
“Selama ada di dalam nanti usahakan untuk diam saja pak Agus, dan apabila makhluk itu ingin mengajak pak Agus bicara, jawab saja dengan sopan, dan tidak ada unsur melawan”
“Karena percuma juga apabila pak Agus ingin melawan, kita tidak berdaya sama sekali kalau harus melawan dia” kata pak Diran
“Kita tidak sedang melawan dia, kita hanya ingin tau apa tujuan dia disini… hanya itu saja pak Agus”
“Baik pak Diran, saya akan masuk ke dalam kamar Gustin”
Pak Diran menyuruhku untuk masuk ke dalam kamar, sebenarnya aku trauma untuk masuk ke dalam kamar anaku pada tengah malam seperti ini, mengingat saat ini kepalaku masih sedikit sakit meskipun aku sudah meminum obat yang diberikan dokter Joko.
Aku nggak tau dimana posisi sosok yang kata pak Diran itu tinggi besar itu, lebih baik aku nggak tau bentuk sosok itu daripada aku ketakutan.
Perlahan-lahan aku buka pintu kamar Gustin, tidak ada suara tangisan atau apapun, Gustin sedang tidur lelap.
Kursi tempat aku berbaring ada di sebelah box Gustin yang ada di tengah ruangan, aku masih ada di ambang pintu, aku belum masuk ke dalam kamar, aku perhatikan dulu keadaan dalam kamar sebelum aku masuk ke dalam.
Aman…
Perlahan-lahan aku masuk ke dalam, dan kemudian aku tutup pintu kamar Gustin.
Aku tidak boleh seperti orang yang ketakutan, aku harus seperti seorang bapak yang menemani tidur anaknya.
Kurebahkan tubuhku di kursi sofa sebelah box anakku, aku harus terlihat sesantai mungkin, meskipun aku belum tau apa yang harus aku lakukan, pak Diran hanya bilang agar aku tidur disitu saja.
Hanya diam dan memperhatikan setiap keanehan yang ada, dan apabila makhluk itu ingin berinteraksi maka aku harus bicara sesopan mungkin.
Aku coba untuk memejamkan mata sejenak dan aku usahakan untuk setenang mungkin…
Beberapa belas menit berlalu, akhirnya aku bisa relax juga, aku setengah mengantuk. Tetapi kemudian sesuatu terjadi lagi.
Suara berisik langkah langkah kecil yang berlarian, disertai dengan suara gedebuk mulai terdengar olehku.
Aku berusaha memusatkan pendengaranku akan suara-suara yang mulai muncul, sesekali aku mendengar suara tertawa kecil, namun suara tertawa itu sangat samar sekali, dibanding suara detak jantungku, lebih keras suara detak jantungku.
Rasanya senang sekali mendengar suara tertawa anak kecil meskipun hanya sejenak dan sangat samar.
Tetapi ada yang mengejutkan aku….
__ADS_1
Tiba-tiba aku mendengar suara nafas yang berat, suara nafas berat itu berasal dari pintu kamar anakku, nafas berat itu tidak mendatangiku sama sekali, dia keliatanya hanya berdiri di pintu kamar anakku.
Sekarang apa yang harus aku lakukan, karena suara nafas berat itu hanya ada disana saja, dia tidak mendatangi aku sama sekali.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka pelan, kutoleh ke arah pintu, ternyata pak Diran, dia hanya berdiri di ambang pintu saja hingga beberapa saat.
Setelah itu dia berjalan pelan masuk ke dalam kamar, pintu kamar dia tutup kembali.
Pak Diran menuju ke arah box bayi yang didalamnya ada Gustin yang sedang tidur.
Aku sama sekali tidak mau menyapa pak Diran, aku biarkan saja pak Diran yang sedang melihat Gustin yang sedang tidur nyenyak.
Suara berisik anak kecil yang sedang bermain dan berlarian masih terdengar, keliatanya suara berisik itu tidak terganggu dengan kedatangan pak Diran ke sini.
Kuperhatikan pak Diran yang masih ada di sebelah box bayi, tapi kini aku tidak mendengar suara nafas berat lagi, aku nggak tau kemana suara nafas berat itu…
“Selamat malam… anda siapa?” suara pak Diran yang berusaha sepelan mungkin dan sesopan mungkin
Tidak ada jawaban sama sekali dari siapapun atau apapun disini, tapi pak Diran tidak putus asa, dia kembali menanyakan siapa yang ada disini dengan nada suara yang sopan.
“Selamat malam, boleh tau anda ini siapa dan sedang apa anda ada disini?” tanya pak Diran sekali lagi
Mungkin makhluk ini tidak mau merespon apapun selain yang berhubungan dengan kedua anakku, dia tidak mau menjawab pertanyaan selain sesuatu yang mengganggu Gusta dan Gustin.
