
Di depan pintu ruangan berkaca itu pak Burhan berdiri, tapi dia hanya berdiri dan hanya diam saja sambil melihat aku dan mas Agus…
Pak Burhan tidak berkata apa-apa selain mematung di depan pintu ruangan yang berkaca.
Jarak kami berdua dengan pak Burhan tidak lebih dari tujuh meter, kami duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan yang bersekat sekat.
“Selamat siang pak” kata mas Agus memberanikan diri menyapa pak Burhan sambil berdiri dari posisi duduknya
Pak Burhan tidak membalas sapaan mas Agus, tetapi dia melangkah perlahan menuju ke kursi panjang tempat tadi kami berdua duduk
“K..kalian berdua masih hidup?” tanyanya setelah pak Burhan ada di depan kami
“Jelas kami berdua masih hidup pak…. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” kata mas Agus
Pak Burhan memperhatikan kami berdua dengan tatapan bingung, dia memperhatikan kaki kami berdua…
Kenapa ya manusia selalu memperhatikan kaki tiap orang yang ditemui, khususnya orang yang lama tidak muncul kemudian tiba-tiba muncul, kenapa harus kaki yang selalu diperhatikan.
“Ayo masuk ke ruangan saya saja…kita bicara di dalam saja” kata pak Burhan yang masih bingung dengan kehadiran kami berdua.
Aku dan mas Agus masuk ke sebuah ruangan yang tidak bisa dikatakan besar, ruangan itu ternyata tidak dihuni pak Burhan sendirian, tetapi ada empat buah meja setengah biro beserta kursinya yang saat ini sedang kosong.
Ruangan berkaca gelap ini sangat tidak nyaman karena udara di dalam ruangan ini sangat bau asap rokok, kemungkinan besar mereka yang ada di dalam sini para pemuja rokok semua.
Tiap meja disini hanya disediakan sebuah kursi lipat untuk tamu, maka dari itu pak Burhan mengambil sebuah kursi lipat dan menaruhnya di depan mejanya untuk kami berdua.
“Silahkan duduk…. “
“Kalian ini masih hidup,... tapi dari mana saja kalian berdua selama satu tahun ini?”
“Dan… dan mayat siapa yang dikuburkan oleh pak Pangat beberapa bulan lalu itu?”
“Kalau bukan mayat kalian, lalu bagaimana pak Pangat bisa mendapatkan dua mayat dengan wajah yang hancur?”
“Bapak tidak akan percaya dengan apa yang akan kami ceritakan pak” kata mas Agus
“Sebelumnya saya ingin tau tentang Paijo dulu pak, saya tidak tenang sebelum tau perkembangan Paijo”
“Ceritakan tentang Paijo, nanti akan saya ceritakan bagaimana kami berdua ada di depan bapak saat ini” kata mas Agus
Wajah pak Burhan masih diliputi keheranan ketika kami berdua duduk di depannya, aku yakin dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Wajah seorang polisi bernama Burhan yang masih bingung dengan kehadiran kami berdua.
“Tenang saja pak Agus, Paijo sudah kami tangkap. Dan dokter Joko pun sudah kami tangkap, tetapi sudah kami bebaskan. Karena dokter Joko tidak terlibat dengan masalah ini”
“Mereka berdua kami tangkap di tempat yang berbeda, Paijo kami tangkap di sekitar warung tempat jual beli solar curian, sedangkan dokte Joko kami tangkap di terminal bus ketika dia akan pergi meninggalkan kota itu”
“Ketika dokter Joko kami mintai keterangan, ternyata dia merasa bersalah mengajak Hari datang ke desa kalian”
“Jadi begini mas Agus… saya baru tau kalau ternyata dokter Joko memiliki kelebihan bisa membaca pikiran orang dengan melihat wajah orang itu”
“Ketika waktu dia ketemu Hari, dan akan mengajak Hari ke tempat pak Pangat, dokter Joko berusaha membaca pikiran Hari, dan ternyata apa yang ada di otak hari ini sangat berbahaya”
“Tetapi sayangnya dokter Joko tidak berani mengatakan kepada kita, karena dokter Joko sendiri ketakutan. Yang ada di dalam kepala Hari waktu itu hanya bunuh dan bunuh saja, sehingga membuat dokter Joko ketakutan”
“Dia tidak ingin terlibat terlalu jauh, kemudian dia berusaha melarikan diri dari kota itu dengan menggunakan bus, tetapi anggota saya berhasil menangkapnya”
“Setelah beberapa hari kami tahan dan kami mintai keterangan, akhirnya kami putuskan dia tidak bersalah”
__ADS_1
“Tugas kami selesai setelah Paijo dan gerombolanya tertangkap, tapi beberapa hari sebelumnya kami, pak Pangat dan dibantu warga setempat mencari keberadaan kalian berdua di sekitar rumah penggergajian itu”
“Tetapi nihil, kami kehilangan kalian , kecuali dua buah motor milik pak pangat yang kami temukan di semak belukar dan di belakang pohon beringin.”
