RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
158. PAIJO BERSEMBUNYI


__ADS_3

AGUS POV


“Siapa itu Paijo?” tanya pak Pangat pura-pura tidak tau dengan yang namanya Paijo


“Komandan paijo… dia ada di Polsek” kata orang yang dipanggil Yayat itu


“Wah saya gak kenal dengan orang itu… memangnya dia suruh kamu apa Yat?” tanya pak Pangat


“Aduuuh sakit sekali punggung saya pak.. Tolong sembuhkan dulu punggung saya”


Untuk saat ini aku sama sekali gak mau bicara.. Anggap saja aku ini adalah pasien pak Pangat.


Kubiarkan saja orang yang bernama Yayat itu kesakitan…. Ya jelas kesakitan, karena sekarang Inggrid sedang sibuk memasukan tangannya ke dalam punggung Yayat.


Sambil tertawa tawa Inggrid seperti sedang menarik narik sesuatu dari dalam punggung Yayat yang sedang kesakitan.


“Kamu gak akan bisa sembuh, mungkin sakitmu hanya agak berkurang saja, karena kamu sudah melakukan kesalahan fatal dan melawan hukum alam dengan menurut kepada orang yang salah” kata pak Pangat dengan santai


“Hmmm sekarang saya mau lihat apa yang kamu bawa di dalam tas ransel ini”


Pak Pangat membuka tas ransel milik Yayat.. Yayat berusaha berdiri untuk mengambil tas yang sedang dipegang oleh pak Pangat.


Tetapi tiap Yayata akan berdiri, Inggrid dengan ganas menekan otak Yayat dan meremasnya.. Sehingga Yayat terduduk sambil memegang kepalanya lagi.


Yayat menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Mungkin dia merasa kesakitan yang luar biasa. Atau bahkan bisa saja karena dia malu setelah pak Pangat tau apa yang ada di dalam tas ranselnya itu.


“Wah.. ada pisau belati rambo heheheh, terus ini ada HT juga…. Hehehe hmm ada apa lagi selain  dua benda ini ya?” kata pak Pangat sambil mencari cari  sesuatu yang ada di dalam tasnya Yayat


“Waduuuh ada jimat. ..ini jimat apa Yat… ayo jelaskan kepada saya atau sakitmu akan bertambah parah”


“Tidak tau pak.. Saya hanya dikasih orang saja…katanya itu jima untuk tahan bacokan aaauuu.. Sakit sekali tubhn saya pak”


“Jelas sakit karena kamu berbohong… ini bukan jimat kebal bacokan… karena di dalam tas ini saya menemukan alat kontrasepsi dan sebuah pelicin yang digunakan untuk melakukan hubungan badan”


“Iyaaaa..iyaaa saya ngaku.. Aduuuuhhh.. Sakiiiit!... itu jimat untuk memikat sesama jenis pak aaauuuuuuhhh” teriak Yayat


Yancoook hahahah… bahaya iki Yayat… untung Inggrid berhasil bikin dia kesakitan, coba kalau dia gak kesakitan.. Bisa bisa aku disuruh njengking sama Yayat…


Tadi aku salah juga sih  heheheh…. kenapa tadi aku ngaku kalau nganuku sakit gak bisa berdiri dan aku penyuka sesama jenis hahahahah….


“Oh kamu berarti kaum penyuka sesama jenis ya.. Dan kamu pastu pedofilia juga kan!” bentak pak Pangat kemudian mencengkeram bahu orang itu..


Yayat teriak kesakitan, tetapi pak Pangat seolah tidak peduli dengan teriakan Yayat…sangat keliatan kalau pak Pangat ini sangat membenci Yayat karena kelakuannya itu.


“Aduuuhhhh….. Saya bukan pedofilia pak… saya hanya main dengan laki-laki yang mau aja  aaahhh tolooonngg sakit pak”


“Saya tidak peduli… orang macam kamu ini harus dihabisi!”


Ketika Yayat sedang teriak kesakitan, dari luar aku dengar ada langkah kaki yang berhenti di depan rumah pak Pangat.


Ini pasti orangnya Burhan atau bisa saja itu Burhan sendiri.


