
Kami telusuri taman belakang.. Banyak demit memang, tetapi mereka tidak mendekati kami, mereka pun tidak melakukan apa-apa kepada kami, mereka hanya bergerombol saja.
“Aneh…sungguh aneh..mereka tidak menyerang kita” kata pak Diran
“Ayo kita cari teman kita saja pak” jawab pak Hendrik
Kami ke tengah taman… tanah yang merekah dan ada lava di dalamnya sudah tertutup… disini sepi tidak ada teman kami sama sekali… di halaman belakang dekat sungai pun keadaannya sama.. Tidak ada peperangan sama sekali.’
Sungguh aneh… tidak seperti sebelumnya yang penuh dengan kekacauan…
“Kita ke pohon beringin saja dulu.. Siapa tau disana masih ada mbak Kunti yang baik itu” kata pak Diran
Kami berjalan ke arah belakang, dimana disana ada pohon beringin besar yang berini aneh rupa makhluk ghaib termasuk mbak Kun yang merupakan teman dari pak Diran.
Ternyata benar, disana masih ada mbak Kun, dia sedang duduk di dahan sambil melotot ke arah kami yang datang mendekati pohon beringin.
“Ternyata kalian masih hidup hehehe…” kata mbak Kun itu. Sekarang aku bisa lihat dengan jelas mbak Kun yang ada di atas pohon, sejelas jelasnya seperti aku lihat wujud pak Diran dan pak Hendrik.
“Mbak Kun.. dimana teman-teman kami yang tadi berperang disini?”
“Oh mereka mundur.. Mereka menyelamatkan diri, setelah tadi Solikin ngamuk dan mengerahkan seluruh ingon ingon nya ke sini hihihihiiiiii” kata mbak Kun sambil tertawa tetapi dengan wajah yang masih kaku
“Mereka pulang ke desa sana… sedangkan leluhur mbak Tina sudah kembali ke asalnya.. Solikin ada disana, di kamar nomor tujuh.. Dia sedang sembunyi karena sekarang sudah hampir pagi hihihihiiiiii”
“Gimana pak Diran.. Kita datangi dia pak?” bisik pak Hendrik
“Ya sudah mbak Kun.. saya akan kesana sekarang!” kata pak Diran
Kami menuju ke kamar nomor tujuh, yang letaknya agak jauh dari sini… aneh juga.. Kenapa Solikin sembunyi disini, apakah dia tidak punya tempat tinggal lagi?
Bukannya dia itu sudah berupa setan, bukan manusia lagi.. Kenapa harus sembunyi disini.. Bisa saja dia ke seberang sungai kan.
Kami berjalan pelan tanpa menimbulkan suara sama sekali, dan anehnya rastusan demit jelek disini tidak menganggap kami..
Mereka hanya sibuk dengan kegiatanya sendiri… ada yang cari kutu di rambut temannya.. Ada yang sedang bersetubuh dengan sesamanya.. Bahkan ada yang sedang ngemut kuntulnya sendiri, dengan menekuk tubuhnya sedemikian rupa hingga mulutnya bisa menghisap kuntulnya sendiri.. Benar-benar aneh!
__ADS_1
Kami sudah ada di depan kamar nomor tujuh….
“Masuk ke dalam saja pak… dobrak pintunya….” bisik pak Hendrik
Kami mendekati pintu kamar nomor tujuh, dan sekali tendang pintu itu terbuka..
Jangkrek… !
ternyata di dalam memang ada solikin yang dalam keadaan telanjang bulat.. Dia sedang njenking (menungging)..
Di bagian phantatnya ada setan yang ganteng dan berbadan kekar…
Mereka berdua kaget dan menoleh ke arah kami bertiga yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar nomor tujuh ini.
Anjeeeng mereka melakukan persethubuhan…! Khuntul setan berbadan kekar itu dimasukkan ke deborah (dhubur) Solikin!
C*k!...nggilani pol!
