RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
258. SYARAT YANG NGGILANI


__ADS_3

Rombongan… bagaimana nggak disebut rombongan, coba bayangkan orang desa ada delapan, kami ada enam orang.. Masak  empat belas orang harus masuk ke dalam sana.


Tapi mau gimana lagi, tetap harus dijalankan, pak Diran harus tanya ke mbak Kunti yang ada di belakang untuk menanyakan apa yang diperlukan untuk memancing iblis yang ada disini untuk dihancurkan.


“Eh  ada baiknya tidak ramai ramai pak” kata bu Tugiyem


“Kita butuh orang yang berjaga disini juga” lanjut bu Tugiyem


Akhirnya diputuskan yang masuk ke bagian belakang hotel adalah aku, pak diran, bu Tugiyem dan pak Kyai Dollah, sisanya menunggu di ruang tunggu yang sudah porak poranda.


Pintu kaca yang memisahkan antara ruang utama dengan bagian belakang hotel sudah hancur berantakan, sehingga kalau dari ruang utama cukup berjalan saja karena sudah tidak ada pembatasnya.


Pak Kyai Dollah memberikan pagar ghaib pada ruang utama, agar demit yang ada di belakang ini tidak berusaha masuk ke bagian ruang utama hotel yang sudah porak poranda.


“Ayo kita kesana, dan waspada dengan iblis yang masih ada disini, dan ingat disini ada arwah Solikin yang entah sedang sembunyi dimana” kata pak Diran


“Dia ada di belakang sini pak, saya bisa merasakan energinya” kata bu Tugiyem dengan suara pelan


Kami berjalan pelan menuju ke arah belakang hotel yang tentu saja gelap gulita keadaanya. Keadaan disini tidak berbeda dengan yang ada di ruang utama…


Keadaan disini juga ancur berantakan. Pintu-pintu kamar jebol jendela kaca pecah, keadaan tanaman juga amburadul.


Aku heran, kenapa iblis yang masuk ke tubuh polisi itu menghancurkan seluruh hotel ini, sebenarnya mereka itu punya jiwa vandalisme atau memang ada yang sedang mereka cari disini.


“Awas .. di sebelah kiri..kamar nomor tiga penuh dengan iblis yang sekarang sedang melotot ke arah kita” bisik bu Tugiyem


“Iya bu … ini ada satu yang sudah ada di depan saya, dia memamerkan gigi taringnya bu” Bisik pak Diran juga


“Diamkan saja pak.. Anggaplah kita tidak tau kehadiran mereka…tetap lurus berjalan menuju ke arah belakang saja pak” kata bu Tugiyem

__ADS_1


“Tidak hanya di kamar, tapi halaman belakang ini sudah penuh dengan iblis, berarti lubang yang dibuat Solikin atau Watuadem itu semakin lebar saja” gumam pak Diran


Akhirnya dengan perasaan deg deg an dan was was  kami sudah ada di bagian belakang hotel, di dekat pohon beringin yang umurnya sudah tua.


Ternyata di pohon beringin itu sudah kosong, tidak ada satupun mbak Kunti yang bergelantungan disana…


“Aneh sekali, kenapa pohon ini kosong, apakah iblis yang dibawa Solikin itu yang mengusir mbak Kunti dari pohon ini?” guman  pak Diran


“Tidak pak Diran.. Itu mereka disana, di sungai bagian yang dalam.. Mereka kayaknya sedang bermain air di bagian sungai dimana Watuadem atau Solikin tenggelam” kataku  ketika aku mencari mereka


“Ah hehehe ia pak Agus, ternyata mereka masih ada disini.. Ayo kita ke sana, saya penasaran kenapa mereka sampai ada di sungai itu” kata pak Diran


Kami menghampiri beberapa Kunti yang sedang bermain air bagian sungai yang dalam. Salah satu dari kunti itu yang biasanya berkomunikasi dengan pak Diran kemudian datang menghampiri kami.


