RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
238. KEJADIAN BERIKUTNYA


__ADS_3

“Setelah saya rasa pak Diran dan mas Agus selesai dengan urusan barang milik Watuadem, kemudian saya biarkan dia untuk kembali masuk ke ruang utama hotel” kata pak Hendrik


“Dia masuk ke ruang utama dengan sedikit berlari, tentu saja dia saya ikuti, karena saya  penasaran dengan apa yang dia sembunyikan didalam kamar”


“Jiang yang tadinya duduk di depan pintu kemudian dibentak Watu hahahah…..”


“Sampai di ruang utama hotel, dia masuk ke dalam kamar….”


“Saya duduk di ruang tamu bersama mbak Tina… dari ruang tamu saya dengar Watuadem mengumpat sambil membanting sesuatu”


“Kemudian dia keluar kamar dengan wajah merah pertanda amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia sempat saya sapa… kok keluar kamar lagi pak, katanya sudah ngantuk”


“Tapi Watu sama sekali tidak menjawab sapaan saya, dia malah ngeluyur keluar ruangan dan menuju ke tempat pak Diran berada”


“Dan selanjutnya ya tadi itu yang terjadi… jadi kesimpulanya untuk saat ini dia tidak bisa melakukan apapun terhadap hotel ini, dan saya  yakin dia tidak akan tinggal lama disini” kata pak Hendrik mengakhiri ceritanya


“Tapi saya tetap penasaran dengan apa yang dia akan lakukan disini pak” kata pak Hendrik


“Kalau begitu ayo kita ke taman belakang…” ajak pak Diran


“Oh iya pak Hendrik.. Setahu saya, dia itu sebenarnya bisa berinteraksi dengang mahluk ghaib, tapi hanya sebatas interaksi saja. Dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan mahluk ghaib itu” kata pak Diran


“Lebih baik kita ke belakang saja yuk… saya yakin dia sekarang sedang bingung tentang apa yang akan dia lakukan pak Hendrik” kata pak Diran lagi


Aku, pak Diran, dan pak Hendrik masuk lagi ke ruang utama, disana mbak Tina sedang senyum-senyum. Mungkin ada sesuatu yang lucu.


“Kenapa bu Tina… kok senyum sendiri” sapa pak Diran


“Itu lho pak, tadi watuadem masuk sambil ngomel-ngomel pak, yang saya dengar….mati aku, bagaimana bisa hilang… apa yang harus aku lakukan…. Dia berkata seperti itu pak” kata mbak Tina


“Sekarang dimana orang itu bu Tina?” tanya pak Diran


“Tadi ke belakang pak… dia ngeloyor aja ke belakang setelah keluar dari kamarnya”


“Berarti ada yang suruh dia untuk meletakan benda jahanam itu bu…..kalau dia menyapa ibu, jangan ditanggapi bu, biarkan saja dia gila dengan apa yang dilakukannya”


“Bu Tina, kami akan ke belakang, saya penasaran dengan apa yang akan dilakukannya di belakang sana” kata pak Diran lagi


“Jiang kamu disini saja ya, jaga ruangan ini, kalau ada apa-apa segera panggil kami”


*****


Di halaman belakang, dua lampu petromak yang nyala lampunya masih terang, aku bisa melihat ke segala arah kecuali bagian yang dekat dengan sungai.


Disini tidak ada penampakan Watuadem…


Sudah aku lihat ke segala penjuru halaman belakang, tapi aku masih belum bisa menemukan sosok Watuadem sama sekali.


“Mungkin dia ada di bagian sungai” gumam pak Diran yang tolah toleh mencari keberadaan watuadem


“Yuk kita kita ke sana pak, masak iya sih dia akan melakukan ritual disana, apa berani dia pak?” tanya pak Hendrik


“Saya rasa tidak berani pak Hendrik, tapi entahlah kalau dia memang punya kemampuan untuk itu pak” jawab pak Diran


Kami berjalan ke belakang hotel dekat dengan sungai, keadaan disini masih gelap, dan sejauh mata memandang aku sama sekail gak lihat keberadaan Watu.


