
“Waalaikum salam…. saya mau bertemu dengan pak Heri Supangat”
“Ya mas, saya sendiri Heri Supangat, mas dan mbaknya ini siapa ya?”
“Nama saya Agus dan ini Tina, saya kesini atas info dari dokter Joko pak”
“Hmmm ada masalah yang pentingkah hingga saudara saya menyuruh kalian untuk datang ke sini?”
“Ayo masuk, kita ngobrol di teras rumah saja”
Pak Herry Supangat ini orangnya tegas, cara dia bicara itu menandakan dia dulu orang yang punya jabatan penting di suatu badan usaha.
Pak Heri punya tubuh yang tinggi dengan raut wajah yang serius dan mata yang tajam ketika tadi bicara denganku di depan rumahnya.
“Kalian tunggu disini, saya ganti baju dan saya mau telepon Joko dulu”
“Baik pak”
Sosok pak Heri ini kelihatannya juga sosok yang tidak mudah percaya dengan omongan orang, dia akan mengecek kebenaran tentang yang tadi aku omongin.
Ternyata benar juga, tidak lama kemudian aku dengar orang yang sedang menelepon seseorang yang kemungkinan besar adalah dokter Joko.
Mereka ngobrol disertai dengan sedikit tertawa-tertawa, hingga kemudian pak Heri menutup teleponnya.
“Eh barusan saya telepon Joko…. Ya benar dia yang mengirim kalian kesini”
“Terus terang saya tidak begitu saja percaya dengan orang yang mengatasnamakan saudara saya Joko itu. Karena sudah sering saya mendapat tamu yang mengatasnamakan Joko
“Iya pak… eh nama saya Agus, dan ini Tina….”
“Iyaa… saya sudah tau, tadi kan sudah kamu sebutkan namamu”
“Saya sebenarnya tau apa yang membawa kalian kesini, tetapi ceritakan kembali kepada saya, bagaimana kejadian yang sesungguhnya”
Aku mulai bercerita kepada pak Heri……
Terus terang aku agak gimana gitu berhadapan dengan pak heri, orang ini berbeda dengan orang yang pernah kutemui selama hidupku.
Pak Heri ini seperti punya sesuatu yang memaksa aku untuk tidak berbohong di hadapannya, sehingga apa yang kuceritakan itu sama dengan yang kualami selama ini.
Termasuk mbak Tina, aku tidak bisa berbohong…. Tina bukan istriku, dan untungnya Tina tidak mempermasalahkan apa yang aku ceritakan kepada pak Heri.
“Itu yang saya alami selama belum ada seminggu disini pak Heri”
“Hmmm ya..saya paham mas…Oh iya panggil saja saya pak Pangat saja”
“Kamu jujur, saya suka orang yang jujur… saya suka orang yang kuat dan tidak goyah apapun yang terjadi denganmu”
“Saya suka dengan mbak ini sudah mau berubah dengan drastis dari sebelumnya. Pada intinya kalian berdua apa adanya dan berusaha menjadi lebih baik dari pada sebelumnya”
Sedetik kemudian pak Pangat terdiam dan memejamkan mata, dia seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang sangat dalam dan sukar.
Hanya beberapa belas detik saja…kemudian dia bergantian menatap aku dan Tina.
“Apakah ada alasan kuat sehingga kamu tidak bisa meninggalkan rumah penggergajian itu mas Agus?”
“Ada pak… yang pertama saya diancam bos saya untuk bertanggung jawab penuh apabila pergi dari sana, dan satu hal lagi, saya tidak bisa meninggalkan mbak Tina disini”
“Hmmm alasanmu tidak tepat mas…”
__ADS_1
“Alasan yang benar adalah kamu sudah tidak bisa pergi dari sana karena ada yang meminta bantuanmu… hmmm disana!”
“Kalau kamu tinggal pergi… hmmm maka yang meminta bantuan itu akan mengejar kamu selamanya”
“Itu merupakan alasan yang lebih tepat dari pada alasanmu tadi”
“Tidak ada alasan yang tepat dari pada alasan yang saya katakan tadi itu”
“Disana sebelumnya ada siapa itu katamu….Wandi dan Mamad… Mamad yang sudah meninggal kan”
Pak Pangat memejamkan mata sekali lagi , hanya beberapa belas detik dia seperti sedang berpikir keras
“Tidak…. dia belum mati… masih ada… arwahnya masih ada di tubuhnya……”
“Temanmu Mamad masih hidup…..
Aku jelas kaget dengan yang dikatakan pak Pangat.. Mamad masih hidup, lalu kenapa dia seolah-olah ingin diberitakan kalau dia sudah mati?
Pasti ada alasan yang tepat untuk ini!
“Mbak ini …eh mbak Tina ini asli penduduk sini kan, berarti sudah tau tentang sejarah tanah disana itu kan”
“Iya pak Pangat, dan saya juga sudah beritahu kepada mas Agus ini”
“Hehehehe.. kamu sedang dalam masalah yang besar mas, kamu masuk ke dalam lingkaran masalah yang sudah dilakukan oleh orang yang ada disana selama beberapa tahun.
Pak Pangat diam sejenak ketika istrinya datang dengan tiga gelas cangkir berisi kopi.
Masalah apa lagi yang dikatakan pak Pangat ini, dan kenapa sekarang menimpaku..
