
Perempuan yang berisi arwah Solikin itu mulai merangkak, wajah dia sudah berubah menjadi mengerikan, bukan wajah perempuan yang merupakan istri dari Solikin.
Dalam keadaan gelap aku bergeser mendekati lilin yang masih menyala meskipun sudah terguling di antara kamar dan ruang tamu.
Kini pak Diran sudah berdiri dan bersiap menahan serangan iblis Solikin yang ada di dalam tubuh perempuan….Sangat pelan… perempuan iblis itu merangkak dengan wajah yang tidak bisa lepas melihat ke arah pak Diran.
Dalam keadaan kebingungan, pak Diran yang sudah berdiri dengan tegak dan siap untuk serangan kedua dari iblis yang makin mengerikan itu memberikan kode kepadaku agar aku mendekati lilin.
Kulirik lilin itu… nyala api lilin yang posisinya sudah jatuh itu semakin besar… tetesan lilin yang mengenai lantai kayu semakin banyak.
“Siap-siap pak Agus…. Dekati lilin itu” bisik pak Diran dengan wajah yang tidak berpaling dari setan yang ada di dalam tubuh istri Solikin
Istri solikin menggeram pelan.. Dia merangkak ke samping, dia mendekati lilin itu, dia keliatanya tau apabila aku dan pak Diran mengincar lilin yang masih menyala itu.
Pak Diran kemudian membungkukkan tubuhnya, seolah siap menerima serangan dari perempuan yang merangkak semakin mendekati lilin.
“SEKARANG PAK AGUUS!” teriak pak Diran
Bersamaan dengan perempuan yang mengerikan itu melompat dan menyerang pak Diran yang sedang merunduk, aku melompat ke arah lilin… tapi..
“Aduuhh Jangkreeeek sakit c***k……… kok bisa aku kepleset c*k!” Mungkin karena aku terlalu bersemangat sehingga aku tidak kontrol diri\, sehingga aku terpeleset melewati lilin dan membentur tembok kayu
“Pak Agus…..matikan lilinyaaaa! Uughh, bukan dinding rumah ini yang dimatikan” kata pak Diran yang sedang berusaha menepis gigitan serangan dari istri Solikin
“I..iya pak….”
Ketika pak Diran menyuruhku untuk mematikan nyala lilin itu, ternyata tangan perempuan itu sempat memukul wajah pak Diran.. Dan kepala pak Diran membentur ujung meja yang ada di ruang tamu.
Seketika itu pak Diran pingsan….
“JANC***K PAK.. JANGAN PINGSAN PAK!” kulihat pak yang sudah tergeletak pingsan
Aduuh punggungku sakit, tapi tidak kupedulikan.. Aku bangun dari posisiku yang ada dinding ruang tamu.. Aku akan mematikan dan menginjak lilin itu.
Tapi ternyata istri Solikin yang sekarang berubah mengerikan itu menoleh ke arahku.
Dia berbalik arah akan menyerang, menerkamku dengan beringas…
Dalam keadaan duduk dan kesakitan… aku bersiap untuk menendang wajah perempuan yang semakin mengerikan, karena sekarang sudah tumbuh taring di mulutnya.
__ADS_1
Perlahan namun pasti perempuan yang sudah berubah mengerikan itu merangkak..
Kemudian dengan cepat menerkam aku!….
Tapi aku bisa menangkis dan menendangnya hingga dia terjengkang.
Tapi dia tidak kesakitan, dia merangkak ke arahku lagi….
Dan kini dia menyeringai sambil memamerkan giginya yang mengerikan.
Aku yang tadinya ketakutan, tidak tau kenapa tiba-tiba muncul keberanian untuk menendang dan memukul kepalanya…
Dia merangkak pelan..pelan..pelan dan kemudian melompat menerkam dari depan….
SMAAK BUUGH…..!!!!” Tendangan kaki kiriku berhasil masuk ke kepala bagian depan…
“JANGKREEEKK ASYUU! MINGGAT RAIMU C****K!”
Berkali kali aku menendang kepala perempuan yang mulutnya selalu terbuka dan siap menggigitku. Beberapa tendanganku yang sambil duduk itu sempat mengenai wajah perempuan itu..
Dia kemudian diam.. Dia mundur beberapa langkah, dia tidak menyerang aku lagi, tapi tidak lama kemudian dia merangkak pelan.
