RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
101.SESUATU YANG MENGERIKAN


__ADS_3

“Mana  mas…. Tina tidak lihat apa-apa…..”


“Ditengah mbak, di atas… itu diatas…itu yang  bergelantungan di rangka atas jembatan”


“Masyaallah… apa itu mas, apa yang bergelantungan itu!”


Aku masih belum berani menjalankan motor untuk  melewati jembatan…


Karena yang kulihat di atas jembatan itu seperti beberapa manusia yang sedang gantung diri.


Hanya saja karena keadaan gelap dan hanya ada sinar bulan saja maka aku belum bisa memastikan apa yang ada di sana itu manusia atau bukan.


“Mas….. itu a..apa orang gantung d…diri mas?”


“Keliatanya iya mbak… tapi saya belum bisa memastikan mbak”


“Dan tidak hanya satu saja… ada mungkin lima orang atau sesuatu yang sedang tergantung disana mbak”


“Tapi tadi waktu kita berangkat kan tidak ada apa-apa disini mbak”


Motor Tina masih dalam kedaan mati, aku tidak berani menjalankan motor ini, karena aku harus tau dulu apa yang ada di depan kami itu.


Aku dan Tina terus memperhatikan benda yang bergelantungan dan bergoyang goyang kiri kanan itu, benda yang sama sekali tidak bergerak, hanya digantung begitu saja disana.


Hingga beberapa saat aku terdiam di tengah jalan…


Tiba-tiba dari kaca spion… di kejauhan ada nyala lampu.


Aku reflek menoleh ke belakang.


“Mbak dibelakang kita keliatanya ada motor atau sesuatu yang mempunyai cahaya lampu, kelihatan nyala lampunya dari sini”


Tina kemudian menoleh ke belakang juga, memang dari jauh aku lihat ada cahaya redup yang posisinya masih jauh dari tempat kami terdiam.


Hanya saja kami harus segera berjalan atau sembunyi dari seberkas cahaya yang masih nun jauh disana itu.


Aku tau tidak ada tempat untuk sembunyi di daerah ini, karena kiri kanan kami hanya persawahan dan parit saja.


“Mas, kita harus segera pergi dari sini secepatnya, cahaya yang ada di belakang kita itu semakin lama semakin dekat saja”


“Disini apa ada tempat untuk sembunyi mbak?”


“Ya tidak ada mas,  disini kan hanya ada rumput dan persawahan saja… tidak ada tempat untuk sembunyi sama sekali mas”


Aku bingung, karena aku harus menerabas jembatan yang diatasnya ada beberapa bentuk benda yang sedang menggantung.


Dan benda itu bergoyang pelan…. semuanya bergoyang pelan, tidak ada suara apapun, hanya suara angin semilir yang terdengar di telingaku..


Aku harus berani dan aku harus menerobos jembatan besi yang mengerikan ini, tapi nyaliku kecil untuk melewati jembatan besi aneh itu.


Aku masih terdiam di tengah jalan menunggu sesuatu untuk  berubah, tetapi tentu saja yang ada di belakang kami tidak akan menunggu kami.


Kutoleh lagi ke belakang, ternyata cahaya redup itu semakin lama semakin dekat dengan tempat kami berada.


Hanya saja hingga saat ini aku belum mendengar suara mesin kendaraan sama sekali.


Aku tidak mendengar suara mesin atau suara apapun selain suara…..


KLUNTUNG….KLUNTUNG…KLUNTUNG…


Suara kluntungan atau krincingan yang berirama dan terdengar lemah karena asal suara itu jauh dari posisi kami.


“Mas… mas Agus dengar suara itu tidak?”


“I..iya mbak, itu s..suara apa?”


“Sepertinya itu suara krincingan atau kluntungan sapi mas… biasanya ada di leher sapi!”


“Biasanya ditaruh di leher sapi sebagai penarik cikar mas”


“Cikar itu kan kayak dokar bentuknya besar dan biasanya digunakan untuk mengangkat bambu atau sesuatu yang berat kan mbak?”


