RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
57. BU TUGIYEM DAN KYAI DOLLAH


__ADS_3

“Penduduk desa kayaknya yang datang itu mas” kata mbak Tina


“Kalau memang yang datang itu penduduk desa ibu-ibu yang kata pak Agus membantu mematikan lilin itu ya saya sangat terbantukan” kata pak Diran


“Namanya bu Tugiyem pak Diran, seorang janda yang dulunya sebagai penyuplai makanan untuk pekerja yang ada disini, dulu dia biasanya datang ke sini bersama anaknya yang bernama Anik”


“Saya masih ingat dia itu benci dengan Solikin, dan Solikin juga agak risih apabila dekat dengan bu Tugiyem.. Dan yang saya tau bu Tugiyem itu kayaknya juga mempunyai keahlian dalam bidang ghaib juga. Dia bisa tau sesuatu yang ada di kamar Burhan eh Mamad… wis pokoknya ceritanya mbulet pak…”


“Iya pak Agus…meskipun mbulet tapi kan sekarang sudah mulai ada titik terang” kata pak Diran.


“Saya ingin menemui kunti yang ada di belakang hotel, dia pasti punya sebuah berita yang berguna untuk kita”


“Kunti yang kapan hari itu ya pak Diran?” tanya pak Jay


“Benar pak Jay, kunti yang saya ajak bicara itu.. Dia pasti punya berita untuk saya. Tapi kita tunggu dulu tamu yang akan datang ini pak”


Empat sepeda motor dengan delapan orang sudah sampai di parkiran hotel, dan ternyata benar, salah satu dari orang yang datang itu adalah bu Tugiyem.


“Assalamualaikum” sapa salah satu orang yang memakai kopiah atau songkok di kepalanya


Ternyata dia adalah pak Dollah seorang Kyai yang disegani di daerah desa sana. Selain pak Dollah ada bu Tugiyem dan beberapa warga yang ikut bersama mereka.


Setelah kami balas dengan ucapan salam juga, mereka berdelapan memperkenalkan diri kepada kami.


“Nak Agus… bagaimana kabarnya?” tanya bu Tugiyem


“Baik Bu…pokoknya setelah apa yang ada di rumah penggergajian itu, saya mengalami petualangan yang mengerikan hingga detik ini bu”


“Iya nak.. Saya sudah bisa memastikan itu… ya sudah ceritanya nanti saja, sekarang kita harus lakukan sesuatu dengan hotel ini” kata bu Tugiyem


“Eh bu Tugiyem… mungkin pak Jay sebagai pemilik hotel yang dulunya adalah rumah penggergajian, dia mungkin kepingin mendengar sedikit cerita dari bu Tugiyem”

__ADS_1


“Hmmm tidak ada cerita…sama sekali tidak ada cerita, yang saya tau hanya Solikin yang selalu melakukan sesuatu yang bersifat ilmu hitam disini” kata bu Tugiyem


“Saya datang kesini ketika masih berupa rumah penggergajian selain mengantar makanan, juga kadang saya membersihkan apa yang selalu ditaruh Solikin disini… “


“Dia selalu menaruh semacam benda ghaib yang tujuannya agar tempat ini bangkrut, tapi alhamdulillah saya bisa buang benda-benda yang ditanam Solikin disini”


“Pak Jay.. mohon ijin… hotel ini sepertinya sudah begitu mengerikan… akibat ulah Solikin… meskipun saya tau ada pagar ghaib yang mengelilingi wilayah ini… tapi untuk hotel ini sendiri  keadaanya sudah sedemikian parahnya” kata bu Tugiyem


“Apa yang harus saya lakukan bu Tugiyem?” tanya pak Jay


“Ratakan dengan tanah.. Kemudian dibangun kembali setelah dilakukan pembersihan dahulu” jawab bu Tugiyem…


“Ya sudah, terserah ibu saja, saya sudah pasrah dengan keadaan ini” jawab pak Jay lemas


“Maaf disini saya lihat ada yang mempunyai kelebihan, eh bapak yang pingsan ketika di rumah Solikin eh namanya pak Diran, dan bapak ini juga siapa tadi namanya” tunjuk ibu Tugiyem kepada pak Diran dan pak Hendrik


