
“Nama beliau Hari Supangat, nanti akan saya tuliskan alamat serta nomor teleponnya”
"Silahkan konsultasi dengan beliau..."
“Tapi ingat, asal apa yang pak Agus lakukan selama ini tidak bertentangan dengan hukum agama dan hukum negara, dan sesuai dengan apa yang seharusnya pak Agus lakukan”
“Kalau boleh tau beliau tinggal dimana dok?”
“Tidak jauh dari sini kok bu Agus, dia ada di desa sebelah hutan juga kok, jadi ibu dan bapak Agus tidak kejauhan mencarinya”
“Alhamdulilah kalau begitu dok. Jadi kami bisa konsultasi tidak jauh dari tempat tinggal kami”
“Ya sudah, kalian tetap kesana saja, mungkin besok pagi-pagi sekali kalian kesana, karena kadang ada saja orang dari luar kota yang membutuhkan bantuan beliau”
“Nanti bilang saja pak Agus adalah pasien saya, dan tunjukan juga lukanya pak Agus”
“Sebentar kalian tunggu di sini, saya akan menuliskan nomor telepon dan alamat sahabat saya”
Dokter Joko masuk ke ruangan UGD, mungkin dia akan mengambil bolpoin dan kertas.
Jalan keluar masalah mulai sedikit terbuka, meskipun aku belum yakin seratus persen apabila semua ini bisa diatasi.
Wajah mbak Tina pun sudah mulai terlihat ada perubahan meskipun hanya sekilas saja.
“Nah ini saya tulis di kertas… nama, alamat, dan nomor telepon rumah beliau”
“Pak Agus, nanti apabila di depan beliau jangan ada yang disembunyikan, karena beliau bisa mengetahui orang dengan hanya melihat wajahnya saja”
“Beliau akan menilai dari wajah orang itu, apakah memang perlu ditolong atau tidak, jadi jujurlah saja apabila berhadapan dengan beliau”
“Ya sudah dok, kami akan pamit dulu. Besok pagi setelah subuh saya akan ke tempat pak Heri Supangat”
*****
Pukul 01.15 di depan rumah mbak Tina, sebelum kami masuk ke dalam rumah…
“Mas, alamat yang diberikan dokter Joko ini apa ndak sebaiknya kita cari dulu, terus terang Tina ndak tau dimana ini alamatnya mas”
“Desa ini tidak sekecil yang mas bayangkan, desa ini besar, dan alamat disini itu agak susah, karena harus tau ancer-ancer dan rt rw nya seperti yang tertulis ini”
“Jadi gimana mbak Tina, apa perlu kita cari dulu alamatnya, jadi besok pagi kita tinggal datang ke sana saja?”
“Iya mas, kalau menurut Tina gitu mas, kita harus cari dulu alamat jelasnya”
“Lha malam-malam dini hari gini apa kita tidak masalah kalau cari alamat orang yang akan kita tuju, takutnya dikira maling lho mbak Tina heheheh”
“Ya kita harus cari penjaga keamanan desa mas, kita tanya saja ke yang jaga sekitar sini, dimana rumah pak Heri Supangatnya”
“Mereka yang jaga pasti tau lah, karena bisa saja pak Heri Supangat itu terkenal juga hehehe, tapi sayangnya Tina ndak tau mas”
“Iya sih mbah Tina, ayo kita cari yang jaga malam dulu saja”
Motor kuarahkan menuju ke jalan utama desa, dengan harapan kami akan bertemu dengan petugas siskamling desa.
Tapi sudah lebih dari sepuluh menit kami belum juga menemukan orang yang keliling jaga malam.
Jalan desa ini sepi sekali….
“Mbak… mbak Tina tau ndak dimana pos penjagaan disini?”
“Ada mas, di dekat gapura desa kan ada, tadi kita lewat kan waktu kita dari rumah sakit”
“Heheheh kita ke sana saja mbak, ngapain kita muter-muter gak karuan gini kalau ternyata di dekat gapura ada pos kamling”
“Wah iya juga mas, kenapa tadi Tina kok ndak kepikiran ya mas”
__ADS_1
Gapura desa memang tidak jauh dari rumah Tina, karena rumah Tina ini agak di pinggiran, jadi tidak terlalu masuk ke dalam desa.