“Iya mas… dan biasanya penariknya itu ya sapi, dan di leher sapi itu biasanya ada kluntunganya”


“Sik bentar mbak, saya pinggirkan dulu motor ini mbak… saya penasaran di jaman ini kok masih ada cikar yang jalan”


Motor kupinggirkan di sebelah kiri jalan…


Aku tidak berani menyalakan mesin motor, karena takutnya suara motor dan cahaya lampu motor bisa membuat curiga orang yang ada di dalam cikar yang sedang berjalan pelan mengarah ke sini.


Suara kluntung…kluntung  itu semakin lama semakin dekat….


Tapi anehnya hanya suara kluntung kluntung saja yang terdengar….


Aku sama sekali tidak mendengar suara roda atau tapak kaki sapi yang menarik cikar itu… hanya suara kluntung kluntung dan cahaya lampu yang semakin lama semakin dekat.


“Mas, Tina kok merinding gini mas….”


“Ssssttt saya juga mbak, bulu kuduk saya dari tadi sudah berdiri mbak”


“Semakin dekat cikar itu semakin saya merinding mbak…. sebenarnya itu cikar beneran atau gimana ya mbak?”


Terus terang aku sedikit banyak tau model dan bentuknya cikar..


Bentuk cikar itu agak besar kayak truk kecil gitu, dan dengan sepasang roda di kiri dan kanan, roda itu bisa terbuat dari kayu yang dibentuk bundar dan besar..


Tetapi juga ada yang menggunakan roda mobil atau truk.


Hanya saja seharusnya roda  berputar itu kan berbunyi….


Apalagi dengan telapak kaki sapi ketika melangkah harusnya berbunyi karena mengenai aspal jalan, tetapi yang ini tidak!

__ADS_1


Aku tidak mendengar suara telapak kaki dan suara roda yang berputar sama sekali…. yang kudengar hanya suara kluntungan yang semakin keras, karena semakin dekat dengan arah kami berdua.


Cahaya sinar lampu  yang terlihat dari kejauhan tadi itu ternyata lampu minyak…. cahaya lampu minyak itu semakin jelas terlihat.


Suara kluntung… kluntung juga semakin keras terdengar…


Cahaya lampu minyak yang ditaruh di samping cikar itu sekarang semakin bisa memperjelas apa yang sedang kulihat…


Perlahan lahan cikar yang tanpa suara itu berjalan semakin dekat dengan kami berdua yang ada di pinggir jalan.


Semakin dekat.. semakin dekat dan akhirnya terlihat jelas…


Cikar berwarna putih kusam yang terbuat dari kayu dengan dua sapi kurus yang menariknya…


Cikar yang hanya ada satu lampu minyak sebagai penerangan yang diletakan di samping kanan, biasanya agar terlihat oleh pengendara yang ada di belakangnya.


Cikar itu berjalan sangat pelan karena sapi penariknya terlihat sudah tua dan kurus…


Tetapi tadi dari cahaya lampu minyak yang ada di samping cikar, aku bisa lihat bagian dalam cikar itu sedikit.


Cikar itu sedang membawa muatan..banyak sekali muatan, hingga bertumpuk tumpuk.


Muatan yang sekilas bentuknya panjang..mungkin sepanjang satu meter setengah hingga dua meter perkiraanku


Muatan itu  tersusun bertumpuk rapi hingga batas atas cikar..


Muatan cikar itu aneh, karena sekilas aku lihat ada semacam rambut di tiap benda yang tersusun rapi itu.


Tetapi ada yang ganjil dengan cikar itu….


Cikar itu tidak berjalan… tetapi melayang!


Tidak ada suara telapak kaki sapi, tidak ada suara rodanya….


Dan ternyata roda cikar itu terbuat dari kayu yang dibentuk bundar dan besar itu tidak bergerak sama sekali!


“Mas…..” Tina memegang erat tanganku, telapak tangan Tina sudah basah oleh keringat dingin


Aku tidak menjawab panggilan Tina, aku terus fokus pada benda besar dengan sepasang roda dan ditarik oleh sepasang lembu atau sapi yang melayang beberapa sentimeter dari jalan!


