RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
91. MAMAD DAN BURHAN


__ADS_3

“Diam mbak Tina….”


“Ada yang menuju ke sini”


Kupegang tangan Tina agar tidak khawatir, sementara dia makin merunduk berusaha agar tubuhnya sama sekali tidak terlihat oleh orang yang sedang berjalan kesini.


Ternyata bukan satu pasang langkah kaki, melainkan dua pasang langkah kaki yang sedang berjalan menuju ke arah belakang rumah.


Langkah kaki itu berjalan agak cepat menuju ke arah samping rumah.


“Cepat jalan!...” kata salah satu dari orang yang berjalan menuju ke arah samping belakang


Aku yakin suara membentak itu berasa; dari suara Mamad, dan kemungkinan yang dibentak itu adalah Burhan.


Aku ndak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Burhan dan Mamad, tapi pasti ini ada hubunganya dengan solar yang ada di belakang rumah.


Tapi kalau dari nada bentaknya Burhan, keliatanya ada sesuatu yang terjadi dengan bisnis mereka.


Kemungkinan ada yang berbuat curang atau ada yang tidak sesuai dengan perjanjian.


Tetapi masak sih…hanya solar yang tidak seberapa banyak itu yang menjadi bahan perdebatan mereka?


Aku kok curiga pasti ada bisnis lain selain hanya solar itu.


Langkah kaki yang tergesa-gesa itu sekarang sudah melewati tempat kami sembunyi, mereka berjalan dengan tergesa gesa menuju ke arah belakang.


“Jangan main curang dengan kami, atau kamu akan susah sendiri!”


Suara Mamad benar-benar bernuansa jahat, sangat berbeda ketika Mamad bersama ku beberapa hari dulu waktu di rumah penggergajian itu.


Dulu Mamad kalau bicara selalu dengan nada yang ramah dan tidak pernah bersuara keras dan membentak, sangat berbeda dengan yang kudengar sekarang ini.


Burhan tidak menjawab apapun tentang bentakan Mamad barusan, dia hanya diam dan tetap berjalan menuju ke arah samping belakang rumah.


Aku coba beranikan diri untuk melihat dua orang yang sudah melewati tempatku dan TIna sembunyi.


“Mas….jangan mas, bahaya”


“Iya mbak, saya cuma pingin tau mereka berjalan menuju ke mana saja kok mbak”


Aku berdiri dari tempatku sembunyi….


Ternyata memang ada dua orang yang berjalan dengan cepat menuju ke arah belakang rumah, dan salah satu dari mereka membawa senter yang cahayanya lumayan terang.


“Salah satu dari mereka membawa senter mbak, tapi saya tidak tau yang mana yang bawa senter, soalnya keadaanya gelap sekali”

__ADS_1


“Yang bawa senter itu ya pasti si Mamad mas heheheh, dia pasti yang berjalan di belakang Burhan”


“Oh iya ya mbak…. kenapa kok tidak kepikiran ya”


“Kayaknya diantara mereka itu ada yang bermain curang mas…”


“Mungkin bos nya itu pak Wandi mas, kemudian si Mamad sekarang jadi pengawasnya…tapi itu asumsi Tina aja lho mas”


“Iya mbak Tina, tapi disini kan juga ada Burhan…”


“Sedangkan Burhan ngakunya sebagai  suruhan bos besar untuk melihat apa yang sedang terjadi disini kan mbak TIna”


“Tapi ternyata Burhan kemungkinan juga ikut bermain di dalam nya mbak…..Saya kok makin bingung ya mbak?”


“Mas… bau bunga lagi mas… bau bunga yang harum kayak tadi” Kata Tina sambil memegang lenganku


“Iya mbak TIna, ternyata kita tidak hanya berdua saja ya disini, ternyata juga ada ghaib yang sedang bersama kita”


“Saya kok penasaran ya mbak, siapa mahluk tak kasat mata yang dari tadi bersama kita ini”


Tina tidak menjawab omonganku, di hanya menggeleng saja.


Aku tau Tina dalam keadaan bingung dan khawatir dengan keadaan kami disini, tetapi aku juga tidak tau harus bagaimana, karena kami sudah terlanjur ada disini.


“Mbak Tina sedang takut ya mbak, tenang saja mbak Tina, semua akan baik-baik saja kok”


“Aduh mbak… onok-onok ae mbak Tina iki, pasti tadi gara-gara makan mie ayam sambelnya lima sendok tadi ya?”


