RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
127. KUNYUK JADI KORBAN


__ADS_3

“Apa aku harus lapor polisi?”


Polisi siapa yang mau aku lapori…. kelamaan keburu orang-orang jahat itu akan melakukan sesuatu dengan kami berdua


Ketika kutoleh pintu kamar nomor sepuluh, tiba-tiba ada seorang suster yang masuk ke dalam kamar..


Jelas keadaan ini bahaya.. aku harus mencari akal dan alasan kenapa mas Agus dipindahkan ke kamar ini tanpa konfirmasi dulu dengan suster jaga.


Aku masuk ke dalam kamar..


Lho suster itu sedang melepas jarum infus mas Agus, mas Agus dan suster itu sedang bicara dan sedikit tertawa tawa.


Apa yang dilakukan mas Agus hingga suster itu mau melepas jarum infus yang ada di pergelangan tangannya.


Bukankah untuk melepas jarum infus itu harus dengan prosedur yang berlaku?


Tapi masa bodoh lah… yang penting jarum infus itu sudah lepas dari tangannya mas Agus.


Aku tidak segera masuk ke dalam kamar, kutunggu dulu hingga suster itu pergi dari kamar ini.


Ternyata suster itu juga sedang memeriksa keadaan pasien di sebelahnya mas Agus…


Suster itu kelihatannya sedang memeriksa infus pasien yang ada di kamar nomor sepuluh ini.


Beberapa menit kemudian suster itu pergi juga dari kamar nomor sepuluh


“Ayo kita pergi dari sini mbak”


“Kita pergi ke mana ma… Tina tidak tau harus kemana ini”


“Pokoknya sementara ini kita tidak boleh berada di ruang rawat inap ini, terserah mau  ke kamar mana, pokoknya kita tidak di ruang rawat inap selama jam besuk berlangsung.


“Mas Agus tidak bawa jaer atau topi lho mas….”


“Gampang mbak…. mbak Tina keluar dulu untuk melihat keadaan diluar, nanti saya akan nyusul setelah mbak Tina kasih tandan dengan tepuk tangan satu kali”


Sesuai dengan apa yang mas Agus instruksikan…aku keluar dari kamar nomor sepuluh…


Sejenak aku duduk di bangku yang ada di depan kamar ini, setelah ku yakin tidak ada dua orang Wandi dan Mamad, segera kutepuk tanganku satu kali.


Pintu kamar nomor sepuluh ini terbuka, kemudian seseorang dengan jilbab instan dan sweater berwarna merah muda keluar dari kamar.


“Kok malah perempuan dengan jilbab yang keluar!”


Bukanya mas Agus yang keluar..


Aku tidak pedulikan perempuan dengan jilbab yang cara pakainya hanya tinggal di masukan  ke bagian kepala.


Aku tetap duduk di depan kamar rumah sakit sambil  memperhatikan dua orang yang mungkin akan lewat sebentar lagi.


Tidak lama kemudian perempuan berjilbab dengan sweater pink itu mengambil posisi duduk tepat di sebelahku.


Dia duduk dengan tenang sambil melihat orang-orang yang berjalan hilir mudik di selasar rumah sakit.


Ketika aku hendak menoleh ke samping kiri… ke arah perempuan dengan jilbab dan sweater pink itu, tiba-tiba dari arah kanan muncul di Wandi dan Mamad.


Mereka akhirnya melewati kami dan berjalan dengan tergesa gesa menuju ke kamar yang letaknya paling ujung.


Kemudian dengan kasar mereka membuka kamar nomor dua belas yang tadi pintunya tertutup.


Kedua orang itu masuk ke dalam kamar dengan kasar…. tapi tidak lama kemudian mereka keluar lagi.


Terus terang dalam keadaan seperti ini aku tidak berani menoleh ke arah mereka…


Aku hanya menunduk dan  berusaha berlindung dari mereka berdua dengan cara menyamakan posisi dudukku dengan orang perempuan yang berjilbab di sebelah kiriku.


Wandi dan Mamad diam sejenak di depan kamar nomor dua belas, tetapi kemudian mereka berjalan agak cepat pergi dari depan kamar itu.’


