
“Hmm ini bau pandan.. eh kayaknya bau baiklin.. eh salah… eh bau basreng ya mungkin mas”
“Bukan pak Agus, ini bau solar, lubang kloset ini terhubung dengan sebuah penampungan solar”
“Sepiteng maksudnya mas”
“Iya mungkin.. cuma itu kayaknya baru pak. jadi itu tempat penampungan solar”
Aku sampai sini cukup heran dengan Burhan, bagaimana dia tau semua yang berhubungan dengan keterlibatan pak Wandi, Mamad, pak Solikin, mbah Karyo dan Yetno.
Dan bagaimana dia tau tentang pompa mini dan genset mini untuk menghisap solar dari drum dan dialirkan ke dalam kloset.
Bagaimana dia bisa menjelaskan semua nya secara detail apabila dia tidak ikut masuk kedalam kegiatan mereka?
Pastinya pak Wandi dan kawan-kawan tidak akan memberi tahu tentang rahasia disini kalau Burhan tidak bergabung bersama mereka, apalagi pak Wito, mana tau dia hal-hal seperti ini.
Aku harus berlagak tolol saja, agar Burhan mengatakan semuanya kepadaku.
“Wah hebat juga mas, pantesan saya tidak boleh pakai kloset ini”
“Jadi fungsi kloset ini adalah lubang untuk ke penampungan solar ya mas”
“Iya pak, dan nanti setelah terkumpul sekitar semingguan, baru solar itu disedot kembali dan diisikan ke dalam Drum bekas yang disembunyikan di balik semak belukar yang ada di samping kamar saya”
“Oh gitu mas, lalu bagaimana cara menyalurkan ke sana mas, kan jauh dari kamar mandi ini mas?”
“Pak Agus… sepiteng rumah ini itu ada di bawah tempat pembuatan pallet, Disana dibuatkan lubang untuk menghisap atau menyedhuooot, kemudian solar ini langsung dimasukan ke dalam drum yang sudah siap disana”
“Kemudian Drum itu digulingkan keluar pagar yang ada di samping tempat pembuatan palet”
“Tapi sebelumnya Yetno atau siapa pun sudah siap dengan mobil pickup di samping rumah. biasanya sekali ambil bisa dua ratus liter pak…”
“Kan lumayan juga pak..”
“Kegiatan itu bisa dilakukan seminggu sekali atau seminggu dua kali pak”
“Lumayan juga dapatnya mas. kalau seminggu bisa dua kali”
“Tapi sekarang kan pak Wandi dan Mamad sudah tidak ada. lalu buat apa mas Burhan ada disini kalau mas Burhan disini hanya untuk menyelidiki tentang kejahatan ini”
“Memang orang-orangnya tidak ada pak. tetapi sebenarnya masih ada, masih ada pak Solikin, masih ada Mamad yang selalu kesini apabila ada pengiriman.
“Ada pula Yetno. dan juga ada pak Wandi hehehehe. dia selalu menunggu di tempat penjualan solar!”
“Mas Burhan.. bagaimana mas Burhan bisa tau semua ini dengan detail dan bagaimana mas Burhan bisa tahu segalanya, padahal mas Burhan disini juga baru tiga hari atau empat hari saja kan”
“Memang saya disini baru empat hari pak, tapi sebelum itu saya selalu datang ke sini malam hari dan memantau di semak samping rumah.
“Hmm jadi mas Burhan sudah lama mengamati keadaan disini. dan akhirnya bisa tau apapun yang ada disini?”
__ADS_1
“Betul pak Agus…”
“Lalu bagaimana mas Burhan bisa masuk ke dalam rumah untuk melihat posisi pompa dan kloset itu?”
“Sederhana pak, mari saya perlihatkan pak”
Burhan mengajakku ke kamarnya, kemudian di dinding kayu yang menghadap keluar dia jongkok.
Kemudian dia mendorong sisi dinding kamar bagian bawah…
Terbukalan sebuah pintu rahasia menuju ke luar rumah…
“Pintu ini selalu digunakan Mamad ketika dia keluar menuju ke samping rumah untuk mengisi drum-drum yang siap dijemput Yetno”
“Jadi dia tidak perlu sudah payah keluar rumah kemudian mengitari halaman hingga sampai di bagian belakang rumah pak Hehehe”
“Jadi untuk sementara ini mas Burhan hanya merujuk pada pak Wandi dan Mamad?”
“Iya benar pak Agus…”
“Lalu bagaimana dengan pak Solikin?”
Burhan diam sejenak, dia kelihatannya sedang berpikir jauh…. hingga beberapa detik kemudian tetap diam saja sambil tetap berpikir.
“Untuk pak Solikin itu saya belum bisa menuduhnya pak, karena hingga saat berdasarkan pemantauan saya, pak Solikin masih bekerja secara normal saja dan tidak melakukan apapun yang aneh-aneh”
“Gini mas Burhan, daripada bingung, lebih baik kita berpikir praktis saja, jangan nuduh orang tanpa bukti yang nyata”
“Kedua Yetno…mas Burhan sudah dapat info dari beberapa orang kalau Yetno itu penjahat dan residivis. apakah itu valid?
