
"Catatan penulis."
Cerita kisah nyata tentang pakde saya yang bernama Agus ini sebenarnya hanya sampai di bab ini saja, karena dia tidak kuat dengan masalah yang ada di rumah penggergajian ini.
Jadi setelah Agus ngobrol dengan pak Solikin, dan mendapat penjelasan yang sangat tidak jelas dari pak Solikin, pakde saya Agus memutuskan untuk pulang dan selesai dengan semua urusan rumah penggergajian.
Pakde saya beranggapan masalah ini akan merembet ke mana-mana. Sehingga dia memutuskan untuk mengundurkan diri.
Dia lebih mementingkan keselamatannya dari pada harus menyelesaikan kasus yang mungkin sudah berjalan sangat lama ini.
Setelah pakde mengundurkan diri, pengganti nanti adalah Budi atau biasa pakde dipanggil dengan nama Budi Encik, karena dia adalah kerabat dari bos Jayanto.
Dan semua masalah menjadi beban budi atau biasanya dipanggil encik.
*****
Sebenarnya cerita ini sudah stop sampai disini tanpa ada jalan keluar, karena pakde saya Agus sudah meninggalkan semuanya termasuk Tina yang sudah begitu baik denganya.
Hanya saja karena antusias pembaca dan semangat para pembaca yang berusaha menebak nebak bagaimana akhir dari kisah nyata ini maka….
Dengan perasaan bahagia penulis akan melanjutkan kisah ini dengan pemikiran murni dari penulis, dan tentu saja dengan konsultasi kepada pakde saya tentang apa yang akan penulis tuangkan disini.
Maka dari itu selamat menikmati lanjutan dari kisah rumah penggergajian versi pemikiran penulis.
Terima kasih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pak Solikin bingung dengan apa yang saya katakan…
Aku pun bingung karena Burhan yang ada di rumah penggergajian itu nampaknya berbeda dengan Burhan yang dikatakan bos besar.
“Sebentar…sebentar pak Agus. Burhan yang ada di rumah penggergajian itu adalah kernet truk, dan setahu saya dia tidak pernah kerja di pabrik kayu!”
“Dia biasanya bantu-bantu menaikkan dan menurunkan muatan truk…..tidak hanya yang ada disini saja, di tempat lain juga”
“Istilahnya dia itu tenaga kasar saja pak Agus”
“Mana bisa tenaga kasar paham jenis kayu dan cara menggrade kayu beserta ukuran yang tepat”
“Eh maaf pak Solikin, apa pak Solikin kenal Burhan sudah lama?”
“Bukan kenal lama, tapi dia sudah lama tau dia, karena dia ikut trucking yang kesini untuk ambil pallet dan membawa ke pabrik”
“Maaf pak Solikin, lalu yang dimaksud pak bos besar itu Burhan yang mana pak?”
“Saya mana tau pak Agus, saya tidak kenal Burhan yang kerja di pabrik kayu itu”
“Kalau Burhan yang sekarang ada di rumah penggergajian itu bahaya pak!”
__ADS_1
“Dulu waktu jaman ada Mamad, ketika saya dan Ahmad teman saya pergi mancing tengah malam, saya beberapa kali memergoki dia nginap di rumah penggergajian.”
“Saya tidak tau waktu itu ada pak Wandi atau tidak, pokoknya saya pernah beberapa kali lihat dia ada di rumah itu”
“Saya juga pernah dengar dari salah satu driver truk, dia bilang Burhan melakukan tindak kejahatan pencurian di tempat lain, tetapi driver itu tidak tau apa yang dicuri oleh Burhan”
“Ya sudah pak, eh satu lagi pak Solikin…..”
“Apakah bapak tau yang namanya Yetno?”
“Wah… pak Agus tau dari mana Yetno pak hehehe”
“Kebetulan waktu makan pecel di desa. yang jualan pecel itu kakak perempuanya Yetno pak”
“Yetno itu hanya korban…. tapi sayangnya saya tidak dekat dengan dia pak”
“Dia orang yang terlalu banyak bicara, saya tidak suka dengan orang yang terlalu banyak bicara pak Agus”
“Ceritanya bagaimana kok Yetno bisa diajak kerja di sana pak Solikin?”
“Heheheh saya juga kurang paham pak Agus, itu semua adalah ide dari mbah Karyo untuk menutup kekosongan posisi Mamad”
“Orang itu sebagai pengganti Mamad yang waktu itu katanya sedang sakit parah pak Agus”
“Yetno adalah teman mancing mbah Karyo, sama seperti saya dengan Ahmad”
“Tapi bukanya pengganti Mamad itu harus berasal dari bos besar pak Solikin?”
