
Aku nggak tau perempuan muda itu berasal dari kamar mana, tetapi yang pasti dia sekarang seperti orang linglung, dan sedang berdiri sendirian di tengah taman.
Untung kami bertiga tadi melihat perempuan itu, sekarang pak Hendrik dan pak Diran menuntun perempuan itu menuju ke ruang utama. Untungnya selama dituntun, perempuan itu sama sekali tidak teriak atau menolak.
Perlahan lahan pak Hendrik dan pak Diran mendudukan perempuan itu di sofa ruang utama, perempuan itu duduk tegak dengan pandangan kosong dan tidak berexpresi sama sekali
“Pak Agus… tolong bangunkan bu Tina, siapa tau bu Tina tau perempuan ini berasal dari kamar mana dan semoga bu Tina juga bisa membantu kita” kata pak Diran”
Pak Hendrik dan pak Diran berusaha menganalisa siapa atau apa yang ada di dalam tubuh perempuan itu, dan pada saat ini pak Diran sedang mengerahkan kemampuanya,
Dengan yang dilakukan pak Diran…pak Hendrik pun menjadi heran, karena sebelumnya pak Diran hanya memperkenalkan diri sebagai tenaga keamanan disini. Tenaga keamanan yang hanya bisa merasakan adanya makhluk ghaib disini.
“Ayo sekarang kita pindahkan perempuan ini di lantai, dudukan dengan santai di lantai…” kata pak Diran
“Bu TIna duduklah di depan perempuan itu, kasihan perempuan itu… kita bantu menyelamatkanya”kata pak Diran setelah mbak Tina keluar dari kamarnya
“Pak Hendrik sudah siap untuk sesuatu yang hebat?”
“Siap pak Diran!” jawab pak Hendrik dengan yakin
“Ayo kita bakar demit yang sekarang sedang terjebak didalam tubuh perempuan ini” kata pak Diran
“Jiang kamu bungkam mulut perempuan ini menggunakan kain handuk, dan biarkan dia menggigit handuk itu apabila dia berusaha menggigit kamu”
“Tapi ingat jangan sampai sumpalan handuk ke mulut dia itu menutup lubang hidungnya, bisa mati nanti….”
“Pak Agus.. jaga pintu ruang utama jangan sampai ada tamu yang datang kesini untuk mencari perempuan ini sebelum demit yang ada di dalamnya kita bakar”
“Bu Tina usahakan tetap berada di depan perempuan ini apapun yang terjadi, karena dengan adanya bu Tina dia tidak bisa keluar dari depan, akibatnya dia akan keluar lewat belakang, dan saya sudah siap menerima dan membakarnya”
“Mari pak Hendrik kita lakukan berdua dari belakang sini… saya akan tarik dia dan pak Hendrik kerahkan keahliannya untuk membakar demit busuk ini”
Pak Hendrik hanya diam ketika pak Diran mulai duduk bersila di belakang perempuan muda itu, pak Diran mulai melakukan pembacaan doa dan kemudian memegang ubun-ubun perempuan muda itu dari posisi di belakangnya.
Perempuan itu mulai bergetar sedikit ketika pak Diran mulai menyentuh ubun ubunya…
Perempuan itu mendesis seperti ular, pada awal mulanya matanya hanya terpejam saja, sesekali perempuan itu tersenyum seakan akan mengejek pak Diran.
Tetapi semakin pak Diran menekan ubun ubun perempuan itu, semakin dia bergetar hebat…..dan tiba-tiba matanya melotot, Jiang yang memegang handuk hotel kemudian menutup mulut perempuan itu karena perempuan itu mulai mengeluarkan suara erangan.
Dia meronta ronta, dia mengerang, dan menggigit keras handuk yang ditempelkan ke mulutnya oleh JIang, dia mulai teriak tetapi dengan sumpalan handuk itu suara dia tidak sampai keluar dari mulutnya..
