
“Saya rasa dia untuk saat ini tidak akan ada di rumahnya pak, saya rasa dia pasti ada di hotel, memang tujuanya adalah untuk mengosongkan hotel, agar dia bisa melakukan apa yang disuruh oleh atasannya”
“Jadi gimana mas Agus…?” tanya pak Jay
“Ya percuma kita cari dimana dia berada pak, karena yang paling jelas adalah di hotel sana, mereka akan ada di hotel…saya yakin itu”
“Iya benar mas Tina juga merasa dia akan ada di hotel itu setelah berhasil mengosongkan hotel” kata mbak Tina
“Tapi disana bisa saja ada yang jaga pak, karena tempat pembunuhan…apalagi yang seperti ini selain diberi police line pasti juga ada satu orang yang berjaga atau ada kegiatan penyelidikan disana” kata pak Diran
“Halah pak Diran, satu dua orang penjaga yang ada disana apalah artinya bagi demit rakus darah yang disebar oleh Watuadem pak”
“Iya benar juga pak Agus, berarti artinya penjaga yang ada disana posisinya sekarang pasti dalam bahaya, mereka tidak tau siapa yang sedang mereka lawan”
“Eh mas, Tina kok merasa ada yang aneh ya, kenapa Watuadem larinya ke daerah desa seberang sungai…. Eh pak Jay, apakah pak Jay sudah lama kenal dengan yang namanya Watuadem itu?” tanya mbak Tina
“Saya kenal dia dari bekas karyawan saya yang namanya pak Solikin, yang kena masalah jual beli narkoba itu mbak Tina, tapi Solikin kan masih ada di penjara dalam waktu yang cukup lama”
“Sebentar pak Jay… pertanyaan saya apakah bapak sudah kenal lama dengan Watuadem?” tanya mbak Tina lagi
“Yah mungkin sekitar satu tahunan eh maaf dua tahunan mbak, waktu itu Solikin memperkenalkan saya dengan Watuadem sebagai seorang yang bisa membantu dalam upaya untuk mengusir roh roh jahat” kata pak Jay
“Hmmm mas Agus….Tina merasa ada yang aneh sama Watuadem mas…. Tina kalau lihat wajahnya itu rasanya kayak gak asing gitu mas” kata mbak Tina
“Maksudnya gimana mbak Tina?”
“Mas… Apakah mas Agus bisa melihat ada kemiripan sedikit antara pak Solikin dan Watuadem, coba hilangkan kumis dan jenggotnya….” kata mbak Tina
“Eh pak Jay… waktu kenalan dengan Watuadem… apakah pak Solikin datang berdua dengan Watuadem atau gimana pak?” tanya mbak Tina
“Tidak mbak Tina…waktu saya ada disini Solikin hanya telepon saja, dia bilang bahwa ada temannya yang tinggal di kota S, Solikin bilang bahwa Watuadem adalah paranormal sakti yang bisa mengusir roh jahat yang membawa kesialan”
“Kemudian saya janjian di sebuah resto di kota S, disana saya bicara panjang lebar dan akhirnya saya cocok dengan dia, sudah ada beberapa rekan kerja saya yang memakai jasa Watuadem setelah saya kenalkan Watu kepada rekan kerja saya”
“Dan kata rekan kerja saya, hasil kerja dari Watuadem itu memuaskan… jadi semakin lama saya dan Watu sudah seperti sahabat sendiri”
“Coba singkirkan jenggot dan kumis Watu pak…” kata mbak Tina
“Eh iya mbak Tina… kok pikiran saya ke Solikin karyawan saya yang sekarang sedang dalam penjara ya?” kata pak Jay
“Nah itu pak Jay… dari kemarin ponsel Watu tidak bisa dihubungi kan, karena kemungkinan besar dia saat ini masih ada di wilayah hotel atau ada di desa sebelah sungai yang belum teraliri listrik, dan disana pun belum ada BTSnya sehingga sinyal ponsel tidak bisa tersambung disana”
“Apakah Watuadem itu Solikin?” aku makin penasaran dengan apa yang dikelaskan mbak Tina
“Bisa jadi Solikin mempunyai saudara kembar mas, bisa juga Watuadem itu adalah Solikin sendiri” jelas mbak Tina
“Lalu yang ditangkap pak Burhan itu siapa mbak?”