Keringat dinginku semakin deras ketika cikar yang lewat di depan kami itu tiba-tiba berhenti!


Suara kluntung-kluntung itu sudah tidak terdengar…


Hanya suara angin malam yang terus menerus melewati telingaku.


Cikar itu tetap diam di depan kami…


Diam tidak menurunkan apapun dan tidak menaikan apapun..


“Mas….Ti..Tina takut” Tina semakin kencang memegan telapak tanganku


Aku harus tetap sadar meskipun Tina pingsan sekalipun..


Kutatap cikar sapi aneh yang ada di depanku….


Beberapa saat tidak terjadi apa-apa hingga tidak lama kemudian bunyi kluntung-kluntung mulai terdengar lagi..


Cikar itu mulai bergerak pelan… sangat pelan tanpa ada suara sama sekali kecuali bunyi kerincingan atau keluntungan atau bahasa susahnya adalah cowbell.


Cikar itu berjalan sangat pelan menuju ke jembatan besi, jembatan besi yang dari tempatku dan Tina berdiam diri ini menampakan sesuatu yang menggantung di rangka atas besi jembatan.


“Mbak Tina… mbak Tina ndak pingsan kan?”


“N…ndak  mas… Tina masih gemetar mas”


“Dah diem dulu aja mbak, kita perhatikan saja apa yang akan terjadi selanjutnya”


Ketika cikar itu mulai jalan… udara di sekitar kami berdiri ini tiba-tiba bau busuk…


Bau busuk ..bau bangkai yang sangat busuk…


“Mas, Tina mual-mual ….”


“Lho  saya kan belum apa-apain mbak Tina, kok bisa mbak Tina sekarang mual-mual sih hehehe”


“Ih apaan sih mas…dari tadi mas Agus mancing-mancing TIna lho mas, tunggu aja pembalasan Tina mas”


“Pembalasan apa…. mancing-mancing apa mbak. Saya kan tidak ngapain ngapain mbak Tina kan”


“Sudah…sudah mas, uugh baunya busuk sekali”


“Hehehe untungnya saya pakai penutup hidung mbak, jadi bau itu tidak sampai masuk terlalu banyak di hidungku mbak


Kuperhatikan terus cikar itu…


Cikar itu sudah hampir sampai di depan jembatan yang aneh… jembatan besi yang di atasnya bergelantungan sesuatu yang mirip dengan manusia.


Ketika cikar itu mulai masuk ke jembatan, tiba-tiba cikar itu berhenti…


Suara kluntung-kluntung cowbell yang ada di leher sapi itu juga berhenti.


“Mbak… Lihat disana itu… cikar itu berhenti di bawah benda-benda yang bergelantungan”


“Iya mas…. Tia merasa ada sesuatu yang saling berhubungan antara cikar itu dengan benda atau orang yang bergelantungan di jembatan itu”


“Iya mba;… tetap fokus saja mbak”


Cikar itu berhenti  dan tidak bergerak sama sekali di bawah benda-benda yang bergelantungan di atas jembatan.


Tetapi ada yang tidak masuk akal…

__ADS_1


Ketika Cikar itu berhenti di bawah sesuatu yang bergelantungan…


Tiba tiba benda yang bergelantungan dan mirip dengan manusia yang sedang gantung diri itu melayang..


Benda yang mirip manusia itu melayang dan masuk ke dalam cikar…


Semua yang bergelantungan di jembatan… semua yang mengerikan itu masuk ke dalam cikar.


Semuanya melayang dan kemudian masuk ke dalam cikar seperti daun daun yang jatuh dari atas pohon!


Kakiku sangat gemetar, apalagi dengkulku… benar-benar gemetar.


Rasa gemetar kaki dan dengkulku ini mirip dengan kalau aku melakukan masthurbashi sehari tiga kali….rasanya kakiku tidak mampu menahan berat tubuhku!


“Mas… itu yang bergelantungan itu sebenarnya apa mas?”


“Ya tidak tau mbak… jangan  sampai apa yang saya pikirkan itu benar-benar apa yang ada disana”


“Memangnya mas Agus berpikir yang ada disana itu apa?”


