
“Siapa mereka berdua itu mbak Tini?...Apakah mereka itu Burhan dan Gunawan?”
“Bukan mbak… kalau Burhan dan Gunawan kan teman satu desa saya, mereka kalau makan selalu bayar”
“Kalau yang ini itu orang tua tidak tau aturan yang bernama Wito, dan Yetno laki laki paling jorok”
“Jadi yang kemarin bertemu dengan mbak Tini di samping rumah sakit itu Wito dan Yetno mbak Tini?”
“Iya.. apa mbaknya kenal sama mereka?” tanya Tini kepadaku
Aku terdiam ketika mengetahui orang yang memukul dokter Joko dan menculik mas Agus adalah Wito dan Yetno.
Bukankah kedua orang itu baik, dan mereka bertiga bersama Kunyuk sempat memberitahu mas Agus agar berhati hati?.
Lalu apa tujuan mereka dengan menculik mas Agus…dan mereka buat seolah olah yang melakukan adalah anak buah dari Wandi?
Dan yang aneh itu sampai sekarang aku tidak melihat keberadaan Kunyuk…. sepertinya dia hilang ditelan bumi setelah acara melepaskan mas Agus.
Aku berusaha berpikir keras sebenarnya disini yang menjadi musuh itu siapa dan yang menjadi teman itu siapa, karena tiap aku akan mengambil kesimpulan selalu ada saja hal lain yang menghalanginya.
Kuhabiskan kopi ini dengan cepat karena aku harus ke tempat mas Agus lagi…
Tapi sik.. sebentar.... ada sedikit titik terang….
Aku coba untuk berpikir secara rasional tanpa memihak satu sama lain, aku coba untuk berpikir siapa di pihak siapa dulu tanpa memikirkan siapa mereka.
Kunyuk, Yetno, Wito adalah anak buah dari Solikin.
disini Yetno dan Wito dua orang yang sangat berperan di penculikan dan pemukulan mas Agus dan dokter Joko sesuai dengan info dari Tini
Kemungkinan Solikin hilang dari rumah sakit bersamaan dengan hilangnya arwah Kunyuk.
Solikin hilang dari rumah sakit setelah ada dua orang yang berjalan hilir mudik di depan rumah sakit sesuai info dari Santi
Aku tidak bisa menebak siapa dua orang itu, tetapi bisa saja itu hanya pancingan saja agar Santi mengatakan hal itu kepadaku.
Aku ingat apa yang dikatakan pak Pangat tentang igauan Solikin.
Jadi disini jelas… semua otak kejadian ini ada di tangan satu orang!
Satu lagi… bukankah Solikin menguasai ilmu hitam..., jadi menurut aku ada kemungkinan arwah Kunyuk ada dalam kekuasaanya!
Dan kemungkinan besar kejadian penggerebekan itu juga memang diatur dan dipikir sedemikian rupa oleh Solikin.
Komplotan Solikin tau apabila malam itu sedang ada rapat, hanya saja rapat itu tidak tau untuk membahas apa, nah pada rapat itu Solikin mengatur sedemikian rupa agar rapat yang dihadiri oleh komplotan Wandi digerebek polisi.
Untuk sementara baru itu yang bisa aku pikirkan setelah menyambung nyambung beberapa logika yang kutemuakan.....
“Mbak… kok malah melamun sih.. itu kan kopinya sudah habis mbak” tanya Tini yang sedang berdiri di depanku
“Oh iya mbak TIni.. heheh maaf saya tadi sedang memikirkan sesuatu.. eh pak Majid apakah sudah selesai juga?”
“Sudah bu…”
“Ya sudah.. semua berapa mbak Tini…?”
*****
Aku bersama pak Majid menyeberang jalan menuju ke rumah sakit..
Sebenarnya aku malas juga ke rumah sakit ini, bukan karena apa, hanya karena aku saat ini bisa melihat hal-hal yang aneh, sehingga rumah sakit itu rasanya seperti kerajaan mahluk halus.
Tapi yah mau gimana lagi, semua kan sudah diatur sama yang yang maha Pencipta.
Apakah hal ini karena akhir akhir ini aku mulai jarang sholat…semenjak mas Agus diculik itu, harusnya aku tidak boleh melupakan sholat.