Tidak ada lima menit kami sudah ada di dekat pos kamling, posisi pos kamling itu memang agak menjorok ke dalam sehingga bagi orang yang baru masuk ke desa tidak akan melihat keberadaan pos itu.
Dari kejauhan pos itu sudah terlihat dan kebetulan di pos itu ada orang yang sedang berjaga.
“Waduh… yang jaga itu panggilannya pak Kamid mas, dia orang yang tidak ramah dengan siapa saja”
“Ndak papa mbak Tina, kita coba saja tanya ke pak Kamid, siapa tau dia ngerti alamat rumah pak Heri Supangat”
“Biar saya saja yang menyapa mbak, siapa tau dia agak baik dengan orang asing”
Motor diparkir di samping pos penjagaan, yang bernama pak Kamid itu hanya melihatku dengan tatapan penuh rasa curiga.
Agar sopan aku turun dari motor dan kuhampiri orang yang terlihat tidak ramah sama sekali.
“Selamat malam pak Kamid….”
“Ya ..malam, ada apa malam-malam gini kamu keluyuran dengan ibu Tina!”
Wah sebuah pertanyaan yang menohok, aku baru menyapa, dia sudah menyerangku!.
“Kami bukan dari mana-mana pak, tapi kami dari UGD rumah sakit ******** di kota, karena luka di dada saya ini perlu perawatan”
Ku Tunjukan perban atas luka yang cukup lebar, agar dia percaya dengan omonganku.
“Ya.. tadi saya lihat kalian pergi jam sepuluhan dan baru balik jam satuan barusan, sekarang kenapa kalian tidak pulang kerumah aja?”
“Begini pak Kamid, tadi di rumah sakit kami bertemu dengan dokter Joko, dan dokter Joko menyuruh saya untuk menemui bapak Heri Supangat yang merupakan teman satu perguruan dokter Joko”
“Hmmm apa yang terjadi dengan kalian kok sampai harus kenal dengan dokter Joko dan pak Pangat?”
Wah orang ini kok malah tanya-tanya tentang apa yang kualami, apakah aku harus berterus terang kepadanya atau bagaimana?
“Mas Agus, terus terang saja dengan pak Kamid” kata Tina yang sudah ada di sebelahku
“Boleh saya dan mbak Tina duduk di situ selama saya cerita apa yang terjadi hingga saya mendapat pengobatan dari dokter Joko pak”
Kuceritakan tentang apa yang kualami kepada pak Kamid, dia mendengarkan semua ceritaku dengan wajah yang serius, dia tidak bicara atau menyela apapun yang kuceritakan.
“Jadi kamu pengganti Wandi?!”
“Iya pak, saya pengganti pak Wandi. Apa bapak kenal dengan pak Wandi?”
“Saya tidak kenal, buat apa kenal dengan seorang penipu?”
“I..iya pak, saya pun demikian tidak terlalu kenal dengan dia, saya hanya diperintah bos saya untuk kerja disana”
“Hmm manusia licik” sahutnya
“Rumah pak Pangat ada di sana mas, lurus saja hingga ada masjid, lurus saja sampai ketemu kuburan di sebelah kiri jalan…lurus saja hingga ada pos kamling, lalu belok kanan, empat rumah dari belokan adalah rumah pak Pangat”
“Baik pak saya akan kesana”
“Ya jangan kesana sekarang to mas, ini jam berapa, apa kamu ndak punya sopan santun!?”
“Nanti setelah subuh kamu ke sana, hanya kadang disana sudah antri beberapa orang yang punya keperluan dengan pak Pangat”
“Baik kalau begitu pak Kamid, saya mohon pamit dulu”
Motor kuarahkan ke rumah mbak Tina, karena saat ini masih pukul 02.30, masih beberapa jam menjelang subuh untuk ke rumah pak Heri Supangat.
