
“Maafkan saya.. Saya hanya suruhan bos saya untuk memasukan benda yang ada di dalam kain kafan ini ke tubuh kalian” kata demit yang sekarang dipanggil cah Bagus oleh pak Pangat
“Tapi sebenarnya saya tidak ingin melakukan hal ini, tugas setan bukan seperti ini pak., tugas setan hanya mengganggu dan mempengaruhi manusia saja.. Hanya itu!”
“Tetapi ternyata manusia yang diberi akal oleh Tuhan malah sekarang bisa mempengaruhi kami untuk melakukan tugas yang lebih jahat”
“Dan nantinya yang disalahkan adalah kami.. Padahal kami kan hanya suruhan manusia saja, bukan otak dari semua kejahatan yang mengerikan ini”
“Hehehe itulah kenapa Tuhan menciptakan manusia… jadi kalian yang ghaib ini harus bisa menahan jangan sampai mau memberikan ilmunya kepada manusia, dengan imbalan iming-iming makanan saja”
“Kadang malaikat pencabut nyawa saja dibodohi manusia kok hehehe….”
“Manusia jaman sekarang suka mempermainkan setan dan malaikat.. Jadi benar kata Tuhan kalau manusia itu lebih tinggi derajatnya dari pada malaikat”
“Karena dengan nafsu yang diberi Tuhan.. Manusia bisa memperdaya demit macam kamu ini, dan bahkan bermain main dengan malaikat pencabut nyawa heheheh”
“Apa benar seperti itu pak” tanya cah Bagus dengan lugunya
“Tentu saja tidaklah!… tadi saya hanya guyon saja , biar kamu gak tegang cah Bagus hahahahah”
“Cah Bagus kita kembali lagi ke masalah kita… jadi kamu disuruh bosmu memasukan itu semua?, padahal kamu tau kalau kami tidak memusuhi kamu.. Apa kamu tega dengan kami cah Bagus?” pak Pangat mengambil hati demit cacat itu
“Atau begini saja… sekarang kamu masukan benda itu kepada saya saja, jangan pada tamu saya, kasihan tamu saya ini tidak tau apa-apa.. Saya pemilik rumah ini cah Bagus”
“Tapi jangan salah cah Bagus.. Saya tau siapa yang menyuruh kamu..orang itu bernama Solikin kan?”
“Dan saya bisa kirim balik benda itu ke tubuh yang suruh kamu itu cah Bagus” kata pak Pangat sambil tersenyum
“Orang yang bernama Solikin itu jahat cah Bagus.. Tetapi ilmu saya lebih keras dari pada Solikin. Buktinya saya bisa membuat kamu menjadi nyata.. Nanti pun saya bisa membuat kamu kembali menjadi tak kasat mata lagi”
“Tapi dia mengancam saya.. Dan keluarga saya…” kata demit itu menghiba
“Oh kamu punya keluarga Cah Bagus… ada siapa saja di dalam keluargamu cah Bagus?”
“Sebenarnya saya tidak punya orang tua, karena saya dipaksa keluar dari rahim ibu saya yang hamil karena diperkhosa oleh orang…”
“Saya mati dicekik ibu saya ketika saya baru saja keluar dari rahim ibu saya… kemudian saya dibuang ke pembuangan sampah”
“Ibu saya tidak menghendaki kelahiran saya… tapi untungnya arwah saya yang baru lahir itu ditemukan kawan-kawan yang senasib dengan saya”
“Mereka memelihara saya hingga saya besar ini.” Kata demit itu sambil menunduk
“Tenang saja cah bagus keluarga kamu itu tidak akan apa-apa.. Solikin tidak akan bisa menyentuh keluargamu..dia hanya menggertak kamu saja…. Jangan mau diperdaya manusia seperti dia”
“Begini saja cah Bagus..serahkan kepada saya benda itu..”
