RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
200 KEMBALI KE RAGA


__ADS_3

Hari masih sangat gelap, matahari pagi masih beberapa jam lagi


Kami berempat sekarang sudah ada di seberang sungai, di pinggir jalan… JIang sebagai pemandu berjalan di depan sambil terus waspada.


Kami berjalan kaki hingga mencapai sebuah desa, desa tempat leluhurku tinggal, apakah Jiang memiliki  teman di desa ini?


Kami berempat terus berjalan di desa yang malam menjelang pagi buta ini sangat sepi, selama perjalanan tidak ada yang namanya demit, pocong, kunti dan hantu hantu lainya…


Aku lupa kalau sekarang aku ada di alam yang berbeda dengan alamku hhihihi.


“Eh pak.. Kok belok ke sini….?”


“Iya mbak… karena disana rumah yang akan kita tuju” jawab Jiang yang berada di paling depan


Aku kenal dengan daerah ini, jalan ini, dan rumah yang ada di depan itu… tetapi aku hanya diam saja, mungkin JIang sedang menuju ke sebuah rumah yang dia kenal….. Tentu bukan rumah mbah Sutinah!


Ketika kami sudah dekat dengan rumah mbah Sutinah, ternyata secara mengejutkan Jiang menuju ke pagar rumah mbah Sutinah..


“Pak Jiang… kenapa ke rumah ini?” tanya mas Agus


“Hehehe ya rumah ini yang kita tuju… rumah dari ibu Sutinah… anak dari mbah Sastro, mbah Sastro pemilik tubuh yang kalian sekarang gunakan itu”


“Sudah, jangan banyak tanya dulu… pikirkan bagaimana caranya membangunan ibu Sutinah sekarang” kata pak Jiang


“Jangan sampai tetangga tau kalau kita ramai-ramai ke rumah ini.


Rumah mbah Sutinah sangat sepi, tidak ada kehidupan di depan rumah, tentu saja karena bu Sutinah sedang tidur… dan kami harus membangunkan tanpa menimbulkan suara sama sekali.


Hubungan apa yang sebenarnya pak Cheng dan Jiang dengan mbah Sutinah… apakah mereka terhubung setelah mbah Sastro tersesat di dalam benteng china itu?


Beberapa kali Jiang mengetuk pintu rumah mbah Sutinah, setelah ketukan yang kesekian kali, akhirnya pintu rumah terbuka juga.


Tetapi yang membuka bukan mbah Sutinah, melainkan laki-laki yang seumur dengan mbah Sutinah, mungkin beliau adalah suami dari mbah Sutinah.


“Pak….” sapa Jiang sambil menyalami laki-laki yang ada di depanya


“Wah Jiang… mbah Sastro… pak Cheng… ada apa malam-malam kesini?” tanya laki-laki itu


“Boleh kami masuk dulu pak… keadaan mendesak ini pak”


“Ya.. cepat kalian masuk ke dalam…saya akan panggil istri saya dulu”


*****


“Jadi selama ini kami salah sangka ya pak Cheng… selama ini yang justru jahat adalah si cantik yang nama aslinya adalah Fong.. “


Si cantik yang mungkin juga bisa merubah wujudnya menjadi buruk rupa yang kata kalian seperti anak dari pimpinan disana” kata mbah Tinah


“Iya bu… dan semua ini akan semakin memburuk setelah kematian dari Inggrid yang ditusuk oleh teman mbak dan mas Ini” jawab Jiang


“Saya sebenarnya dari awal sudah menduga ada sesuatu dengan teman kalian ini nak Tina.. tapi saya belum bisa menerka apa yang sebenarnya akan terjadi disini” kata mbah Sutinah


“Kalian akan dicari oleh mereka yang menjaga istana itu anak-anak.. Dan hidup kalian dalam bahaya selama teman kalian masih hidup dan mereka penjaga atau polisi disana akan selalu menjaga teman kalian yang ditahan agar tetap hidup”


“Rencanamu apa pak Jiang dan pak Cheng?” tanya mbah Sutinah


“Kami akan melarikan diri dulu ke alam manusia bu, nanti kita akan pikirkan lagi apa yang harus kita lakukan” jawab pak Cheng


“Bisa saja begitu, tetapi kalian tetap akan dikejar oleh  mereka, mereka tidak akan membiarkan kalian ada disana, Fong akan mencari kalian… tapi …. Sebentar…”


“Hmm Fong tidak akan mampu menangkap dan membunuh kalian apabila kalian ada di wilayah kami, maksud saya ada di wilayah seberang sungai di alam manusia”


“Sebentar mbah… saya masih bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan ini semua.. Tidak mungkin hanya karena pak Pangat membunuh Inggrid?”