“Saya Hendrik bu” jawab pak Hendrik


“Kamu ini bukan perempuan sembarangan, hhmmm energimu sama besarnya dengan wong samar yang ada disini, sebenarnya kamu ini siapa nduk?” tanya bu Tugiyem


“Eh saya Agustina bu, kata leluhur saya, saya adalah keturunan terakhir dari penduduk yang pernah tinggal di hutan ini”


“Ah pantas energimu sama besar dengan yang ada di hutan ini…”jawab bu Tugiyem


Setelah selesai dengan basa basi, kami berjalan menuju ke ruang utama hotel.. Keadaan depan hotel sudah berantakan. Dua mayat polisi yang keadaanya mengerikan masih terbujur dan dengan cepat mengeluarkan bau busuk.


Pak Dollah Kyai yang dipercaya bu Tugiyem berada di depan.. Dia sangat hati-hati masuk ke dalam hotel.


“Pak jay… lampu hotel ini apa bisa dinyalakan saja?” tanya bu Tugiyem


“Eh mungkin bisa bu, karena panel dan baterai listrik posisinya ada di bawah genting ruangan ini, jadi mungkin aman dari perusakan dua orang polisi yang kerasukan tadi” jawab pak

__ADS_1


“Biar saya saja yang  nyalakan pak” aku menuju ke tembok yang berisi saklar saklar lampu parkir dan lampu ruangan utama


Lampu ruangan utama akhirnya nyala, ruangan dan parkiran terang benderang….


Ruangan utama keadaanya sudah rusak berantakan, semua rusak termasuk daun pintu juga rusak, tidak ada satupun yang tidak rusak.


Di depan kamar belakang masih ada darah yang sudah menghitam… darah dari perempuan yang memakan jantung temannya. Bau busuk dan anyir darah masih tercium jelas di sekitar sini.


“Ruangan ini sudah kosong” gumam pak Kyai Dollah


“Di belakang itu yang sekarang berisi ratusan iblis jahat yang harus kita bunuh, tapi kembali lagi mereka itu iblis yang tidak bodoh dan gerakannya cepat sekali berpindah dari satu tempat ke tempat lain”


“Kita tidak bisa melakukan sesuatu disana, namanya bunuh diri karena mereka bisa menyerang kita dari segala arah” kata pak Dollah


“Kecuali..kecuali pancing mereka di suatu tempat kemudian pagari tempat itu dan bakar binasakan tempat itu beserta yang ada di dalamnya”


“Untuk memancing mereka itu kita harus tau apa yang paling mereka sukai selain darah yang ada disana… pokoknya selain darah  pasti ada sesuatu yang membuat mereka tergila gila” kata pak Dollah


“Saya akan cari tau pak… dan saya minta ijin ke belakang dulu untuk menemui teman kunti saya yang ada di pohon beringin sana, saya akan menanyakan ke dia apa yang disukai oleh iblis itu selain darah”  kata pak Diran


“Yang pasti bau kemenyan mereka juga suka, tetapi kan tidak semua suka dan menggilai bau itu, jadi harus ada  sesuatu yang menyebabkan mereka tidak bisa menolak untuk masuk ke perangkap kita” kata pak Diran lagi


“Kalau begitu kita masuk ke sana saja, tetapi jangan menampakan bahwa kita akan melawan mereka… jangan sampai mereka terpancing untuk menyerang kita yang akibatnya kita yang menjadi buruan mereka” kata pak Dollah


“Eh jangan masuk ke sana pak. Lebih baik kita lewat belakang saja.. Menyeberangi sungai”  kata pak Diran’


“Lho kan jembatanya sudah dibakar pak Diran hehehe” sambung pak Hendrik


“Oh iya.. Saya lupa kalau jembatannya sudah tidak ada…”


“Ya sudah saya bersama pak Hendrik dan pak Agus yang masuk ke dalam saja, kalau ada apa-apa bu Tugiyem dan yang lainya bisa membantu kami bertiga” kata pak Diran

__ADS_1


“Jangan pak Diran, lebih baik kita bersama sama saja, hanya saja kita tidak melakukan apa-apa, dan berjalan dengan tenang saja, tapi sebelumnya pak Jay, bu tina, dan pak Jiang akan kita kasih pagar dulu, agar tidak dirasuki oleh mereka” kata pak Dollah


__ADS_2