RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
36. MEMBUKA KAMAR MAMAD


__ADS_3

Aku hanya duduk dan termenung di ruang tamu yang sudah tertata rapi, setelah meja dan kursi itu dirapikan tadi pagi.


Apa yang terjadi sebenarnya….


Tidak, aku tidak akan berpikir, karena pikiranku selalu mengerucut kepada benda putih panjang yang ditidurkan di tengah ruangan!


Apakah yang ada di rumah ini ada kaitanya dengan ketika aku tidur di tempat untuk menaruh alat-alat kematian, apakah ada hubunganya dengan itu?


Semoga apa yang kupikirkan tidak sesuai yang kupikirkan sebelumnya, semoga apa yang kupikirkan itu bukan yang terjadi sini.


“Assalamualaikum….”teriak suara perempuan dari belakang rumah


Ya Tuhan… itu kan suara bu Tugiyem dan Anik, …  aduuuh apa yang harus aku lakukan!


Yang pasti aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya kepada mereka berdua apa yang aku alami selama di wartel mbak Tina itu!


“Waalaikumsalam” balasku sambil berlari ke belakang rumah


“Saya pikir nak Agus sedang keluar rumah” kata bu Tugiyem yang sudah duduk di amben dekat sumur dibelakang rumah


“Tidak bu, saya sedang bingung bu.” aku mulai bersandiwara atas apa yang terjadi dengan diriku


“Saya bingung dan tidak tau harus ngapain bu” kutundukan kepalaku


“Ada apa to nak Agus, ada sesuatu yang terjadi tadi malam nak”


“Tadi malam iya dan tadi pagi juga iya bu”


“Tadi malam saya ndak berani pulang setelah interlokal, saya jalan-jalan ke kota hanya agar saya tidak jenuh. Tetapi akhirnya sampai desa sebelum hutan sudah pukul 22.00”


“Akhirnya saya tidur di semacam pos kamling. Paginya sebelum subuh saya dibangunkan bapak-bapak yang sedang menuju ke masjid, karena saya tidur di tempat penyimpanan peralatan kematian”


“Saya tidur di atas tempat untuk memandikan jenazah dan sebelah saya adalah keranda mayat”


“Setelah subuhan di desa saya pulang dan mendapati keadaan rumah yang aneh bu. Meja dan kursi semuanya ada di pinggir ruang tamu”


“Seolah semalam habis ada acara disini, dan disana itu ada bekas pembakaran kemenyan juga bu” tunjuk ku pada bekas  sisa pembakaran yang ada di depan kamarku”


Bu Tugiyem diam sambil memperhatikan aku dengan serius. setelah itu dia memeriksa keadaan di sekitar rumah ini. Dia juga meraba pintu kamar Mamad yang masih tertutup rapat.


“Nanti malam saya akan datang kesini nak Agus” kata bu Tugiyem dengan tegas


“Jangan bu, lagian saya akan ke desa untuk interlokal ke bos, karena kata pak Solikin paletnya sudah bisa dikirim ke tempat bos, karena sudah menumpuk di belakang rumah”


“Mungkin saya tidak akan pulang lagi hingga pagi bu, saya takut sekali untuk pulang kesini. Nanti saya juga akan tanya ke bos tentang pengganti Mamad bu”


“Oh begitu, ya sudah nak,  ada baiknya setelah interlokal nak Agus ke desa saya saja, nanti malamnya tidur di rumah pak Solikin”


“Tapi ya agak jauh memutar apabila dari desa sana sampai ke desa kami nak”


Bu Tugiyem sebetulnya calon mertua yang baik dengan anaknya yang cantik juga. Tetapi janda Tina lebih mengghairahkan juga, dan lebih berpengalaman dalam berbagai hal.


Bu Tugiyem berjalan ke depan kamar Mamad lagi dan kemudian menempelkan telinganya di daun pintu.


“Sepi.. sunyi suram dan gelap. Sebaiknya kamar ini dibuka sekarang saja nak Agus, dari pada ada sesuatu yang menimpa nak Agus lagi disini”


“Tapi kan belum tujuh harinya bu, lalu apakah tidak masalah kalau kamar ini dibuka begitu saja bu?”


“Dengan terpaksa nak, karena hawa Mamad yang terperangkap di dalam situ harus dibebaskan segera dan digantikan udara dan hawa yang baru”

__ADS_1


Ada benarnya juga apa yang dibicarakan ibu Tugiyem itu, tapi  kamar itu kan digembok Mamad dari luar, jadi harus dibongkar secara paksa.


Lebih baik aku minta bantuan pak Solikin untuk membongkar kamar itu sekarang juga, mumpung ada bu Tugiyem disini.