Aneh juga, dia di halaman tidak ada, di pasir pinggir sungai juga tidak ada… apa mungkin dia lompat pagar dn berjalan menuju ke desa sana.


“Aneh pak, kok gak ada keberadaan orang itu ya pak?”


“Iya pak Agus…. Aneh, di bagian belakang dan sungai tidak nampak dukun palsu itu pak hehehe, apa mungkin dia lompat pagar dan diam-diam pergi dari sini ya pak Agus?” kata pak Diran


“Itu yang dari tadi saya pikirkan pak, apakah dia pergi dari sini karena tidak berhasil membuat masalah disini. Dan sebenarnya dia itu suruhan siapa ya pak Diran?”


“Kalau dia pergi dari sini, apakah ada kemungkinan tujuan dia itu ke desa yang ada disana itu pak Diran?” tunjuk pak Hendrik ke arah desa yang ada di sebelah sungai, karena dari sini kelihatan kelap kelip cahaya lampu minyak yang ada disana


“Coba kita tanya sama mbak kunti dulu saja, siapa tau dia lihat dimana si Watuadem” kata pak Diran


Aku merasa ada yang aneh dengan kelakuan Watuadem. Anehnya gini menurutku, mungkin dia gak berhasil melakukan apa yang disuruh karena bisa jadi dia itu cuma suruhan.


Dan mungkin karena dia tidak bisa melaksanakan tugas dari yang menyuruh dia kemudian ketakutan, dan mungkin dia pergi dari sini untuk menghindari seseorang atau siapa saja yang menyuruh dia.


Pak Diran sedang bicara dengan sesosok Kunti yang matanya tidak pernah nggak melotot, selalu melotot dan tidak pernah berkedip sama sekali.

__ADS_1


Beberapa kali pak Diran mengangguk angguk pelan, mungkin dia paham apa yang dikatakan Kunti itu.


“Pak Agus… coba lihat di dalam kamar dia… kata mbak Kun ini tadi dia sempat tertawa sebentar, dan kemudian lari melompati pagar menuju ke arah desa itu” kata pak Diran


“Bearti dia sekarang sudah dalam perjalanan menuju ke arah desa itu” kata pak Hendrik


Tanpa menunggu pak Diran berkata dua kali, aku berjalan agak cepat menuju ke kamar yang rencananya akan digunakan Watuadem menginap.


Kamar yang tadi ketika aku ambil  kelapa tua dan dimusnahkan oleh pak Diran, kelapa tua yang merupakan tempat setan jahat yang akan berbuat ulah di sekitar hotel ini.


“Ada apa mas Agus kok kesini lagi mas?” tanya mbak Tina ketika aku masuk ke ruang utama lagi


“Antar saya periksa kamar Watu mbak… kata Kunti yang ada di sana, Watu tadi sempat tertawa, dan kemudian melompati pagar dan pergi dari sini ke arah desa sebelah sungai”


Kubuka pintu kamar yang harusnya ditempati si watu…..


Bau busuk keluar dari kamar……


Aku dan mbak Tina yang tadinya sudah ada di ambang pintu kemudian mundur beberapa langkah… karena akibat dari bau busuk yang keluar dari kamar itu.


“Mas, kok ada bau busuknya?”


“Iya mbak… coba saya nyalakan dulu lampu kamar ini mbak, mbak Tina tunggu dulu saja disini”


Ada yang nggak beres sama kamar itu kayaknya, karena bau itu pasti berasal dari sesuatu yang dibuka tau disebar di kamar ini, sesuatu yang baunya busuk seperti bau bangkai.


Lampu kamar sudah aku nyalakan…


“YA ALLAH!....” teriak mbak Tina


Aku kaget dengan teriakan mbak Tina, seketika kulihat di lantai kamar,....


Bangkai binatang….bukan  bangkai binatang, tapi potongan-potongan daging binatang yang sudah busuk…entah binatang apa…


Di lantai kamar ada sebuah tas kresek hitam yang tergeletak, tak kresek yang dirobek untuk membukanya…di sebelah tas kresek, di lantai berceceran daging binatang berbulu hitam yang sudah busuk dan penuh dengan belatung.