“Saya jelaskan ya apa yang menimpamu sekarang mas, dengarkan baik-baik dan pikirkan apakah benar yang saya katakan ini”
“Yang pertama… kamu hanya pelimpahan masalah dari masa lalu, nanti akan saya jelaskan, karena saya masih berusaha menangkap dan mencernanya”
“Bukan empat orang tetapi tiga orang yang melakukan Tindakan kriminal, sedangkan yang satu orang berusaha mencegahnya…bukan mencegah, tetapi mengaburkan yang lebih tepat”
“Siapakan empat orang itu pak, apakah saya bisa tahu?”
“Kamu suatu saat pasti tahu siapa mereka, Mereka itu adalah orang-orang yang ada disana, mereka berempat orang-orang yang ada dan pernah disana”
“Pak Wandi, Mamad, pak Solikin, dan Burhan, mereka yang pernah dan ada disana pak”
“Bisa jadi mereka bisa jadi bukan mereka, tetapi siapa yang berbuat kriminal itu yang harus kamu cari, karena saya tidak bisa mengatakannya”
“Dan yang bahaya ini, ada salah satu dari mereka yang berusaha mencelakai kamu mas, tentu saja dengan cara ghaib yang tidak bisa dicerna dengan akal sehat”
“Jadi karena adanya kamu disana, akibatnya ada beberapa orang yang ketakutan, dan salah satu dari mereka berusaha agar bisa mengusir kamu dari sana”
Aku dan mbak Tina hanya bisa diam mendengarkan penjelasan dari pak Pangat…
Penjelasan yang tentang adanya kegiatan kejahatan disana yang dilakukan oleh orang-orang yang pernah disana.
Lalu kenapa dengan Mamad. kenapa juga dia menghilang dari aku dan memberi kabar bahwa dia mati?
“Mas Agus… sudah jelas kan kenapa kamu tidak bisa pergi dari sana, meskipun sebenarnya mudah untuk pergi dari sana”
“I..iya pak saya paham. lalu apa yang harus saya lakukan pak?”
“Tunggu….coba saya lihat lukamu dulu mas….”
__ADS_1
Kubuka kemejaku agar pak Pangat bisa melihat luka yang kuderita..
Dia hanya tersenyum dan kemudian menyuruhku untuk menutup bajuku lagi.
“Hehehe, ilmu Joko makin tinggi saja hehehe, dia bisa hapus bekas pocong dan bekas jilatan demit yang ada di hutan itu…makin hebat saja Joko heheheh”
“Nah mas Agus, saya jelaskan dulu apa yang akan terjadi dengan kamu disana sebelum kamu tanya apa yang harus kamu lakukan disana”
“Di satu sisi ada yang berusaha menyerang mu, di satu sisi ada yang membutuhkanmu”
“Sekarang coba kamu cerna ada dua hal itu, Dan apa yang akan terjadi dengan kamu mas Agus?”
“Saya tidak bisa memahaminya pak, otak saya buntu pak”
“Hehehe artinya ada yang berusaha melindungi kamu mas, tetapi dengan imbalan kamu harus bantu dia!”
“Karena kalau tidak, maka akan ada yang terjadi dengan dirimu, kecuali……”
“Kecuali….. ada yang bisa menggantikan kamu disana!”
“Sekarang sudah paham kan kenapa kamu ada disana”
Juangkreeeeek…!!!!, ternyata aku disini karena dijebak pak Wandi…
Tapi apa tujuan dia menjebakku di rumah itu….
Apakah karena ada yang minta bantuan pak Wandi, tetapi dia tidak bisa menyelesaikanya?.
Atau jangan-jangan pak Wandi adalah akar dari masalah ini sendiri?
Aku belum bisa mencerna apa yang sedang kualami, aku belum bisa menerka-nerka siapa yang jahat dan siapa yang baik dalam hal ini.
“Jangan berpikiran begitu mas!”
“Hilangkan pikiran buruk sangkamu itu. saya bisa baca pikiranmu saat ini!” bentak pak pangat
“Sebelum ada penjelasan dari seseorang atau dari yang bersangkutan, haram hukumnya untuk menerka-nerka seperti itu!”
“Harap mas Agus ingat, saya dalam menjelaskan sesuatu tidak mengerucut pada seseorang, karena saya tidak mau menuduh tanpa ada bukti dulu.
“Baiklah pak, maafkan saya….”
“Oh iya pak, ada hal lain yang mau saya tanyakan pak… “
“Disana itu ada makam di bagian paling belakang rumah penggergajian, kemudian di kamar mandi juga ada yang aneh pak”
“Kloset di kamar mandi itu terlihat baru dan saya tidak boleh menggunakan kloset itu”
“Nanti..nanti akan saya jelaskan mas…. yang paling penting adalah orang yang berusaha mencelakai kamu ini benar-benar sadis dan tega!”
“Tapi ndak papa mas, asal kamu kuat, maka kamu tidak akan apa-apa”
“Luka akibat pocong itu hanya permulaan saja, Pokoknya kamu harus kuat..kuat ibadah disana!...., bukan di rumah mbak Tina”
Pak Pangat diam sejenak, dia menyeruput kopinya setelah dia mempersilahkan aku dan Tina untuk meminum kopi buatan istrinya.
“Nah tentang kuburan dan kloset…”
“Sebenarnya kuburan itu tidak pernah mengganggu sama sekali, meskipun mungkin ada yang bilang macam-macam tentang kuburan itu”
__ADS_1
“Untuk kloset…. maaf saya tidak bisa melihat sesuatu di sana. sangat berkabut dan tidak kelihatan sama sekali, jadi lebih baik dihindari saja mas”
“Aneh sekali, saya tidak bisa melihat isi dari kloset itu!”