“Eh saya minta bantuan pak Solikin untuk membuka kamar itu ya bu, Sebentar saya panggilkan dulu dia bu”


“Jangan, lebih baik jangan libatkan dia,  ini rumah yang nak Agus tinggali, jadi nak Agus sendiri yang harus membukanya” kata bu Tugiyem tiba-tiba ketika aku akan memanggil pak Solikin


“Kalau begitu, saya akan pinjam palu dulu bu, karena saya tidak punya palu besar untuk memukul gembok yang tidak begitu besar itu”


Aku buru-buru menuju ke belakang rumah untuk meminjam palu yang biasanya digunakan para pekerja  untuk membuat Palet.


Sempat ditanya juga oleh pak Solikin untuk apa palu itu, ya aku jawab saja untuk membuka kamar Mamad


“Tapi kan belum tujuh harinya pak Agus, apa tidak lebih baik menunggu hingga tujuh  harinya Mamad dulu?” tanya pak Solikin ketika aku akan kembali ke dalam rumah


“Ndak papa pak, lebih baik dibuka saja dari pada saya tiap hari ketakutan dan penasaran dengan kamar yang ada di dalam rumah itu pak”


“Ya sudah kalau begitu pak Agus, berarti sudah menjadi tanggung jawab pak Agus sendiri kalau terjadi apa-apa ya pak”


Aku ragu dan terdiam Ketika pak Solikin berkata masalah tanggung jawab yang harus kutanggung akibat dari membuka kamar Mamad.


“Memangnya apa yang harus saya tanggung pak, apakah di dalam itu ada sesuatu yang berbahaya sehingga saya akan celaka apabila membukanya pak?


“Saya tidak tau pak Agus apakah ada sesuatu dengan kamar Mamad atau tidak, yang pasti sesuai adat disini kamar orang yang meninggal dilarang dibuka sebelum tujuh harinya”


“Ya sudah pak, saya kan bukan orang sini, jadi ndak papa kan kalau saya yang buka kamar itu?”


“Iya, ya sudah kalau begitu pak, silahkan pak Agus yang buka saja pak” kata pak Solikin yang agak aneh itu tingkah lakunya


Aku kembali ke ruang tengah rumah, disana sudah menunggu mbok Yem dan anaknya yang bernama Anik.


“Bagaimana nak, kenapa kok lama sekali waktu ambil pallu nak?”


“Adat disini memang begitu nak, tapi nak Agus kan bukan orang sini nak Agus, jadi kemungkinan besar tidak ada yang akan berdampak kepada nak Agus” kata bu Tugiyem


“Ya sudah kalau begitu bu, akan saya bongkar gembok pintu ini”


Gembok yang ada di pintu kamar Mamad ini bukan gembok kuat yang harganya mencapai puluhan ribu, melainkan hanya gembok kecil yang tidak terlalu kuat untuk mengamankan sesuatu yang ada di dalamnya.


Sehingga dengan tiga kali pukul menggunakan palu  gembok itu akhirnya bisa rusak dan terbuka.


Aku menoleh ke arah bu Tugiyem, untuk meminta persetujuan membuka kamar Mamad. ternyata bu Tugiyem mengangguk kepadaku.


Kuartikan anggukan itu sebagai tanda setuju untuk membuka kamar Mamad yang memang dari kemarin ingin kubuka.


Bismillahirrahmanirrahim… kudorong ke dalam pintu kamar yang hanya terbuat dari kayu tipis itu.


Yang pertama terasa adalah bau pengap dan udara yang hangat menerpa tubuhku.


Suasana suram dan gelap karena  jendela kamar yang tertutup sempat membuat aku ragu untuk membuka lebih lebar pintu itu lagi.


Tetapi kuputuskan untuk membuka lebih lebar, karena rasa penasaranku yang sangat tinggi, selain itu juga agar keadaan disini tidak begitu mengerikan.


Sekarang pintu kamar sudah terbuka lebar, tetapi aku belum berani untuk masuk kedalamnya.


“Bagaimana ini bu, apakah aku harus masuk ke dalam sana bu?”


“Iya nak, kemudian buka jendela kamar itu  agar udara yang ada di dalamnya berganti dengan udara yang segar”

__ADS_1


“Kamar ini benar- benar berbeda nak, sangat suram kalau saya lihat, tetapi tidak tau lagi kalau jendela itu nak Agus buka lebar-lebar”


Aku masuk ke dalam kamar yang bau apek, lebih tepatnya ini adalah bau dari keringat Mamad yang menempel di sprei tempat tidur, Kamar ini luasnya hampir sama dengan kamarku.