Aku nggak tau itu daging binatang apa, yang pasti di lantai itu ada potongan-potongan daging yang masih ada bulu hitamnya. Bulu hitam yang kaku.


Perkiraanku itu daging celeng, karena bulu-bulunya berbeda dengan bulu anjing, atau kucing, atau sejenisnya.


Kebetulan Jiang masih berjaga di depan pintu kaca yang membatasi antara ruangan utama dengan bagian belakang hotel yang terdiri dari kamar, taman, sungai dan lainnya.


Mbak TIna datang lagi ke ruangan utama setelah dia memberitahu Jiang untuk memanggil pak Diran dan pak Hendrik.


Mbak Tina datang dengan menggunakan saputangan yang digunakan untuk menutupi hidungnya.


“Mas… apa nggak dimasukan lagi ke kreseknya saja?”


“Tunggu pak Diran dan pak Hendrik saja mbak… saya gak berani ngapa ngapain sebelum pak Diran mendeteksi benda itu”


Aku gak berani ngapa-ngapain, apalagi menyentuh bangkai itu.  Selain jijik karena sudah busuk dan banyak belatungnya juga aku merasa ada tujuan tertentu dengan adanya benda itu disini.


“Pak Agus.. keluar dari sana pak…!” kata pak Diran setelah sampai di ruang utama


“Wah kurang ajar juga si Watu itu.. Dia punya benda lain yang sama bahayanya dengan dua buah kelapa yang tadi itu” kata pak Diran yang datang dengan pak Hendrik”


“Bangakai itu untuk apa pak?”


“Itu sama saja dengan kelapa yang tadi pak Agus, hanya saja daging bangkai babi hutan ini tidak bisa membawa muatan sebanyak kelapa tadi” jawab pak Hendrik


“Kurang ajar.. Beberapa sudah menyebar dan keluar dari kamar!” gumam pak Diran


“Kalian keluar dulu… Pak Hendrik tolong jaga di depan pintu, saya kan bakar dulu yang ada di dalam kamar ini.  Sedangkan yang ada diluar nanti kita cari bersama sama” kata pak Diran


Aku mbak Tina dan pak Hendrik keluar dari kamar, kemudian pak Diran menutup pintu kamar.


Pak Hendrik duduk bersila di depan pintu kamar, sambil salah satu telapak tangannya ditempel di pintu kamar..


Aku nggak tau apa yang sudah menyebar di  sekitar hotel, karena aku tidak bisa melihat dan merasakannya, disini aku kan hanya bisa melihat adanya pocong dan kunti saja.


“Mas mundur mas” kata mbak Tina


“Ada apa mbak” bisikku

__ADS_1


“Lihat asap yang keluar dari celah pintu….  Kayaknya di dalam pak Diran sedang berusaha keras untuk membunuh yang ada didalam kamar itu mas”


Aku dan mbak Tina mundur beberapa langkah, tapi tidak lama kemudian aku mendengar teriakan seorang perempuan di bagian belakang…. kemudian  Jiang masuk ke dalam.


“Gawat pak Agus… penghuni kamar sembilan keluar dan teriak teriak… kayaknya kesurupan pak” kata Jiang dengan suara pelan, mungkin takut mengganggu konsentrasi pak Hendrik


“Ayo kita tangkap dan amankan dulu mbak!... saya takut apabila perempuan itu melakukan aksi bunuh diri seperti kemarin itu!”


Pak Hendrik masih konsentrasi dan menempelkan telapak tangannya di daun pintu, pak Diran masih ada di dalam kamar untuk melakukan pemusnahan demit yang ada di dalam.


Aku Jiang dan mbak Tina keluar dari ruang utama dan mencari kemana perempuan yang teriak itu berada, karena bisa saja perempuan itu akan menuju ke sungai dan melakukan sesuatu disana.


Dengan setengah berlari kami bertiga melalui taman belakang dan menuju ke arah sungai. Ketika kami sudah ada di tengah taman aku merasa ada seseorang yang sedang melihat ke arahku dari salah satu kamar yang ada di sini.


Tapi untuk saat ini aku tidak peduli dulu dengan apa yang sedang mengamati disini. Aku fokus untuk menemukan dimana perempuan yang tadi teriak itu berada.