“Permisi.. Apa benar ini rumah pak  Pangat… permisi”


“Ya.. sebentar… saya akan keluar” jawab pak Pangat sambil melirik ke arahku


Pak Pangat membuka pintu depan rumahnya…


“Saya yang namanya pak Pangat, sampeyan siapa dan dari mana?”


“Nama saya Burhan, saya teman Agus….”


“Oh pak Burhan.. Mari masuk pak.. Di dalam ada orang yang bisa dimintai keterangan” kata pak Pangat


*****


Posisi tangan Yayat sudah dalam keadaan terborgol…


Burhan bersama anak buahnya akan membawa Yayat untuk dimintai keterangan terkait apa yang mereka lakukan disini.


Ternyata dari pengakuan sementara Yayat, dia diperintah oleh Paijo untuk memaksa pak Pangat buka mulut tentang tempat persembunyian dari aku dan Tina…


Karena menurut keterangan Yayat.. Paijo tau kalau aku dan Tina pasti ada bersama pak Pangat.


Ketika Yayat ditanya perihal  pak Joko, dia tidak tau siapa itu dokter Joko, karena yang dia anggap komandan itu tidak pernah membicarakan tentang dokter Joko.

__ADS_1


Dan yang mengejutkan adalah Yayat ini adalah laki-laki yang kadang dijadikan pelampiasan bhirahi brutalnya si Paijo.


“Sekarang sudah jelas ya orang yang bernama Yayat tadi itu siapa dan apa yang dia lakukan disini”  kata pak Burhan setelah menyerahkan Yayat kepada anak buahnya untuk dibawa ke kota S


“Untuk sementara ini kerja saya jadi double… saya kan sebenarnya di satreskrim narkoba, tetapi saya juga menangkap kriminal hehehe” kata Burhan


“Tapi semua ini kan masih ada hubunganya dengan kasus jaringan narkoba itu pak” kata pak Pangat


“Saya heran dengan Paijo… dia berani melakukan kekerasan kepada saya yang merupakan sahabat karib dia, lalu bagaimana dengan nasib Joko teman saya itu pak Burhan?”


“Untuk sementara ini, baik dirumah sakit, atau di tempat dia tinggal, yang bernama Joko itu tidak menampakan batang hidungnya” jawab pak Burhan


“Tim kami masih kesulitan untuk memetakan di mana dokter Joko berada” lanjut pak BUrhan


“Ya sudah.. Sekarang kalian semua berangkat bersama kami ke kota S, untuk perlindungan dan kami juga butuh keterangan dari pak Pangat, pak Agus, dan Tina juga…”


“Ayo kita berangkat sekarang, dan bawa keperluan kalian untuk di sana”


AGUS POV END


TINA POV


Kami berempat.. Aku, mas Agus, pak Pangat dan istrinya sudah tiga hari ada di kota S.


Selama tiga hari ini kami berempat bergantian dimintai keterangan terkait dengan yang kami alami.


Selama tiga hari ini akhirnya pembeli  narkoba itu berhasil diamankan.


Pada hari kedua pun pak Hari yang memang satu kantor dengan Burhan sudah berhasil diamankan.


Tetapi sayangnya Paijo berhasil melarikan diri ketika akan ditangkap di kantor resort tempat dia bertugas.


“Karena pengembangan kasus ini berhenti disini, dan belum ada perkembangan, bagaimana kalau kami pulang ke desa kami pakBurhan?” tanya pak Pangat


“Apa kalian yakin aman dengan kepulangan kalian ini?”


“Ya harus yakin pak Burhan, semua keterangan kan sudah kami berikan kepada pak Burhan, sekarang tinggal sampean saja yang bergerak untuk menahan Paijo itu”


“Iya betul pak Pangat… kalau kalian memang yakin ya monggo, siang nanti biar anak buah saya yang akan antar kalian kembali ke desa dan tempat tinggal kalian”


“Kalian tenang saja, mereka  berdua sudah tau siapa saya, dan saya pun sudah menekankan kepada mereka berdua bahwa saya akan melakukan apa saja kepada mereka dan kelurganya apabila mereka kembali lagi ke pekerjaann yang sekarang ini” jawab Burhan


“Jadi untuk sekarang… saya kira ancaman saya ini masih bisa mereka turuti mas”


“Jadi untuk saat ini  baik dari solikin dan Wandi sudah tidak akan melakukan apa-apa lagi pak Burhan?”


