RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
298. PENGAMATAN


__ADS_3

Aku tidak tau harus melakukan apa untuk meredam kemarahan sang penjaga, dan kenapa sang penjaga itu bisa murka dan menyebabkan menderita sakit kepala yang parah.


Tapi penjelasan dari pak Diran tentang apa yang tinggi besar di depan kamar Gustin itu memang masuk akal, karena ketika aku dalam keadaan kaku, yang aku rasakan adalah dengusan nafas yang berat.


“Apa yang akan kita lakukan pak Diran?”


“Saya sendiri belum tau, guru saya juga sedang meraba apa yang terjadi atau apa yang diminta oleh anak kembar itu”


“Sekarang apa yang berdiri di depan pintu kamar anak saya masih ada disana pak?”


“Tentu saja masih ada pak Agus, dia menjaga Gustin, seperti Gusta yang menjaga Gustin ketika di dalam kandungan ibunya”


“Intinya mereka berdua ini tidak mau dipisahkan, mereka anak kembar yang tidak bisa dipisahkan karena memang seperti itu keadaanya, karena memang mereka kodratnya seperti itu, ada yang menjaga dan ada yang dijaga” kata pak Diran


“Tetapi kalau digabungkan akan mengakibatkan suatu bahaya di sekitar sini pak, bukanya begitu apa yang dikatakan guru pak Diran dan leluhur istri saya pak?”


“Iya… apa yang mereka katakan itu ada benarnya kan pak Agus, setelah mereka dipisahkan, disini tidak terjadi apapun kan, dan sudah satu tahun lebih tidak ada kejadian yang mengerikan disini”


“Memang benar pak Agus, tapi kembali lagi, mereka tidak memperhitungkan hal seperti ini akan terjadi… dan tentu saja mereka tidak siap untuk menghadapi hal ini juga”


“Lalu apa yang harus saya perbuat agar kepala saya bisa sembuh dari sakit ini pak, apakah saya harus minta maaf kepada penjaga kedua anakku?”


“Entahlah pak Agus, yang pasti sekarang yang ada di depan pintu itu sedang marah kepada pak Agus, atau begini saja, biarkan dulu mereka melakukan apa yang mereka ingin lakukan, asalkan tidak mengganggu kegiatan proyek di sana?”


“Iya pak, saya setuju dengan usulan pak DIran itu, saya tidak akan mengganggu atau menyapa tubuh tak kasat mata anak saya yang sedang bermain disini”


“Pak Agus bukan berarti dia marah itu karena pak Agus sapa, bukan itu juga pak, tapi karena hal lain seperti kita pisahkan kedua anak kembar itu, yang seharusnya mereka saling menjaga”


“Tapi kembali lagi, kalau tidak kita pisahkan maka akibatnya lebih fatal, energi mereka masih los, masih belum bisa di atur”


“Energi anak umur segini kan energi yang murni, energi tidak bisa dibatasi, karena mereka masih dalam tahap belajar dari apapun yang ada di dunia ini”


“Sehingga energi yang meletup letup dari kedua anak kembar ini akan mengarah ke arah manapun dan tidak terkendali, kalau saja anak kembar ini anak biasa, tentu saja energi itu akan menambah keceriaan di dalam keluarga”


“Nah karena Gustin dan Gusta ini bukan anak biasa, yang mempunyai energi luar biasa, maka energi itu akan menyebar dan mengakibatkan mahluk tak kasat mata sekitar hutan ini yang kena akan menjadi liar dan jahat”


“Sekarang bagaimana cara mengatasinya. Pertama kalian memisahkan kedua anak itu, agar energi dari  keduanya tidak tergabung, Gusta bersama saya, Sedangkan Gustin bersama kalian”


“Sudah satu tahun Gusta bersama saya, dan selama ini memang belum ada tanda-tanda berbahaya dari kedua anak kembar ini, hingga malam kemarin pak Agus mengalami kejadian yang tidak enak”

__ADS_1


“Mulai dari sini keanehan itu bukan makin hilang, tetapi sepertinya makin menjadi, saya tidak pernah lihat ada sosok tinggi besar yang sedang berjaga di depan pintu kamar Gustin, baru kali ini di sore hari saya lihat ada sosok itu”


“Tinggi besar hitam dan memiliki energi yang sama dengan Gusta, wajah dia saat ini sama sekali tidak bersahabat”


“Apa yang harus kita lakukan adalah jangan sampai energi sosok itu bergabung dengan energi Gustin yang pada akhirnya akan sama dengan ketika Gustin dan Gusta bersatu kembali”


“Atau gini saja, bu Tina coba bicara dengan leluhur bu Tina, usahakan agar secepatnya saja karena saya takut apabila terlalu lama maka akan mengakibatkan terjadinya sesuatu yang lebih mengerikan disini”


“Malam ini Tina akan ke sana pak Diran, nanti jam delapan malam Tina akan temui leluhur Tina, dan ada baiknya pak Diran untuk malam ini menginap disini saja”


“Oklah, saya pulang dulu saja, pamit ke istri saya dulu” kata pak Diran kemudian pamit untuk pulang


Hari sudah sore, satu jam  lagi akan maghrib, obat sakit kepala pemberian dokte Joko hanya bisa menghilangkan rasa sakit sekitar dua jam saja, sehingga aku harus meminum obat itu sekali lagi untuk menghilangkan rasa sakit.


Dokter Joko hanya memberikan aku empat butir penghilang nyeri kepala, dan sudah aku minum dua butir, dimana satu butir pertama hanya bisa menahan sakit sekitar dua jam saja.