Pintu kamar nomor sembilan dalam keadaan terbuka, berarti perempuan yang minta tolong itu berasal dari situ dan mungkin menuju ke bagian belakang hotel.


Karena teriakan itu hanya beberapa saat saja, dan sekarang sudah tidak terdengar suara teriakan itu lagi


“Jiang… tadi perempuan itu kemana?” setelah kami ada di bagian belakang hotel


“Tadi ketika teriak dan keluar dari kamar, kayaknya perempuan itu menuju ke belakang sini pak” jawab Jiang


“Iya Jiang.. Tapi sampai saat ini disini sepi sepi saja, bahkan kita tidak melihat seorangpun ada disini”


Ketika kami sedang mencari seorang perempuan yang tadi dikatakan Jiang, pak Diran dan pak Hendrik datang menghampiri kami.


“Dimana orang yang tadi katanya teriak itu?” tanya pak Diran


”Nggak tau pak, kita juga sedang cari dimana orang itu pak”


“Kalian tunggu disini, saya mau tanya ke mbak Kunti itu dulu…. Eh pak Hendrik, tolong deteksi sekitar sini, apakah demit yang tadi ada di daging busuk itu ada yang sudah menyebar di sekitar sini” kata pak Diran kepada pak Hendrik


Akhirnya pak Diran menuju ke pohon beringin, sedangkan aku dan tiga orang lainnya masih mencari keberadaan perempuan yang tadi dikatakan Jiang itu.


Ketika pak Diran masih ada di dekat pohon beringin yang jaraknya dari kami sekitar dua puluh meteran, tiba-tiba ada suara teriakan minta tolong di salah satu kamar yang ada di hotel ini…


“PAK DIRAN… ADA YANG MINTA TOLONG”  teriak mbak Tina


Tanpa menunggu pak Diran yang sedang berkomunikasi dengan kunti yang ada di pohon beringin itu, kami berempat mencari asal suara minta tolong…


Beberapa tamu dari kamar yang kami lewati membuka pintu kamarnya dan bahkan ada yang keluar dari kamarnya mungkin karena mendengar suara permintaan tolong.


Aku harus menenangkan tamu yang lainnya dulu, agar tidak ada yang keluar dan membuat suasana makin kacau…


Aku berhenti sejenak dan menyuruh tamu tamu untuk segera masuk dan mengunci kamarnya.


“BAPAK DAN IBU, TOLONG MASUK KE KAMAR DAN KUNCI PINTU KAMAR, KAMI SEDANG MENCARI SUARA MINTA TOLONG ITU”


Untungnya tamu disini menurut dengan pengumumanku…


Tapi suara permintan tolong itu masih terdengar…pak Hendrik dan yang lainya sudah ada di depan kamar nomor tiga, mereka sekarang sedang berdiri di depan teras.


Pak Diran berlari  menyusul mereka yang sudah ada di kamar nomor tiga.


Kususul juga mereka yang sudah ada di depan kamar nomor tiga..


Permintaan tolong itu masih ada tetapi makin melemah dan melemah…


Kamar nomor tiga itu dalam keadaan tertutup… kemudian pak Diran berusaha membuka pintu kamar, tetapi ternyata pintu kamar terkunci dari dalam


“Apa kita tidak suruh yang ada di kamar itu untuk membuka kuncinya?” tanya mbak Tina


“Korbannya ada di dalam, dan kemungkinan besar tersangka juga ada di dalam mbak Tina, masak iya sih kita minta dibukakan pintunya” kata pak Diran


“Pak kita harus dobrak kamar ini” kata pak Hendrik


“Jangan pak Hendrik….kebetulan saya bawa kunci master pak” kata mbak Tina kemudian menyerahkan kepada pak Diran


Pak Diran menggeser sebuah kartu yang merupakan kunci master bisa digunakan untuk membuka pintu seluruh kamar yang ada disini.


Suara permintaan tolong sudah tidak terdengar lagi…

__ADS_1


Pintu kamar nomor tiga sudah siap dibuka oleh pak Diran, tetapi pak Diran menoleh ke arah kami, seolah dia minta persetujuan untuk membuka pintu kamar ini.


__ADS_2