“Ndak tau mbak..saya tidak mau berpikir tentang apa itu yang ada disana..”


“Lebih baik saya pikir bagaimana caranya pergi dari sini dengan selamat saja”


Cikar itu masih diam di jembatan besi, bau busuk yang tadi menyerangku sudah mulai berkurang.


Aku merasa apa yang kulihat ini adalah gambaran jaman penjajahan ketika banyak orang pribumi yang mati dan kemudian digantung di atas jembatan.


Dan mungkin saja pemilik cikar itu yang rajin menurunkan mayat-mayat korban penjajahan dan kemudian dikuburkan dengan layak.


Atau bisa jadi banyak mayat yang dibuang begitu saja di sungai itu, dan sebagian mayat tersangkut di sekitar belakang rumah penggergajian


Tetap kuperhatikan apa yang dilakukan cikar ghaib itu hingga di atas jembatan sudah tidak ada sesuatu yang kuanggap mayat ghaib lagi.


Ternyata benar yang tadi kutebak, setelah mayat-mayat yang tergantung itu habis….


Cikar itu berjalan lagi…


Suara kluntungan dari cowbell yang ada di leher cikar itu berbunyi lagi…


Hingga lama kelamaan cikar itu hilang begitu saja dari pandangan kami berdua.


“Cikar ghaib itu sudah hilang mas…”


“Ternyata dia punya tugas untuk mengambili mayat-mayat  hasil pembunuhan jaman penjajahan”


“Begitu mulia sebenarnya pemilik cikar pada jaman dulu itu mas”


“Iya mbak… “


“Dan kemungkinan besar penduduk sini menganggap keangkeran jembatan ini karena sesuatu yang bergantung itu ya mas”


“Bisa juga mbak, tapi apakah penduduk disini juga melihat seperti yang kita lihat?”


“Ah sudahlah mas…ayo kita pulang.. Tina sudah ngantuk mas”


“Padahal tadi waktu di rumah pak Solikin Tina udah ngantuk sekali”


Setelah kurasa aman, tidak ada suara mesin motor, tidak ada sinar atau cahaya lampu, tidak terdengar apapun, kemudian kuberanikan diri untuk menyalakan mesin motor.


Sinar lampu motor mampu menerangi hingga dekat dengan jembatan.


Tidak ada apa-apa disana.


“Ayo mbak…. kita pulang sekarang”


Motor kujalankan pelan-pelan sambil selalu kuperhatikan spion motor..


Aku masih ketakutan apabila ada sesuatu lagi yang akan muncul.


Kami mulai melewati jembatan besi.. cahaya dari lampu motor yang terang ini cukup untuk  berkata bahwa tidak ada apa-apa di depan kami.


Sinar lampu motor ini berkata semua dalam keadaan aman.


“Hati-hati mas….”


“Iya mbak”


Kami mulai memasuki jembatan besi, aura negatif sempat kurasakan ketika motor ini mulai memasuki jembatan besi….


Tapi untungnya tidak terjadi apa-apa..


Kami berhasil melewati jembatan kuno itu dengan selamat.


Tidak jauh dari kami sudah pertigaan , kami harus ke kanan untuk ke rumah Tina.


Ketika kami hendak belok, tiba-tiba dari arah kanan kami melaju dengan kencang motor berknalpot nyaring dan berisik.


Motor  berknalpot berisik itu mungkin menuju ke arah warung-warung penjual solar yang tadi mereka datangi.


“Stooop mas…biarkan mereka agak jauh dulu baru kita jalan lagi mas”


“Iya mbak….”


Sengaja memang aku tunggu hingga motor itu agak jauh, kemudian baru kubelokan motor Tina ke arah kanan menuju ke rumah Tina.


Setelah kurasa motor yang  bersuara nyaring itu sudah cukup jauh, kemudian aku menjalankan motor lagi menuju ke rumah Tina.


Ku Jalankan motor dengan pelan sambil aku perhatian spion motor untuk meyakinkan diriku bahwa tidak ada yang akan mengikuti kami.


Tetapi ternyata apa yang aku perkirakan salah…!

__ADS_1


__ADS_2