“Eh bu Agus.. sampai disini saja saya antarnya, karena saya harus jaga di pos ini”
“Iya pak Majid.. saya berani kok jalan sendiri masuk ke dalam rumah sakit”
Aku berjalan menuju ke ruang administrasi karena disana mas Agus sedang menunggu proses pemberkasanya.
Jalan di selasar rumah sakit ini semakin siang semakin rame saja… sudah mirip pasar malam.
Aku harus menghindari sosok-sosok yang berjalan tanpa arah di depanku sepanjang aku berjalan.
Sik sebentar aku harus lanjutkan lagi memikirkan keadaan yang diatur sedemikian rupa oleh orang yang sangat berpengalaman.
Jadi menurutku Solikin ada dibalik ini semua, dia menjebak Wandi dan kawan kawan dengan cara menculik mas Agus dan dibuat seolah oleh yang melakukan penculikan ini adalah komplotan Wandi.
Sedangkan Kunyuk… disini Kunyuk aku rasa yang paling kasihan.. aku yakin setelah Kunyuk mati, arwah dia masih dibawah kendali Solikin, karena solikin punya keahlian ilmu hitam.
__ADS_1
Kunyuk diperintahkan untuk mengajak kita semua ke rumah penggergajian, termasuk pak polisi juga.
Dan selanjutnya mudah untuk dipahami…
Mangkanya ketika ada penggerebekan di rumah penggergajian, si Wandi tidak ikut kabur bersama yang lainnya, karena dia yakin apa yang dilakukan Wandi di rumah penggergajian itu tidak menyalahi hukum.
“Sialan … kita kecolongan sama si Solikin!”
Saat ini aku sudah ada di ruangan administrasi, ternyata mas Agus sedang ada di dalam ruangan, dia sedang bicara dengan petugas bagian administrasi.
Lebih baik aku duduk dulu di luar sambil menganalisa apa hal hal yang saling berkaitan satu sama lain.
Lalu bagaimana dengan bebasnya Wandi, siapa yang membantu membebaskan wandi waktu itu.
Kalau menurut keterangan dari polisi yang membonceng Wandi.. dia dibebaskan oleh tiga orang dengan cara memukul kedua polisi yang sedang membonceng Wandi.
Sik.. aku coba untuk berlogika…
Setelah Yetno dan pak Wito membebaskan mas Agus di rumah penggergajian… kata mas Agus mereka masuk lagi ke bagian belakang rumah penggergajian lewat pintu rahasia yang bisa dibuka tutup di bagian pembuatan palet.
Kalau mereka ada disana.. lalu mereka menuju ke mana, mereka berdua lari kemana…?
Ahhh kemungkinan besar mereka lari ke desa sebelah sungai… mereka pasti lari kesana, kemudian mengambil motor di desa sana dan kemudian menyusul Wandi yang sedang dibawa oleh polisi.
Tapi bagaimana bisa mereka dengan cepat lari ke desa sebelah sungai. kan dari rumah penggergajian ke desa sebelah sungai itu jaraknya tidak dekat.
Atau jangan-jangan ada motor yang mereka taruh di pinggir sungai, dan dengan motor itu mereka bisa mengejar Wandi yang dibawa dua polisi.
Untuk sementara ini analisaku seperti itu, tetapi semua bisa berubah apabila ada kejadian lain yang kemungkinan besar akan terjadi karena hilangnya pak Solikin.
*****
“Ah mas Agus.. sudah selesai mas?” tiba-tiba mas Agus keluar dari ruangan administrasi.
“Sudah mbak..lho mana pak Paijo, tadi dia ada disini mbak”
“Nggak ada mas, Tina baru saja datang soalnya mas… tadi Tina dari warung depan rumah sakit”
“Eh asal tau mas… ternyata yang memukul mas Agus dan dokter Joko itu bukan komplotanya Wandi”
“Yang memukul mas Agus dan dokter Joko itu adalah Wito dan Yetno!”
“HAAA?... bagaimana bisa mbak, mbak Tina tau dari mana?”
“Waduuuh, saya kok makin bingung sih mbak Tina?”
