RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
48. MIMPI


__ADS_3

Aku ada di ruang tamu Tina, sementara dia tidur di kamarnya, aku sudah sepakat dengan Tina selama aku ada disini aku akan ada di ruang tamu saja.


Aku tidak akan masuk ke kamar Tina kecuali Tina mengajak untuk sholat  berjamaah…


Malam ini ruang tamu rumah Tina sudah dalam keadaan gelap, karena lampu utama sudah dimatikan, aku sendirian ada di ruang tamu.


Memang ada kemajuan setelah aku minum air pemberian dari dokter Joko, lukaku sudah tidak terasa panas lagi meskipun tetap saja sakit.


Apalagi ditambah dengan minum obat penghilang rasa sakit, rasanya ngantuk luar biasa..


Kulihat jam tanganku, ternyata sekarang sudah pukul 02.10…


Pelan -pelan aku ngantuk dan  tertidur….


*****


Rumah penggergajian yang sepi, malam hari hanya ada nyala lampu petromak di dalam ruang tamu yang bisa aku lihat dari luar pagar rumah.


Aku berjalan pelan masuk ke halaman rumah….


Ternyata di depan pintu rumah ada beberapa sandal yang berjajar rapi…


Aku tidak langsung masuk ke dalam rumah, tetapi aku mengintip melalui celah jendela. kupegang tembok rumah, tetapi anehnya aku tidak bisa memegang tembok rumah.


Malah sekarang tanganku bisa menembus tembok rumah….


Ketika kulihat kakiku… ternyata aku tidak menapak tanah, aku… aku melayang!


Kulihat kedua telapak tanganku untuk memastikan bahwa tangaku tidak apa-apa…


Aku berpindah ke sisi pintu rumah, kupegang pelan-pelan pintu rumah, dan ternyata aku bisa menembusnya.


Aku melayang masuk ke dalam….


Ugh bau kemenyan memenuhi ruang tamu rumah, aku terbatuk batuk dengan hebat, tetapi anehnya tidak ada yang mendengar suara batuk ku.


Apa yang sedang terjadi denganku..


Kenapa aku bisa jadi begini?


Ruang tamu ini penuh dengan manusia berpakaian hitam, mereka sedang duduk bersila.


Mereka duduk melingkari benda putih yang melintang di ruang tamu….


Asap kemenyan ini menghalangiku untuk melihat dengan jelas wajah-wajah orang yang sedang duduk melingkar dengan benda putih di tengahnya….


Perlahan-lahan asap kemenyan itu pun mulai hilang, sekarang aku bisa lihat siapa saja yang sedang duduk di ruang tamu ini.


“Ya Allah yang ditengah itu pocong!”


Aku bergidik dan mundur beberapa meter hingga menembus dinding kamar tempat aku tidur


Kutoleh siapa yang sedang tidur di kamar depan,


Kosong, tempat tidurku kosong, gelap….bahkan lampu minyak yang seharusnya menyala di dinding rumah itu dalam keadaan mati .


Aku bergerak maju lagi dan menembus dinding ruang tamu, kini aku ada diantara lima… eh enam orang yang sedang duduk dengan pocong ada di depan mereka.

__ADS_1


Aku berusaha melihat wajah pocong itu, karena wajah pocong itu tidak terlihat hitam seperti yang telah memukulku sebelumnya.


Tapi aku tetap tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di tengah itu, yah karena salah satu dari orang itu menambah kemenyan di tempat pembakaran kemenyan.


“Wuiih asap putih ini makin banyak saja!”


Beberapa orang yang ada di sana mulai saling berbisik keliatannya salah satu dari mereka disuruh melakukan sesuatu oleh salah satu orang yang duduk disebelahnya.


Aku benar-benar penasaran dengan wajah-wajah orang yang ada disana….


Tetapi setiap aku berusaha untuk melihat wajah mereka, selalu terhalang oleh asap tebal hasil dari pembakaran kemenyan itu.


Satu orang berjalan menuju ke arah belakang, kemudian orang itu membuka pintu rumah, di gelapnya malam aku melihat sosok orang berpakaian hitam itu jalan ke arah penggergajian.


Dia jalan menuju ke arah belakang…. dia berjalan menuju ke mesin pemotong kayu yang lengkap dengan mesin penggeraknya!


Apa yang sedang dilakukan orang itu, kenapa orang itu berjalan terus menuju ke arah belakang dan melewati gergaji kayu?


DI lurus saja hingga dia sekarang ada di bagian belakang di bawah pohon beringin. Kemudian orang itu melihat sekeliling.


Aku penasaran dengan yang dilakukan orang itu, kemudian orang itu membungkuk dan membakar kemenyan disana…


“Itu kan makam yang ada di bawah pohon, apa yang dia lakukan disana?”


Setelah proses pembakaran kemenyan dengan asap yang sangat banyak, sosok itu berjalan kembali ke dalam rumah.