Seperti biasa, tidak ada senyum atau ekspresi wajah dari kunti itu, dia tetap melotot tanpa tersenyum sama sekali


Tidak ada jawaban dari kunti itu, dia hanya melotot ke arah kami saja”


“Hm dia ternyata sudah tau bu tugiyem yang dulu rajin membawakan makanan bagi pekerja rumah penggergajian, dan mbak kunti ini ingin menyampaikan sesuatu kepada kita”


“Saya bisa merasakan apa yang dia katakan pak Diran, tetapi ada baiknya juga kalau pak Diran mengucapkan juga apa yang dikatakan kunti itu kepada nak Agus” kata bu Tugiyem


Pak Diran bertanya kabar kunti itu dan apakah iblis yang dibawa watuadem itu mengganggu keadaan kunti dan sejenisnya yang tinggal di pohon.


Jawaban kunti itu agak aneh, karena Demit-demit itu hanya ingin menguasai hotel, tetapi tidak dengan pohon  beringinya, kata pak Diran mengartikan apa yang dikatakan kunti itu.


Cukup lama juga kami ada di belakang hotel dekat dengan sungai, hingga kemudian bu Tugiyem menyuruh pak Diran cepat-cepat menyelesaikan pembicaraan dan kembali ke ruang utama, karena bu Tugiyem merasa ada energi yang datang lagi..


*****

__ADS_1


Kami berempat sampai di ruang utama dengan selamat setelah dari bagian belakang hotel dan bicara dengan kunti yang ada di sungai.


“Pak Jay.. syarat yang dikatakan mbak Kun untuk mengumpulkan iblis yang ada disini di sebuah kamar hingga kita bisa membunuhnya agak berat pak…” kata pak Diran


“Iblis itu suka sekali dengan jeroan atau organ dalam dan kelamin yang sudah busuk. Organ tunggal eh organ dalam dan kelamin itu harus milik manusia dan milik binatang  juga”


“Dan yang dikatakan mbak Kunti itu harus disediakan jeroan atau organ dalam dan kelamin busuk dari manusia dan hewan di kamar ini..”


“Kamar yang dulu bekasnya kamar Burhan dan Mamad.. Karena letak semua masalah ini ada disini pak” tunjuk pak Diran pada kamar yang ada di sebelah meja resepsionis


“Setelah itu apa yang akan kita lakukan?” tanya pak Jay


“Bakar mereka pak” jawab pak Diran


“Kapan saya harus sediakan syarat yang mengerikan itu dan organ dalamnya itu apa saja?.. Eh kalau pakai organ dalam dari dua orang polisi yang terbunuh itu bisa nggak?”


“Dua orang polisi itu biarkan ada disana, besok pagi pasti akan ada petugas yang kesini dan mereka akan mengevakuasi teman mereka yang terbunuh itu” kata pak Diran


“Pak Diran, seumpama kita bisa mendapatkan organ dalam yang busuk baik organ manusia maupun binatang, kemudian bagaimana kita kesininya, karena jelas tempat ini akan ramai oleh polisi karena dua polisi ini mati dengan mengerikan” kata pak Hendrik


“Jadi seharusnya malam ini juga kita lakukan, hanya saja kan jelas tidak mungkin, karena syarat yang sulit untuk menemukan organ dalam yang busuk” kata bu Tugiyem


“Mungkin untuk milik binatang saya bisa tanya ke kolega saya yang punya usaha jagal sapi,  tapi jelas butuh waktu untuk menyediakan organ dalam yang busuk itu” kata pak jay


“Yang jadi masalah itu untuk yang manusia, saya masih bingung bagaimana cara mendapatkannya” kata pak Jay


“Eh mungkin dokter Joko bisa bantu” kata mbak Tina


“Oh iya pak Jay.. dokter Joko yang ada di rumah sakit kota itu lho pak… waktu kita ke sana, dia kan juga urusi kamar mayat, siapa tau ada mayat tanpa identitas yang ada disana dan bisa kita gunakan untuk umpan disini”  lanjut mbak Tina

__ADS_1


__ADS_2