“Sabar mas.. akan Tina ceritakan apa yang sudah menjadi analisa Tina… semua ini bukan karena kebetulan, tetapi sudah ada yang mengaturnya”
“Semua yang terjadi itu sudah direncanakan jauh hari mas”
Kuceritakan apa yang sudah menjadi pemikiranku tadi, termasuk beberapa analisa yang mengerucut pada Solikin.
Tapi untuk saat ini aku tidak bercerita tentang aku bisa melihat ghaib, bahkan ada ghaib yang bisa mendorongku.
Aku rasa untuk hal ini harus aku rahasiakan dulu, karena sebenarnya aku tidak mau berhubungan langsung dengan yang namanya Ghaib.
Aku nggak mau kalau aku dimanfaatkan untuk menghubungi atau mencari kunyuk dan yang lainnya, makanya aku tidak mau cerita tentang kelebihanku ini.
“Bagaimana menurut mas Agus setelah Tina cerita apa yang Tina analisa ini”
“Saya bingung mbak, saya tidak tau harus bagaimana dan harus apa, rasanya otak saya penuh mbak”
“Untuk tempat tinggal kita saja saya dan pak Paijo saja masih diskusi tentang kita akan tinggal dimana yang aman dari mereka”
“Saran Tina mas… tinggal di rumah penggergajian saja, disana lebih aman dari pada di manapun juga… kenapa Tina bilang aman, karena mereka tidak akan menyangka kalau kita bersembunyi disana”
“Sementara itu kita tunggu kedua kubu itu berkelahi. Tina Yakin sekarang kelompok pak Wandi pasti sedang menyusun rencana juga”
“Iya mbak saya paham, hanya saja keadaan kita ini sedang terjepit, yang cari kita sekarang adalah Wandi dan kelompoknya”
“Kerana mereka berpikir saya ikut kelompok Solikin dan menjebak dia di rumah penggergajian”
“Ya sudahlah mas… kalau mas Agus masih ragu, lebih baik tanya sama pak Paijo saja dulu”
“Hari sudah semakin siang .. kita belum makan siang mas”
“Tina mau ke warung depan…mau makan siang dulu, kalau mas Agus ikut ya ayo kalau tidak ikut ya disini saja sambil nunggu pak Paijo”
Aku agak jengkel juga dengan mas Agus,... memang alasan aku paksa untuk ke rumah penggergajian itu ada alasanya.
Alasanya karena aku saat ini sudah bisa melihat dan komunikasi dengan mahluk halus.
__ADS_1
Aku yakin di rumah penggergajian pasti banyak mahluk halus yang juga ada yang berasal dari orang-orang yang meninggal di tengah hutan pada jaman dahulu. dan orang yang meninggal itu pasti nenek moyang aku juga.
Apalagi disana ada Inggrid, Makanya aku merasa disana pasti ada bantuan apabila ada yang akan menyerang.
Tapi aku sampai detik ini belum bicara sama mas Agus tentang apa yang terjadi dengan diriku yang sekarang bisa melihat dan kontak dengan makhluk ghaib.
“Mas…kita makan di kantin rumah sakit saja yuk… sekalian nunggu pak paijo datang”
“Tadi katanya kamu mau ke warung mbak?”
“Nggak ah mas… setelah Tina pikir-pikir, di warung sana malah bahaya bagi Tina mas”
“Tapi ngomong-ngomong dimana pak Paijonya kok belum datang ya mas?”
“Tadi dia gak bilang saya kalau mau ke mana mbak, saya pikir tadi pak Paijo bersama mbak Tina disini”
Ketika kami berdua mau cari kantin rumah sakit, tiba-tiba dari arah kejauhan pak Paijo memanggil kami berdua dengan melambaikan tanganya.
Dengan sedikit berlari aku dan mas Agus menghampiri pak Paijo yang sedang berdiri di depan kamar nomor satu.
Wajah pak Paijo terlihat tegang ketika aku dan mas Agus datang..