“Nah gitu itu mas yang namanya pak Kamid itu mas, dia itu sebenarnya baik, tetapi orangnya itu kaku dan kalau ngomong kadang itu nyelekit”
“Kadang orang yang bicara sama dia itu gak kuat sendiri karena sifat kakunya itu, makanya dia itu ndak punya banyak teman di desa ini”
__ADS_1
“Wis ndak papa mbak, yang penting dia sudah kasih tau alamat pak Heri Supangat”
*****
“Mas, sambil nunggu subuh apa mau Tina buatin teh hangat mas?”
“Boleh mbak, asal tidak merepotkan saja”
“Untuk suami Tina, tidak ada kata-kata repot mas”
Aku dan Tina menunggu subuh di ruang tamu rumah Tina yang nyaman, ditemani teh hangat buatan Tina yang gulanya pas hehehe.
Tidak ada kegiatan TIna yang berusaha menggugah bhirahiku, tidak ada pakaian menerawang, tidak ada pelukan dan ciuman seperti biasanya.
“Mas kalau kayak gini rasa nya enak ya mas, rasanya Tina pingin nikah lagi mas. Bisa berduaan di ruang tamu, ngobrol biasa tanpa ada rasa takut, Tina juga siap melayani suami Tina…”
“Apa mas Agus tidak pingin nikah mas?”
“Rasa kepingin Nikah itu pasti ada mbak Tina, tapi menikah itu tidak semudah membalikan tangan mbak, harus banyak yang dipersiapkan”
“Saya terima kerja di penggergajian kan karena pacar saya minta dinikahin. Tapi sayangnya setelah saya kerja disini, pacar saya makin karepe dewe, seperti kapan hari saya telpon dia itu mbak”
“Saya jadi tau susahnya kerja dan susahnya memberi pengertian kepada pacar saya”
“Yah namanya juga perempuan mas, semua perempuan pasti pengen dinikahi, termasuk Tina juga mas”
“Tapi Tina maklum kok kalau mas Agus sudah punya pilihan pendamping”
“Saya sih tidak memaksakan kehendak mbak, saya hanya ikuti saja seperti air yang mengalir, mau dibawa kemana atau dengan siapa ya saya siap, asalkan ikuti dulu aliran air itu”
“Iya mas…. baru kali ini Tina ketemu laki-laki macam mas Agus yang apa adanya dan baik. Tidak menuruti nafsyu dan tidak berbohong untuk menutupi aibnya”
“Tina berharap kita bisa menikah mas”
“Yah… saya juga sudah cocok dengan mbak Tina, tapi ya itu mbak, jodoh dan rezeki itu Allah yang atur, kita tinggal mengolah nya saja dan ikuti apa yang Allah sudah polakan”
“Tuh udah ada adzan subuh…kita jamaah dulu yuk mbak Tina”
*****
Aku dan Tina berboncengan lagi menuju ke rumah pak Heri Supangat, setelah tadi kami selesai melaksanakan sholat subuh bersama.
Aku deg deg an juga karena akan bertemu dengan sahabat dokter Joko.
Tina yang aku bonceng pun memeluk erat pinggangku hingga buah dahdahnya yang besar itu menekan punggungku.
“Dingin sekali udara subuh ini ya mas…. enakan kita bergumul di tempat tidur aja deh mas hihihihi”
“Husssh jangan bikin terong ungu saya tegak lurus lho mbak Tina heheheh”
Kami sudah melewati masjid yang masih ada beberapa orang yang bersiap pulang…
Kini kami melewati kuburan tempat aku pernah tertidur di sana hehehe..
Kemudian motor di belokan ke kanan, empat rumah dari belokan kuhentikan laju motor.
“Yang ini rumahnya mas, alamatnya dan nomor rumahnya sesuai dengan yang ditulis oleh dokter Joko”
“ya udah mbak, kita tunggu disini saja, takutnya nanti ada orang yang juga akan datang ke sini”
Aku dan Tina menunggu di depan rumah pak Heri Supangat, ternyata di halaman rumah itu sudah disediakan sebuah kursi panjang.
Kursi panjang itu mungkin digunakan untuk para tamu yang menunggu.
Ketika kami sedang menunggu, dari depan gang muncul laki-laki memakai baju koko dan memakai kopiah hitam berjalan ke arah kami.
__ADS_1
“Assalamualaikum… sedang mencari siapa ini mbak mas?” kata orang yang seumuran dengan dokter Joko