“Ya nduk Tina.. temanmu Pangat itu hanya obyek penderita dan penambah masalah antara tempat itu dan desa ini….” kata mbah Sutinah


“Penduduk disini merasa bahwa pimpinan mereka… suami istri pemilik benteng itu ingin menguasai daerah ini, karena keadaan benteng yang makin lama makin penuh sesak”

__ADS_1


“Beberapa kali mereka mengirim utusan mereka.., yaitu perempuan cantik yang memperkenalkan diri bernama Inggrid itu ke sini untuk negosiasi, tapi  tentu saja penduduk disini tidak mau melepaskan tanah yang sudah mereka miliki puluhan tahun lamanya”


“Saya tiap malam.. Ketika mengambil sampah di sana, selalu dipanggil oleh Inggrid yang cacat, dan selalu diajak tukar pikiran tentang apa yang akan dilakukan orang tuanya bersama Fong”


“Dan ide-ide dari Fong untuk mengambil alih tempat ini mendapat restu dari kedua orang tua dia” kata pak Cheng


“Sudah-sudah Cheng… jangan bahas itu lagi.. Hari semakin pagi, kita harus secepatnya pergi dari sini….” kata Jiang


“Bagaimana ibu Sutinah.. Ibu bisa kirim kami ke alam manusia?” tanya Jiang


“Bisa… untuk mas Agus dan nduk Tina.. mereka punya raga..saya bisa kirim mereka ke raganya hingga putus hubungan dengan alam ini”


“Tapi untuk kalian berdua, saya harus cari raga dulu di sekitar sana yang bisa kalian gunakan”


“Mbah.. bagaimana dengan raga pak Pangat, raga itu kan sekarang kosong..mungkin bisa digunakan?”


“Jangan… biarkan saja raga itu.. Karena teman kalian tidak akan bisa lepas dari penjagaan disana…. “


“Begini saja… kalian berdua kembali ke raga kalian dulu saja, untuk Jiang dan pak Cheng akan saya carikan dulu, nanti kalian bertemu di rumah penggergajian saja”


“Rumah penggergajian adalah benteng terakhir kalian, disana nanti kalian harus mempertahankan diri dari Fong”


“Kalian berdua duduk di sana di, dan bersila. Konsentrasi tubuh dan rasakan lepasnya tubuh mbah Sastro”


“Untuk Jiang dan Pak Cheng.., tunggu dulu.. Pokoknya sebelum pagi hari kalian harus sudah pergi dari sini”


Aku merasa ada yang janggal dengan keadaan di dalam benteng itu… kenapa janggal, aku merasa pembunuhan Inggrid ini tidak hanya karena pikiran dari Fong saja.


Aku rasa ada hal lain di balik itu…. Kenapa aku berpikir ada hal lain?


Karena ada aspek pimpinan disana yang ingin  menguasai wilayah lain di luar benteng itu, karena keadaan benteng yang sudah overload.


Ditambah mungkin dengan penolakan dari Inggrid untuk tidak menguasai wilayah di luar benteng, itu mungkin juga sebagai alasan untuk menyingkirkan anak mereka yang cacat.


Apalagi penduduk disana taunya Inggrid adalah Fong yang cantik… mungkin dari semua itu diadakan konspirasi untuk membunuh Inggrid, dan pilihan itu jatuh kepada pak Pangat yang memang sebelumnya merupakan orang gila harta.


Dan pada waktu akan terjadi penusukan… Fong sudah memerintahkan penjaga, prajurit untuk berjaga di sekitar sana dan  menangkap pak Pangat, aku dan mas Agus ketika pembunuhan itu terjadi…


Tetapi ada yang aku tidak paham…. Apakah para prajurit, panjaga, polisi disana itu tau tentang Inggrid yang cacat? Dan apakah mereka itu menyimpan rahasia tentang wujud Inggrid yang sebenarnya?.


