RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
148. BAHAYA?


__ADS_3

“Tina apa bener gak boleh ikut mas?”


“Jangan mbak Tina…Lagipula saya dan pak Hari hanya akan memfoto sebentar saja kok mbak”


“Benar ya pak Hari…kita hanya mengambil gambar saja, tanpa melakukan hal lain yang berbahaya” tanya mas Agus


“Iya.. hanya memfoto barang bukti saja, setelah itu selesai dan kita bisa pergi dari sini dengan aman” Jawab pak Hari


“Ikuti Inggrid mas….” kata Inggrid  kepada mas Agus setelah aku diyakinkan bahwa tindakan mereka nanti hanya mengambil foto saja


Setelah aku yakin apa yang akan mereka lakukan, aku gak ikut mereka, aku tetap ada di dekat mesin penggergajian.  Biarkan mereka berdua yang berangkat ke sana.


Aku tetap ada di mesin penggergajian saja…


AGUS POV


“Ikuti langkah saya pak Hari… kalau saya merunduk atau duduk atau melangkah ikuti saja, karena saya sekarang sedang mengikuti teman ghaib yang di depan saya”


“Ok mas”


Aku mengikuti apa saja yang yang dilakukan Ingrid, kami melangkah perlahan-lahan, kadang, merunduk atau merayap…pokoknya apa yang dilakukan Inggrid  kami harus mengikutinya.


Palan namun pasti sekarang kami sudah ada di bagian pembuatan palet… disini Inggrid berhenti…


“Mas Agus… kita ke dalam rumah untuk melihat dus air mineral atau kita ke samping rumah untuk melihat drum yang berisi solar dan serbuk?”


“Eh Inggrid… yang paling aman yang mana?”


“Yang aman yaj kita masuk ke dalam mas… dan melihat dus air mineral itu saja… karena di luar sudah banyak mata yang memperhatikan drum itu mas”


“Di hutan samping ada Wandi dan Mamad.. di hutan depan rumah ada Solikin dan temanya.. Jadi bahaya kalau mas Agus nekat untuk masuk ke samping rumah untuk melihat drum solar”


“Sebentar Nggrid, saya bicara dengan pak Hari dulu saja”


Kuceritakan apa yang sekarang menjadi kendala untuk melihat barang bukti yang ada di samping rumah.


Sebenarnya untuk menuju ke samping rumah tidaklah sulit, karena hanya lewat pintu rahasia yang ada di sebelah kita ini  dan melangkah tiga atau empat meter saja sudah sampai  di samping rumah.


Hanya saja pasti akan terlihat oleh orang-orang yang sedang sembunyi disini, apalagi jaket pak Hari berwarna putih.


“Jadi kalau bapak mau nekat ya bisa keluar lewat pintu rahasia yang di sebelah kita ini pak, tapi kalau kita mau lihat dus yang hanya berisi sedikit barang bukti bisa ikuti saya”


“Kita masuk dulu ke tempat yang aman saja dulu mas.. nanti baru kita pikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya”


“Ok pak..ikuti saya lagi pak…”


Inggrid pergi sejenak ke dalam rumah untuk sekali lagi melihat keadaan yang ada di dalam rumah.


Setelah dirasa aman, Inggrid kemudian mengajak aku dan pak Hari masuk… melalui pintu belakang.


“Inggrid… kenapa harus masuk lewat pintu belakang?, bukannya pintu itu dikunci dari dalam?”


“Sabar mas Agus… pintu ini  sebenarnya bisa dibuka… nanti kalau kita sudah ada di depan pintu akan Inggrid kasih tau cara bukanya”


Kami jalan pelan pelan mengikuti Inggrid yang terus berjalan di depanku… ketika kami sudah ada di depan pintu belakang…


“Mas…engsel pintu ini bisa dilepas dengan mudah.. coba mas Agus angka dikit aja, setelah itu tarik keluar pelan-pelan”


“Ok.. akan saya coba..”


Kuangkat bersama pak Hari pintu belakang…. ternyata mudah dan ringan daun pintu ini….pintu belakang ini sekarang sudah terbuka.


