
TINA POV
Aku dan pak Paijo sudah ada di pepohonan yang ada di depan rumah penggergajian…
Aku tidak tau dimana Kunyuk sekarang berada… karena ketika kami sudah ada di depan rumah penggergajian ini, dia ijin untuk suatu urusan.
Keadaan rumah itu sekarang memang agak ramai, karena ada satu.. dua.. tiga.. empat motor yang terparkir di sana.
Keadaan ruang tamu juga sangat terang, kelihatannya sedang ada pertemuan disana. tapi apakah ini yang tadi dibilang Kunyuk.. bahwa kita tidak perlu tim pengamat, tetapi perlu tim pelindung dan penyerang.
Kalau diperhatikan, rumah itu sekarang sudah menjadi sarang penjahat, mereka semua berkumpul disana.
Mereka pikir aman untuk mengadakan pertemuan disini, mereka pikir tidak ada yang tau mereka ada disini hehehe.
“Disana ramai sekali mbak Tina… tapi kita tidak bisa melakukan penangkapan begitu saja, kita tidak punya bukti apapun yang bisa digunakan untuk menyergap mereka”
“Tapi disana kan ada mas Agus yang diculik mereka pak, apa itu tidak bisa dijadikan bukti untuk melakukan penangkapan pak?
“Apa mbak Tina yakin di dalam sana ada pak Agus?”
“Yakin sekali pak!”
“Jangan sampai kita salah melakukan aksi mbak…”
“Ya sudah terserah bapak kalau gitu.... lalu apa yang akan kita lakukan untuk menyelamatkan mas Agus”
“Tenang mbak Tina… kita tunggu orang saya datang dulu.. mungkin kita bisa gunakan teknik pengalihan untuk menyelamatkan mas Agus”
“Terserah bapak mau pakai teknik atau strategi apa, pokoknya jangan sampai terlambat”
Aku heran sama pak Paijo ini… kenapa dia ragu dalam bertindak, padahal jelas yang di dalam rumah itu adalah orang yang mengerikan.
Tapi ndak tau lagi …. aku kan tidak paham prosedur yang akan dilakukan polisi apabila dalam keadaan seperti ini.
“Sebentar mbak Tina.. coba lihat di sebelah kiri itu… saya melihat ada bayangan dua orang yang sedang berjalan dengan menunduk ke arah belakang rumah”
“Hmmm iya pak… saya tidak tau mereka itu siapa, karena sesuai info dari Kunyuk, yang ada di dalam sana itu adalah kelompok dari Wandi”
“Sedangkan kelompok dari bos lainya atau saingan dari bosnya Wandi tidak ada disana”
“Jadi yang disana itu adalah kelompok Wandi yang sekarang sedang menahan pak Agus .. begitu ya mbak?”
“Betul sekali pak… itu yang tadi dikatakan Kunyuk sebelum dia pergi dari sini, jadi kita sekarang harus bagaimana pak, apa hanya diam saja…?”
“Kita tunggu saja mbak… nanti apabila ada sesuatu…..saya minta mbak Tina jangan ikut kami dan jangan menunjukan wajah, mbak Tina Sembunyi saja.. biarkan saya dan anggota yang maju”
“Karena saya rasa kasus ini masih terlalu dangkal apabila kita lakukan penangkapan…. “
“Lagipula tidak ada bukti atau saksi yang kuat…maka kita tidak bisa melakukan penangkapan begitu saja”
“Kalaupun kita lakukan penangkapan… maka mereka akan bisa lepas dengan mudah”
“Dan tentu saja apabila mbak Tina ikut dengan kami dan ketika mereka sempat melihat wajah mbak Tina maka tentu saja mbak TIna akan menjadi target mereka berikutnya”
“Iya pak.. benar juga apa yang pak Paijo katakan…”
Aku memang tidak akan muncul diantara mereka.. karena resiko yang terlalu berbahaya..
