
Aku tetap berusaha tenang dan terus mengendarai motor Tina dengan benar meskipun suara motor dengan knalpot variasi itu semakin dekat dengan kami berdua.
Kulihat dari spion motor, jarak antar motor yang kami naiki dengan motor bersuara berisik itu tinggal beberapa meter lagi.
Aku sudah siap menggeber motor Tina apabila ada sesuatu yang akan terjadi dengan kami.
Terus terang aku takut juga, karena jalan yang kami lalui ini sepi dan cukup rawan terjadi tindak kejahatan tanpa ada saksi mata.
Beberapa kali kulihat di spion… dan di spidometer motor Tina…
“Cuma jalan 40 km/h saja…terlalu pelan dan cukup mencurigakan!”
Kenapa motor yang di belakang kami dengan knalpot berisik itu hanya melaju dengan kecepatan seperti itu, apakah mereka sengaja membuntuti kami?
Apakah aku harus memelankan laju motor Tina ini lagi dan membiarkan motor yang ada di belakang kami menyalip?
Tapi memang dari tadi aku memelankan laju motor Tina, aku memang sengaja agar motor yang ada di belakangku menyalip kami.
“Mas… mereka yang ada di belakang itu masih jauh atau sudah dekat dengan kita?”
“Mereka boncengan atau hanya seorang diri yang mengendarai motor itu mas?”
“Mungkin sekitar lima meter mbak, kalau saya lihat dari kaca spion ini…”
“Kalau saya perhatikan dari spion ini…motor yang ada dibelakang kita itu berboncengan mbak”
“Dari tadi memang saya pelankan agar yang dibelakang itu menyalip kita mbak, tapi ternyata motor yang ada di belakang kita itu juga memelankan kecepatannya ketika saya pelankan laju motor mbak TIna ini”
“Bagaimana kalau mas Agus lebih pelan lagi mas, agar dia menyalip kita…”
“Rasanya kok risih bener mas, ada motor yang mengikuti kita”
“Mungkin tidak mengikuti mbak, tapi ya tidak tau juga. kecepatan kita ini tinggal 40 km/h mbak. mosok harus dipelankan lagi mbak?”
“Atau pelan-pelan saya coba menambah kecepatan saja ya mbak?”
“Iya mas…. terserah mas Agus saja lah”
Aku coba untuk lebih pelan lagi sebelum ku tambah kecepatan motor Tina…
Aku akan melihat apakah motor yang ada di belakangku ini mengikuti ritme yang sedang kulakukan atau tidak.
Laju motor kukurangi menjadi 35 km/h….
Sebenarnya cukup tidak masuk akal juga. di daerah yang sepi dan gelap begini harusnya kita menambah kecepatan laju motor, bukanya malah menguranginya.
Di daerah sepi dan gelap biasanya rawan kejahatan dan rawan gangguan mahluk Halus, sehingga seharusnya kita menambah kecepatan agar sampai di tujuan dengan selamat.
“Jangkrek!... ternyata motor itu juga ikut memelankan kecepatanya mbak”
“Sudah mas.... tambah kecepatan saja mas, Tina takut kita dibegal mas”
Akhirnya kutambah kecepatan motor Tina…
Kulihat di speedometer, kecepatan motor ini bertambah menjadi 45km/h.. sudah cukup cepat dari pada semula…
Kuintip lagi melalui kaca spion, ternyata motor yang ada di belakang kami itu tidak menambah kecepatanya.
Mereka agak tertinggal dari kami yang jaraknya semakin jauh dari kami berdua.
__ADS_1
“Gimana mas, mereka menambah kecepatan atau tidak?”
“Ndak mbak, mereka tidak menambah kecepatan, dan sampai saat ini mereka tidak menambah kecepatan untuk mengejar kita”
“Mbak…keliatanya mereka itu tidak mengikuti kita, karena jarak kita dengan mereka semakin bertambah jauh”
Memang benar, suara motor dengan knalpot variasi itu semakin jauh dari kami..
Dan kurasa mereka memang tidak ada niatan untuk mengikuti kami, mungkin motor mereka tidak bisa berjalan dengan kencang.
Tapi apakah motor yang ada di belakang kami itu sama dengan yang ditumpangi oleh pak Wito dan Yetno?
Karena kalau mendengar dari suaranya… suara motor itu sama dengan yang ada di hutan ketika kami sedang bersembunyi.
Aku ada ide untuk mengikuti mereka, tetapi bagaimana caranya?
“Mbak Tina… jarak kita dengan motor itu semakin jauh, ada kemungkinan motor itu memang tidak bisa berjalan dengan kencang”
“Iya mas…Tina juga tadi berpikir seperti yang mas Agus katakan”
“Mbak… eh tidak lama lagi kita belok kiri melewati jembatan besi…”
“Gimana menurut mbak Tina, kita tetap ke kiri ke rumah pak Solikin atau kita ikuti saja motor yang ada dibelakang kita itu?”
“Memangnya ada apa mas,... kenapa kok mas Agus malah kepingin mengikuti motor yang ada di belakang kita itu?”