“Nanti akan saya kirim balik benda itu kepada orang bosmu”
“Setelah ini kamu pulang, dan katakan bahwa benda kiriman itu sudah ada di tangan pak Pangat..ingat katakan bahwa sudah ada di tangan pak Pangat, kalau dia marah-marah, bilang saja suruh dia datang kepada saya sendiri”
“Taru di pojokan ruangan ini benda-benda terkutuk ini dan kemudian kamu pergi dari dia… dia tidak akan melakukan apapun terhadap kamu” kata pak Pangat dengan santainya.
“Dan harus kamu ingat… jangan mau diperdaya oleh orang-orang yang mengaku bisa menguasai bangsa lelembut, karena mereka itu hanya menguasai tidak ada separuh ilmu yang berasal dari neraka….”
Demit yang diberi nama cah Bagus itu menaruh buntelah yang berasal dari kain kafan di pojokan ruang tamu rumah pak Pangat..
Tangan kiri dia yang cacat itu hanya bergerak gerak ketika dia turun dari kursi dan menaruh buntelan yang isinya aku belum tau itu.
“Cah Bagus…kalau kamu mau atau ingin minum kopi, kamu boleh datang ke rumah saya.. Bawa temanmu juga boleh., tapi ingat, disini harus sopan, mengerti ya cah Bagus”
“Iya pak.. Terimakasih banyak!”
Demit itu tersenyum lebar ketika pak Pangat menawari dia minum kopi di rumahnya…
Pak Pangat tau cara mengambil hati demit makhluk ciptaan Tuhan yang sebenarnya mempunyai sifat layaknya manusia itu.
Hanya berbekal perkataan yang memikat dan secangkir kopi, demit suruhan Solikin itu bisa bertekuk lutut kepada pak Pangat.
Itulah hebatnya manusia….hanya berbekal simpati dan secangkir kopi saja bisa membuat lawan bicara menuruti apa yang dikatakan olehnya.
__ADS_1
Hal ini tidak beda dengan seseorang perempuan yang ngebet menjadi pimpinan negara periode berikutnya, yang merasa dekat dengan wong cilik, hingga mau saja melakukan beberapa kegiatan wong cilik.
Tapi sayangnya simpati yang diciptakan oleh seorang perempuan yang ngebet menjadi pemimpin negara itu hanya manis di bibir saja…. Hanya sekedar mendapat rasa simpati dari wong cilik itu heheheh.
“Sekarang kamu pulang saja… ketika kamu melangkah keluar, kamu akan berubah menjadi sosok hantu lagi”
“Terima Kasih pak…. Saya tidak dimusnahkan oleh bapak karena telah membawa benda-benda jelek itu ke sini”
“Buat apa memusnahkan demit macam kamu ini.. Kamu ini hanya semacam perantara saja, sedangkan orang yang mengirim ini yang bertanggung jawab penuh”
“Oh iya cah Bagus.. Benar tidak kalau orang yang sekarang menyuruhmu kesini itu sekarang sedang mendekam di penjara?”
“Benar pak.. Dia ada di penjara kota S… dia yang mendatangkan saya ke penjara dan menyuruh saya ke sini”
“Oke.. saya paham cah Bagus… sudah sekarang pergilah…”
Demit itu berjalan tertatih tatih menuju ke arah luar rumah pak Pangat.. Sebelum dia melewati ambang pintu rumah pak Pangat, dia sempat menoleh ke belakang dan.
“A…assal..lamualaikuuuum” sapanya dengan terbata-bata”
“Waalaikum salam”
Setelah dia keluar dari rumah pak Bagus, dia berubah menjadi makhluk halus lagi, dan kemudian menghilang di kegelapan malam.
Dia akan kembali ke Solikin untuk melaporkan apa saja yang dilakukannya disini.
“Nah itulah mas Agus dan mbak TIna… seseorang yang ada di dalam penjara saja masih bisa melakukan kegiatan kejahatan. Nah untuk malam ini saya kira sudah aman… kalian bisa tidur”
“Besok pagi kita pikirkan lagi apa yang akan kita lanjutkan lagi” kata pak Pangat
*****
Suara adzan subuh dari masjid yang tidak begitu jauh terdengar hingga di dalam kamar rumah pak Pangat.