Perempuan itu semakin meronta ronta ketika tangan pak Diran semakin menekan ubun ubunya. Handuk yang dipasang di mulutnya pun mulai robek karena gigitan perempuan yang sedang dalam pengaruh iblis.
Liur dari mulutnya menetes dan membasahi handuk yang dipegang Jiang… untungnya Jiang membawa dua handuk, sehingga Jiang langsung mengganti handuk yang sudah robek dan basah oleh air liur perempuan itu..
“Pak Hendrik…siap siap… kalau saya bilang sekarang, maka keluarkan semua kekuatan pak hendrik….” kata pak Diran sambil menahan sesuatu yang membuat tangan pak Diran bergetar
“Bu Tina.. sebentar lagi akan ada tekanan ke depan… pak Agus tahan bu Tina agar tidak terjengkang!” kata pak Diran yang tanganya semakin bergetar
Perempuan itu bergetar, kepalanya menggeleng geleng, matanya semakin melotot,... tapi mata perempuan itu hanya terlihat putihnya saja!
Suara yang terdengar dari mulutnya seperti sedang mengerang dan mendesis… dengan berkali kali menggigit handuk yang disumpalkan Jiang ke mulutnya.
Anehnya entah karena kekuatan dari pak Diran atau apa… tubuh perempuan itu seperti terpaku di lantai ruang utama, dia tidak bisa berdiri atau melakukan sesuatu pada tubuhnya…
Semakin lama tubuh itu bergetar hebat, ketika tangan pak Diran seperti sedang memegang sesuatu yang ada di bagian atas kepalanya
Setelah itu perlahan lahan tangan kanan pak Diran melepas ubun ubun dan bergeser ke kepala bagian belakang..kemudian turun ke leher, dan perlahan lahan ke bagian punggung.
__ADS_1
Tangan pak Diran semakin bergetar, keringat sudah membasahi tubuhnya ketika tangan pak Diran ada di bagian belakang tubuh perempuan itu.
“Siap…siap pak Hendriiiik” kata pak Diran dengan tangan yang seolah sedang memegang dan menarik sesuatu yang ada di punggung perempuan itu…
“SEKARAAAANG….!” teriak pak Diran
Pak Diran seperti menarik sesuatu dari bagian belakang tubuh perempuan itu, kemudian membantingnya tepat di antara pak Diran dan pak Hendrik
Pak Hendrik yang dari tadi sudah siap dengan apa yang dia miliki, dalam sekejap pak Hendrik memukulkan telapak tangannya di lantai .
Suara keras mirip suara geledek dan munculnya cahaya putih mirip kilat dari lantai yang dipukul pak Hendrik membuat aku jiang dan mbak Tina kaget.
Perempuan itu lemas dan seketika ditahan oleh mbak Tina yang ada di depannya…
“Suara tadi pasti mengagetkan tamu yang sedang tidur, semoga tidak ada yang kesini pak Hendrik” kata pak Diran
“Wuiiih tadi itu luar biasa pak Sudiran….baru kali ini saya pergunakan kekuatan yang diturunkan dari mbah saya heheheh, selama ini paling saya gunakan untuk mengobati orang saja, belum sampai memusnahkan demit mengerikan seperti tadi” jawab pak Hendrik
“Bagaimana bu Tina, apakah dia sudah sadar? “ tanya pak Diran
“Sudah pak, tapi masih lemas, Jiang sedang ambilkan air minum untuk dia”
“Eh mbak ini tinggal di kamar berapa bu Tina?” tanya pak Diran
“Sepertinya tamu dari kota S pak, eh dia ada di kamar nomor tiga bersama keluarganya… tapi kok keluarganya gak ada yang cari ya pak?” tanya mbak Tina
“Mbak ini sepertinya akan dibunuh… dia akan jalan menuju ke sungai dan mati disana… keliatannya keluargannya disirep agar tidak mencari mbak ini yang malam ini harus mati” kata pak Hendrik buka suara
Wah pak Hendrik ini ternyata hebat juga… dia bisa bekerja sama dengan pak Diran membunuh demit yang menguasai mbak ini.