Aku yang dari tadi belum lihat apa yang dia lakukan disana kemudian aku hampiri tempat dia tadi membakar kemenyan.


“Masyaallah… lubang makam itu dalam keadaan terbuka!”


Tanah makam itu terbuka lebar, sehingga aku bisa lihat apa yang ada disana…


Asap kemenyan tidak membumbung tinggi ke atas, tetapi diam di sekitar lubang makam bawah pohon beringin….


Tetapi kenapa makam itu kosong.. lalu yang ada di ruang tamu, itu pocong siapa?


Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi, aku bergerak mengikuti orang yang tadi menyalakan kemenyan di sekitar makam belakang rumah.


Saat ini di gelap malam sama sekali tidak ada suara, tidak ada suara binatang malam maupun suara daun yang terkena angin.


Semua diam, membisu dan mengikuti apa yang sedang ada di rumah ini.


Bahkan kecipak air sungai yang kadang terdengar pun saat ini sama sekali tidak terdengar.


Semua diam, sunyi, semua seolah sedang khidmat mengikuti apa yang sedang terjadi disini.


Untuk saat ini yang bisa kurasakan adalah tubuhku yang sangat ringan.


Sedikit saja bergerak rasanya sudah jauh sehingga aku harus mengatur gerakanku agar tidak terlalu dekat dengan orang yang ada di depanku.


Aku sudah melewati pintu belakang rumah, tetapi rasanya ada yang aneh….


Di dalam rumah suasananya sudah berbeda….


Orang-orang sedang melafalkan sebuah perkataan dalam bahasa yang sama sekali tidak kupahami, tapi bernada mirip lagu.


Diantara asap kemenyan, keenam orang itu tetap bersuara mirip dengan bahasa jawa tapi bukan, dan bernada yang indah.

__ADS_1


Aku yang tidak paham dengan bahasanya saja sampai terpukau dengan yang sedang mereka lafalkan itu.


Asap kemenyan makin banyak, mungkin karena salah satu dari mereka menabur serbuk kemenyan ke dalam tempat pembakaranya lagi.


Aku hanya bisa lihat dari depan kamar mandi apa yang sedang mereka lakukan.


Ketika asap kemenyan itu mulai pudar, aku bisa melihat seseorang sedang memangku kepala pocong.


Pocong itu seolah-olah sedang tiduran dengan tenang di pangkuan orang yang duduk membelakangi pintu depan rumah.


Ketika asap kemenyan itu mulai pudar, seseorang menambahkan lagi serbuk kemenyan, sehingga ruang tamu penuh dengan asap berbau tajam itu.


Tiba-tiba mereka berhenti melafalkan semacam lagu berbahasa jawa yang aneh, yang tadi mereka katakan.


Sekarang semuanya hening, tidak ada yang bersuara sama sekali. tidak ada yang berbicara sama sekali.


Ndak tau kenapa saat ini aku merasa ketakutan sekali.


Dalam keadaan sepi ini aku merasa ketakutan….


Hingga kemudian tidak sengaja kulihat ada sesuatu yang bergerak di antara asap kemenyan yang ada di ruang tamu.


Bukan bergerak… tetapi melayang..


Sesuatu itu melayang pelan menuju ke arahku, tetapi aku belum bisa melihat wajahnya dengan jelas karena di sekitar wajahnya tertutup asap.


Perlahan…lahan asap itu mulai pudar….


Wajah pocong itu pun perlahan-lahan lepas dari asap  kemenyan….


“ALLAHUAKBAAAR……”


“Itu akuuuu…….!!!!!”


“Wajah pocong itu adalah wajahku!!!!!”


“AAAAAAHHHH TIDAAAAK, AKU BELUM MATI!..... TIDAAAAAAK!”


Tubuhku terguncang guncang, aku merasa bumi ini bergerak hebat….


Aku berteriak kencang… tetapi mulutku rasanya terkunci rapat


Tubuhku semakin terguncang hebat disertai dengan teriakan seseorang…


“Maaaasss bangun mas…. mas banguuuuunn!”


Teriakan suara perempuan yang rasanya ku kenal, suara perempuan yang berteriak sambil menangis sesenggukan.


Tapi aku jelas tidak menghiraukan suara teriakan perempuan itu, aku harus mengejar pocong itu yang sekarang sedang melewati sumur tua yang ada di halaman belakang rumah.


“Tungguuuu aku belum matiiii! hentikan pocong itu!!”


Teriakku pada orang  yang berpakaian hitam yang mengikuti kemana arah pocong itu berjalan.


“Banguuung maasss, banguuuun!”


Tubuhku bergoyang goyang lagi….

__ADS_1


Suara perempuan itu benar-benar menggangguku, aku sudah tidak tahan lagi dengan suara itu, aku harus segera mendatangi pocong itu!


“Aku harus menghentikan pocong itu!”


__ADS_2