Kalau kata pak Cheng.. Mereka sudah disumpah untuk menyimpan rahasia ini…. Tapi apakah semua penjaga keamanan itu memihak Fong, apa tidak ada yang memihak Inggrid?... ini yang masih menjadi tanda tanya besar…


Saat ini aku dan mas Agus sudah duduk di ujung rumah mbah Sutinah sesuai dengan yang dia suruh.. Aku mulai konsentrasi untuk melepaskan raga mbah Sastro…..


Ketika aku mulai memejamkan mata untuk melepaskan raga mbah Sastro… tiba-tiba aku tersentak, karena entah bagaimana nafasku berhenti…. Aku tercekik karena tidak ada oksigen yang masuk ke dalam tubuhku.


Nafasku tetap terhenti… dan tiba-tiba aku merasakan rasa sakit seperti ada sesuatu yang keluar dari tubuhku, rasa sakit itu membuat aku tak sadarkan diri.


Dalam keadaan tidak sadar aku bermimpi..


Tubuhku sangat ringan, dan melayang di tempat yang sangat gelap dan luas,, tidak ada apapun di tempat itu, tidak ada tempat untuk berpijak tidak ada langit-langit.. Tidak ada dinding… yang ada hanya hitam yang tidak berbatas apapun.


Aku melayang dan bergerak tanpa arah, sama sekali tidak ada cahaya….


Tapi tiba-tiba aku terjatuh. Aku terjatuh ke bawah…..!”


“AARRGHHH TOLOOOONGGGG…..” teriakku tercekat ketika aku  sudah mulai bisa bernafas dan membuka mataku…”


Kulihat kiri dan kananku.. Gelap.. Aku ada di sebuah ruangan yang gelap dan dingin.. Sangat dingin sekali… tapi bukan di ruangan, lebih tepatnya aku di sebuah tempat sempit berbentuk kotak yang sisi sisinya terbuat dari logam…


Kugerakan anggota tubuhku.. Tapi rasanya semua kaku..sangat sulit digerakan, rasanya seperti diikat dengan tali yang sangat kuat…. Aku sama sekali tidak bisa menggerakan tubuhku…


Yang bisa aku lakukan hanya teriak dan melirik ke kanan dan kiri saja……. Tapi untuk teriak rasanya susah tenggorokanku rasanya kering sekali.


Aku merasakan bisa melirik ke kiri dan kekanan, tetapi sayangnya aku belum bisa melihat apapun, semua gela dan sangat dingin.


Tapi tidak lama kemudian ada yang terbuka… dinding yang ada di belakang kepalaku terbuka .. cahaya lampu menyinari mataku yang masih belum bisa melihat dengan sempurna.

__ADS_1


Rasanya sangat silau sekali, dan kabur… aku tidak melihat apapun selain cahaya  putih dan semacam kabut yang menghalangi pandanganku….


“Mbak Tina.. ayo usahakan bernafas dan gerakan tubuhmu perlahan lahan… biarkan aliran darahmu mengalir lagi dengan normal” kata seseorang yang sedang berkata di sebelahku…


Di atasku ada lampu yang terang.. Lampu yang menyilaukan sehingga aku harus menyipitkan mataku untuk melihat dengan jelas siapa dan apa yang ada di sebelah ku.


Perlahan lahan mataku semakin bisa menyesuaikan diri, meskipun pandanganku masih agak kabur…


“Dok.. apa tubuhnya kita lap dengan air hangat, tubuh mbak Tina ini sangat dingin dok”


“Jangan mas.. Bisa terkelupas kulitnya.. Biarkan jalan darahnya yang menghangatkan tubuhnya, kita hanya bisa ajak dia berkomunikasi agar jantungnya bisa memompa darah memutari tubuhnya hingga kembali normal”


“Iya dok… tapi sebenarnya ada apa dengan mbak Tina dok?”