Nggak tau mereka kearah mana, yang pasti dua orang itu sekarang sudah menghilang menuju ke arah luar rumah sakit.


“Keadaan sudah aman mbak… tapi kita tetap waspada” kata perempuan berjilbab yang ada di sebelahku


“Lho ini mas Agus to….?”


“Iyalah mbak… memangnya saya ini siapa?”


“Hahahah Tina nggak tau mas… TIna pikir sebelah Tina ini memang perempuan dengan jilbab dan sweater ping pengunjung kamar nomor sepuluh ini”


“Hehehe tertipu juga akhirnya mbak Tina ya heheheh”


“Tina tidak nyangka aja kok mas Agus bis dapat jilbab dan sweater pink gitu sih hehehe”


“Hehehe Itu nggak penting mbak.. yang terpenting sekarang adalah kita harus pergi dari sini tanpa melakukan pembayaran dulu”

__ADS_1


“Lho kok gitu mas… itu namanya kriminal mas!”


“Tunggu.. jangan marah dulu mbak… tentu saja saya berbuat seperti itu karena ada alasanya kan…”


“Jadi gini mbak… Wandi itu bukan orang bodoh… dia tentu saja akan tanya ke bagian administrasi apakah saya sudah keluar dari rumah sakit ini atau belum kan”


“Kalau saya bayar biaya rumah sakit, maka berarti saya sudah tidak ada disini lagi, dan tentu saja Wandi akan mencari saya di manapun berada”


“Sedangkan saya saat ini sangat berharap bisa kembali ke rumah penggergajian untuk melakukan pengintaian, tetapi dengan satu syarat, harus melaporkan dulu kegiatan kita ini ke pak Joko dan pak Paijo!”


“Karena menurut apa yang saya pikir, ketika mereka sedang melakukan transaksi, tentu saja mereka tidak akan membiarkan saya berkeliaran di rumah penggergajian kan”


“Makanya Wandi dan Mamad berusaha meyakinkan bahwa saya ada di rumah sakit ini, agar kegiatan yang ada di sana tidak akan terganggu oleh saya”


“Iya mas TIna paham… tapi bagaimana cara menghubungi pak Paijo, apakah kita harus mencari dokter Joko dulu dan kemudian baru kita ke cari pak Paijo?”


“Bisa juga seperti ini mbak… tapi jelas terlalu lama mbak”


“Tidak ada cara lain mas…Tina hanya bisa berpikir seperti itu saja, karena kita tidak tau pak Paijo itu dinas dimana”


“Begini saja mbak… biasanya dokter Joko itu kan ada di kamar UGD, kita sekarang coba kesana saja… siapa tau dia ada disana, atau minimal kita bisa dapat nomor telepon rumahnya”


Apa yang dipikirkan mas Agus ini ada benarnya…


Wandi dan Mamad berusaha menahan agar mas Agus ada disini, pokoknya mereka berdua berusaha meyakinkan bahwa mas Agus ada disini.


Karena kemungkinan besar, disana sedang ada kegiatan transaksi… tapi itu kan baru kemungkinan saja, kita tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi disana.


Tapi terus terang untuk pergi dari sini tanpa melakukan pembayaran itu adalah tindakan Kriminal, dan tentu saja kami nanti akan dicari pihak yang berwajib.


Aku dan mas Agus kini berjalan pelan menuju ke arah UGD… kami sangat berhati hati sekali, karena bisa saja Wandi dan Mamad masih ada di sekitar rumah sakit ini.


“Ayo mbak,,, tinggal belok ke kiri itu kita sudah sampai di UGD…”


“Wuiiih kelihatan UGD sedang ramai dengan orang mas hehehe… apakah sedang ada kecelakaan ya mas heheheh”


“UGD kan tidak hanya untuk kecelakaan saja mbak hehehehe. bisa saja orang yang keracunan, berak berak, atau bisa saja orang yang bunuh diri juga ke UGD kan mbak hehehe”


“Iya sih mas… tapi untuk kali ini kayaknya UGD sedang ramai sekali mas”


Ketika kami berdua sudah ada di sekitar UGD, tiba-tiba mataku tertuju pada sosok orang yang sedang berdiri sambil menyandar ke tembok rumah sakit.


