RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
62. INFO PEDAGANG PECEL


__ADS_3

“Tentang orang yang gantung diri disana, memang ada dan saya belum bisa menelisik siapa dan kenapa sampai ada yang gantung diri itu”


“Dan ada kemungkinan dia akan meminta bantuanmu untuk melakukan sesuatu bagi dia”


“Ini ada yang aneh mas….. orang perempuan yang gantung diri itu, kelihatannya kejadianya itu tidak ada sepuluh tahun lalu”


 “Kok aneh… saya merasa ada sesuatu yang terjadi disana beberapa tahun silam ini”


“Sekarang apa yang harus saya perbuat pak?”


“Pertama banyak ibadah, kuatkan dirimu sendiri, dan soal gangguan yang selalu datang itu biarkan saja, selama tidak menyakitimu”


“Nanti kamu akan saya beri air minum yang harus kamu minum sehari satu gelas, kalau air itu habis kamu ke sini lagi”


“Air itu gunanya apabila sampai ada yang akan menyakiti kamu, atau mengirim sesuatu kepada kamu, maka sesuatu yang dikirim ke kamu akan kembali ke pengirimnya”


“Bekerjalah seperti biasa, dan jangan takut dengan apapun selama imanmu kuat”


 “Dan mbak Tina, tolong buat mas Agus ini agar lebih kuat ibadahnya”


“Mbak Tina juga sudah mulai ibadah kan, sudah ada perubahan dalam diri mbak Tina, dan perubahan itu ke arah yang lebih baik. Semoga akan seperti itu selamanya”


“Betul tidak apa yang saya katakan tadi hehehe”


“Betul pak Pangat, sejak kenal dengan mas Agus, Tina merasa bersemangat lagi pak, Tina merasa seperti dilahirkan lagi”


“Oh satu lagi …ini nasihat untuk kalian berdua. Pelajari diri kalian masing masing, dan kemudian bandingkan dengan diri orang yang kamu cintai, nah disana kalian akan mendapat sesuatu yang harus diselaraskan”


“Itu kalau kalian ada niatan untuk ke jenjang pernikahan”


“Sekarang tunggu dulu, akan saya ambilkan air yang akan mas Agus bawa ke sana”


Pak Pangat masuk ke bagian dalam rumahnya….


Wah gawat dia bisa membaca pikiranku dan pikiran Tina. Tapi ndak papa, akhirnya aku dan Tina diberi wejangan juga.


Setelah beberapa lama pak Pangat keluar juga dari dalam bagian dalam rumahnya.


Dia membawa satu botol air mineral ukuran besar…


“Mas Agus, minum air ini tiap selesai sholat subuh, ingat harus setelah selesai sholat subuh, dan jangan memberitahu kepada siapapun tentang air ini”


“Tapi Tina tau pak”


“Halah kamu ini ya jelas ndak papa, wong kamu ini harusnya Inshaallah sudah sah dengan mas Agus kok hehehe”


“Maaf pak,,, eh untuk biayanya ini berapa ya pak?”


“Halah… kalau yang bawa saudara saya Joko jelas karena benar-benar butuh bantuan, jadi tidak usah ada uang pengganti tidak apa-apa”


“Salam untuk saudara saya Joko ya apabila kalian nanti kontrol ke tempat dia”


“Baik pak, dan terima kasih banyak atas bantuannya”


Waktu sudah menunjukan pukul 06.15 ketika aku dan Tina berpamitan dengan pak Pangat.


Ketika kami sudah diluar, ternyata sudah ada sekitar lima orang yang menunggu untuk konsultasi dengan pak Pangat


Ternyata pak Pangat ini terkenal juga, jam segini sudah ada orang yang antri….


“Mas, sarapan dulu yuk, tapi kita beli aja mas, karena Tina kan ndak sempat masak”

__ADS_1


“Ya udah mbak,..eh dimana mbak?”


“Di dekat rumah ada  bakul pecel pincuk, lumayan enak kok mas””


“Ayo wis mbak”


Aku dan Tina jelas kumus kumus karena belum mandi, dan yang jelas mata kami juga merah karena kurang tidur.


Tetapi Tina beda, dia masih terlihat bersemangat pagi ini, terasa dari cara dia bicara dan merapatnya tangan dia yang memeluk pinggangku.


“Mbak Tina kok keliatanya masih bersemangat ya. padahal saya lho sudah lemes mbak”


“Hihihi mas….seorang istri itu adalah penyemangat suami”


“Meskipun istri itu sudah capek dan lemas, tetapi jangan sampai terlihat capek dan lemas di depan suaminya, agar suami tetap semangat dalam keadaan apapun”


*****


Lapak pecel dekat rumah Tina yang hanya berupa meja kecil dengan pecel dan aneka lauk pauknya, disana  juga ada beberapa kursi plastik warna warni yang penuh dengan orang yang sedang makan pecel.


Tetapi untungnya mereka semua sudah selesai makan, jadi ketika kami datang, mereka penikmat pecel pergi dari sana.


Tina memesan dua porsi pecel lengkap dengan lauk telor dadar.


Pecel ini tenyata enak juga, ada sambel tumpangnya, beda dengan pecel di daerahku, pokoknya beda dengan yang pernah aku rasakan.


“Wah mbak Tina habis  dari mana ini?” tanya penjual pecel  yang ternyata kenal dengan Tina juga


“Hehehe habis dari rumah sakit yu… ini nganter mas Agus”


“Waduuuh calon suami atau calon pacar mbak Tinaaa?”


