RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
303. MIMPI?


__ADS_3

Pak Diran mampir sebentar ke rumah kami, kemudian aku ceritakan apa yang terjadi dengan aku ketika aku duduk di kursi depan waktu menjelang maghrib.


“Energi orang yang mengaku sebagai Gusta itu masih ada disini pak Agus, itu di sebelah kursi depan rumah, hmm energi ini sama dengan yang ada di kamar Gutin itu”


“Energi yang besar, energi yang sempat aku dan dokter Joko ajak bicara, tetapi sayangnya saya tidak tau kalau ternyata energi ini adalah Gusta yang seperti yang mendatangi pak Agus barusan itu”


“Kalau memang yang ada di kamar Gustin itu adalah Gusta eh atau energi Gusta, kenapa dia menyakiti saya pak Diran, saya ini kan bapaknya?”


“Kalau soal itu saya tidak tau pak Agus, yang namanya Ghaib itu bisa menjadi dan terjadi tanpa bisa kita prediksi”


“Otak dan daya pikir manusia itu tidak bisa menjangkau hal semacam itu. Manusia hanya bisa memikirkan bagian luarnya saja, tetapi ternyata masih banyak rahasia dari ghaib yang tidak bisa kita pikirkan”


“Jadi pak Diran tidak bisa menebak apakah yang bicara dengan pak Diran waktu itu adalah Gusta”


“Lho bisa pak Agus, saya hanya bisa menerka dari energinya saja, karena sama dengan energi  yang ada di rumah saya…..”


“Hanya saja yang barusan pak Agus alami ini berbeda, dia bisa menjelma menjadi laki-laki tinggi besar dan tampan, bisa saja itu adalah gambaran dari Gusta di masa depan apabila saat ini Gusta bisa selamat dan hidup hingga di masa depan”


“Tetapi lain ceritanya apabila pak Agus memisahkan Gusta dan Gustin, bisa saja salah satu dari mereka tidak bisa meneruskan hidup di dunia hingga dewasa”


“Sekarang dengan kedatangan Gusta, apakah itu ada artinya pak Diran?”


“Apa yang mendatangi pak Agus dan berkata bahwa pak Agus harus segera pergi dari sini dan mengajak Gusta itu sudah merupakan peringatan bagi pak Agus, dan kalau tidak pak Agus laksanakan maka akan terjadi sesuatu terhadap pak Agus dan keluarga” jelas pak Diran


Setelah selesai dan menjelaskan apa yang aku alami, kemudian pak Diran pamit pulang, malam ini hanya ada aku dan istriku saja disini, tidak ada pak Diran dan dokter joko.


Besok pagi pembeli rumah akan mentransfer DPnya ke rekening istriku, besok pagi pak Jay dan pak Hendrik akan datang ke sini. Dan yang pasti kedua bos itu tidak setuju apabila aku pergi dari area hutan ini.


“Mas…. ayo masuk rumah, sudah malam kok masih ada di teras rumah mas”


“Iya yank, sebentar…”


Setelah mengunci dan menggembok pagar, aku masuk ke dalam rumah… tidak ada Gustin, hanya ada istriku yang sedang duduk di sofa menungguku masuk ke rumah.


“Kok masih duduk disini yank, apa belum ngantuk?”


“Belum mas, TIna masih memikirkan besok pagi, apa yang akan mas Agus katakan kepada pak Jay dan pak Hendrik kalau kita akan pergi dari sini?”


“Tina sudah gak mikir yang lainya, yang sekarang Tina pikir adalah keselamatan keluarga kita aja mas”

__ADS_1


“Ya udah mas, Tina mau tidur, capek sekali rasanya badan Tina ini mas, hehehe dulu waktu kita belum nikah, kok gak secapek ini, tetapi sekarang rasanya capek”


“Iya lah yank, namanya juga ngurus rumah, keluarga dan bayi, pasti capek. Ya udah tidur sana yank, aku masih ingin ada disini dulu untuk sementara”


Istriku masuk ke dalam kamar, sekarang sudah pukul sembilan malam, tetapi aku sama sekali belum mengantuk, mungkin aku masih kepikiran dengan pak Jay dan pak Robert.


Ah tapi kan semua itu bisa diatur lah. Bukan diatur sih sebenarnya… semua itu bisa dipaksakan hehehe…


Lampu ruang tamu seperti biasa aku matikan, kemudian aku ke dapur untuk membuat kopi… tetapi kemudian aku urungkan untuk membuat kopi, lebih baik bikin teh hangat saja, dari pada nantinya aku tidak bisa tidur sampai pagi.


Selesai dengan urusan teh hangat, aku kembali lagi duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati sepinya rumah ini.


Sepi dan gelap, meskipun tidak seberapa gelap karena cahaya lampu pinggir jalan masih bisa masuk ke ruang tamu rumah.