“Benar pak Agus.. Solikin sudah kami proses hukum dan kami tahan, untuk menunggu keputusan selanjutnya”


“Jadi yang sekarang masih menjadi ancaman itu ya tinggal si Paijo saja, tim kami masih berusaha memburu Paijo” kata pak Burhan dengan santainya.


“Kalian akan saya beri nomor telepon selular dan nomor kantor saya, selain itu anak buah saya akan ada di sekitar desa itu untuk empat hari saja”


“Apabila dalam empat hari tidak ada apa-apa disana, maka anak buah saya akan saya tarik kembali ke sini”


Siang hari ini kami menggunakan mobil dinas dan dikawal dua anak buah pak Burhan diantar menuju ke desa kami.


Selama perjalanan kami hanya diam saja, karena kami tegang juga apabila harus kembali ke desa.


Sementara itu tidak ada yang tahu dimana keberadaan Paijo maupun dokter Joko.


Disini yang merasa tertekan pasti pak Pangat, karena kasus ini dilakukan oleh sahabat pak Pangat. Bahkan bisa juga Dokter Joko juga terlibat.


Setelah sekitar tiga jam perjalanan, dan siang hari sudah mulai menginjak sore haris, mobil  yang kami kendarai sudah memasuki desa tempat kami tinggal.


“Eh untuk sementara ini bagaimana kalau mas Agus dan mbak Tina tinggal di rumah saya saja, rumah saya masih ada satu kamar yang kosong” kata istri pak Pangat


“Iya betul kata istri saya, ada baiknya kita berkumpul dulu untuk sementara waktu ini, karena kita tidak tau dimana Paijo berada” tambah pak Pangat


“Oke lah.. Saya setuju saja pak… tapi besok siang saya ada urusan dengan Inggrid di rumah penggergajian sana” kata mas Agus


“Hehehe, Inggrid ada di mana dia? Kok dari tadi saya belum liat keberadaannya?” kata pak Pangat


“Dia tadi berangkat duluan nggandol truk trailer pak.. Katanya biar kayak anjal anak jalanan yang macam gembel-gembel yang ngakunya sebagai anak punk,  yang suka bikin onar itu pak”


“Dia mau cek rumah pak pangat dan rumah saya juga… dia harus pastikan semuanya aman pak”

__ADS_1


*****


Malam hari setelah sholat isya di ruang tamu pak Pangat.


Aku, mas Agus, pak Pangat, istri pak Pangat dan juga ada Inggrid. Kami berkumpul di ruang tamu dengan perasaaan yang tidak menentu.


“Hmm saya mau jelaskan tentang waktu kalian berdua pergi ke rumah penggergajian itu anak-anak” kata pak Pangat mulai membuka pembicaraan


“Ketika Joko sahabat saya datang bersama Hari… saya sudah merasa ada yang aneh.. Kenapa kok saya merasa aneh, dan anehnya itu tentang apa?”


“Karena tepat ketika Joko dan Hari masuk rumah… saya tidak bisa menembus alam pikiran mereka berdua, saya sudah mencoba berbagai cara untuk bisa membaca pikiran mereka. Tetapi tetap saja sepertinya ada kabut yang sangat tebal”


“Untuk kalian ketahui, saya dan Joko suka mempelajari ilmu ilmi seperti ini, tetapi Joko lebih fokus untuk pengobatan saja”


“Ok akan saya lanjutkan lagi… ketika Paijo datang… saya baru bisa baca pikiran Paijo”


“Saat itu yang ada di dalam pikiran Paijo adalah… untung Hari sudah datang..  Hanya itu yang saya baca mengenai Paijo, karena selanjutnya yang dia pikirkan adalah mencari mbak Tina dan mas Agus di rumah ini”


“Saat itu saya bingung dengan keadaan Joko, Hari, dan Paijo….”