“Bagaimana keadaan di dalam Inggrid.. apakah kami sudah bisa masuk ke dalam?”


“Bisa… tapi merangkak… karena Solikin dan kelompoknya termasuk ada Paijo juga bisa melihat bagian dalam rumah ini dengan menggunakan teropong”


“Meskipun di dalam sini gelap, tapi dengan menggunakan teropong yang dimiliki oleh Paijo… mereka bisa lihat apa yang ada di dalam sini”


“jadi merangkaklah…”


“Nanti di depan pintu kamar disana  tunggu aba-aba dari aku untuk buka pintu…pokoknya ketika solikin atau Paijo tidak sedang mengamati, kita bisa buka pintu kamar”


Inggrid pergi dari kami.. dia mungkin sedang melihat apa yang sedang dilakukan oleh kelompoknya solikin dan Paijo.


Tapi yang bikin heran, kenapa ada Wandi dan Mamad disini, apakah mereka juga ikut dalam aksi ini?.


Kalau menurutku mereka tidak ikut aksi ini, mereka hanya ingin tau bahkan bisa saja mereka akan mengacaukan transaksi ini.


“Sekarang buka pintu itu perlahan, dan masuk ke dalam… cepat!”


Pak Hari yang dari tadi ada di belakangku kemudian ikut masuk ke kamar belakang dengan cara merayap. Setelah  aku ada di dalam, pintu kamar ini aku tutup dengan segera.


“Kita sudah ada di dalam kamar pak.. sekarang apa yang akan bapak lakukan?”

__ADS_1


“Cari barang bukti itu dulu mas, kemudian akan saya foto”


“Pak Hari bawa kamera?”


“Bawa mas….


“Pak hari bawa senter?”


“Ini ada mas..senter kecil” kata pak hari sambil mengeluarkan senter dari saku jaket kainnya


“Sebentar pak..kita cari dulu dimana dus yang dimaksud Inggrid itu… biasanya ada di kolong tempat tidur pak”


Keadaan kamar ini sedikit berubah dibanding ketika aku dan Tina kesini terakhir…


Lemari besar yang kemarin aku gunakan untuk menutup pintu rahasia sudah pindah posisi dekat dengan pintu kamar, dan menghadap ke arah depan rumah. Tidak menghadap ke pintu rahasia.


Aku gunakan senter kecil milik pak Hari, dengan cahaya yang selalu mengarah ke bawah, sedang posisi kamipun saat ini dalam keadaan merunduk. kadang duduk dan merayap di lantai.


Untuk menemukan dus air mineral itu tidak begitu sulit, karena bentuknya yang cukup mencolok dan letaknya ada di kolong tempat tidur sesuai dengan yang aku perkiraan sebelumnya.


“Itu dusnya pak… apa mau diambil?”


“Iya mas… biar saya yang ambil dari kolong saja…mas Agus jaga cahaya senter itu saja mas”


Dus air mineral sudah ada di depan kami .. dus itu tidak dilapisi lakban berwarna hitam seperti sebelumnya, dus itu hanya ditutup dengan lakban warna coklat sekedarnya saja.


Sangat tidak meyakinkan bahwa dos itu isinya adalah barang terlarang.


“Mas Agus yakin isi dus ini adalah obat-obatan terlarang?”


“Saya sih sesuai omongan Inggrid pak… kalau tidak yakin ya bisa dibuka saja pak, agar kita tau apa isi dari dus itu”


“Dus ini ringan sekali, seperti dus kosong, tetapi ditutup lakban coklat mas, eh sebentar saya foto dulu saja mas”


“Sebentar pak.. eh itu kamera sakunya pakek flash gak pak?”


“Oh iya mas… hampir lupa.. untung diingatkan mas Agus untuk tidak menggunakan lampu flash”


“Kita coba dulu tanpa menggunakan lampu flash mas… cukup mas Agus kasih cahaya dari senter kecil itu saja”


Satu.. dua pengambilan gambar dusnya saja…. tetapi cahaya yang berasal dari senter ini tidak cukup menerangi seluruh permukaan dus, Dikarenakan posisi senter yang kupegang ini kurang tinggi.