“Harusnya Wandi telepon ke bos besar untuk mencari pengganti Mamad, karena orang yang menggantikan Mamad akan tinggal di rumah itu”
“Tapi menurut cerita Yetno, dia disuruh mbah Karyo untuk menggantikan Mamad….. dan pak Wandi yang awalnya tidak setuju kemudian menjadi setuju, gitu kan ceritanya pak Solikin?”
“Iya betul pak Agus, tapi saya tidak tau ada apa antara mbah Karyo dengan Wandi, sehingga Wandi tidak berkata apa-apa ketika mbah Karyo menyodorkan Yetno sebagai pengganti Mamad untuk sementara”
“Tujuan mbah Karyo menempatkan Yetno disana eh……”
“Ehhhmm eh maaf… saya tidak bisa cerita lebih lanjut pak, saya belum tau pak Agus ini siapa dan ada di rumah penggergajian itu atas saran siapa”
Waduh… ada-ada saya Solikin ini, dia masih saja tidak percaya denganku, dia merasa aku adalah orangnya pak Wandi atau mata-matanya pak Wandi.
Solikin iki wataknya keras sekali koyok batu kali…..
Susah sekali mengorek tentang apa yang terjadi disana sebenarnya….
“Pak Solikin, memang saya ada rumah penggergajian atas suruhan pak Wandi, dan pak Wandi merekomendasikan saya kepada bos besar”
“Tapi bukan berarti saya ini adalah orangnya pak Wandi!.... Seperti yang pak Solikin bilang itu, bahwa saya hanya lah korban tau kambing hitam saja pak”
“Iya pak Agus, saya tau yang bawa pak Agus kesini Wandi….”
__ADS_1
“Tapi saya merasa pak Agus sudah bisa menebak dengan sendirinya apa yang dilakukan Wandi dan kawan-kawanya disana”
“Bukan gitu pak Solikin, saya memang tidak mau ikut campur urusan kalian, tetapi karena saya ada disana, dan saya merasa bahwa saya terlibat, makanya saya harus tau sebenarnya ini adalah masalah apa”
“Kalau memang saya tidak boleh tau apa-apa, tetapi saya dilibatkan sebagai korban atau kambing hitam, maka lebih baik besok pagi saya akan pergi dari rumah itu pak”
“Saya akan mengundurkan diri dari sana….!”
“Saya harus menjaga keselamatan diri saya sendiri pak, dan saya tidak mau urusan lagi dengan hal yang saya betul-betul tidak tau permasalahanya apa”
“Saya rasa itu saja yang bisa saya katakan pak, saya pamit dulu pak”
Gila….. pak Solikin benar-benar tidak mau membocorkan rahasia apa yang ada di rumah itu, dia masih saja curiga denganku.
Aku merasa bahwa aku sekarang dalam masalah yang cukup berbahaya…
Yang bisa aku simpulkan sekarang disini ada dua kubu, kubu pak Solikin dan almarhum mbah Karyo….
Dan satunya lagi ada pak Wandi, Burhan, bahkan mungkin saja dengan Mamad juga yang kata pak Pangat dia masuk hidup
Aku merasa orang-orang ini sedang terlibat dengan kegiatan ilegal yang merugikan perusahaan atau bos besar, hingga pak Solikin sama sekali tidak mau membocorkan kepadaku apa yang terjadi disini.
Sudah saatnya aku mengundurkan diri dari sana, sudah saatnya aku tidak mau mencampuri urusan mereka lagi.
Pagi besok aku akan pulang saja, akan ku tinggal semua yang ada disini termasuk Tina yang sudah begitu baik dengan ku.
Aku akan minta antar Burhan ke terminal….
*****
“Dimana tadi kutaruh simbah yang keliatanya kehabisan bahan bakar itu….”
Aku lupa naruh motor dimana, padahal seingatku tadi kan tak taruh di dekat semak belukar, tapi kok sekarang tidak ada.
Sik…sik..mungkin disebelah sana…..
“Nah ini dia simbah heheheh…”
“Gimana mbak… apa tadi sempat didatangi mbak Kunti heheheh”
“Tenang saja mbah, kalau si mbah haus, nanti akan saya isi bensin”
“Tenang saja jangan takut mbah… di rumah masih ada satu jerigen minuman segar buat mbah kok heheheh”
Kutuntun motor tua ke arah jalan yang menuju ke rumah penggergajian..
Lampu petromak rumah masih nyala terang benderang, dan terlihat dari tempatku menuntut si mbah bosok ini.
Aku sudah bertekat untuk pulang pagi ini.
__ADS_1
Gak taek taekan.. gak gatel gatelan…. taruhanya nyawa c*k!