“Sekarang ikut dengan saya… kalian berdua harus kami amankan dulu” kata pak Paijo
“Iya pak.. tapi saya dan mas Agus mau ambil tas ransel yang kami sembunyikan di kamar nomor sepuluh pak”
“Ya sudah… ayo saya antar kesana , sekalian saya ceritakan ada berita apa lagi yang menyangkut tentang kasus ini”
“Memang nya ada apa lagi pak?” tanya mas Agus
“Tadi saya ke depan karena anak buah saya datang, anak buah saya ini salah satu dari empat orang yang saya sebar di sekitar warung makan yang ada di depan rumah sakit”
“Dia beritahu saya bahwa ada dua orang mencurigakan yang secara tidak sengaja pembicaraan mereka sempat terdengar oleh anak buah saya itu”
“Kata salah satu orang itu … pak Agus tidak boleh lolos dari rumah sakit..”
“Dan anehnya mereka kok bisa tau kalau mbak Tina dan mas Agus ada di rumah sakit ini” kata pak Paijo
“Saya curiga disini ada mata-mata yang melaporkan kepada seseorang yang ada diluar sana tentang keberadaan pak Agus dan mbak Tina”
“Dan untuk itu saya putuskan untuk menyembunyikan kalian untuk sementara waktu ini, hanya saja saya masih belum tau harus menyembunyikan kalian dimana”
“Pak.. Tina ada usul.. bagaimana kalau kami sembunyi di rumah penggergajian saja?”
“Hmm disana memang untuk sementara waktu ini aman, karena tidak akan ada orang yang kesana setelah acara penggerebekan kemarin malam itu” kata pak Paijo
“Apakah menurut pak Paijo disana itu aman pak?” tanya mas Agus
“Semua tempat tidak ada yang aman pak Agus… hanya saja menurut pengalaman saya, tempat yang telah dilakukan pemeriksaan atau penggerebekan itu akan aman dari orang-orang yang berkepentingan disana”
“Nanti akan saya suruh anggota saya untuk patroli disana juga” jawab pak Paijo
kami sudah ada di depan kamar nomor sepuluh..
Kamar ini terlihat sepi, beda dengan kemarin waktu aku dan mas Agus sembunyi disini… waktu itu sangat ramai sehingga kedua orang yang mengejar kami tidak memperhatikan mas Agus yang memakai jilbab.
Aku masuk kedalam kamar dan berharap tas ransel kami masih ada disana.
Ketika kubuka pintu kamar.. tepat di ambang pintu ada orang tua yang sedang menatap sedih ke arah salah satu tempat tidur yang ada disana.
Sempat kutoleh sebelum aku ucapkan permisi dengan nada yang sangat lirih.
Orang tua dengan kaos kutang warna putih itu melihat ke arahku dengan tatapan sedih.
Ketika aku masuk dan berjalan pelan menuju ke sisi pojok kamar untuk mengambil tas ransel, secara tidak sengaja aku menoleh ke tempat tidur.
Di tempat tidur itu ada seorang pria yang kelihatannya sedang tidur, karena dia sedang memejamkan mata.
Disamping tempat tidur itu ada ibu-ibu tua bersama anak yang seumur dengan Santi, mereka sedang duduk sambil makan biskuit.
Anehnya laki-laki tua yang ada di tempat tidur itu persis dengan yang ada di ambang pintu kamar ini…
Kutoleh sekali lagi di ambang pintu, ternyata disana masih ada sosok tua yang sama dengan yang sedang tidur di tempat tidur pasien.
Aku merasa ada yang aneh dengan orang ini… kemungkinan besar laki-laki tua yang sedang tidur itu sudah dalam keadaan meninggal.
Tetapi sayangnya ibu-ibu tua yang kemungkinan besar istrinya itu tidak mengetahui bahwa laki-laki tua itu kemungkinan besar sudah meninggal.
“Permisi bu.. saya mau mengambil tas saya”
“Iya mbak.. monggo” jawab perempuan tua itu dengan suara yang pelan, seakan akan dia tidak ingin mengganggu tidurnya laki-laki tua yang ada di tempat tidur itu
__ADS_1
Setelah aku mengambil tas yang kutaruh di pojokan.. aku ucapkan permisi lagi dengan suara yang lebih pelan daripada waktu tadi aku datang.
Kutoleh sekali lagi untuk meyakinkan diriku… ternyata wajah laki-laki tua itu sudah pucat…. dia sudah meninggal!.