
Aku terbangun ketika di sebelah tempat tidurku ada suara orang yang sedang ngobrol…
Suara beberapa perempuan dan laki-laki yang ngobrol dengan akrab.
Kulirik jam dinding yang ada di depanku… ternyata sudah jam 07.00…
Aku benar-benar kesiangan…
Kulihat mas Agus… ternyata untungnya dia masih tertidur, dia tidak terganggu oleh ramainya suara orang yang sedang bicara di sebelahku.
“Berarti yang semalam itu bener ada orang di sebelahku ini, tapi aku kok tidak tau kapan datangnya ya?”
Aku turun dari tempat tidur, kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah mas Agus, sambil kubangunkan mas Agus
Hmmm atau mungkin orang yang ada di sebelahku ini datang ketika aku sedang tidur, antara jam 23.00 sampai jam 24.00.
“Selamat pagi… permisi, kami mau tensi dulu ya” kata suara seorang suster yang sekarang ada di tempat tidur yang ada di sebelahku tidur tadi
“Wah yang besuk banyak juga ya” kata suster itu lagi
Memang benar-benar rame keadaan di tempat tidur sebelah itu, yah sebenarnya cukup mengganggu juga apabila ada pasien yang butuh waktu untuk istirahat panjang.
Setelah selesai dengan urusan mengukur tekanan darah pasien yang ada di sebelah, sekarang suster itu menuju ke tempat mas Agus.
“Permisi bu.. saya mau ukur tekanan darah bapak dulu”
“Iya sus….”
Aku penasaran dengan suster yang semalam itu… aku harus tanya dengan suster ini, sebenarnya siapa yang semalam datang itu.
Tapi lebih baik aku tanya di luar saja, ketika selesai urusan nya dengan mas Agus.
“Sudah selesai bu, tekanan darah suami ibu normal kok… saya permisi dulu” kata suster itu sambil melangkah menuju pintu kamar.
Kuikuti suster itu hingga ada di depan kamar, kemudian kupanggil suster itu
“Suster… tunggu dulu , ada yang mau saya tanyakan”
“Iya bu.. ada apa ya?”
“Eh sus.. disini kalau tengah malam memangnya ada pemeriksaan tekanan darah juga?”
“Iya bu.. tapi tidak semua.. hanya pasien dengan penyakit khusus yang kami periksa”
“Karena pada tengah malam, pada jam mereka istirahat tekanan darah mereka bisa berbeda dengan ketika mereka dalam keadaan bangun”
“Memangnya ada apa ya bu?”
“Eh anu sus…saya mau tanya… eh tadi malam yang check tekanan darah suami saya itu suster siapa ya?”
“Itu suster Andini… ada apa memangnya bu….apakah dia berbuat salah?”
“Eh apakah suster Andini itu orangnya modis…cantik…dan memakai sepatu yang berbeda dengan suster lainya?”
“Hehehe memangnya ada apa bu, kok saya penasaran bu?”
“Begini…. semalam saya ketakutan ketika ada suster datang dengan pakaian agak ketat dan sepatu yang berbunyi dan wajahnya itu lho cantik dan segar”
“Saya pikir itu suster jadi jadian hehehe”
“Aduuuh maafkan saya bu… semalam memang dia yang shift malam…”
“Jadi begini ceritanya…dia baru datang dari acara keluarganya yang ada di luar kota, dia tidak pulang dulu untuk berganti pakaian suster, tapi langsung menuju ke sini”
“Dia semalam datang dengan pakaian pesta, kemudian dia meminjam seragam suster yang ada di lemari perawat, dan kebetulan seragam itu agak kekecilan… aduh maaf ya bu atas keteledoran suster Andini”
“Aduuuh hihihi tidak papa sus, semalam saya sampai ketakutan, saya kira dia itu suter jadi jadian”
“Maaf bu.. di rumah sakit ini tidak ada hal hal begituan, disini aman kok heheh… ada lagi yang mau ibu tanyakan?”
“Tidak ada sus.. terimakasih atas penjelasannya”
Huh sialan… ternyata suster beneran.. tiwas aku ketakutan hehehe.
Sekarang aku harus urusin mas Agus dulu, semoga hari ini dia bisa pulang…
Tapi aku bingung juga, setelah ini aku dan mas Agus harus ke mana? apakah aku harus ke rumah kosong depan rumahku?
Dan sampai kapan aku harus ada di rumah kosong itu?
TINA POV END
*****
“Mas Agus ternyata udah bangun ya… tadi Tina tinggal ke depan bentar hehehe”
“Iya mbak.. berisik sekali disini, emangnya orang sebelah itu datang jam berapa semalam?”
“Perkiraan Tina sih mungkin sekitar antara jam sebelah sampai jam dua belas malam mas?”
“Mbak Tina. saya sampai kapan ada disini?”
__ADS_1
“Waduh Tina kurang tau mas, nanti kan ada dokter yang akan berkunjung, nanti Tina tanyakan kapan mas Agus bisa keluar dari sini”
“Tapi mas…..”
“Tapi kenapa mbak?”