“Kedua sepeda motor itu sesuai perintah dari pak Pangat, tidak akan kami evakuasi, tetapi tetap dibiarkan saja disana”
“Kata pak Pangat, kedua motor itu biarkan saja disana, sebagai saksi bisu atas masalah yang ada di rumah penggergajian itu”
“Dan itu semua terjadi hampir setahun lalu!”
“Tetapi beberapa bulan kemudian pak Pangat menemukan sepasang mayat yang sudah membusuk dan wajahnya hancur, kedua mayat itu kemudian dievakuasi oleh pihak rumah sakit dan sudah dilaporkan ke kepolisian setempat”
“Diduga mayat itu adalah mayat kalian berdua yang sudah hilang beberapa bulan sebelumnya”
“Terus terang saya tidak ikut dalam penyidikan penemuan mayat, karena saya ada di divisi narkoba, jadi saya hanya mendapat laporan dari pak Pangat saja”
“Jadi saya hanya mendapat laporan saja dan yang menindak lanjuti penemuan mayat itu adalah kepolisian resort sana saja… hingga kalian tiba-tiba muncul di hadapan saya”
“Sekarang coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian berdua” kata pak Burhan
Berarti kesimpulannya diktir Jiki itu terlibat dengan Paijo. Dia hanya merasa bersalah dengan memberi informasi kepada Hari yang ternyata merupakan teman dari Paijo.
Dokter Joko juga merasa bersalah karena dia menjadi pusat informasi tentang keberadaan aku dan mas Agus, hingga dia menyadari kesalahanya ketika bertatap muka dengan Hari ketika mengajak Hari ke tempat pak Pangat.
“Sekarang gini pak Burhan… pertama yang akan saya sampaikan ini jelas tidak akan masuk akal sama sekali, tetapi akan saya ceritakan juga, dan saya harap pak Burhan bisa percaya dengan cerita kami ini”
“Jadi pagi hari ketika kami ada di rumah pak Pangat, pagi hari itu kami ingin mengunjungi rumah penggergajian, karena ada sesuatu yang harus kami lihat”
“Yang harus kami lihat itu adalah sesuatu yang ditunjukan oleh Inggrid, teman tak kasat mata kami”
“Karena kami berdua sudah berjanji untuk membantu memecahkan kasus Inggrid tentang hilangnya keluarganya ketika berlibur di vila yang sekarang adalah rumah penggergajian itu pak”
Wajah pak Burhan mulai terlihat aneh, ketika mendengar kasus yang tidak masuk akal ini.
“Ketika saya dan mbak Tina sampai dirumah penggergajian, kami diajak ke bagian belakang rumah”
“Disana kami tertidur dibawah pohon beringin, dan bermimpi tentang rumah penggergajian jaman dulu, tepatnya tahun enam puluh limaan , mungkin saat itu sedang terjadi peristiwa PKI”
“Ketika kami bangun, kami diajak Inggrid menuju ke seberang sungai, kata dia di seberang sungai ada tempat yang indah, dan ternyata disana ada sebuah makam cina yang luas”
“Setelah kembali dari melihat makam Inggrid, ternyata di sekitar rumah penggergajian ada empat orang yang sedang mencari kami, empat orang itu ada di dalam rumah penggergajian pak”
“Motor yang kami gunakan untuk menuju ke rumah penggergajian kemudian kami sembunyikan di belakang pohon beringin, saat itu sudah sore menjelang malam hari pak”
“Pada saat itu keempat orang yang ada di rumah penggergajian menuju ke arah belakang untuk mencari kami berdua
“Setelah menyembunyikan motor, kami mencari tempat sembunyi, dan kami putuskan lari ke seberang sungai, dan pada saat itu keempat orang yang mencari kami ternyata melihat kami sedang lari ke seberang sungai”
“Mereka mengejar kami, kami lari ke makam cina Inggrid….”
“Karena keadaan kami sudah terdesak, akhirnya kami sembunyi di sebuah lubang yang ada di makam Inggrid, sebuah lubang semacam terowongan yang tidak terlihat apabila tidak mencarinya secara detail”
“Setelah yakin yang mengejar kami pergi, kami keluar dari sana, dan ternyata kami tidak ada di masa itu, dan sudah maju ke masa depan”
Hmm banyak dari cerita mas Agus yang tidak diceritakan kepada pak Burhan, mungkin sengaja mas Agus merahasiakan beberapa detailnya.
Tapi kubiarkan saja, mungkin mas Agus ingin melindungi tentang harta dan kutukan yang kata Inggrid ada di dalam kuburan itu.