“Karena saya merasa motor itu sama dengan yang dinaiki oleh Yetno dan pak Wito mbak”
“Saya hanya ingin tau kemana mereka malam-malam seperti ini”
“Iya mas, Tina paham… tapi memang kalau mas Agus lurus saja nanti kita akan sampai ke sebuah rumah penggergajian lain”
“Kalau memang benar mereka itu Yetno dan pak WIto kemungkinan besar mereka akan ke sana mas”
“Ada mas, tapi letaknya tidak jauh dari jalan utama ini… nanti kita lurus saja setelah melewati jembatan besi itu”
Hmm menarik juga apa yang dikatakan TIna, apakah ada baiknya kita ikuti kemana mereka akan menuju?
Kalau memang niatnya kita membuntuti mereka… aku harus mengurangi kecepatan laju motor atau berhenti di sebuah tempat yang terlindung.
“Mbak Tina… bagaimana apabila kita ikuti motor itu saja…”
“Kita cari tempat sembunyi dulu saja mbak, hingga motor yang ada di belakang kita melewati kita”
“Disana mas, setelah tikungan di depan dan sebelum jembatan di seberangnya ada semacam kebun pohon sengon, tapi motor bisa masuk ke sana kok”
“Karena disana kadang digunakan untuk wisata lokal atau anak yang pacaran”
Mumpung jarak kami sudah lumayan jauh dari motor yang ada di belalang, kemudian lam[u motor Tina kumatikan.
Setelah lampu motor Tina kumatikan, aku memotong ke kanan untuk menuju ke arah kebun sengon yang dimaksud Tina.
Dan ternyata kebun sengon itu tidak jauh dan ternyata dekat juga dengan posisi jembatan besi yang terkenal angker itu.
Mesin motor kumatikan di antara pohon sengon yang tumbuh berjajar dengan ukuran sama ini.
Aku yakin mereka yang ada di belakang kami tidak akan tau dimana kami berdua berada, karena tadi waktu aku membelokan motor ke kanan, posisi mereka berada sebelum tikungan jalan.
Tidak lama kemudian motor dengan knalpot berisik itu melewati kebun sengon tempat kami sembunyi.
__ADS_1
Laju motor itu memang pelan, tidak tau apakah memang motor itu tidak bisa melaju kencang atau memang mereka sengaja berjalan pelan.
“Itu mereka sudah melewati kita mbak… dan mereka tidak belok ke arah jembatan besi”
“Ya sudah mas…ayo kita ikuti mereka, tapi jaga jarak dan jangan nyalakan lampu motor mas”
Setelah kurasa aman, mesin motor kunyalakan lagi….
Untungnya lampu belakang motor yang kami ikuti itu nyala, sehingga kami tidak kesulitan mengikuti mereka.
Aku tetap menjaga jarak sekitar sepuluh meter lebih dari motor yang ada di depanku.
“Hati-hati mas, jangan sampai kita menabrak sesuatu, karena kita kan tidak pakai lampu”
“Iya mbak Tina, untungnya yang di depan itu berjalan pelan, jadi saya masih bisa melihat jalan dan menghindari lubang jalan”
Motor yang di depan itu memang tetap berjalan pelan…
Hingga dari kejauhan aku bisa lihat mereka berhenti di pinggir jalan.
Karena jalan yang kami lalui ini adalah jalan alternatif dengan rute pendek menuju ke kota K maka jalan ini jarang dilalui kendaraan.
Bus malam antar kota pun jarang yang lewat sini, bahkan sebagian besar Travel juga jarang lewat jalur ini.
Hanya kadang beberapa mobi travel saja yang nekat lewat sini, karena jalur ini adalah jalur terpendek ke kota K.
“Mereka berhenti mas, kita juga berhenti saja”
“Iya mbak… tapi apa disana itu sudah ada tempat penggergajian kayu?”
“Sebenarnya bukan mas… yang Tina tau di sana itu adalah ada beberapa warung yang jual bahan bakar untuk kendaraan yang lewat sini”
“Kita stop dulu saja mas, hingga tau mereka akan jalan lagi atau tidaknya”
Ternyata mereka tidak lama ada di sana, kemudian motor itu berjalan lagi …
Aku dan Tina juga mulai jalan dan mengikuti mereka yang ada di depan.
Tapi aku penasaran apa yang tadi mereka lakukan dengan berhenti di sana tadi.
Setelah berjalan beberapa menit, ternyata benar…
Di depanku ada beberapa warung yang tertutup rapat dan gelap, di depan warung itu menjual botol-botol yang berisi bahan bakar kendaraan yang dikemas dalam botol bekas minuman keras.
Selain bahan bakar yang dikemas dalam botol minuman, di depan warung juga ada tulisan besar ala kadarnya yang menggunakan papan… “SOLAR ADA”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sekedar info ke para pembaca setia...
Novel ini ternyata masuk pemenang Lima besar novel cerita horor.
Dan sebagai hadiahnya dibuatkan audiobook nya.
Mungkin pembaca disini berkenan untuk mendengarkan audiobook nya.
Karena menurut saya, dengan adanya audiobook rasanya kok makin asik Dan agak semriwing denger ceritanya hehehe.
Terima kasih
__ADS_1
Salam hormat
Mbak bashi