“Sekeluar dari sini, kita akan kemana mas, karena mas Agus dan Tina kan sekarang jadi buron hehehe”
Aku tau bahwa Tina menjadi target pencarian juga karena ulahku..
Dan sekarang aku harus bisa membawa Tina ke tempat yang aman…mungkin jauh dari desa ini, tetapi apa yang kulakukan ini sudah setengah jalan, dan tidak mungkin kutinggalkan begitu saja.
Apa yang harus kulakukan saat ini adalah menyelamatkan Tina, perempuan yang sangat perhatian kepadaku melebihi perhatian pacarku yang ada di desa.
Setelah pengorbanan Tina… apakah pantas harus kutinggalkan begitu saja agar dia tidak terkena masalah yang masih akan berlanjut.
“Heii mas.. ok malah melamun sih… “
“Tadi kan Tina tanya… setelah ini kita akan kemana mas?”
“Untuk saat ini mungkin saya harus selamatkan mbak Tina dulu... bawa mbak Tina jauh dari sini”
“Terus… kalau Tina sudah jauh dari mas Agus.. mas Agus mau ngapain?”
“Mas Agus kan keadaanya belum pulih benar?”
“Iya mbak..ini yang sedang saya pikirkan mbak.. saya bingung mau ke mana dengan keadaan saya yang masih seperti ini”
“Begini saja mas Agus… kita tunggu pemeriksaan dokter dulu aja mas… “
“Menurut Tina, kita tetap ada disini dulu saja…”
“Tapi biaya rumah sakit ini tiap hari makin membengkak mbak”
“Heheheh, tenang mas… Tina ada uang kok. lagi pula mas Agus kan juga ada uang yang digunakan untuk operasional rumah penggergajian”
“Nanti kan ada invoice dari rumah sakit, dan itu nanti kirim saja ke rumah bosnya mas Agus”
“Jangan mbak…. kita kan belum tau bos saya itu juga terlibat apa tidak, kan saya hanya dengar cerita dari kunyuk saja mbak”
“Oh iya mas…bahaya juga…”
“Gini saja mas. kalau hari ini kita keluar dari rumah sakit, kita ke rumah kosong depan rumah Tina saja mas, sekalian Tina mengawasi rumah Tina yang ada di depanya”
“Untuk saat ini Tina kira itu yang paling tepat… kita sembunyi di rumah kosong dulu saja
Waduuh jelas tidak mungkin aku dan Tina ada di rumah kosong itu, apalagi kita tidak melakukan apa-apa, hanya menunggu aku pulih dan sehat lagi.
“Mbak Tina… gini saja.. kita lihat dulu tagihan rumah sakitnya, apabila nanti saya masih ada sisa uang… kita cari losmen saja mbak”
“Jadi kita berpindah pindah… jangan menetap di sebuah Losmen saja”
“Itu namanya buang-buang uang mas… sudahlah kita tunggu keputusan dokter saja, Tina rasa luka yang ada di lua tubuh mas Agus ini sudah baikan”
“Hanya saja luka yang ada di kepala itu yang Tina tidak tau.”
“Kadang masih pusing dan sakit mbak”
“Nah kan… tapi tunggu keputusan dokter saja mas… yang penting mas Agus tetap minum obat yang diberikan rumah sakit”
Pagi sebelum sarapan.. aku akan mencoba untuk turun dari tempat tidur dan berjalan di sekitar kamar saja.
Botol infus dipegang Tina… yang pertama harus kulakukan adalah berdiri di sebelah tempat tidur.
Ternyata benar apa kata Tina….
Aku belum bisa berdiri dengan tenang meskipun aku berpegangan pada tempat tidur.
Ketika aku bangun saya kepalaku rasanya sakit lagi.. tapi tetap kupaksa untuk belajar berdiri dan berjalan dengan Normal.
“Mbak Tina… bantu saya untuk jalan, rasanya nggliyeng, kayak goyah dan tidak seimbang mbak”
“Hihihi gimana mau jalan mas… Buat berdiri dengan santai aja mas Agus belum bisa kok”
“Udahlah mas… yang penting dilatih dulu cara berdirinya, hingga kepala mas Agus sudah tidak sakit lagi”
“Pokoknya jangan dipaksakan dulu mas… semua itu ada waktunya.. kalau udah waktunya sembuh ya pasti akan sembuh juga mas”
Aku kembali lagi ke tempat tidurku…
Ternyata tubuhku belum cukup kuat untuk diajak normal…
“Permisi… sarapan untuk pak Agus” kata petugas yang mengantar sarapan
Seperti sebelumnya… Tina menyuapiku dengan telaten hingga selesai.
Tepat ketika aku selesai sarapan, dokter yang biasanya datang untuk memeriksaku pada pagi hari ini datang.
Dia didampingi oleh seorang suster juga.
Setelah beberapa tanya jawab… akhirnya diputuskan aku belum boleh meninggalkan rumah sakit untuk hari ini.
__ADS_1
Mungkin besok setelah keadaanku semakin membaik, dalam artian sakit kepalaku semakin ada perkembangan maka kemungkinan besar aku sudah bisa keluar.