Aku ada di dalam kamar bersama dengan istri pak Pangat.
Semalam setelah demi yang diberi nama cah Bagus itu pergi dari sini, rasa kantuk yang luar biasa membuat aku segera masuk ke kamar dan tidur bersama istri pak Pangat.
Dia mungkin sedang ada di dapur, karena aku bisa dengar suara orang yang sedang memasak di bagian belakang rumah
Aku putuskan untuk membantu istri pak Pangat setelah aku selesai menunaikan ibadah subuh.
“Wah.. mbak Tina kok sudah bangun?” sapa istri pak Pangat ketika aku akan mengambil air wudhu di kamar mandi
“Iya bu… mau sholat subuh dulu… hehehe”
Tadi aku sempat menoleh ke ruang tamu, ternyata mas Agus dan pak Pangat sedang tidur di karpet ruang tamu, sebagian kursi yang ada di ruang tamu di pinggirkan, agar ada tempat untuk mereka berdua untuk tidur.
“Biarkan saja mereka berdua tidur mbak… nanti akan saya bangunkan mereka berdua setelah mbak Tina selesai subuhan”
“Iya bu. Eh Tina subuhan dulu ya bu…”
*****
“Apa yang akan kalian lakukan pagi ini anak-anak?”
“Kami akan ke rumah penggergajian pak, karena kasus yang sekarang ini kan sudah ditangani oleh pak Burhan… jadi kami akan selesaikan tugas berikutnya dengan membantu Inggrid” kata mas Agus
“Iya memang mas… Burhan yang sekarang sedang menghandle semua ini, tetapi kalian harus ingat bahwa pelaku utama masih berkeliaran, jadi kalian harus berhati-hati”
“Iya pak, kami tau kalau Paijo dan sahabat bapak dokter Joko sekarang entah ada dimana”
“Mas Agus… saya kok yakin kalau Joko tidak terlibat masalah ini…dia hanya orang yang salah di tempat yang salah saja”
“Saya tau siapa Joko itu, dan saya yakin ada alasan yang tepat hingga dia sekarang bersama dengan Paijo”
“Iya pak…mudah-mudahan apa yang dikatakan pak Pangat ini benar…dokter Joko tidak terlibat secara langsung pada masalah ini…..”
“Oh iya mas… nanti kalau mau ke hutan… pakai saja motor saya lagi”
__ADS_1
“Lhooo… motor bapak kan masih ada di pinggir sungai pak, yang sempat dibawa oleh Hari itu pak?”
“Nggak papa mas… nanti biar saya dan pak Burhan yang mengambilnya ketika pak Burhan kesini. Sekarang kalian bersiap siap saja untuk ke rumah penggergajian”
“Oh iya… nanti malam kalian pulang kesini atau tidak?”
“Tergantung Inggrid pak, kalau dia menginginkan kami ada disana pada malam hari untuk melihat sesuatu, ya saya dan Mbak Tina tidak akan pulang dulu pak”
*****
Seperti biasa perjalanan menuju ke rumah penggergajian pagi ini rasanya segar dan cerah sekali… tapi aku masih was-was apabila disana nanti ada Paijo dan Joko.
Inggrid seperti biasa melayang di depan kami, rasanya lucu sekali ada hantu yang pagi hari sedang keluyuran, bukanya hantu itu adanya hanya di malam hari saja hehehe.
Rumah penggergajian dari jauh sudah nampak.., rumah yang menyimpan rahasia, misteri dan kejahatan.
Rumah penggergajian yang berdiri jauh di dalam hutan dengan beberapa alasan yang masuk akal. Rumah yang merupakan saksi atas sesuatu yang pernah menimpa Inggrid, yang sampai detik ini aku belum bisa memperkirakan apa yang ada disana.