“Apa gak bisa lebih tinggi lagi megang senternya mas Agus?”


“Ingat pak.. posisi kita ini bahaya, karena posisi kita saat ini ada di titik pusat tempat dimana yang ada di luar itu selalu mengawasi pak”


“Lebih baik dibuka saja dan difoto seadanya pak”


“Mas Agus…cepat… Inggrid merasa akan ada yang datang kesini mas” celetuk Inggrid tiba-tiba


“Pak…kata Inggrid akan ada yang datang kesini sebentar lagi, mungkin yang akan mengambil barang ini pak”


“Kalau begitu kita bawa saja barang ini keluar!...”


“Woooo tadi perjanjiannya kan hanya memfoto saja.. bukanya membawa objek transaksi ini keluar pak”


“Iya… tapi karena keadaan mendesak dan  beberapa kali kita tidak bisa mengambil gambar, maka  saya putuskan kita akan keluar dari sini dengan membawa barang bukti ini”


“Tapi pak…..”


Pak Hari keburu keluar dari kamar, aku masih ada di dalam kamar tanpa tau apa yang harus aku lakukan, karena aku bingung dengan keadaan yang tiba-tiba ini.


Sementara aku masih ada di dalam kamar, aku bisa lihat pak Hari menyelinap keluar menuju ke arah ketika tadi kami masuk.


“Mas…. biarkan saja polisi itu… sekarang mas Agus jangan keluar dari sini.. karena disamping rumah sudah ada orang yang sedang berjalan menuju kesini” kata Inggrid yang tiba-tiba muncul di sebelahku


“Tetap disini dan jangan keluar mas… biarkan saja polisi itu keluar duluan dengan membawa barang bukti..biarkan dia keluar!”


“Jangan sembunyi di bawah tempat tidur, karena orang-orang itu nantinya akan mengecek keadaan kolong tempat tidur”


“Berdirilah di samping lemari itu saja.. jangan bergerak sama sekali mas”


“Turuti Inggrid kalau mas Agus ingin selamat….dalam hitungan detik akan ada orang yang masuk kesini.. mas Agus jangan bergerak sama sekali, Inggrid akan menyelamatkan Tina dulu”


Dalam sekejap Inggrid menghilang dari hadapanku… dia sudah pergi meninggalkan aku untuk menyelamatkan mbak Tina…


Sialan juga polisi itu.. ceroboh dengan membawa barang bukti keluar.. dia tidak tau siapa yang akan dia lawan diluar sana.


AGUS POV END


TINA POV


Lama sekali mas Agus…

__ADS_1


Mungkin sudah lebih dari lima belas menit aku nunggu disini, tapi untungnya  tempat ini aman dari orang-orang yang sedang mengincar barang yang ada disana.


“Tina… ikuti Inggrid cepat.. dan jangan banyak tanya….ayo cepat” kata Inggrid yang tiba-tiba muncul di depanku


“Ada apa Nggrid?”


“Inggrid bilang kan jangan banyak tanya, keadaan bahaya…polisi itu ceroboh!... ayo cepat ikut dengan Inggrid ke tempat yang aman”


Tanpa banyak tanya, aku ikuti Inggrid yang menuju ke arah pintu gerbang yang biasanya dilalui oleh truk yang membawa palet, atau solar.


Kuikuti Inggrid dengan perlahan-lahan, karena di sekitar sini rumputnya  tinggi, aku takut kalau ada ular atau semacamnya..


Sampai di dekat pintu gerbang Inggrid berhenti dan menyuruhku untuk jongkok dan tidak bergerak sama sekali


Disini masih ada sisa dari batang pohon yang belum  sempat diproses. dan diantara batang pohon  ini aku  sembunyi.


“Untuk sementara ini disini aman Tina… karena sebentar lagi bagian rumah dan sekitarnya akan ramai”


“Polisi itu ceroboh dengan membawa paket dus yang beri serbuk itu keluar dari rumah, sementara itu mas Agus ditinggal di kamar belakang”


“Bagaimana dengan mas Agus Nggrid?”