Tapi kita kan harus menyelamatkan mas Agus yang sekarang ada di dalam rumah itu.,
Ketika aku sedang memikirkan cara bagaimana untuk melakukan sesuatu., tiba-tiba suara Kunyuk muncul lagi
“Tunggu sebentar lagi mbak.. dan bersiap untuk menjemput mas Agus…”
“Katakan kepada pak Paijo untuk bersiap apabila ada kerusuhan dan kekerasan yang akan muncul”
“Dan tanyakan juga tentang anggotanya yang akan datang kesini juga”
“Memangnya mas Agus ada yang akan menyelamatkan Nyuk?”
“Kita tunggu saja apa yang akan terjadi mbak”
Aku ceritakan kepada pak Paijo tentang apa yang barusan dikatakan Kunyuk..
Sayangnya pak Paijo tidak yakin kapan anak buahnya akan ada disini, karena di hutan ini sama sekali tidak ada sinyal telepon atau HT.
*****
AGUS POV
“SETAAANN… SETAAAANN… Arrghhhh” suara-suara yang bisa aku dengar yang berasal dari ruang tamu rumah penggergajian
“ GOBHLOK.. JANGAN LARI KALIAN!!!” teriak suara yang aku kenal sebagai suara pak Wandi
Aku bingung, mereka ini lari karena melihat apa, sedangkan Inggrid kan ada disini bersama aku…
Kupikir Inggrid yang menakuti mereka yang ada di ruang tamu itu.
“Tenang mas Agus…. keadaan di ruang tamu sudah kacau karena akibat dari arwah yang bernama Kunyuk melakukan sesuatu kepada mereka” kata Inggrid
__ADS_1
“Lima detik lagi ada yang akan membuka pintu kamar mandi.. mereka yang akan menolong mas Agus”
“Kunyuk?” aku tidak percaya dengan yang dikatakan Inggrid
“Iya mas… tadi sempat bertemu dengan Inggrid… dia bernama Kunyuk”
Benar kata Inggrid.. tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka… kemudian tutup kamar mandi yang ada di atasku terbuka juga..
Seseorang sedang menarik tanganku.. orang itu sama sekali tidak berbicara, mereka hanya bergerak dengan cepat hingga aku bisa berdiri dan mereka membuka kain yang menutup mataku..
“Pak Wito.. Yetno?” bisikku heran
“SSstttt ayo saya keluar dari sini cepat” bisik pak Wito
Dengan menggunakan belati, Yetno membuka tali yang mengikat tangan dan kakiku…
Tetapi karena kakiku sangat amat kesemutan, aku kesulitan untuk berjalan, dari paha hingga kakiku sudah mati rasa. aku tidak bisa merasakan keberadaan kakiku.
“Cepat.. usahakan berjalan….” bisik Yetno
Tertatih tatih dengan dipapah Yetno kami menuju ke bagian belakang rumah.. kemudian kami menuju ke area pembuatan palet. disana ada banyak tumpukan palet yang belum dikirim.
“Untuk sementara kita disini dulu… Biar yetno yang akan melihat keadaan di depan rumah”
“Jangan pak… biar inggrid saja pak.. dia bersedia untuk melihat keadaan di luar sana”
“Siapa itu Inggrid pak Agus?” tanya pak Wito kebingungan
“Sudah jangan dipikir siapa dia… kita tunggu saja disini sejenak pak Wito”
“Pak Wit.. bagaimana kalian berdua yakin menyelamatkan saya..padahal di ruang tengah kan sedang banyak orang pak”
“Tadinya ketika kami sudah ada di belakang rumah , Yetno akan saya suruh untuk membuat pengalihan dengan petasan yang sudah kami siapkan sebelumnya”
“Petasan yang besar dan suaranya mirip dengan tembakan polisi, tetapi ternyata sebelum kami lakukan, keadaan di depan kacau balau..mereka pada berlarian keluar”
“Oh gitu ceritanya pak… tapi untuk sekarang biarkan Inggrid yang memantau keadaan di halaman depan rumah”
Inggrid… tadi ketika aku jalan tertatih tatih menuju ke bagian belakang, dia sempat bicara akan melihat keadaan di depan sana.
Inggrid tadi bilang akan melakukan sesuatu apabila orang-orang yang ada di ruang tamu itu tetap ada disana, tapi kelihatannya mereka berhasil..