Dan tentu saja kami sekarang mulai lagi untuk memecahkan misteri yang ada di rumah itu, setelah kasus Paijo sekarang sedang ditangani oleh Burhan
“Kalian stop dulu saja… Inggrid mau ke sana untuk melihat ada apa saja di rumah itu”
“Iya.. Tina dan mas Agus akan nunggu kamu disini Nggrid.. Dah sana kamu lihat apa yang ada di rumah itu”
Sebenarnya cukup bahaya apabila kami ada di dalam hutan seperti ini.. Hutan ini kan penuh dengan pepohonan, sehingga siapa saja bisa bersembunyi di balik pohon-pohon itu,
Tapi aku yakin.. Sekarang Paijo tidak mungkin ada di sekitar sini, karena untuk saat ini Paijo lebih fokus untuk bersembunyi, dari pada menampakan diri untuk melakukan sesuatu.
“Ayo.. rumah itu aman, tidak ada siapapun disana. Hanya ada beberapa demit bekas anak buah Solikin yang masih kerasan di ruang tamu rumah” kata Inggrid setelah datang dari melihat keadaan rumah itu
Motor milik pak Pangat yang aku dan mas Agus naikin ini berjalan lagi menembus hutan menuju ke rumah penggergajian.
Rumah yang ada garis polisinya itu sudah nampak di depan mata kami, rumah penggergajian itu nampak kumuh dan nampak capek dengan berbagai macam masalah yang pernah ada di dalam nya.
“Mas.. apa kita terobos masuk ke dalam rumah itu?”
“Eh lebih baik kita tanya ke Inggrid saja mbak.. Kita minta Inggrid untuk menunjukkan dimana kita harus memulai mencari sesuatu yang ada disini”
“Kita ke belakang saja” kata Inggrid tiba-tiba
“Ngapain ke belakang Nggrid?”tanya mas Agus
“Karena ada yang mau Inggrid tunjukan disana mas”
“Kita naik motor saja ya mbak TIna”
“Terserah mas Agus.. mau jalan kaki ya gak masalah kok mas, Tina sejak ada kasus seperti ini mulai terbiasa dengan berjalan kaki heheheh”
“Naik motor saja mbak.. Bukannya saya malas untuk jalan kaki mbak, tapi saya takut kalau motor pak Pangat ini dicolong maling mbak”
“Walaah mas hehehe, mana ada maling di sekitar sini…. Yang ada hanya mas Agus yang sudah mencuri hati Tina hehehe”
“Waduuuh…. Beneran ini mbak!... saya kan belum pernah ngomong ke mbak Tina kalau saya mau mencuri hati mbak Tina”
“Yaaah.. Gak perlu ngomong lah mas… kayak anak yang masih sekolah aja harus ngomong kalau mau mencuri hati pasangannya heheheh”
“Kalau seumpama mas Agus berhasil mencuri hati TIna, terus yang ada di desa itu gimana mas?”
“Ah dia… pastinya dia akan baik-baik saja mbak, saya nggak membandingkan mbak Tina dengan yang ada didesa, hanya saja setelah semua yang kita alami ini, saya merasa bahwa saya tau sifat dan kebiasaan mbak Tina, dan begitu pula sebaliknya mbak”
“Iya mas.. Tina tau.. Yah kita lihat saja setelah kasus Inggrid ini kita selesaikan mas, karena perasaan Tina, kasus Inggrid ini sulit hehehehe”
Inggrid membawa kami berdua di bawah pohon beringin. Setelah itu dia mengajak aku dan mas Agus untuk duduk di bawah pohon sambil melihat ke arah seberang sungai.
Aku nggak tau apa yang Inggrid maksudkan dengan mengajak kami berdua duduk di bawah pohon beringin dan melihat apa yang ada di seberang sungai.
“Nggrid, apa yang mau kamu tunjukan dengan mengajak kami kesini?”
“Sudah.. Duduk saja dulu Tina.. Nanti akan Inggrid beritahu indahnya pemandangan yang ada di seberang sana”
__ADS_1
“Inggrid pernah mengajaku kesini mbak.. Dan akhirnya saya tertidur disini hehehe. Karena udara yang nyaman dan tempat yang sepi”