“Hehehe koyoke gara-gara itu mas”


“ditahan dulu saja dulu mbak Tina, pokoknya setelah kita bisa lolos dari sini, nanti saya antar ke kotak kenikmatan”


“Mas, apa kita tidak ikuti Burhan dan Mamad…atau apa kita tetap disini saja?”


“Jangan mbak… lebih baik kita disini saja, kita tidak tau dimana pak Wito dan Yetno berada, kita tetap saja disini sampai kita tahu dimana posisi keempat orang itu”


Bau wangi itu masih ada di sekitarku dan Tina, kadang bau harum itu hilang, kadang bau harum itu muncul lagi, tetapi yang pasti bau itu tetap ada di sekitar kami.


Aku ndak tau apa maksud dari bau wangi ini dan siapa yang ada di balik bau ini.


Tapi apakah bau ini yang diceritakan Yetno tentang perempuan yang meminta bantuan agar jasadnya ditemukan?


Ataukah bau wangi ini ingin menunjukan  sesuatu  tentang tempat ini?


Aaahh iya aku ingat!…. ada yang berbeda dengan samping rumah ini apabila dibandingkan dengan rumah yang ditunjukan siluetnya waktu aku ada di tengah hutan itu.

__ADS_1


Disini ada tumpukan batu bata yang tersusun rapi di samping kamarku, batu bata yang sudah berlumut dan berwarna kehitam-hitaman.


Tumpukan batu bata yang sudah lama itu yang berbeda dengan siluet yang ditunjukan waktu aku di tengah hutan.


“Mbak Tina.. saya baru ingat….”


“Saya baru ingat apa yang mau ditunjukan sesuatu itu waktu saya ada ditengah hutan”


“Disana… di sebelah kamar saya itu ada tumpukan batu bata yang sudah lama ada disana mbak. tapi di siluet waktu itu tidak ada tumpukan batu bata sama sekali”


“Dimana mas…?


“Disana itu lho mbak, hehehe jelas tidak kelihatan mbak, kan gelap”


Ketika aku sedang menenangkan Tina tiba tiba aku mendengar ada sesuatu yang dipukul.


“Sssttt diam mas.. ada suara sesuatu yang dipukul… dan suara sesuatu yang jatuh!” Tina memegang tanganku dengan erat…Dia ketakutan.


“Sudah mbak Tina… tenang, kita aman disini mbak”


Aku tadi juga dengar ada sesuatu yang dihantam, dan kemudian ada suara sesuatu yang jatuh dengan pelan di belakang rumah.


Tidak lama kemudian ada juga suara orang yang sedang berjalan tergesa-gesa atau bisa juga sedang berlari dari belakang rumah menuju ke depan.


Suara langkah kaki orang yang seperti sedang berlari menuju ke depan, kemudian entah kemana…karena suara orang yang sedang berlari itu semakin jauh.


Suara orang yang lari itu tidak menuju ke rumah penggergajian, melainkan sepertinya lari ke hutan atau lari menuju ke arah sungai.


Aku belum berani keluar dari tempat kami sembunyi karena di sekitar sini masih ada dua orang lagi yang sedang sembunyi, yaitu Yetno dan Pak Wito.


Tetapi tidak lama kemudian ada suara langkah kaki…


Suara dua orang yang berjalan tergesa-gesa itu berjalan dengan cepat dari arah belakang rumah menuju ke depan rumah.


Bisa saja itu suara langkah kaki Burhan dan Mamad, tetapi bisa juga itu suara langkah kaki pak Wito dan Yetno.


Terus terang aku ndak tau siapa yang dipukul dan siapa yang memukul, apakah itu Burhan dan Mamad atau apakah itu Pak Wito dan Yeno.


Tapi aku yakin suara pukulan dan sesuatu yang jatuh itu berasal dari  Burhan dan Mamad.


“Mas tadi ada orang yang jalan setelah tadi Tina dengar suara orang yang pertama lari tadi apakah pak Wito dan Yento?”


“Kemungkinan besar iya mbak Tina, gimana kita harus melihat orang yang tadi dipukul atau kita pergi dari sini saja mbak?”


“Lebih baik kita pergi saja mas, jangan ikut campur dulu, mas Agus kan pamit mau pulang ke desa, lebih baik kita tidak usah ikut campur dulu”

__ADS_1


“Lebih baik kita curi dengar dari omongan pak Wito dan Yetno dulu saja mas”


__ADS_2