“Mas… Tina mau beli sarapan dulu ya mas…perut Tina rasanya laper sekali”
“Iya mbak….”
*****
TINA POV
Pagi ini aku kok pengen makan pecel ya…. semoga di warung warung depan rumah sakit ada yang jual pecel.
Pagi gini selasar rumah sakit ramai sekali, banyak orang yang sedang menjenguk keluarganya, tapi sayangnya tidak ada yang menjenguk mas Agus hehehe.
“Eh.. orang yang berpakaian ala dokter di depanku itu kayaknya aku tau deh..”
Itu kan dokter Hendra… rekanya dokter Joko yang sebelumnya pernah menangani dada mas Agus yang katanya kena ludah pocong.
Dokter Hendra berjalan ke arahku,lebih baik kusapa saja dia terlebih dahulu…
“Dok… dokter Hendra…”
“Iya bu… eh maaf kalau tidak salah ini dulu suaminya ibu yang luka di dadanya parah karena hal ghaib itu ya?” kata dokter Hendra dengan tersenyum
“Benar dok… “
“Bagaimana keadaanya sekarang.. apa masih membekas?”
“Untuk yang ada di dadanya sekarang sudah sembuh dok.. tapi kemarin pagi suami saya menjadi korban tabrak lari, sekarang rawat inap disini dok”
“Eh Dokter ini sedang jaga siang atau gimana?”
“Saya kebetulan mau pulang bu…”
“Eh tabrak lari di daerah mana bu?”
“Di desa saya, disana kan sering kejadian seperti itu, dan selalu didahului oleh kejadian mistis dulu sebelum tabrak lari”
“Waduh… itu ranahnya dokter Joko…. “
“Begini saja, nanti malam saya dan dokter Joko jaga di UGD , coba nanti kalau keadaan UGD tidak ramai, nanti malam saya dan dokter Joko akan hampiri”
“Baik dok… suami saya ada di kamar 12 dok”
“Ok bu.. terus sekarang ini ibu mau ke mana?”
“Saya mau beli sarapan dulu dok…. ya sudah dok, saya pamit dulu, kasihan suami saya nunggu saya datang”
Aku kembali jalan ke luar rumah sakit setelah basa basi sebentar kepada dokter Hendra.
Ternyata kalau pagi gini di luar rumah sakit banyak sekali pedagang yang menjajakan makanan.
Bagus juga, jadi mereka membantu menyediakan makanan bagi penjaga pasien rawat inap yang pastinya butuh makanan kayak aku gini hehehe.
Aku ada di pinggir jalan rumah sakit, dan menuju ke sebuah warung yang saat ini ada beberapa pembeli yang sedang antri membeli nasi pecel.
Kuperhatikan di sekeliling sini, tidak ada yang mencurigakan…
Terus terang semenjak aku kemarin diikuti orang, aku sekarang jadi was was apabila aku berada di luar seperti ini.
Sambil antri menunggu pesananku dibuatkan… kuperhatikan orang-orang yang ada disekitar sini, baik yang sedang menunggu seseorang di pinggir jalan atau orang yang sedang duduk-duduk.
Tidak ada yang mencurigakan kecuali satu…
Kuperhatikan dengan melirik.. ada sebuah motor yang terparkir di pinggir jalan dengan dua penumpangnya yang kadang secara tidak sengaja melihat ke arahku.
Penumpang motor itu memang menghadap ke arahku… tetapi yang duduk di jok motor itu tidak serta merta melihatku, mereka hanya melihat gerbang rumah sakit secara terus menerus.
Kenapa aku tertarik memperhatikan motor dengan dua penumpang yang sedang duduk di atasnya dan selalu melihat ke arah rumah sakit?
Karena setelah kuperhatikan…motor yang mereka tumpangi itu mirip dengan motor yang kemarin siang ada di depan rumahku
“Jangan-jangan mereka itu yang kemarin siang ada di depan rumah, dan kemudian diusir oleh pak RT”
“Tapi untungnya mereka belum pernah melihat wajahku… sehingga mereka tidak mengenaliku”
Jarak antara motor mereka dan warung tempat aku antri pecel ini hanya sekitar tiga sampai empat meter saja.
Aku penasaran apa yang sedang mereka perhatikan.. aku harus lebih dekat dengan mereka untuk mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Kebetulan di sebelah mereka berdua ada orang yang berjualan aneka jajanan pasar.
Sambil menunggu antrian pecel yang lumayan ini, aku bisa ke penjual jajanan pasar… siapa tau aku bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Aku berjalan santai ke lapak sebelah sambil kulirik terus dua orang yang masih saja ada di atas motornya sambil memperhatikan pintu gerbang rumah sakit.
“Tumbas nopo mbak? ( beli apa mbak)” tanya penjual kue basah itu
“Saya pilih dulu ya bu”
Posisiku sekarang sedang membelakangi dua orang yang masih memperhatikan gerbang rumah sakit.
__ADS_1
Aku harus bisa mencuri dengar apa yang akan mereka katakan…. dan setelah kuperhatikan, ternyata motor ini yang kemarin ada di depan rumahku.