Kullihat perempuan itu sudah siuman dan sedang diberi minum oleh mbak Tina, dia sekarang duduk di sofa ruang utama..
“Eh tadi itu apa pak, kok saya tidak bisa lihat yang ada di sini?”
“Pak Diran .. mbaknya sudah sadar ini pak… lalu gimana ini?” tanya mbak Tina
“Biarkan dulu hingga dia sehat, nanti saya dan pak Hendrik akan memagari dia selama dia ada disini, agar selama disini tidak dimasuki oleh demit jahat lagi”
*****
“Mbaknya namanya siapa? Dari kamar berapa” tanya mbak Tina setelah
“Saya Sarah… saya dari kamar nomor tiga” jawabnya lemas
“Mbak Sarah tadi sedang apa kok tiba-tiba jadi begini?” tanya pak Diran
“Saya nggak tau pak, tadinya saya sedang tiduran saja, karena disini tidak ada yang bisa dilakukan selain tidur” jawab mbak Sarah
“Begini mbak Sarah, eh atau mungkin mbak sarah ini sedang ada masalah, sehingga tadi mbak sarah kemungkinan pasti sedang melamun”
“Sekeliling hotel ini kan hutan yang masih lebat, sehingga bisa saja ketika mbak Sarah sedang melamun ada saja yang masuk ke tubuh mbak Sarah” kata pak Diran
“Begini mbak sarah……” tambah pak Hendrik
“Hotel ini kan memang menawarkan wisata hutan dan sungai yang istilahnya masih perawan, jadi bisa saja disini masih banyak hal ghaibnya, yah seperti orang yang suka mendaki gunung mbak… jadi ya dijaga tubuhnya dan tutur katanya agar tidak ada demit yang masuk” kata pak Hendrik lagi
Akhirnya setelah perempuan yang bernama sarah ini benar-benar sehat… mbak Tina bersama pak Diran mengantar mbak Sarah ke kamarnya.
Tentu saja setelah pak Diran menghilangkan ajian sirep yang menguasai keluarga mbak Sarah, agar keluarganya tau bahwa ada anggota keluarganya yang tidak ada di kamar itu.
__ADS_1
Aku nggak tau apa yang sedang dibicarakan pak Diran, mbak Tina kepada keluarga mbak Sarah, yang pasti mereka hanya ketawa-ketawa aja.
Malam bergulir melewati tengah malam…. aku , mbak Tina, pak Diran, Jiang dan tamu hotel yang bernama pak Hendrik sedang ada di ruang utama.
Pak Diran kemudian membuka pembicaraan tentang siapa aku, mbak Tina, Jiang dan apa yang sebenarnya terjadi di hotel ini. Pak Diran terpaksa bercerita karena pak Hendrik pun bertanya tanya tentang yang ada disini.
Tetapi untungnya pak hendrik mau memahami apa yang sedang terjadi disini, dia tidak marah atau kecewa, dia malah merasa kasihan dengan kami.
“Wah…apa yang terjadi disini tidak saya sangka….”
“Jadi sudah ada tamu yang melakukan bunuh diri karena dia melakukan sesuatu disini yang dianggap melanggar oleh penunggu ghaib disini?” kata pak Hendrik
“Pantesan saya merasa aneh ketika saya melewati kamar nomor sepuluh… sepertinya ada sesuatu yang sudah terjadi disana”
“Yah itu yang terjadi beberapa hari lalu, dan seharusnya hotel ini belum boleh beroperasi, tetapi entah bagaimana bos kami eh pemilik hotel ini berhasil menjalankan hotel ini lagi hehehe… uang yang berbicara pak Hendrik” kata pak Diran
“Yaaah… saya sudah paham dengan cara-cara tingkat atas pak Diran…. Sekarang bagaimana rencana pak Diran, pak Agus dan yang lainnya disini”
“Ya sesuai yang tadi saya katakan pak Hendrik. Kemungkinan besar yang tadi merasuki tubuh mbak Sarah itu berasal dari kamar nomor sepuluh” kata pak Diran
“Eh pak Hendrik apa nggak kembali ke kamar, apa nggak ditunggu istri dan anak?”