“Nah itu mas Agus… coba hubungi pak Burhan untuk mengecek tahanan yang mereka tahan dan suruh kirim fotonya ke kita mas”
“Sebentar…. Sebentar, saya kok kurang paham sama yang kalian bicarakan ini” kata pak Diran
“Nanti saja kami ceritakan pak Diran, karena sepertinya masalah ini ada hubunganya dengan masa lalu dari hotel ini”
“Bagaimana pak Jay, apakah pak Jay bisa hubungi pak Burhan untuk cek keadaan tahanan yang bernama solikin itu, karena kita kan tidak tau Burhan kapan dan dimana tangkap Solikinnya, yang kita tau mereka semua sudah ditangkap kan pak”
“Iya mas Agus, coba saya SMS sekarang saja, agar besok pagi Burhan bisa cek keadaan tahanan itu”
Iya benar mbak Tina, Watuadem itu berkumis dan berbrewok, tapi kalau aku bayangkan tanpa brewok dan tanpa kumis, maka yang terlintas di kepalaku adalah pak Solikin.
Tapi aku rasa gak mungkin polisi salah tangkap, gak mungkin polisi menangkap orang tanpa melihat ciri-cirinya terlebih dahulu..
Kalau seumpama itu adalah saudara atau saudara kembar Solikin mungkin masih masuk akal, tetapi kalau sampek yang ditangkap polisi itu bukan Solikin itu yang tidak masuk akal..
“Pak Jay tau nggak nama sebenarnya Watu itu siapa?”
“Saya nggak pernah tanya mas Agus, pokoknya dia bisa saya percaya dan bisa menghasilkan uang bagi saya dengan memberikan jasa dia kepada rekan dan teman saya, ya saya tidak memerlukan namanya lagi” kata pak Jay
“Begini pak Hendrik dan pak Diran, saya akan ceritakan secara singkat tentang apa yang terjadi di hotel ini sebelumnya. Dulu disini adalah rumah penggergajian kayu milik pak Jay juga…..”
Kuceritakan kepada pak Diran dan pak Hendrik yang belum tau sejarah rumah penggergajian beserta orang-orang yang ada di dalamnya. Dan tidak lupa tentang kegiatan mereka selama disini, dan juga gangguan ghaib yang menimpa aku.
Pak Diran dan pak Hendrik kaget ketika aku mengakhiri cerita tentang perubahan rumah penggergajian ini menjadi hotel Singgasana Adem Ayem tanpa adanya pembersihan sisa sisa kejahatan disini.
Aku pun tidak paham tentang apa itu yang dimaksud dengan pembersihan sisa sisa kejahatan, tapi semua sudah terjadi.
“Jadi bagaimana menurut mas Agus?” tanya pak Jay
__ADS_1
“Tetap kirim pesan kepada pak Burhan, tanyakan tentang tahanan yang bernama Solikin, dan kirim fotonya lewat email saja pak, eh email kan bisa dibuka dimana saja kan pak, tidak perlu di hotel Adem Ayem kan hehehe”
“Tentu saja bisa mas Agus… ok sekarang saya akan kirim pesan kepada Burhan. Kemudian apa yang akan kalian lakukan setelah ini”
“Menurut saya, kita harus ke sana pak” kata pak Diran
“Karena benar pak Agus, orang itu pasti akan ada disana untuk melakukan sesuatu ketika hotel itu dalam keadaan kosong, bukan begitu pak Hendrik?” tanya pak Diran
“Benar pak, ada baiknya kita ke sana diam diam” kata pak Hendrik
“Tapi kan ini sudah menjelang pagi Koh?” tanya pak Jay
“Justru itu Koh Jay, jam segini ini wis wayae yang jaga ndek sana itu ngantuk ngantuke, jadi lebih baek kesana ae koh Jay”
Akhirnya setelah pak Jay mengirim pesan pendek ke pak Burhan, kami berenam pak Jay, pak Hendrik, pak Diran, aku , mbak Tina dan Jiang menuju ke hotel Singgasana Adem Ayem lagi, tapi sebelumnya kami akan mampir ke rumah pak Diran dulu untuk mengambil sesuatu.