“Sekarang bisa keluar mas” kata Inggrid tiba-tiba datang dengan tersenyum
“Ayo pak Wit, Yet.. sekarang kita bisa pergi dari sini… orang-orang untuk sementara ini tidak ada di sekitar sini..”
Tiba tiba aku dengar suara teriakan… DIAM DITEMPAT.. KALIAN SUDAH TERKEPUNG, disusul dengan suara tembakan..suara tiga kali letusan senjata api…
Suara itu berasal dari depan rumah penggergajian..
“Diam disini dulu saja pak Agus.. kelihatannya kita dapat bala bantuan”
Kami bertiga meringkuk di halaman belakang..
Kami tidak berani bergerak sama sekali banyak suara langkah kaki yang berlari kesana kemari untuk menyelamatkan diri…dan mungkin masuk ke dalam hutan.
Kami bertiga tidak berani keluar hingga suara orang yang berlari dan suara daun -daun yang diinjak menjadi sepi.
“Jangan keluar dulu pak Agus… tunggu hingga ada orang yang berjalan kesini saja”
“Saya takut apabila kelompok Wandi ada yang bersembunyi di samping rumah ini” kata pak Wito
Hingga beberapa menit tidak ada suara.. tidak ada suara tembakan, tidak ada suara orang berlari dan tidak ada suara orang berbicara..
Keadaan di belakang rumah ini sangat sepi…hingga kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan sangat hati-hati.
Suara langkah kaki itu berasal dari depan rumah. dan kelihatannya akan menuju ke samping rumah
“Pak Agus… kami harus pergi sekarang.. yang datang itu adalah polisi, kami harus menyelamatkan diri” kata pak Wito
“Nanti kita bertemu lagi pak” kata Yetno
Aku tidak bisa membiarkan mereka berdua ditangkap polisi, karena pak Wito dan Yetno masih termasuk ada di kelompok bos satunya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Inggrid tadi.
Dengan perlahan-lahan pak Wito dan Yetno masuk lagi ke dalam bagian belakang rumah penggergajian melalui pintu rahasia yang ada di sebelah tempat pembuatan palet.
Aku tidak akan membocorkan dimana kedua orang itu berada., mereka sudah menempuh jalan bahaya untuk menyelamatkan aku.
Sekarang tinggal menunggu siapa yang akan datang setelah ini.
“Yang datang itu polisi mas… tadi kelompok Wandi kocar kacir… tidak ada yang tertangkap kecuali pak Wandi sendiri yang memang tadi sengaja tidak lari” kata Inggrid yang tiba-tiba datang
“Kenapa orang tua itu tidak lari Nggrid, pasti ada sesuatu yang ada di pikirannya sehingga dia sengaja agar ditangkap”
“Kayaknya gitu mas…”
“Pak Aguuuusss” teriak orang yang sedang berjalan kemari
“Iya saya Agus pak… saya ada disini”
__ADS_1
Satu orang yang berjalan kesini kemudian sedikit berlari menuju ke arahku…
Orang itu polisi yang berpakaian preman, karena di tangan kanannya dia sedang memegang senjata yang aku tidak tau apa jenisnya.
“Alhamdulilah akhirnya ketemu juga pak… ayo kita ke sana..komandan kami sudah menunggu pak Agus”
“Eh tadi ada suara tembakan.. memangnya apa yang tadi sedang terjadi pak?”
“Tidak ada yang terjadi… kami sengaja menembak ke udara agar mereka yang ada di sekitar halaman rumah itu kocar kacir” kata polisi itu sambil matanya masih melihat kesana kemari
“Apa ada yang tertangkap pak..?”
“Ada..satu orang yang paling tua, yang ngakunya bernama Wandi”
“Waduuuh… dia akan melihat wajah saya pak?”
“Ya memang pak Agus.. tapi apabila pak Agus nanti bersaksi sebagai korban..dia akan dipenjara lho pak” kata polisi ini
“Wah.. tidak segampang itu pak,, dia mafia..saya takut sama dia pak”
“Sudahlah… tenang saja., nanti bicara dengan komandan saya saja pak Agus”
Aku bukan takut dengan Wandi… tapi aku takut dengan kelompoknya..