“Ceritamu sungguh tidak masuk akal pak Agus, tetapi dengan melihat kenyataan hilangnya kalian berdua dan kemudian tiba-tiba muncul disini, saya terpaksa mempercayai cerita kalian ini”
__ADS_1
“Yang jadi pertanyaan sekarang…dimana keberadaan pak Pangat, karena setelah dia menemukan mayat yang tidak jelas itu, beberapa hari kemudian dia menghilang dari rumahnya”
“Bahkan saya sudah mendatangi dokter Joko, tapi beliau tidak tau dimana keberadaan pak Pangat juga” kata pak Burhan
“Untuk masalah tentang kuburan Inggrid dan kemungkinan time traveling itu…..saya tidak mau ambil pusing, yang penting kalian sudah muncul dengan selamat dan kasus tentang Paijo dan Hari sudah kami tutup. Itu saja yang ada di pikiran saya” kata pak Burhan
“Untuk hilangnya pak Pangatpun saya rasa dia sekarang mungkin sedang sembunyi untuk melindungi keluarganya dari ancaman anak buah Solikin atau bisa saja anak buah Paijo.
“Jadi sekarang kalian tidak usah khawatir tentang hilangnya pak Pangat. Memang dia menghilang beberapa hari setelah menguburkan mayat yang katanya adalah mayat kalian berdua”
“Sekarang apa yang harus kami lakukan pak?” tanya mas Agus lagi
“Tidak ada yang kalian lakukan….dengan kalian ada di masa depan, otomatis kalian sudah aman dari kejaran orang-orang Solikin dan Wandi… setahun kalian hilang sudah cukup untuk melupakan dimana kalian berada”
“Jadi menurut saya… bersosialisasilah atau pergi dari desa itu sekalian, kemudian buatlah kehidupan baru di tempat yang baru”
Yang dikatakan pak Burhan ini benar, hanya saya kami berdua saat ini masih punya tugas lagi, untuk menemukan hilangnya keluarga Inggrid.
Dengan mencari hilangnya keluarga Inggrid otomatis kami harus tetap ada di desa itu, kami tidak bisa pergi dari desa itu sebelum semuanya terungkap.
Aku tau Inggrid masih menyimpan rahasia tentang dia dan keluarganya, tetapi dengan iming-iming harta yang menggiurkan, aku dan mas Agus pasti tidak akan pergi begitu saja dari rumah penggergajian itu
“Oh iya pak.. Bagaimana dengan Solikin, Wandi, Mamad, Wito, dan Yetno, bahkan mungkin bos besar dan pembelinya pak?”
“Orang yang kalian sebutkan tadi sudah menjadi tersangka dan tiga bulan lalu sudah resmi sebagai penghuni lembaga pemasyarakatan”
“Sedangkan untuk bos besar dan pembelinya itu yang masih dalam pendalaman”
“Sangat sulit untuk mendeteksi siapa dan dimana mereka itu, jadi masih dalam proses pendalaman yang tidak tau kapan bisa terungkap hehehe”
*****
“Gimana mbak Tina…tentang apa yang dikatakan pak Burhan tadi itu?”
“Tina rasa memang benar apa yang dia katakan mas, kita harus pergi dari desa itu dan mulai kehidupan baru di tempat yang jauh dari sana”
“Tapi kan kita masih punya satu tugas mas heheheh”
“Iya benar mbak Tina, kita tidak bisa pergi dari rumah penggergajian itulah hehehe”
“Tapi kita mulai pencarian itu dari mana mas, mengingat sudah puluhan tahun lalu terjadinya kejadian ini”
“Nanti saja kita pikirnya mbak, yang penting sekarang kita istirahat dan tidur dulu di losmen, kita sudah beberapa hari ini tidak pernah tidur nyenyak”
“Setelah otak kita segar, baru kita bisa berpikir lagi kita harus berbuat apa mbak”
Saat ini aku dan mas Agus ada di bus yang mengarah menuju ke kota P, aku dan mas Agus sudah memutuskan untuk terus melanjutkan pencarian keluarga Inggrid.
Yah…kalau tidak ada iming-iming tentu saja aku tidak mau melakukan ini, pasti resikonya besar, dan pasti akan berhubungan dengan mahluk-mahluk halus juga.
Untuk saat ini kita bisa santai tanpa takut dikejar kejar oleh oknum polisi dan para penjahat narkoba, untuk saat ini aku dan mas Agus akan menikmati jeda waktu dulu sebelum menyelesaikan kasus Inggrid yang bisa saja melibatkan arwah-arwah dan yang ada disekitar rumah penggergajian.
Tapi itu nanti….nanti akan kami kerjakan setelah kami istirahatkan otak kami dulu.
Sudah hampir tiga jam aku dan mas Agus duduk di kursi bus ekonomi, bus yang murah meriah, tetapi bikin kami masuk angin.
Bus yang kami tumpangi sudah masuk ke wilayah kota P meskipun masih di pinggirnya..
Inggrid dan kedua hantu yang sama sekali tidak aku hiraukan ada di dalam bus juga. Ketiga demit itu ikut kemana saja aku dan mas Agus pergi..
__ADS_1
Aku duduk di samping jendela, sedangkan mas Agus duduk di sebelahku, mataku selalu melihat ke arah luar melalui jendela agar aku tidak pusing dengan keadaan bus tanpa AC dan pengap karena sebagian penumpang yang merokok.
Ketika laju bus semakin pelan karena di depan lampu merah sedang nyala, tiba-tiba mataku tertuju pada sepasang suami istri yang sedang duduk di depan sebuah toko sambil menikmati es dawet.