Kata pak Diran sih dia akan mengambil sesuatu untuk diberikan kepada mbak Kunti yang sudah memberikan beberapa informasi penting bagi kami.
Perjalanan dengan menggunakan dua mobil, mobil pak Jay berisi aku, mbak Tina, pak Jay dan Jiang, sedangkan mobil milik pak Hendrik berisi pak Hendrik dan pak Diran saja.
Sebenarnya nanti pagi aku kepingin ke rumah sakit dan menemui dokter Joko untuk menanyakan tentang empat mayat mengerikan yang dikirim ke rumah sakit itu.
Tapi nanti saja, setelah pengamatan kami selesai di sana, baru kita akan ke rumah sakit dan menemui dokter Joko.
Terus terang dalam keadaan begini aku dan yang lainnya rasanya punya doping, aku sama sekali nggak merasa ngantuk, yang ada malah rasa semangat yang tinggi untuk menuntaskan masalah ini.
Memasuki desa mbak Tina yang sudah mulai rame, karena saat ini sudah pukul 04.45. Sudah menjelang subuh, dan sebentar lagi matahari sudah muncul.
Apakah kami harus selesai karena sudah menjelang subuh? Tentu saja tidak..
Pak Jay menghubungi ponsel pak Hendrik yang satu mobil bersama pak Diran.
“Koh Hendrik… kita jadi ke rumah pak Diran dulu kan?” kata pak Jay
“Ok.. ok aku ikuti mobil lu ae Koh Hendrik… soale ini kan wis pagi, jadi kita ndak isa diam diam ke sana”
“Iya wes.. Gitu ae ya koh Hendrik…” kata pak Jay, karena aku nggak bisa dengar suara pak Hendrik.
Mobil pak Hendrik yang awalnya ada di belakang, sekarang melaju ke depan kami dengan kencang, tetapi tidak dengan mobil pak Jay.
“Kok kita gak nyusul pakk Hendrik pak?” tanya mbak Tina
Matahari sudah muncul , keadaan sudah mulai terang ketika mobil pak Jay masuk ke kawasan hutan yang menuju ke hotel Singgasana Adem Ayem.
Pepohonan hutan yang mengapit di tengahnya membuat suasana pagi ini semakin sejuk
“Eh mas Agus… bukanya Tina nggak boleh meninggalkan kawasan hotel?”
“Yah bagaimana lagi mbak Tina, mbak Tina keluar dari hotel ini karena sebab yang sudah pasti, dan pihak berwajib juga melarang kita ada disini”
Wilayah hotel sudah terang ketika mobil pak Jay masuk parkiran hotel.
Ternyata di parkiran ada satu sepeda motor berplat nomor polisi yang sedang terparkir disana, dan dua orang petugas kepolisian sedang berjaga disana.
Mereka menghampiri mobil pak Jay.
“Selamat pagi pak… untuk sementara waktu tidak ada yang boleh masuk ke wilayah hotel ini selama masih dalam penyelidikan” kata salah satu dari petugas itu.