“Nah ketika kalian pergi dengan Hari.. saya mencoba mengajak ngobrol Joko, dengan mengobrol maka secara tidak langsung blokade pikiran itu akan terbuka dengan sendirinya”


“Tapi sayangnya Joko sepertinya tau tentang itu, dia sama sekali tidak berminat saya ajak ngobrol”


“Saya merasa ada yang tidak beres disini… dan benar.. Tiba-tiba Joko Pamit dengan alasan badannya sedang tidak fit, akibat pukulan yang dialami sebelumnya itu”


“Saya merasa dengan pamitnya Joko sebentar lagi, pasti akan terjadi sesuatu dengan saya dan istri saya”


“Tetapi tidak lama setelah Joko pergi dari rumah saya, datanglah pak lurah bersama dengan salah satu kerabatnya”


“Mereka konsultasi tentang masalah penyakit aneh yang diderita oleh anak dari kerabat pak lurah yang tinggalnya di kota N”


“Sungguh suatu keberuntungan, karena saya yakin tidak ada yang berani datang ke rumah ini, kami ngobrol lumayan lama hingga istri saya menyuguhkan kopi untuk kami bertiga”


“Istri saya yang kebetulan kenal juga dengan lurah ini ikut ngobrol juga”


“Kemudian ketika pak Lurah dan kerabatnya sudah merasa puas dengan penjelasan saya, mereka akan pamit, tentu saja saya khawatir kalau mereka akan pamit”


“Kemudian saya memaksakan diri untuk ikut bersama mereka bertiga.. Acara dadakan ini membuat istri saya kebingungan karena keadaan rumah yang masih berantakan”


“Akhirnya dengan menggunakan mobil milik kerabat pak Lurah, saya dan istri saya ikut ke rumah kerabat pak lurah untuk melihat keadaan anak dia yang katanya sakit karena sesuatu yang tidak kasat mata”


“Jadi saya dan istri saya malam itu tidak ada di rumah ini, karena perasaan saya rumah ini akan didatangi oleh orang-orang yang saya tidak tau siapa mereka dan suruhan siapa”


“Tidak papa pak…, yang penting sekarang kita harus waspada.. Inggrid akan saya suruh untuk diluar rumah, dia akan memberitahu kita apabila ada sesuatu yang akan datang ke rumah ini”


“Tapi besok pagi saya dan Tina akan ke rumah penggergajian itu pak, saya akan mulai membantu Inggrid untuk mengungkap misteri pembunuhan tiga puluh tahun silam” kata mas Agus


“Mas.. apa Inggrid ini tidak salah?.. Umur dia ini berapa, kok dia minta bantuan untuk mengungkap kasus pembunuhan tiga puluh tahun silam heheheh”


“Eh iya ya mbak Tina… saya baru kepikiran ini mbak heheheh” jawab mas Agus


“Besok aja waktu kita ke sana mas, kita tanya lagi tentang apa yang dimaksud oleh Inggrid itu”


Malam ini aku tidur bersama istri pak Pangat, sedangkan mas Agus dan pak Pangat masih ada di ruang tamu.


Kayaknya mereka berdua sedang menunggu laporan dari Inggrid tentang keadaan disini.


“Eh bu Pangat… saya ndak bisa tidur bu, boleh saya ke ruang tamu bersama mas Agus dan pak Pangat?”


“Iya mbak Tina.. silahkan saja kalau mau ngobrol bersama mereka, saya akan coba untuk istirahat dulu mbak Tina”


*****


“Lho mbak Tina kok nggak tidur?” tanya pak Pangat


“Nggak bisa tidur pak.. Tina kepikiran dengan apa yang akan terjadi disini pak”


“Jangan khawatir mbak Tina.. semua akan baik-baik saja kok.. Saya yakin Paijo sekarang sedan ketakutan dan sedang sembunyi di suatu tempat”


“Sebentar… saya baru ingat sesuatu… tentang tempat sepi yang dulu aku , Joko dan Paijo sering datangi ketika kami bertiga sedang bermain…”


“Tempat itu terpencil… tapi saya tidak yakin mereka ada disana”


“Dimana tempat itu pak?”

__ADS_1


“Sebentar mbak Tina… saya sedang berpikir kalau Joko dan Paijo ada disana… tapi saya tidak yakin juga, apakah tempat itu masih ada atau tidaknya”


__ADS_2