Mulutnya yang nggak bisa mingkem itu mengeluarkan aroma sangat busuk, aroma bangkai yang sangat busuk.
Aku tau untuk saat ini aku dalam bahanya besar. Dan sayangnya posisi lilin itu beberapa meter dari posisiku yang ada di pojokan ruang tamu…
Ini mungkin saatnya aku harus meminta tolong penduduk yang ada disini, dari pada aku mati disini.
“TOLOOONGG…… TOLOOONG…TOLOOOONG….” berulang kali aku teriak meminta tolong penduduk disini…
Aku sudah pasrah, pak Diran masih tersungkur pingsan dengan dahi yang mengeluarkan darah sedikit, aku terpojok di ruang tamu dan tidak bisa bergerak, karena perempuan itu mulai merangkak pelan ke arahku.
Yang kubuhtuhkan adalah keajaiban
“TOLOOOOOONG….. TOLOOONG…. TOLOOOONG”
Kupejamkan mata sambil terus berdoa, semoga ada pertolongan datang… sementara itu perempuan yang mengerikan itu mulai mendengus dan mengeluarkan suara mengerikan.
Kaki kananku sudah siap untuk menendang lagi apabila perempuan itu tiba-tiba menyerangku… tetapi dia ternyata hanya diam saja, dia melihat ke arah pintu.
__ADS_1
BRAAAK….!!!!
Pintu terbuka..!
Satu orang warga yang membawa kayu sebesar batang cangkul tiba-tiba masuk, dan dengan keras dan beringas dia memukul wajah perempuan yang sudah berubah mengerikan.
“Tugiyem.. Cepat matikan lilin itu.. Saya akan tahan setan ini!” teriak orang yang berkali kali memukulkan kayu yang dipegangnya ke arah perempuan itu
Perempuan mengerikan itu tidak diberi kesempatan untuk bergerak sedikitpun, karena pukulan laki-laki itu dilakukan dengan keras dan cepat secara terus menerus.
Bu Tugiyem dengan cepat masuk ke dalam rumah dan segera menginjak dengan keras lilin yang tadi masih nyala….
Berkali kali bu Tugiyem menginjak api lilin… tapi ternyata api lilin itu sulit untuk dipadamkan…
Teriakan perempuan yang mengerikan itu melengking membahana ketika bu tugiyem menginjak-injak lilin yang masih saja nyala apinya..
Berkali kali diinjak, berkali kali pula perempuan istri Solikin itu teriak marah dan kesakitan.
Aku yang masih tertegun dengan kedatangan bantuan ini berusaha berdiri dan membantu bu Tugiyem memadamkan nyala api lilin yang sulit untuk dipadamkan.
Satu orang terus memukuli perempuan mengerikan, sedangkan aku dan bu tugiyem terus menginjak injak api lilin yang sulit padam.
“Nak Agus.. taplak meja ini kasih air minum itu, dan tutupkan ke api lilin ini cepat” suruh bu Tugiyem yang terus berusaha memadamkan api
Setelah yang tadi bu Tugiyem suruh aku lakukan, menahan dan menutup nyala api lilin dengan menggunakan taplak basah, akhirnya api itu bisa kami padamkan.
Bersamaan dengan itu teriakan melengking keluar dari mulut perempuan yang mengerikan tadi..
Dia berangsur angsur lemas dan kemudian tergeletak…..
“Pak Rofiq tolong nyalakan lampu petromak rumah ini.. Kita periksa rumah ini pak” kata bu Tugiyem
“Pak Samijan.. Tolong suruh warga yang bergerombol untuk membubarkan diri, karena kita akan bakar rumah ini”
“Mas Gatot.. Tolong ke rumah pak Kyai Dollah..dan ajak dia ke sini”
“Nak Agus… segera bangunkan temanmu yang pingsan, dan cepat ke hotel yang dulunya adalah rumah penggergajian”
“Tunggu disana, karena arwah Solikin akan menuju ke sana dan membongkar pagar ghaib disana, saya akan kesana setelah memeriksa dan membakar rumah ini” kata bu Tugiyem yang ternyata sangar ini.
__ADS_1
Bu Tugiyem, bagaimana dia tau apa yang ada di hotel Singgasana Adem Ayem… apakah dia ada hubungannya dengan leluhur mbak Tina.