“Oh.. begitu. Saya ini pemilik hotel dan ingin mengambil telepon hotel pak” kata pak Jay
“Tidak boleh pak, semua harus sesuai dengan keadaan ketika terjadi pembunuhan disini, atau bapak sudah mendapat ijin khusus dari komandan kami” kata petugas itu lagi
“Okelah kalau begitu pak, kami akan pergi dari sini dulu” kata pak Jay kemudian memutar mobilnya menuju ke luar”
“Gimana ini mas Agus, percuma juga kita kesini karena penjaga ini masih ada disini dan keadaanya sehat hehehe” kata pak Jay.
“Begini saja pak Jay.. eh nanti di luar hutan coba hubungi pak Hendrik, bahwa kita tidak bisa masuk ke hotel, dan kita ke rumah sakit saja, saya penasaran dengan korban-korban yang ada disana”
Ketika kami sampai di jalan desa pak Jay menghubungi pak Hendrik yang kayaknya masih ada di rumah pak Diran.
Pak Jay berkata bahwa kami akan menuju ke rumah sakit untuk melihat mayat yang mati di hotel. Tapi tadi yang aku dengar dari pak Diran mayat yang berasal dari hotel itu tidak boleh dilihat, karena sedang dalam penyelidikan polisi.
“Kita tetap kerumah sakit saja pak Jay, saya kenal dengan seorang dokter disana, dokter umum yang biasanya juga mau menangani mayat yang ada disekitar area sini”
“Ya sudah mas Agus, kita ke sana saja, nanti setelah dari sana kita cari penginapan saja, agar nanti malam kita bisa langsung mengadakan pengamatan”
*****
__ADS_1
Di rumah sakit kota..
Mobil pak terparkir di lahan parkir yang saat ini sudah ramai dengan orang yang mempunyai keperluan dengan urusan rumah sakit.
Kami berempat berjalan kaki menuju ke belakang, ke arah area UGD dan kamar mayat.
Untungnya saat ini keadaan bagian belakang masih sepi sepi saja.
“Pak Jay tunggu disini dulu, saya akan masuk ke UGD untuk mencari dokter Joko dulu”
Untungnya dokter Joko ada di dalam UGD, dan dia ternyata sekarang memang sedang menunggu kedatangan kami, karena ada beberapa hal yang dia ingin tanyakan kepada kami.
“Kita bicara diluar saja dok, karena di luar ada mbak Tina, dan pemilik hotel itu”
“Ya sudah mas Agus. yuk kita ke ruang tunggu kamar mayat dulu saja, disana sepi kita bisa bicara banyak disana”
Setelah berkenalan dengan pak Jay dan Jiang, kami menuju ke kamar mayat, tetapi tidak untuk masuk ke dalam kamar mayat, karena dokter Joko ingin berbicara kepada kami dulu.
Ruang tamu kamar mayat ini sederhana, hanya ada beberapa kursi lipat yang kusam karena lama tidak ada yang duduk disini.
Setiap aku ada di kamar mayat, kadang aku mencium bau bahan kimia yang agak menyengat hidung, kadang bau itu hilang, entah bau apa itu.
“Pak Agus, mayat yang dikirim kesini… ada empat mayat yang tiga terkoyak bagian dadanya, dan jantungnya diambil paksa….”
“Apakah ada monster disana pak Agus?” tanya dokter Joko
“Maksudnya monster itu apa dok?”
