisi pak Cheng dan Jiang” sapa mas Agus ketika sudah dekat dengan posisi mereka berdua
Kedua orang yang disapa itu kemudian mendongakan kepalanya… dan kemudian mereka berdua tersenyum… ternyata mereka berdua memang pak Cheng dan Jiang yang sedang kami cari cari selama ini.
“Pak Cheng dan Jiang… kalian berdua tetap kerja dulu dan jangan jauh jauh dari sini,, saya akan temui bos dari pemilik hotel ini sekarang”
“Eh pemilik tempat ini ada dimana pak?”
“Dia ada di dalam sana Gus… dia dari tadi pagi sudah ada disana, dan pastinya dia tidak akan bisa keluar dari sini selama sedang ada pengaspalan” kata pak Cheng
“Kalau begitu saya akan lewat desa sebelah untuk menemui dia….Nanti kalian berdua akan saya temui lagi… tetap disini dulu untuk sementara ini”
Akhirnya mereka berdua melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang memasang papan nama hotel. Sedangkan aku dan mas Agus menuju ke desa sebelah untuk menemui pak Jay.
Jalan memutar yang agak jauh untuk mencapai desa sebelah sungai, tapi tentu saja hal ini tidak menyurutkan aku dan mas Agus untuk menemui pak Jay agar pak Cheng dan Jiang bisa bekerja disini bersama kami berdua.
“Mas… seandainya kita sudah kerja di penginapan itu… lalu kalau ada sesuatu gimana mas, apa kita juga bertanggung jawab atas orang-orang yang menginap disana?”
“Saya rasa kita tinggal hubungi pak Jay saja mbak, saya yakin nanti pasti disana akan dipasang pesawat telepon agar mudah dalam berkomunikasi”
“Tapi kabel telepon kan belum masuk ke hutan itu, listik aja gak ada disana kok mas heheheh”
__ADS_1
“Nggak tau juga mbak.. Nanti kita bicarakan dengan pak Jay dulu saja…nanti akan saya coba untuk membahas segala kemungkinan yang akan terjadi disana mbak”
Desa sebelah sungai… dimana disana pernah tinggal beberapa orang yang dulu bekerja di rumah penggergajian macam pak Solikin, Wito, dan beberapa yang aku tidak kenal
Desa yang siang ini sepi dan berudara kering karena saat ini sedang musim panas.
Tidak ada seorangpun yang berada di luar, sehingga desa ini nampak sepi sekali.
Tadi sempat melewati sebuah toko kelontong dengan seorang gadis berambut panjang yang sedang duduk di dalamnya.. Ya hanya warung itu saja yang dalam keadaan terbuka saat ini.
Tidak seberapa lama kemudian kami sudah tiba di tepi sungai, motor dijalankan perlahan lahan agar tidak tergelincir.
“Mbak, kita taruh motor disana saja bagaimana?”
“Mas… ada baiknya kita seberangi sungai saja pelan-palan… yakin bisa lah mas…dulu kan bisa mas”
“Iya mbak.. Ayo mbak Tina di bagian depan.. Pegang kemudi motornya, saya pegang bagian belakang motor ini agar seimbang”
Memang agak sulit untuk menyeberangkan sebuah sepeda motor melalui jembatan yang tidak lebar ini, tetapi setelah beberapa belas menit, akhirnya motor ini berhasil kami seberangkan ke sisi rumah penggergajian.
“Mas.. kayaknya kita tidak bisa melewati halaman belakang mas..”
“Iya mbak. Bagian belakang ini sudah diberi pagar dari kayu, sehingga yang dari desa sebelah sungai tidak akan bisa melewati bagian rumah ini”
Pagar dari kayu yang disusun rapi ini tingginya sekitar satu setengah meter.
Kalau dilihat dari bagian sini, pagar itu berjajar mulai dari bagian samping rumah mulai dari kamar mas Agus.. Terusss melewati pohon beringin teruuuss hingga ke tepi sungai.
Sehingga penduduk desa sebelah tidak akan bisa melewati area ini lagi.
Aku dan mas Agus melongok ke bagian dalam pagar… ternyata sudah bersih, tidak ada mesin, tidak ada tumpukan kayu, yang ada hanya pondok pondok kecil yang berjajar..
Ada sepuluh pondok kecil yang mungkin berukuran sekitar empat kali empat meter…... Lima di kiri dan lima di kanan.
Di tengah pondok itu taman bunga dengan jalan setapak yang kelihatanya baru saja di bikin…
Kesepuluh pondok itu berjajar lima lima hingga sebatas pohon beringin…
Pohon beringin itu sudah rapi dan terlihat bagus, berbeda dengan ketika rumah ini masih menjadi rumah penggergajian..
“Mas, kayaknya pak Jay bener-bener niat…coba lihat mas, dari pondok terakhir hingga ke sungai itu berupa pasir putih, pasir yang kayaknya berasa dari laut mas”
“Jadi seolah olah ini adalah pantai mas… jadi orang-orang dari pondok itu bisa menikmati pasir dan air sungai yang bersih”
“Iya mbak… tapi menurutku ini mengerikan sekali mbak… ini bagi saya mengerikan, karena tepat di seberang dari pondok pondok itu adalah makam buatan si Fong!”
“Kita harus bicara dengan pak Jay mbak.. Tapi bagaimana cara kita meyakinkan dia bahwa ada bahaya yang mengancam orang-orang yang ada disini mbak”
“Nanti saja kita pikirkan lagi mas.. Kita masuk ke dalam sana dulu sana mas.. Itu ada pintu pagar yang masih terbuka..kita masuk dari sana saja mas”
Luar biasa, ternyata penginapan ini hingga ke samping rumah penggergajian yang memang letaknya di ujung….
Dan untungnya ada pagar yang mengelilingi rumah penginapan ini, sehingga terhindar dari binatang buas atau orang-orang yang tidak berkepentingan masuk ke dalam sini.
Hanya dalam waktu tiga minggu semua ini sudah rampung dan sudah hampir selesai istilahnya, meskipun masih banyak detail yang belum sempurna.
Tapi hebatnya hanya dalam tiga minggu semua sudah sesuai dengan yang mungkin diinginkan pak Jay.
Saat ini dibagian belakang masih ada sekitar sepuluh tukang yang sedang melakukan penyempurnaan dari beberapa bagian yang masih kurang sempurna.
*****
“Selamat siang pak Jay” kata mas Agus sambil menyalami pak Jay
“Lho kalian berdua ini lewat mana, bukanya di jalan masuk sedang dilakukan pengaspalan?”
“Kami lewat belang pak, tadi kami lewat depan, ternyata jalan nya sedang diaspal, sehingga kami memutar dan lewat desa yang ada di sebelah sungai itu”
“Gimana mas Agus dan mbak Tina.. apakah sudah ada orang yang bisa bekerja disini?”
“Sudah pak kami sudah bertemu dengan mereka berdua, tetapi saya ingin bicara dengan bapak mengenai beberapa hal yang ada disini pak”
__ADS_1