Aku yakin Wandi tidak akan lama dipenjara, dan bisa-bisa tidak ditahan sama sekali apabila bukti-buktinya tidak kuat.
Seharusnya aku tidak usah dilepas dan biarkan di dalam kamar mandi dengan keadaan terikat kalau kasusnya akan begini,.
Seharusnya biarkan polisi itu menemukan aku dalam keadaan terikat di dalam kamar mandi saja.
Tapi tadi Yetno dan pak Wito kan tidak tau kalau ada polisi datang kesini… mereka berdua kan niatnya menyelamatkan aku saja
*****
TINA POV
“Mbak Tina dengar ada suara siulan mirip burung kutilang?”
“Iya pak.. kenapa dengan suara itu pak?”
“Itu anggota saya mereka sudah ada di sekitar sini… sekarang saya akan saya balas dengan memukul batang pohon, agar mereka datang kesini”
“Kok tidak Pake HT saja pak?”
“Suara HT bisa bikin curiga orang yang ada di dalam sana, suara HT itu bukan suara alam.. jadi dalam keadaan seperti ini kita hindari pemakaian HT dulu”
Pak Paijo beberapa kali memukul pohon hingga kemudian perlahan-lahan suara langkah kaki semakin dekat dengan posisi kami berdua.
“Ada berapa anggota?” tanya pak Jo
“Siap… dengan saya ada empat pak…”
“Sekarang menyebar dan tunggu tanda dari saya.. “ kata pak Jo
“Mbak Tina.. nanti apabila ada kerusuhan, mbak Tina segera jongkok di semak-semak sebelah itu, jangan berdiri sebelum saya panggil”
“Ingat… jangan muncul sebelum saya panggil…”
“Iya pak”
Empat orang itu menyebar di sekitar rumah penggergajian, sedangkan aku dan pak Paijo tetap ada di sekitar pepohonan depan rumah.
Ketika kami sedang serius memperhatikan apa yang ada di rumah itu.. tiba-tiba dari dalam rumah penggergajian orang-orang berlarian sambil berteriak setan… setan.
Aku reflek jongkok… sedangkan pak Paijo melangkah menjauhi aku…
Selang beberapa menit kemudian aku mendengar suara pak Jo berteriak …”DIAM DITEMPAT.. KALIAN SUDAH TERKEPUNG!”
Setelah itu yang ada suara tembakan tembakan…tapi masak iya sih mereka menembaki orang yang ada disana. mungkin para penegak hukum itu menembak ke udara lah.
Suara beberapa orang yang berlari ke segala arah, hingga masuk ke dalam hutan..
Suara orang yang berteriak ketika mungkin kakinya tersandung batu atau jatuh karena kakinya terkena akar pohon atau batu besar yang berserakan di sana.
Kemudian ada suara pak Paijo yang berteriak… JANGAN DIKEJAR YANG MASUK HUTAN.. BIARKAN SAJA MEREKA MASUK HUTAN, KITA TANGKAP SATU ORANG SAJA!
Memang benar..karena tujuan kita kesini bukan untuk menangkap mereka, tapi membebaskan mas Agus. dan menahan satu orang untuk kasus penculikan…
Tapi berat juga karena tidak ada saksi mata, dan hanya mas Agus saja sebagai korbannya….
Lama kelamaan keadaan menjadi sepi, hanya terdengar suara langkah kaki hilir mudik saja…
Tetapi kemudian aku dengar ada suara yang mencaci maki polisi.. dan aku yakin suara itu adalah suara Wandi hahahaha.
Aku paham.. mungkin memang sengaja pak Paijo hanya menangkap satu orang saja, karena dengan satu orang maka yang lainya akan tertangkap juga nantinya.
Tapi apabila kasus ini keadaanya tanpa ada saksi mata sama sekali gimana?
Dan semoga polisi itu menemukan mas Agus dalam keadaan terikat di suatu tempat, agar ada bukti yang memberatkan Wandi.
__ADS_1