“Karena ketika saya bersihkan mayat-mayat itu, bagian dada mereka berubang, dan lubang itu dihasilkan dari cakar atau kuku yang kuat dari sebuah tangan yang kuat juga. Bukan dari benda tajam sejenis pisau” kata dokter Joko
“Mereka kan dirasuki dok”
“Memang benar mereka dalam keadaan kerasukan, tetapi ketika saya bersihkan tubuh dan tangan mereka, di sela sela kuku mereka sama sekali tidak saya temukan sisa daging atau apapun yang menempel” jawab dokter Joko
“Sama sekali tidak ada sisa cabikan daging disana…. Dan sama sekali tidak ada kuku yang terlepas dari jari tangannya” kata dokter Joko lagi
“Untung kalian datang pagi ini, karena sebentar lagi dokter forensik akan datang, mereka dari rumah sakit besar kepolisian yang ada di kota S”
“Jadi menurut pendapat saya ini ya….. Ada pihak lain yang merusak dan membuka dada korban, dan dengan sengaja, meskipun waktu itu ada juga yang sedang kerasukan”
“Jadi menurut analisa secara logika, disini ada dua kejadian, pertama ada yang dengan sengaja dibuat kesurupan, yang kedua ada yang melakukan tindakan gila dan sadis dengan merobek bagian dada dengan kuku dan tangannya dan mengeluarkan jantungnya”
“Orang perempuan yang kesurupan pun mati dengan dada yang berlubang juga kan, ada kemungkinan dia juga dibunuh oleh sesuatu yang sadis juga!”
“Untuk laki-laki yang penisnya terpotong dan terlihat ***** itu ada bekas gigitan… ***** itu bukan dimakan oleh orang itu, karena di dalam rongga mulutnya yang penuh darah saya tiadak mendapatkan sisa daging di giginya”
“Jadi kembali lagi ke analisa sementara dari saya, ada sesuatu yang sangat sadis dan mengerikan disana, selain yang kesurupan itu, yang kesurupan itu hanya kesurupan biasa, dan memang di dalam mulutnya ada sisa sisa jantung manusia yang dimakan”
“Tetapi yang merobek dada tiap perempuan itu bukan dia dan bukan juga laki-laki itu, karena kuku mereka masih terlihat bagus, tidak ada bekas daging atau kuku yang terkelupas” kata dokter Joko
“Berati maksud dokter Joko ada orang lain disana? Begitu?” tanya pak Jay
“Bukan orang lain pak.. Tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang buas dan jahat ada disana, sesuatu yang keras kaku dan tajam hingga bisa merobek dada manusia dalam sekejap”
“Eh dok… apakah itu pak Pangat?” tanya mbak Tina
“Itu yang sedang saya pikirkan dari tadi bu Tina, tapi saya kan tidak berani ambil kesimpulan sendiri”
“Saya hanya bisa mengira saja, karena tubuh mayat Pangat pasti sudah mengeras layaknya batu, dan kuku jari tanganya juga sudah keras, itu yang tadi sedang saya bayangkan”
Selesai dengan dokter Joko, karena seorang dokter muda berlari menyusul kami yang sedang mengobrol di kamar mayat, dokter muda itu memberi kabar bahwa ada seseorang yang terluka.
Jadi pembicaraan dengan dokter Joko diakhiri disini dengan kesimpulan sementara bahwa ada sesuatu yang jahat di sana selain yang tadi kerasukan.
“Ayo kita cari sarapan dulu, kemudian kita cari penginapan, nanti akan saya hubungi Hendrik dan pak Diran” kata pak Jay.
Ketika kami berjalan menuju ke parkiran mobil, ponsel pak Jay berbunyi.
“Selamat pagi pak Burhan…”
“Iya pak, eh iya pak Burhan sesuai dengan sms saya pak, saya hanya ingin tau tentang Solikin saja pak, dan tolong mint dikirimi fotonya”
“Eh nggak pak, nggak, tidak ada apa apa kok pak Burhan…”
“Saya hanya ingin lihat wajahnya saja pak,..... Iya pak tolong emailkan saya pak…. Iya sesuai dengan email yang tadi saya sms itu saja pak”
“Iya pak.. Akan saya tunggu pak… ok terima kasih pak Burhan…. Selamat pagi pak” kata pak Jay yang kemudian mematikan ponselnya
__ADS_1
“Nanti akan kita lihat wajah Watuadem, apakah dia sama dengan Solikin atau tidak. Yang penting sekarang kita cari sarapan, kemudian cari penginapan untuk istirahat, dan nanti malam kita usahakan untuk ke hotel lagi” kata pak Jay dengan wajah letihnya