Akibat dari sepi dan tenang, lama-kelamaan aku jadi ngantuk.


Antar setengah sadar dalam keadaan ngantuk, aku merasa ada orang lain di ruang tamu rumah, tapi karena rasa kantuk yang semakin menjadi jadi akhirnya aku terlelap juga.


*****


“Mas bangun mas… sudah pagi, waktunya sholat subuh” suara istriku membangunkan aku


Sofa yang aku duduki ini agak keras dan bahannya pun beda.


“Mas ayo bangun, Gusta sudah siap berjamaah subuh di masjid pak” kata suara istriku, tapi aku belum melihat wujud istriku


Keadaan di ruang tamu masih gelap hingga kemudian lampu ruang tamu dinyalakan..


“Ayo pak, kita ke masjid..bapak-bapak yang biasanya sudah lewat itu pak hehehe” suara anak laki-laki tentu saja mengejutkan aku.


“Mas, ayo wudhu sana, setelah itu ganti baju" Suruh istriku


“Ibuk, Gustin belum bangun?” tanya anak laki-laki yang tadi mengajakku ke masjid


“Belum nak, nanti kalian pulang dari masjid kan dia sudah bangun…. Ayo cepat mas, udah adzan subuh itu” kata istriku


Suara adzan disini rasanya terdengar pelan, tidak sekeras ketika aku dan keluargaku ada di rumah tengah hutan. Mungkin volume speaker masjid sedang dikurangi atau gimana


Aku masih terbengong bengong di sofa yang aku duduki…

__ADS_1


Aku ada dimana, kenapa Gusta anakku sudah besar?.... Apa aku sedang mimpi?


“Mas ini pakai cepat….” kata istriku Tina yang saat ini cantik sekali, meskipun terlihat lebih tua dibanding sebelumnya, dia membawa sebuah pakaian untuk sholat dan kemudian memberikan kepadaku


Aku ikuti saja alur  yang aneh ini aku yakin saat ini aku sedang bermimpi, tetapi lebih baik aku ikuti saja, aku kepingin tau apa sebenarnya yang terjadi dengan diriku.


Cepat-cepat aku ganti pakaian… setelah rapi  tiba-tiba Gusta menggandeng tanganku… dia bisa menggandengku, seakan akan yang aku alami ini nyata.


“Ayo pak.. Cepat, nanti kita ketinggalan sholat lho” kata Gusta anakku sambil menggandengku dan membuka pintu rumah


Pintu rumah sudah terbuka…


Aku ternyata bukan di rumah tengah hutan, aku ada di komplek perumahan, di seberang rumah dan di kiri dan kanan berjajar rumah penduduk yang tidak terlalu besar.


Di sini aku mencium aroma bau dupa.. Bau dupa yang wangi sekali… setelah aku perhatikan ornamen pagar dan rumah penduduk disini berbeda dengan yang pernah aku tau.


Pagar rumah penduduk yang terbuat dari batu bata dan bau aroma dupa, serta adanya pohon kemboja di tiap halaman rumah…. Aku ada di sebuah daerah di pulau B.


Aku bukan ada di tengah hutan….


Beberapa bapak-bapak bersama anak mereka berjalan menuju ke arah yang sama, mereka memakaih sarung dan pakaian Koko untuk sholat.


“Selamat pagi pak Agus” sapa bapak-bapak yang sedang berjalan bersama anaknya


“Selamat pagi juga pak” kusapa balik sapaan bapak-bapak itu


Anakku membuka pintu pagar rumah, kemudian kami berdua berjalan searah tujuan dengan orang-orang yang jalan  menuju ke masjid yang kayaknya tidak jauh dari rumah ini.


Kami berjalan kaki, dan ternyata letak masjid itu tidak jauh dari rumahku… sebenarnya ini bukan masjid, lebih tepatnya sebuah mushola, hanya saja bentuknya lebih besar dari pada mushola yang aku tau.


Bentuk mushola ini juga khas, dengan pagar yang terbuat dari batu bata atau apalah aku tidak tau jenis batunya, dan disusun sedemian rupa sehingga bentuknya sangat artistik.


Suara adzan itu memang tidak sekeras di desanya Tina, dan mungkin karena kami tinggal di pulau B yang mayoritas penduduknya beragama Hindu.


Yah saling menghormati sesama umat beragama saja mungkin alasan dengan tidak begitu kerasnya suara adzan.


Tidak banyak yang melakukan sholat subuh, mungkin hanya penghuni komplek ini saja, tapi hal ini sudah merupakan kebahagiaan tersendiri.


Setelah selesai ibadah subuh, Gusta menggandengku kembali, dia sepertinya adalah anak yang baik, dia perhatian sekali kepadaku..

__ADS_1


__ADS_2