Obat kedua aku minum, lima menit kemudian rasa sakit itu hilang, aku harus kabari dokter Joko tentang nyeri kepala dan kabar dari pak Diran serta apa yang akan dilakukan istriku.


Kuambil pesawat telepon selular satelite, kemudian aku bicara kepada dokter Joko tentang beberapa informasi terkait sakit kepalaku dan apa yang sebenarnya terjadi disini menurut mata batin pak Diran.


Setelah aku info apa saja tentang kejadian yang ada disini, dokter Joko akan datang ke sini pada pukul delapan malam.


“Mas… dik Gustin sudah tidur di boxnya, sudah Tina siapkan juga susu dan segala perlengkapannya di samping box tidurnya, jadi nanti mas Agus bisa kasih Gustin susu ketika dia bangun dan minta susu”


“Iya yank, memang perjalan menuju ke alam leluhurmu itu kan memang memerlukan waktu yang lama. Misal disana mungkin cuma tiga puluh menit, tetapi di alam kita bisa berjam-jam atau berhari-hari yank”


“Ya sudah mas, semoga Tina mendapat jawaban yang baik tentang dik Gustin”


Sebelum jam delapan malam berturut turut pak Diran, kemudian dokter Joko datang ke rumah kami. Dan seperti sebelumnya, pak Diran mengambil posisi duduk menghadap ke belakang, sementara itu dokter joko duduk menghadap ke luar.


Istriku Tina pamit kepada kami bertiga untuk menuju ke tengah hutan, dia berjalan sendiri menuju ke tengah hutan yang tentu saja gelap, tapi bagi Istriku hutan ini adalah rumahnya, sehingga dia sama sekali tidak takut.


“Pak Agus, istrinya apa gak diantar saja?” tanya dokter Joko


“Nggak pak, dia sudah bisa jalan ke tengah hutan malam hari kayak gini, dia merasa aman kalau ada di hutan ini dok”


“Tapi bu Tina apa masih bisa melihat makhluk ghaib seperti sebelumnya?”


“Tidak bisa dok, saya dan istri saya sudah tidak bisa melihat sesuatu yang ghaib hingga anak kami berdua dewasa, dengan alasan agar kami selalu fokus pada anak kami dan jangan sampai melihat yang aneh-aneh lagi”

__ADS_1


“Hmm begitu ya,  sekarang apa yang kita akan lakukan pak Diran?” tanya dokter Joko


“Duduk disini sambil mengamati dan mengawasi itu dok” kata pak Diran yang tidak mau menunjuk atau mengatakan apa yang ada di depan kamar anakku


Dokter Joko pindah duduk di sebelah pak Diran, dia pindah dengan santai, dengan harapan agar apa yang sekarang mereka bisa lihat tidak curiga dengan kedatangan dokter Joko dan pak Diran.


Dokter Joko sedikit kaget ketika dia sudah duduk di sebelah pak Diran dan memandang ke arah pintu kamar anakku.


“Hmm saya paham pak Diran… memang benar-benar mengerikan ya” kata dokter Joko bicara dengan pak Diran


“Ini masih belum pukul sembilan malam, jadi ada baiknya kita duduk-duduk disini saja” kata pak Diran


“Eh sebentar pak Diran dan dokter Joko, saya mau buatkan kopi untuk kalian berdua dulu, untuk pak Diran kopi hitam pahit seperti biasanya kan, sedangkan dokter Joko gimana?”


“Hehehe kalau ada kopi susu sasetan saja pak Agus, kalau tidak ada kopi hitam  kasih gula dua sendok teh” jawab dokter Joko


“Oh iya pak Agus jangan minum kopi, karena pak Agus kan masih dalam pengaruh obat pereda nyeri kepala. Ini saya bawakan obat pereda nyeri yang dosisnya lebih tinggi dari pada yang tadi saya bawa pak” kata dokter Joko


Jam sepuluh malam dua cangkir kopi yang ada di meja rumah sudah habis, kulit kacang kering berserakan di meja ruang tamu.


Mata pak Diran dan dokter Joko tidak pernah lepas dari pintu kamar anakku.. Mereka tetap memperhatikan apa yang akan terjadi di kamar anakku Gustin.


Jam sebelas lewat sepuluh malam…kini pak Diran berdiri dari posisinya dan berjalan ke arah pintu kamar anakku, sedangkan dokter Joko hanya duduk di kursinya saja.


Pak Diran berjalan pelan ke arah pintu kamar anakku yang tertutup rapat, kemudian dia menempelkan telinganya di pintu kamar, wajah pak Diran terlihat tegang….


Hanya dua menit saja dia di pintu kamar anakku, kemudian dia berjalan pelan kembali ke sofa tempat dia duduk sebelumnya.


“Mereka semua ada di dalam, Gusta tadi dijemput penjaga pintu yang mengerikan itu”


“Oh gitu, mangkanya tadi kok sosok hitam itu tidak ada di pintu itu pak Diran” kata dokter Joko


“Iya dok, kemungkinan besar dia pergi ke rumah saya untuk menjemput Gusta, menjemput raga tak kasat mata Gusta”


“Nanti kita buat suatu percobaan, sebelum jam dua belas malam pak Agus masuk ke kamar itu, kami akan ada di sini dulu untuk sementara”


“Pak Agus lakukan seperti yang kemarin pak Agus lakukan, tapi jangan sapa anakmu pak, cukup duduk dan berbaring, nanti saya akan amati dari sini, kalau perlu saya akan masuk ke kamar itu juta” kata pak Diran


“Apakah aman pak, saya takut diapa-apakan makhluk itu pak”

__ADS_1


“Inshaallah aman pak Agus.. pokoknya tidur dan jangan panggil kedua nama anakmu dulu”


__ADS_2