“Saya tidak tau mas.. Kemarin tiga hari lalu tubuh dia tiba-tiba membiru.. Sedangkan tubuh mas Agus masih normal… saya merasa bahwa Mbak Tina tidak selamat… “


“Begitu pula dengan tubuh teman saya Pangat..tubuh dia sudah membiru dan mulai membusuk”


“Makanya tubuh mbak Tina saya masukan ke lemari es mayat.. Agar tidak membusuk dulu. Begitu juga tubuh Pangat yang mulai bau tidak sedap”


“Sedangkan mas Agus masih hangat dan tetapi ditaruh di brankar saja… sebenarnya apa yang sedang terjadi disana mas, kenapa kalian berbeda sekali”


“Nanti saja saya ceritakan pak, yang penting  tubuh mbak Tina bisa kita normalkan dulu”


“Kami sudah berapa lama ada disini pak?”


“Sebenarnya kalian tidak ada disini, tetapi kalian saya taruh di kamar ujung.. Dan kalian tetap saya Infus sehingga nutrisi dalam tubuh tetap terjaga… kalian sudah tiga minggu dalam keadaan seperti ini”


“Tetapi tiga hari lalu tubuh mbak Tina dan teman saya membiru… saya kasih bantuan oksigen tetap tidak bisa..akhirnya saya inisiatif bawa kalian ke kamar mayat”


Aku bisa mendengar mas Agus dan kemungkinan dokter Joko sedang bicara… tetapi hingga saat ini aku belum bisa menggerakan anggota tubuhku.


Tapi alhamdulillah tubuhku mulai terasa hangat.. Aliran darahku mulai kembali normal… aku harus bisa bernafas dengan normal agar aliran darahku kembali normal…


“Bagaimana keadaan tubuh pak Pangat pak?”


“Saya rasa pak Pangat tidak kembali lagi ke tubuhnya mas, makanya saya ingin tau apa sebenarnya yang terjadi dengan kalian di alam sana itu?”


“Tidak seperti yang dokter Joko pikirkan pak, semua rasanya berbalik di alam sana pak, dan untuk cerita detailnya nunggu hingga mbak Tina sadar dulu saja pak”


“Tetapi yang pasti pak Pangat tidak akan kembali, karena dia tertangkap disana…sedangkan kami berhasil lolos atas bantuan seseorang”


Aku harus cepat pulih, agar bisa segera menuju ke rumah penggergajian, dan bercerita kepada dokter Joko tentang apa yang terjadi dengan pak Pangat sahabatnya.


Nah.. penglihatanku mulai pulih perlahan lahan.. Sekarang aku bisa melirik, dan ternyata di sebelah kiriku ada dokter Joko. dan sebelah kananku mas Agus…


Mataku sudah mulai bisa fokus melihat ke sekeliling, sekarang fokus untuk menggerakan mulutku agar aku bisa bicara kepada mereka berdua


“M..mas… gi..gimana keadaanku mas?”


“Alhamdulillah.. Akhirnya mbak  Tina bisa bicara juga dok” kata mas Agus..


“Sabar mas Agus…. Sabar..sebentar lagi mbak Tina akan sadar sepenuhnya kok “ jawab dokter Joko


“M..mas.. Kita harus segera ke rumah penggergajian.. Disini tidak a…man mas”


“Sabar mbak Tina… tunggu hingga keadaan mbak Tina benar-benar normal dulu” jawab dokter Joko


“M..mas… P..pak Cheng dan J..Jiang ada dimana?”


“Saya belum tau mbak.. Saya juga baru sadar kok mbak… sekarang pulihkan tubuh mbak Tina dulu saja”


“Dok… selama kami dalam keadaan koma, apakah tidak ada yang bertanya kami ini siapa dan kenapa ada disini?” tanya mas Agus


“Ya banyak mas… hanya karena saya ini senior disini, maka saya bisa menaruh kalian bertiga disini…”


“Bahkan beberapa dokter muda secara berkala memeriksa keadaan kalian bertiga, jadi keadaan aman aman saja”

__ADS_1


Iya disini pasti aman, tetapi sebentar lagi pasti tidak aman, karena pasukan atau prajurit khusus dari Istana itu akan mencari kami kemanapun kami pergi.


Fong dan orang tua Inggrid pasti tidak akan begitu saja melepaskan kami berdua, dan pak Pangat Pun pasti tidak boleh mati duluan agar prajurit khusus itu  bisa menemukan kami berdua.


__ADS_2