Hanya saja selama disini aku tidak pernah masuk ke dalam kamar Mamad, sehingga aku tidak tau keadaan di dalam kamar ini.


Jendela kamar kubuka lebar-lebar, udara dari luar pun menerobos masuk ke dalam kamar sehingga bau kamar ini perlahan lahan berubah menjadi bau hutan.


Keadaan kamar yang tidak jauh berbeda dengan yang kutempati, termasuk perabotnya juga sama saja. hanya saja ada yang rasanya berbeda dengan kamar yang kutempati.


Hanya apa yang berbeda itu yang aku tidak bisa menebak. karena berbeda itu bukan dari segi visual, hanya perasaanku saja yang mengatakan ada berbeda dengan yang kutempati.


Bu Tugiyem pun hanya melihat kamar ini ambang pintu saja, dia tidak masuk ke dalamnya, tetapi dari raut wajahnya dia terlihat agak gimana gitu setelah melihat isi kamar ini.


“Nak Agus, ada baiknya kamar ini digunakan untuk sholat. Dhuhur ini apa nak Agus sudah sholat?”


“Belum bu, nanti dhuhur dan ashar saya akan sholat disini bu”


“Nah bagus nak, usahakan berdoa dan minta pengampunan untuk arwah Mamad”


“Kamar ini agak aneh, tetapi saya tidak tahu apa yang aneh itu nak, pokoknya banyak berdoa saja nak Agus”


“Oh iya nak, rantang yang kemarin apa sudah  dicuci, ini saya bawakan bekal untuk nanti malam nak, biar nak Agus tidak susah cari makanya”


“Iya bu, sebentar saya ambilkan bu”


Bu Tugiyem tersenyum kepadaku ketika rantang itu dikembalikan dalam keadaan bersih.


Bu Tugiyem ini sangat memperhatikan aku, hingga makanku  saja dia yang buatkan.


Aku takut apabila ibu Tugiyem berusaha menjodohkan Anik kepadaku. Anik memang cantik natural, tetapi hanya cantik saja, tidak bisa mendadak membuat kelaki lakianku naik.


Beda dengan Tina, hanya dengan membayangkan saya, kelaki lakianku langsung notok njedok. Mungkin istilahnya kalau Tina  itu bikin nafsyu.


Lha tapi cari istri itu yang bagaimana, kriteria yang kuharapkan yang bagaimana. terus terang pacarku yang ada desa apabila dibandingkan dengan Anik jelas jauh. Anik unggul di segalanya.


Kalau dibandingkan dengan Tina jelas jauh juga,Tina unggul dalam pelayanan yang aduhai. Tetapi untuk calon istri yang masih fresh ya si Anik ini.


“Dik Anik, hari ini dik Anik kelihatan cantik sekali lho” iseng aku berkata seperti itu, karena apa yang dikenakan oleh dia meskipun sederhana tetapi cocok


“Halah mas Agus ini sukanya ngegombal sih mas” balas Anik


Setelah basa basi mereka pun pergi dari sini, di atas meja makan sudah ada rantang tumpuk tiga yang pasti berisi nasi, lauk dan sayur.


Kini aku sendirian di duduk di ruang tamu sambil melihat kamar Mamad yang sudah terbuka, udara yang terkurung di dalam pun sudah berganti dengan udara hutan yang segar.


Sesuai dengan saran bu Tugiyem, aku laksanakan sholat di kamar Mamad untuk siang hari ini, dan tidak ada gangguan apapun.


Siang hingga sore hari aku hanya duduk termenung di ruang tamu tanpa tau apa yang sedang kupikirkan


Sore hari setelah para pekerja pulang dan rumah bagian belakang sudah kosong, kembali ku tunaikan sholat ashar di kamar Mamad.


Tetapi sebelumnya tentu saja aku mandi dulu, aku mandi ketika masih banyak pekerja yang ada di rumah ini hehehe.


Jendela kamar Mamad masih dalam keadaan terbuka karena keadaan di luar masih terang dan masih terlalu sore untuk menutup jendela rumah.


Rakaat pertama aku tidak merasa apa-apa, aku tetap tenang dan khusyuk melanjutkan hingga rakaat kedua.


Tetapi pada rakaat ketiga aku dikagetkan dengan jendela kamar yang yang ada di belakangku tiba-tiba menutup dengan sendiri dengan keras… aku diam sejenak sebelum melanjutkan al fatihah…

__ADS_1


Suasana menjadi temaram karena jendela yang tiba-tiba menutup dengan keras.


Aku masih bisa menahan dengan tenang, tetapi aku merasa ada seseorang di belakangku…..


__ADS_2