Aku yakin pernah tau orang itu…


“Iya mbak… saya juga tadi lihat dia.. tapi apa yang dilakukan dia disini ya mbak?”


“Gimana mas… apa tidak sebaiknya Yetno kita sapa saja?”


“Jangan dulu mbak…saya penasaran dengan orang yang diantar Yetno kesini, kalau bisa kita periksa dulu di dalam UGD sana, siapa yang sedang ditunggui Yetno”


Aku dan mas Agus masuk ke dalam ruang UGD…


UGD disini tidak sebesar di rumah sakit kota besar, disini hanya ada lima tempat tidur yang semuanya sudah terisi orang yang sedang sakit.


Tapi mataku tiba-tiba tertuju pada seseorang yang tergeletak di tempat tidur UGD dengan perban di perut yang masih berwarna merah karena darah.


Orang itu kelihatannya sedang pingsan, karena dia hanya diam dan menutup matanya, bahkan tidak mengerang kesakitan meskipun di perutnya ada perban yang berwarna merah darah.


“Mas….” kataku sambil memegang tangan mas Agus yang masih menggunakan jilbab instan


“Saya tau mbak Tina.. dari tadi juga saya sedang melihat Kunyuk yang tergolek tak sadarkan diri itu”


“Kelihatanya Kunyuk ditusuk orang mbak, karena luka yang ada di perut biasanya karena luka tusukan”


“Apa yang terjadi dengan Kunyuk.. kenapa sampai ada orang yang melakukan hal seperti itu kepadanya”


“Mas…. Tina tau siapa yang melakukan itu!”


Aku baru ingat kalau tadi pagi kan ada Burhan dan temanya yang bernama Gunawan di warung depan rumah sakit.


Lalu mereka berdua pamit kepada Tini penjaga warung dengan alasan ada yang harus diselesaikan di hutan.


Apakah yang diselesaikan itu ya si Kunyuk ini?


“Maksud mbak Tina bagaimana?”


“Tadi kan Tina cerita sama mas Agus kalau ada Burhan dan orang yang bernama Gunawan, mereka sedang menunggu pak Solikin”


“Tetapi tidak lama kemudian mereka pergi ke hutan… perkiraaan Tina, mereka mungkin ke hutan untuk memberesi Kunyuk ini mas”


“Aneh… kenapa siang pagi hari mereka ada di tengah hutan?”


“Ya jelas siang hari bisa terlihat dengan jelas lah, lalu ada apa dengan kunyuk, kenapa bisa sampai pagi hari seperti ini ada disana?”

__ADS_1


“Dari pada bingung dan berandai andai saja, lebih baik tanya ke Yetno saja mas”


“Dengan penyamaran seperti ini? jelas tidak mungkin lah mbak. kita tidak tau dimana Wandi dan Mamad berada. Saya takut apabila Yetno juga ada hubunganya dengan Wandi”


“Tenang saja mbak…. dengan luka seperti itu dia akan lama ada dirumah sakit ini,  kita nanti bisa tanyai dia apabila sudah mulai sadar”


“Ya sudah mas.. ayo kita cari dokter Joko saja kalau begitu”


“Mbak Tina saja yang tanya… jangan saya, ntar dipikir saya ini banci mbak heheheh”


Aku mencari perawat yang ada disini, setelah bertemu dengan salah satu perawat aku dapat informasi kalau dokter joko saat ini praktek di ruang poli umum.


“Mas… kita ke poli saja. karena kata perawat itu dokter Joko saat ini ada di poli umum”


“Ya Sudah.. ayo ke sana mbak”


Kami berdua berjalan keluar dari dalam ruangan UGD dan menuju ke bagian poli yang ada di bagian depan rumah sakit.


Ketika kulirik, di sebelah kiri, ternyata si si Yetno masih ada disana, dia masih berdiri bersandar di dinding ruangan UGD.