“Nggak papa, mereka sudah tidur dari tadi dengan nyenyak”
“Apa tidak takut kalau ada yang berbuat usil pada mereka pak?”
“Tenang saja pak Agus… anak dan istri saya aman aman saja, sudah saya beri pagar di sekeliling kamar…” jawab pak Hendrik
“Oh iya mbak Tina… tolong cek untuk besok kamar nomor sepuluh sudah ada yang booking belum?...Kalau belum saya yang akan pakai, eh tapi anak dan istri akan saya pulangkan dulu”
“Memangnya pak Hendrik mau ngapain disini?” tanya mbak Tina
“Hehehe cuma mau bantu kalian bersih bersih kamar saja kok, tentu saja dengan dibantu pak Diran, mbak Tina dan mas Agus… juga mas Jiang yang bukan orang sini hehehe”
“Saya cek dulu ya pak…kalau kosong saya akan bikin email kepada bos, agar kamar nomor sepuluh tidak digunakan siapapun” kata mbak Tina yang kemudian ke belakang meja resepsionis untuk membuat email kepada pak Robert
Aku heran juga dengan pak Hendrik, ada juga orang yang suka melakukan sesuatu yang berhubungan dengan dunia ghaib, padahal aku, pak Diran, dan mbak Tina saja berusaha menghindari.
“Waduhh pak.. Besok sudah ada yang pake… yang kosong ini hhmmm tinggal kamar nomor delapan dan sembilan saja pak” kata mbak Tina
“Nomor delapan itu sebelahan dengan nomor sepuluh ya mbak Tina?” tanya pak Hendrik
“Betul pak, kalau nomor sembilan seberangnya nomor sepuluh”
“Oh gitu…. Eeeh kita harus ada di dalam kamar nomor sepuluh…. Kalau ada di sebelah sebelahnya gak bisa” kata pak Hendrik sambil berpikir
“Eh coba mbak Tina bikin email ke bos… bilang aja kamar nomor sepuluh sudah ada yang booking tapi mbak Tina baru bisa kasih kabar karena jaringan emailnya trouble”
“Eh maaf,.... Untuk jaringan internet disini pakai apa? Disini kan belum ada kabel optik atau semacam pemancarnya?” tanya pak Hendrik
“Disini kalau telepon dan internet langsung pakai satelit pak… jaringannya pakai jaringan telepon satelit itu. Tapi saya kurang paham bagaimana cara kerjanya, hanya saja untuk telepon dan kirim email kita gunakan telepon satelite” kata mbak Tina
“Hmmm bilang saja, tadi jaringannya sedang bermasalah, makanya baru bisa kirim email sekarang…. Ayoo coba mbak Tina bikin email begitu ke bos nya mbak Tina” kata pak Hendrik
“Atau gini saja…bilang saja saya mau extend kamar, tetapi saya pindah ke kamar sepuluh, dan harusnya siang tadi mbak Tina kasih kabar, hanya karena jaringan internetnya bermasalah, maka kabarnya baru bisa malam ini” ralat pak Hendrik
Mbak Tina mengirim email ke pak Robert dan pak Jay… agar supaya pak Hendrik bisa menempati kamar nomor sepuluh…
Dan karena ini malam hari maka email itu akan dibalas paginya , sehingga pak Hendrik harus menunggu hingga besok untuk mendapatkan kepastian kamarnya.
__ADS_1
“Eh pak Diran…. Menurut bapak apakah malam ini kamar sepuluh itu akan mengganggu lagi?” tanya pak Hendrik
“Kalau saya rasa tidak pak, karena yang tadi itu sudah kita bakar, mereka yang tersisa akan berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu disini”