“Ketiga yang masih belum pasti dan atau mungkin perlu pembuktian tentang pak Wandi dan Mamad”
“Apakah mas Burhan sudah lihat sendiri Mamad dan Pak Wandi melakukan pencurian solar?”
“Dari ketiga unsur yang saya sebutkan itu saja coba mas Burhan hubung-hubungkan, untuk pak Solikin mungkin bisa kita kesampingkan dulu”
“Jadi begini mas Burhan, kalau hanya berdasarkan omongan dari pak Wito atau dari perkiraan saja, saya kira tidak bisa diambil kesimpulan dan tindakan”
“Yang paling penting, apa mas Burhan pernah memergoki mereka sedang beraktifitas?”
“Nah coba dipikirkan saja lagi mas, karena semua persoalan kalau hanya berdasarkan kata orang itu bisa bahaya, karena kita tidak tau yang sebenarnya terjadi”
Disini aku berusaha menggali apa yang sebenarnya Burhan ketahui atau Burhan alami.
Cerita dia dari tadi itu mendetail sekali, seolah olah dia menyaksikan sendiri aktifitas yang dilakukan oleh pak Wandi dan kawan-kawanya.
Atau jangan-jangan dia sendiri yang melakukannya, sedangkan untuk mencari alibi dia berusaha mengalihkan ceritanya itu kepada pak Wandi, Mamad, dan pak Solikin.
Aku ini orang yang tidak mudah untuk mempercayai cerita orang, apalagi dengan orang yang baru kukenal dan kemudian tiba-tiba dia menceritakan tentang sesuatu yang mengerikan.
__ADS_1
Untuk saat ini aku biarkan saja dia berpikir….
“Apa yang pak Agus katakan itu benar pak, saya memang hanya mendengar cerita dari pak Wito saja”
“Untuk Yetno, saya juga dapat info dari teman yang kerja di penggergajian lain bahwa dia itu residivis atau bisa juga disebut penjahat kambuhan pak”
“Dalam pengamatan saya ketika saya di semak semak pun saya belum pernah melihat aktivitas sama sekali disini”
“Tidak masalah mas Burhan, asal apa yang mas Burhan amati itu sudah terbukti dan ada saksi matanya, maka sudah cukup kuat untuk melaporkan ke pak bos besar”
“Berarti tentang apa yang tadi mas Burhan katakan itu berasal dari cerita pak Wito?
“Iya pak… dan kemudian saya telusuri hingga saya bisa tau tempat menaruh selang, pompa dan tempat menampung solarnya”
“Ada satu lagi mas, apakah mas Burhan pernah bertemu dengan Mamad, mungkin siang tau malam hari?”
“T..tidak pernah pak, memang katanya kadang dia ada disini itu juga cerita dari pak Wito, lha pak Wito juga dapat info dari pak Solikin”
“Oh gitu to.. eh sebentar mas…..”
“Waktu ada Yetno disini… waktu itu kan Mamad sedang tidak masuk.”
“Apa sebelum paginya ke sini dengan menumpang truk, mas Burhan sempat ada di sekitar rumah ini untuk melakukan pengintaian?”
“Iya pak….. tadi kan sudah saya ceritakan pak, saya ada disini malam hari sebelum paginya saya kesini naik truk untuk mengambil palet yang sudah jadi”
“Dan kejadian itu sudah lama sekali pak”
Nah kan, dia mulai bingung dengan apa yang dia katakan tadi.. dia mulai tidak sinkron dengan yang dikatakannya.
Tapi aku masih belum bisa percaya dengan yang dia katakan, bagaimana bisa pak Wito yang bukan anggota pak Solikin dan mbah Karyo tau segalanya hanya dengan mencuri dengar saja hehehe.
Sebenarnya dari awal dia cerita dengan sangat detail itu sudah bikin aku curiga… bagaimana bisa Burhan tau secara detail cara mereka mencuri solar.
Baiklah cukup dengan membuat Burhan berpikir, sekarang aku harus mencoba merayu pak Solikin.
Bukanya tadi waktu aku bicara dengan pak Solikin dia sempat bilang ada yang mau diceritakan kepadaku.
Hanya saja dia belum percaya denganku kan…..
Aku yakin kuncinya mungkin ada di cerita pak Solikin, meskipun bagi Burhan dia ini termasuk komplotanya mbah Karyo dan pak Wandi.
“Mas Burhan, kita ngobrol soal lain saja….”
“Mas Burhan ketika ada disini… ketika saya pergi, mas Burhan beberapa kali ditakuti oleh sesuatu kan”
“Menurut mas Burhan itu ulah siapa?”
“Apakah waktu mas Burhan menginap di rumah pak Wito sempat tanya-tanya tentang siapa yang menakut nakuti kita?”
__ADS_1
“Saya sempat tanya juga pak, tetapi pak Wito tidak tau siapa yang bikin ulah dengan ilmu ghaib itu”
“Hanya saja pak Wito pernah bilang, hati-hati dengan penunggu rumah ini, karena dia tidak suka dengan orang baru yang tinggal disini pak”