Tapi sepertinya pak Diran tidak mau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kedua anakku, pak Diran masih tetap di samping box bayi dan melihat ke arah Gustin.
“Anak ini cantik…..” kata pak Diran yang seolah ingin menggendong Gustin dengan kedua tangan yang ingin meraih anakku
“Huuusssh” sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari sisi daun pintu kamar
Dan pada saat suara hussh itu muncul, pak Diran yang tadi seolah ingin menimang Gustin mendadak seperti didorong ke samping dan hampir terjatuh.
“Ouugh… salah saya apa, kenapa anda mendorong saya… anda siapa dan kenapa ada disini?” tanya pak Diran dengan suara pelan setelah berhasil menyeimbangkan dirinya
Tidak ada jawaban atas pertanyaan pak Diran, pak Diran hanya diam dan berpegangan pada box bayi yang ada di depanya.
“Jawab pertanyaan saya, anda siapa dan kenapa saya tidak boleh menggendong bayi lucu dan cantik ini” tanya pak Diran sekali lagi
__ADS_1
Tidak ada respon dari sesuatu yang tadi mendorong pak Diran hingga dia sedikit terdorong ke samping hampir jatuh.
“Bayi ini lucu sekali, tetapi sayangnya kalau siang hingga sore hari dia sekarang tidak mau jalan atau bergurau dengan orang tuanya” kata pak Diran yang seolah ingin menggendong Gustin
Dan sekali lagi sesuatu itu mendorong pak Diran, tetapi tidak hanya mendorong, sesuatu itu seperti mencekik leher pak Diran dan menariknya hingga ke tembok kamar.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa melihat pak Diran yang berusaha melepaskan sesuatu dari lehernya… sesuatu yang mencekik lehernya dengan kuat.
“Uuugh lepaskan…. Lepaskan aku, apa salahku hingga kamu mencekik aku aarggghhhh….” kata pak Diran tanpa berteriak dengan kedua telapak tangan yang berusaha melakukan sesuatu di lehernya
“Kalau anda uuugh tidak melepaskan cekikan aaargh….anda uuugghh, saya akan teriak hingga bayi yang ada di box itu terganggu dan menangis! ” kata pak Diran
Ternyata ancaman pak Diran mempan juga… pak Diran melepaskan kedua tanganya dari lehernya dan mulai berdiri dari posisi dia tadi duduk di lantai akibat sesuatu yang mencekiknya…
“Katakan siapa kamu, dan sedang apa ada disini, saya tidak ingin mengusir kamu, bahkan bapak yang duduk di sofa itu juga tidak ada keinginan untuk mengusir kamu, jadi tolong jangan menyerang kami” kata pak Diran yang berhasil berdiri sambil memegang lehernya.
“Baik-baik saya dan bapak dari anak itu akan keluar, kita bicara di luar saja agar tidak mengganggu anak ini” aneh pak Diran tidak menyebut nama Gustin sama sekali dari tadi
Kemudian pak Diran memberiku kode untuk keluar dari kamar ini, kayaknya sesuatu itu akan bicara dengan pak Diran di luar kamar, agar tidak mengganggu aktifitas kedua anakku.
Dengan perlahan lahan aku dan pak Diran keluar dari dalam kamar dengan berusaha menimalkan suara langkah kaki kami berdua.
*****
Aku, pak Diran dan dokter Joko duduk di sofa ruang tamu, saat ini lampu ruang tamu kami matikan agar keadaan menjadi gelap.
Kami menunggu sesuatu itu bicara dengan pak Diran, tetapi hingga lima menit pak Diran belum juga menyapa sesuatu itu, baik pak Diran maupun dokter Joko hanya diam saja tanpa bereaksi sama sekali.`
Hingga sepuluh menit berlalu tidak ada atau belum ada komunikasi. Kami bertiga hanya diam saja tanpa berkata kata sama sekali.
Tetapi lima belas menit kemudian pak Diran berdiri dan seolah mempersilahkan sesuatu itu untuk duduk di kursi yang kosong di depan kami.
Terus terang aku belum bisa atau tidak bisa melihat atau mendengar apa-apa, tetapi aku harus bersikap biasa saja, agar tidak mengganggu pembicaraan antar pak Diran dengan sesuatu yang mungkin sedang duduk di depan kami.
Pak Diran dan dokter Joko mungkin sedang mendengarkan apa yang dibicarakan sesuatu yang ada di depanku, karena sesekali kepala mereka berdua mengangguk.
Tetapi tidak dengan aku, aku hanya seperti kambing congek yang hanya memperhatikan kursi kosong di depanku saja. Sebenarnya aneh juga, sebelumnya aku kan dengar suara nafas sesuatu itu, dan aku juga bisa merasakan hembusan nafasnya….
__ADS_1
Tetapi kenapa aku tidak bisa mendengar sesuatu itu bicara?