
Rasanya semua menjadi mudah dan tidak ada halangan sama sekali, ini terlalu mudah bagiku yang sudah mengalami kejadian yang mengerikan.
Apakah karena kami sudah melakukan sesuatu yang berguna disini sehingga semuanya menjadi dipermudah?
Tina datang dari rumah pak RT, dia memang sudah biasa untuk bepergian sendiri, dia sama sekali tidak takut, dia perempuan pemberani
“Mas… ada tamukah?” tanyanya di depan pagar ketika aku membukakan pintu pagar bagi dia
“Nggak ada tamu, ada apa yank..?”
“Lha itu mobil siapa yang parkir di depan rumah mas?”
“Oh itu… masuk dulu, di dalam saja ceritanya yank”
*****
“Jadi itu mobil dari pak Hendrik yang dikirim ke sini?”
“Iya Yank, dan ada ponsel berikut kartu teleponnya. Pak Hendrik ingin agar kita tetap kontak dengan dia”
“Hmmm kenapa begitu…?”
“Ya nggak tau Yank, dia juga menghubungi teman dia di sana, aku nggak tau apa yang akan ditawarkan teman pak Hendrik kepada kita”r
“Dan tadi dia juga bilang , sudah transfer sejumlah dana di rekening ku. Jadi mudah-mudahan kita tidak kekurangan uang disana yank”
“Sebentar mas… apakah apa yang kita lakukan ini sepengetahuan pak Jay?”
“Nggak yank…pak Hendrik wanti-wanti agar yang kita lakukan ini jangan sampai pak Jay tau, karena dia tidak akan mau melepaskan kita pergi dari sini”
“Aneh ya mas, apa alasan pak Hendrik dengan membantu dan mempermudah kepergian kita dari sini?”
“Itu yang dari tadi aku pikirkan yank… oh iya, gimana untuk pembayaran penjualan rumahmu yank, bukankah pelunasan itu rumit, perlu ke notaris segalakan?”
“Ya tadi memang Tina ketemu dengan pembeli rumah, dia tanya-tanya tentang keadaan lingkungan disini dan juga iuran apa saja yang harus dibayar”
“Sedangkan untuk pelunasan, dia bilang besok lusa baru akan dilakukan pelunasan, dan notarisnya nanti ada di kota, untuk masalah perpajakan nanti akan dibagi dua antara Tina dan pembeli itu”
__ADS_1
“Waduh…berarti kita mundur lagi untuk bisa pergi dari sini yank?”
“Iya mas…. Gimana, pak Hendrik bilang apa memangnya?”
“Kata pak Hendrik, lebih baik kita secepatnya pergi dari sini, kebutu Jay datang kesini”
“Apa kita pergi dari sini dan nginap di hotel untuk sementara waktu?”
“Iya yank lebih baik begitu saja, kita nginap di hotel saja dulu sambil menunggu pelunasan dari orang yang beli rumah… Tapi besok luas pasti akan dilunasi kan?”
“Katanya gitu mas”
“Ya sudah……”
“Lebih baik apa yang perlu kita bawa harus kita persiapkan sekarang, ingat bawa yang penting penting saja, besok pagi kita pergi dari sini. Nanti aku akan telepon pak Diran kalau kita mau ambil Gusta untuk kita bawa pergi dari sini”
Sudah saatnya… sudah saatnya kami menempuh hidup baru…
Aku sudah telephone pak Diran, aku ceritakan semua yang pak Hendrik katakan, sebenarnya pak Diran tidak setuju dengan rencanaku untuk pergi dari sini. Apalagi istri pak Diran sudah merasa menganggap Gusta seperti anak sendiri.
Sore berganti menjadi malam, ini adalah malam terakhir kami ada di rumah tengah hutan. Aku berharap malam ini tidak akan terjadi apa-apa dengan kami.
Apa yang aku khawatirkan adalah penjaga ghaib hutan ini, penjaga ghaib yang merupakan suruhan dari para leluhur Tina.
Apakah mereka hanya diam saja ketika kami pergi dari sini, atau apakah mereka akan menghalangi kami, mengingat Gustin bakal menjadi penerus istriku sebagai paku bumi wilayah ini.
Ah sudahlah, semua ini membuatku makin pening, untuk diketahui sakit kepalaku belum sembuh sebelum aku mempersatukan Gusta dan Gustin.
“Mas, sudah malam…. Apa mas Agus nggak mau tidur?”
“Aku nggak bisa tidur yank, nggak tau banyak sekali yang harus aku pikirkan”
“Kita masuk ke kamar saja mas, siapa tau nanti mas Agus bisa ngantuk”
“Kayaknya aku kepingin lihat proyek untuk terakhir kalinya yank… disana kan ada pak Diran”
“Gak usah macam-macam, besok adalah final dari kita mas, lebih baik kita tidak berpisah untuk semalam ini, Tina rasanya khawatir sekali mas”
__ADS_1
“Iya yank, eh apa nggak lebih baik untuk malam ini Gustin kita ajak tidur sekamar bersama kita saja?”
“Iya mas… ayo bantu Tina geser box tempat tidur si Gustin…”
Entah apakah karena aku sudah tidak sabar lagi untuk pergi dari sini atau apa, sehingga aku merasa sama sekali tidak ngantuk.
Hal seperti ini mirip dengan ketika kita kanak-kanak dan besok adalah hari ulang tahun kita yang akan dirayakan besar-besaran. Pasti kita tidak akan bisa tidur, karena terus memikirkan besok hari.
Aku turuti Tina untuk tidak mengunjungi proyek… aku ada di kamar bersama TIna dan Gustin.
“Kamu tidur dulu aja Yank, aku kayaknya belum ngantuk sama sekali”
“Iya mas, Tina tidur dulu ya mas…”
Kamarku sepi, hanya ada suara dengkuran dan nafas istriku, sedangkan aku masih melek, mataku rasanya masih terang benderang, tidak ada rasa kantuk sama sekali.
Waktu demi waktu berjalan, tidak terasa sekarang sudah mendekati pukul sebelas malam… tetapi aku masih belum bisa tidur.
Tiba-tiba telingaku seperti mendengar suara seperti suara berbisik…
Seperti suara orang yang sedang berbisik, tetapi suara itu bukan berasal dari dalam rumah, suara seperti beberapa orang yang sedang berbisik itu berasal dari luar rumah, tepatnya dari balik tembok kamarku.
Satu menit dua menit berlalu, suara seperti orang yang sedang berbisik itu masih terdengar dari balik tembok kamar.
Tiba-tiba tangan istriku memegang tanganku, kayaknya dia mendengar suara itu juga.
Kulihat mata Tina, dia sama sekali tidak terpejam, dia menatap mataku dengan wajah yang ketakutan.
“Ssstttt….” kataku sambil kugenggam telapak tangannya
Sebenarnya aku juga takut, karena untuk saat ini aku dan istriku sama sekali tidak memiliki kekuatan sama sekali, kami sudah seperti orang biasa pada umumnya
Sekarang suara berbisik itu semakin banyak, tidak hanya satu dua orang saja, kalau dari yang aku dengar suara itu sekarang lebih dari tiga orang.
Tidak ada yang bisa kami lakukan selain hanya diam saja di tempat tidur.
Semakin lama suara berbisik itu bertambah dengan suara-suara lain, seperti suara desingan… aku nggak bisa mendeskripsikan suara apa itu, yang jelas itu suara desingan yang kadang keras dan kadang pelan.
__ADS_1