“Hihih ya maunya sih calon suami Yuuu…”


“Di sana lho Yuuu, di rumah penggergajian kae”


Tiba-tiba pedagang pecel yang dipanggil Yu oleh Tina itu terdiam, dia yang awalnya banyak omong tiba-tiba terdiam.


Tina dan aku tau perubahan itu, tetapi aku dan Tina tidak bertanya, biarkan saja penjual pecel itu yang menjawabnya sendiri


“Nganu mbak Tina, apa penggergajian yang ada di tengah alas (hutan) kui, yang sebelahnya kali ( sungai)?”


“Ya itu Yuuuuu, memange ono opo to Yu, kok kelihatanya ada sesuatu heheheh”


“Ora popo mbak Tina, cuman saya punya adik yang dulu pernah kerja di sana juga, dia sempat stress, suka melamun dan tiba-tiba suka ketakutan sendiri. tapi sekarang sudah saya itu sehat mbak, sudah bisa kerja lagi”


“Ah mosok se njenengan punya saudara yang pernah kerja disana, kok Tina ndak tau Yuuu?”


“Ono mbak Tina, lha mosok saya harus cerita-cerita ke orang kalau saya punya saudara yang kerja disana”


Aku penasaran dengan omongan pedagang pecel ini, heran juga aku, kok bisa tiba-tiba beli pecel dan ternyata pedagang pecel ini punya saudara yang pernah kerja disana juga.


“Namine sinten (namanya siapa) mbak saudaranya yang pernah kerja disana?” tanyaku dengan penasaran


“Yetno mas, wong kerja ndak sampek seminggu kok, nek ndak salah cuma tiga hari mas”


“Saudara saya Yetno itu kerja disana karena menggantikan pegawai disana yang sakit, dia diajak bosnya yang bernama pak Suwandi atau Purwandi gitu”


“Purwandi ya mbak nama bosnya” aku semakin penasaran dengan yang namanya Yetno ini


“Ho’oooh mas, namanya pak Purwandi..”

__ADS_1


“Lha sekarang mas Yetnonya dimana mbak?”


“Sekarang sudah ikut bus mas, jadi kernet bus, di kota S sana mas”


“Oalah gitu to mbak… eh biasanya mas Yetno itu datangnya kapan dan tinggal dimana mbak?”


“Biasanya hari kamis mas, tidur semalam di rumah, kemudian jumat pagi sudah berangkat ngernet lagi”


“Oh gitu mbak, berarti sesuk adik njenengan ada di rumah mbak?”


“Ho’oh mas, memange ngopo to, kok tanya-tanya Yetno adik saya?”


“Ndak papa mbak, saya kan juga baru kerja disana, saya pengen tanya-tanya sama adiknya mbak cara-cara kerja disana itu bagaimana , gitu kok mbak”


“Ealah mas… sesuk siang atau sore mas, soale biasane adik saya itu kalau pagi tidur sampai siang”


“Yo wis nek gitu mbak, eh alamatnya njenengan dimana to mbak?”


“Halah tanya saja ke mbak Tina kui, dia lho beberapa kali pernah dolan ke tempat saya”


Nah… ternyata ada lagi yang namanya Yetno, dan dia hanya kerja tiga hari saja disana, dan dalam tiga hari itu dia jadi suka melamun dan tiba-tiba suka ketakutan sendiri.


Berarti waktu itu masih ada Mamad dan pak Wandi, sedangkan yang katanya sakit dan sedang digantikan Yetno itu pasti si Mamad!


Hanya bertahan tiga hari  saja… dan akhirnya suka melamun dan ketakutan ….


Ada hal yang menakutkan di sana yang membuat Yetno ketakutan, meskipun dia ada di rumah.


Apakah ini yang sempat dikatakan pak Pangat?


Sebenarnya apa yang dia temui di rumah itu hingga sakit jiwa seperti itu?


Aku harus tau apa saja yang terjadi dengan dia, siapa tau akhirnya aku bisa memecahkan misteri yang ada di rumah itu.


Setelah selesai sarapan,  kami pulang ke rumah Tina……


Selesai mandi Tina mengganti perban lukaku..


“Lukanya mas Agus semakin membaik mas….”


“Mbak kalau misal mau ke desa sebelah sungai lewatnya kemana mbak?”


“Lhoo ngapain mas Agus kesana? mau nemuin anaknya bu Tugiyem yang namanya Anik itu ya?”


“Hehehe jelas ndak to mbak Tina ku yang cantik dan pintar…. Saya mau ke rumah pak Solikin”


“Saya rasa ada sesuatu yang disembunyikan pak Solikin mbak, saya hanya ingin tau sedikit saja kok”


“Hehehe iya mas…. Tina percaya kok… “


“Lewatnya ya kesana mas, ikuti saja jalan yang tadi kita ke tempat pak Pangat….lurus aja hingga ketemu jembatan besi, belok kiri lurus aja nanti masuk ke desa itu”


“Eh memangnya mas Agus mau ke pak Solikin mau ngapain mas?”


“Saya cuma tamu tanya-tanya sebentar tentang Yetno mbak, saya kepingin tau pendapat pak Solikin tentang yang saya alami, tapi saya ke sana sendirian tanpa Burhan”


“Yang utama adalah saya kepingin tau sakitnya pak solikin”


“Iya mas, Tina paham, eh hati-hati ya calon suamiku…”


“Lho kok calon sih mbak, biasanya kan suamiku heheheh”

__ADS_1


“Iya mas, Tina ikutin aja apa yang mas Agus katakan, kita ikuti saja pola dan alur yang diberi Allah mas hehehe”


__ADS_2