“Janc*k.. Ayo serang Solikin” teriak pak Dikan
Kami bertiga maju hendak memegang Solikin…
Sedangkan setan kekar teman main Solikin maju menghadapi kami.. Kayaknya mereka ini adalah pasangan humu sejati.
“Heheheh lawan dulu mas Kreco ku itu.. Kalian akan dibuat bertekuk lutut oleh mas Kreco setelah berani beraninya mengganggu ritual kemi hihihih” kata Solikin yang masih mengelus kuntikanya yang masih ngatjeng berdiri tegak berurat itu
Setan berotot pasangan Solikin itu maju dan menghalangi kami yang tadi berusaha memegang Solikin… tapi aku jijik hiiii, lihat solikin thelanjang bulat dan kuntilanya yang masih berdiri itu.
Sedangkan untuk membakar Solikin kan kami harus menyentuh tubuhnya…
“Ayo kita bakar bersama sama setan itu” kata pak Diran
“Tapi jijik pak…,lihat itu kuntila besar dia yang maih ngatjeng itu pak… “ tunjukku pada kuntila (khuntul) setan yang bukan main besarnya itu
Aku gak bisa bayangkan kuntila sebesar dua kali botol sirup marjan itu masuk ke deborah (dhubhur) Solikin.. Apa gak robek-robek deborah Solikin itu
__ADS_1
Tapi kubuang rasa jijik itu.. aku , pak Diran dan pak Hendrik maju mendekat setan yang sedang melindungi pacarnya yang thelanjang bulat itu.
Ketika kami mendekat… tiba-tiba dengan sengaja setan yang tadi dipanggil Kreco oleh Solikin itu memegang kuntilanya… dan dengan cepat dia mengocok Kuntilanya…
“Pak.. apa yang dia lakukan!” bisik pak Hendrik
“Entahlah pak.. Ayo kita bakar saja pacar Solikin itu.. Ayo cepat, karena saya merasa ada yang tidak beres dengan setan ini!”
“Iya pak.. Ayo kita pegang pak….” bisikku
Akhirnya dengan nekat , dan melihat terus setan Kreco yang sedang mengocok kuntilanya kami mendekati butuh setan itu..
“Pegang tubuhnya…. Sekaraaaang!” seru pak Diran
Kami bertiga akhirnya semakin dekat, tapi aku menghindar diriku dari kuntila Kreco yang besar itu.. Aku akhirnya bisa memukul setan itu…
“Arrghh sialan!.. Panaasss” kata Kreco yang masih mengocok Kuntilanya
Kami bertiga bersama sama akhirnya memegang dan memukul setan itu.. Setan itu memang kepanasan dan terbakar di tempat kami memegangnya, tapi dia masi hidup dan masih mengocok kuntilanya dengan cepat…
Berkali kali kami berusaha memukul dan memegang tubuhnya.. Tetapi hanya terbakar sesaat dan kemudian api itu padam… dia tidak merasa kepanasan.
Ada yang aneh dengan setan ini, dia kebal dengan serangan kami.. Tapi dia tetap mengocok kuntilanya dengan cepat.
“Pak.. apa yang harus kita lakukan.. Dia kebal pak”
“Kelemahannya kayaknya ada pada khemaluanya itu.. Ayo kita rusak kemaluanya” kata pak Diran
“T..tapi gimana caranya pak.. Dia sekarang sedang mengocok dengan cepat pak….” kata pak Hendrik
“Begini.. Saya akan bakar tangan dia yang digunakan untuk mengocok itu, setelah dia kepanasan dan melepas khemaluanya.. Pak AGus segera bakar kemaluanya hingga seluruh tubuhnya terbakar”
“Pak Hendrik memukul ke seluruh tubuh setan ini!”
“Ayo cepat kita lakukan sekarang!”
__ADS_1
Apa..! aku harus memegang kuntila setan ini yang besarnya dua kali ukuran sirup marjan!..
Aku harus memegang dan membakar kuntila itu!