Aku dan mas Agus tidak menghiraukan Yetno, karena kami harus segera ke bagian poli umum untuk bertemu dengan dokter Joko


Keadaan aman hingga kami sampai di poli umum yang sekarang sedang penuh dengan orang yang sedang berobat.


“Gimana cara kita masuk kesana mas, kita kan tidak sedang berobat,  juga antriannya luar biasa gitu mas”


“Jelas ndak mungkin kita serobot antriannya orang mbak, bisa diamuk orang yang sedang berobat disini mbak heheheh”


“Ah gini saja… coba mbak Tina tanyakan ke bagian informasi… Poli umum dokter joko buka sampai jam berapa”


“Kalau bukanya sampai siang, kita tunggu saja, tetapi kalau sampai sore itu yang saya belum tau bagaimana caranya bertemu dengan beliau, karena pastinya nanti malam dokter Joko tidak jaga di UGD”


“Iya mas,... Tina cari informasi dulu mas”


Untungnya tempat Informasi tidak jauh dari lokasi poli yang ada di rumah sakit ini.


Dan untungnya penjaga meja informasi itu sangat ramah, dan memberi info apabila poli umum sudah tidak membuka pendaftaran pasien lagi. alias sudah tutup pendaftarannya.


“Poli umum ini sudah tutup untuk pendaftaran pasiennya mas, jadi siang ini dokter Joko sudah selesai praktek”


“Gimana mas..apa kita tunggu atau gimana?”


“Kita tunggu disini saja mbak… karena kalau di kamar sana, saya takut ada Wandi dan Mamad yang masih penasaran dengan keadaan saya”


Di ruang tunggu… pasien poli semakin lama semakin berkurang.. sudah hampir satu jam aku dan mas Agus ada disini.


Tapi ini lebih baik daripada harus ada di kamar sana….Yang pasti setelah adanya Wandi dan Mamad, aku menjadi Parno kalau harus ada di ruang kamar inap.


Akhirnya ruang tunggu poli ini menyisakan aku dan  mas Agus saja setelah pasien terakhir masuk kedalam kamar periksa.


“Kita tunggu hingga dokte Joko keluar saja mbak… “


Tidak lama kemudian dokter Joko keluar dari ruang praktek.


Kami berdua segera menghampiri dokter Joko yang kelihatannya terburu buru, mungkin akan pulang ke rumah atau gimana gitu.


“Selamat sore dok” sapaku


“Iya selamat sore… eh praktek saya sudah tutup ini bu… ada yang bisa dibantu”


“Ini mas Agus dok.. bukan ibu-ibu… saya Tina dok heheheh”


“Astaga… sedang apa kalian dengan penyamaran seperti ini?”


“Eh ada waktu sebentar dok?”


“Saya sebenarnya tidak ada waktu, karena di ruang gawat darurat ada pasien korban penusukan, saya harus segera ke sana”


“Ya sudah sambil jalan saja saya ceritanya dok” aku memaksa untuk cerita apa yang menimpa kami berdua


“Iya bu… kita sambil jalan saja” jawab dokter Joko


Kuceritakan apa yang menimpa kami hingga kami melihat Kunyuk yang ada di ruang UGD..


“Berarti korban penusukan itu orang yang pernah pak Agus tolong?”


“Benar dok, orang itu juga yang pernah datang ke kamar saya dan memberitahu saya untuk berhati-hati”


“Ya sudah pak Agus… semoga nyawanya bisa tertolong, karena untungnya kata bagian UGD  tusukan itu tidak sampai merusak bagian organ dalam dia”


“Dok.. kalau situasinya emergency seperti ini, apa tidak ada tindakan khusus dari dokter untuk segera menyelamatkan nyawanya dari pada dokter masih berkutat di ruang poli?”


“Memang seperti itu pak.. jadi bisa saja saya lakukan tindakan langsung dan saya tinggal untuk sementara bagian poli umum itu, tetapi….”

__ADS_1


“Info dari bagian UGD pasien korban penusukan itu sudah ditangani dengan aman, dan kemungkinan besar lukanya sudah tertutup meskipun observasinya masih menunggu dari saya”


__ADS_2