“Kayaknya dia aman, karena Inggrid suruh dia sembunyi di samping lemari, sebuah sisi yang tidak akan dilihat oleh yang akan datang sebentar lagi


“Kamu apa gak kembali ke tempat mas Agus  Nggrid?”


“Iya Tina… yang penting Tina selamat dulu, baru Inggrid akan balik ke tempat mas Agus”


“Nah kamu tetap disini saja Tina… jangan berpindah tempat atau lari… karena diluar keadaannya sama sekali tidak aman, karena sebentar lagi mereka akan tahu bahwa dus yang berisi sedikit serbuk itu sudah tidak ada di tempatnya”


“Sebentar Nggrid… bukannya yang akan mereka ambil itu adalah yang ada di dalam drum yang di samping rumah, kenapa mereka ambil yang dus yang ada di dalam rumah?”


“Menurut yang Inggrid dengar… dus itu digunakan untuk pancingan saja mbak…. dus itu akan diambil dan dibawa pergi dari sini”


“Apabila pada waktu itu ada polisi yang sedang mengintai., maka polisi itu akan mengejar pembawa dus dan seterusnya akan bisa ditebak kan mbak”


“Polisi hanya akan mendapatkan paket dalam jumlah kecil saja”


“Setelah keadaan dirasa aman, karena polisi sudah tidak ada di tempat sini… pagi harinya akan ada truk solar datang kesini untuk mengambil drum yang ada di samping rumah”


“Drum itu sengaja di taruh samping agar nampak jelas bahwa drum itu berisi solar yang akan diambil oleh mobil yang akan datang kesini seperti biasanya apabila mereka akan menjual solar curian!”


“Karena sesuai kebiasaan mereka… mereka akan menaruh drum disamping rumah untuk menunggu truk atau mobil pickup yang akan mengambil drum itu”


“Tadi kok kamu gak cerita seperti ini ketika ada mas Agus dan Pak Hari Nggrid?”


“Inggrid belum bisa percaya begitu saja dengan aparat….”


“Inggrid sekarang mau ke mas Agus dulu… pokoknya kamu jangan berpindah tempat ya TIna…”


TINA POV END


AGUS POV


Aku ada di samping lemari yang dekat dengan pintu kamar.


Di sisi ini memang terlindung dari penglihatan orang  yang akan masuk melalui pintu rahasia, tetapi tentu saja merupakan sasaran empuk untuk orang yang akan datang dari pintu kamar…. dan parahnya pintu belakang rumah belum dikembalikan seperti semula!


Pintu belakang masih dalam keadaan terbuka, dan  menjadi jalan mulus bagi pak Hari untuk keluar dari sini dengan membawa dus yang berisi barang terlarang.


Benar kata Inggrid… di luar ada suara orang yang sedang berjalan mendekati pintu rahasia kamar,


Suara sepasang langkah  kaki yang kemudian berhenti tepat di depan pintu rahasia.


Sebentar lagi orang itu akan masuk dan mencari dus yang seharusnya ada di kolong tempat tidur, dus yang sudah dibawa lari oleh pak Hari tadi.


Aku bisa mendengar suara pintu rahasia yang didorong dengan pelan… kemudian suara orang yang sedang menggeser tubuhnya memasuki pintu itu…


Dan orang itu sekarang ada di dalam kamar bersama aku yang sedang ada di samping lemari!


Aduuuh Inggrid ini lama sekali sih?...


Tadi bilangnya cuman sebentar saja untuk selamatkan mbak Tina… tapi kenapa sampai sekarang dia belum muncul juga!.


Suara nafas orang yang ada di dalam kamar ini kedengaran sangat jelas, karena suasana yang sangat sepi disini….


Jangan sampai suara nafasku juga terdengar oleh orang yang kemungkinan besar sedang akan merunduk untuk melihat kolong tempat tidur.


“Bngsht…aku ditipu!”  gumam orang itu, kemungkinan besar karena di kolong tempat tidur tidak ada paket  yang akan dia ambil


Tidak lama kemudian aku lihat samar samar ada sorot cahaya senter… kelihatanya orang itu sedang mencari paket yang akan dia ambil.


Paket yang seharusnya ada di kolong tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2