RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
117. KEADAAN PAK SOLIKIN


__ADS_3

Setelah beberapa menit menunggu, suster yang tadi menghubungi bagian administrasi untuk menanyakan tentang pak Solikin itu datang menghampiriku.


“Maaf sudah menunggu bu…”


“Memang pak Solikin direncanakan untuk keluar hari ini, tetapi tiba-tiba dokter yang menangani pak Solikin membatalkan”


“Mungkin karena masih ada hasil pemeriksaan yang mengkhawatirkan bu. Ehhmm ini untuk pak solikin ada di kamar nomor 3 bu”


“Baik suster, terima kasih atas infonya, saya coba kesana sekarang sus….”


Aku cepat-cepat menuju ke kamar 3, letak kamar nomor tiga agak jauh dari kamar mas Agus.


Aku penasaran… separah apa sakit yang diderita pak Solikin hingga dia hingga detik ini belum diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.


Tapi ya aku rasa lebih baik tidak meninggalkan rumah sakit dulu, karena keadaan tempat penggergajian saat ini sedang tidak aman.


 Selasar rumah sakit ini sudah mulai sepi, karena jam besuk sudah habis, semoga nanti pak Solikin sudah baikan dan sudah bisa mengingat seperti sedia kala.


“Nah itu kamar nomor tiga…”


“Duh… aku kok deg deg an ya hihihihi”


kubuka pelan pintu kamar nomor tiga yang tertutup…


Aku tidak langsung masuk ke dalam, tetapi kuintip dulu agar aku yakin tidak mengganggu orang yang sedang rawat inap disini.


Aku melangkah masuk perlahan-lahan, kemudian kututup pintu kamar pelan-palan..


Kamar disini berbeda dengan yang ditempati mas Agus…


Kamar ini nampak suram dan kuno, mungkin ini bangunan lama, sedangkan yang ditempati mas Agus itu bangunan baru.


Kamar ini memiliki empat tempat tidur juga, dan semuanya terisi…


Sayangnya aku belum bisa melihat keberadaan ibu Solikin, sedangkan pasien yang tertidur rata-rata menoleh ke  arah kanan, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.


“Mungkin bu Solikin sedan pulang ke rumahnya”


Dan saat ini yang jaga mungkin adalah anaknya atau saudaranya… Kalau begitu harus aku lihat wajah pasienya.


Satu persatu kulihat… ternyata pak Solikin ada di tempat tidur paling ujung dari empat tempat tidur yang penuh disini.


“Assalamualaikum ….”


“Waalaikum salam… eh mbak ini siapa ya?” tanya seorang perempuan yang sedang menjaga pak Solikin


“Nama Saya Tina… eh apa benar pasien  yang rawat inap ini adalah pak Solikin?”


“Iya benar… mbak ini apanya bapak?” tanyanya dengan wajah curiga


“Saya istrinya pak Agus… eh pak Agus adalah yang jaga rumah penggergajian”


“Kebetulan suami saya rawat inap di kamar dua belas akibat tabrak lari”


“Eh maaf bu… eh bu solikin dimana ya?”


“Saya putrinya bapak.. dan ibu saya kebetulan sedang pulang diantar suami saya untuk mengambil pakaian ganti…Nama saya Santi”


“Saya Agustina… tapi panggil saja Tina….”


“Bagaimana keadaan bapak mbak Santi?”


“Hmmm harusnya sekarang ini sudah keluar dari rumah sakit, tetapi setelah pemeriksaan dokter, ternyata belum boleh pulang”


“Tapi bagaimana keadaan visual bapak mbak Santi?”

__ADS_1


“Bapak sudah mulai ingat semuanya, hanya ada yang aneh… kalau dia tidur selalu mengigau”


“Dia selalu bicara ampun… ampun…”


“Kadang dia sebut nama Inggrid juga… saya tidak tau siapa Inggrid itu” kata anak dari pak solikin dengan heran


“Kemudian yang sering dia sebut itu nama-nama seperti Wandi… Burhan… Mamad…... “


“Kata ibu saya.. mereka yang disebutkan itu adalah orang yang dulu ada di rumah penggergajian”


“Kadang sewaktu sedang tidur wajah bapak ketakutan, bapak pasti sedang mimpi mengerikan… dan kemudian dia menyebut jangan sakiti aku… aku tidak mau tau apa yang kalian jual!”


Anak pak solikin kemudian terdiam sejenak, dia kelihatannya sedang berpikir dan mengingat ingat sesuatu yang pernah dikatakan pak Solikin.


Santi diam sambil mengerutkan dahinya, sehingga alisnya yang tebal itu kayak menyatu antara kiri dan kanannya.


“Kok diem mbak Santi, apa yang sedang mbak Santi pikirkan?”


“Saya berusaha mengingat kata-kata yang bapak sebutkan lagi mbak… tapi saya lupa”


“Bapak hanya menyebutkan sekali saja dan kayaknya itu penting… saya tidak mengatakan kepada ibu saya, karena kayaknya berbahaya… tapi saya lupa!”


“Sudah mbak Santi…jangan dipaksakan… nanti kan muncul sendiri”


“Saya ada di sini sampai besok kok mbak, mungkin nanti malam atau sore saya ke sini lagi. Saya mau bertemu dengan bu Solikin mbak”


Setelah berpamitan, aku keluar dari kamar pak Solikin…


Aku berjalan di selasar rumah sakit… tetapi ada yang sedang berpikir untuk kedepan rumah sakit, siapa tau ada lagi yang sedang menunggu mas Agus


Apa lebih baik aku pura-pura beli makan di depan, siapa tau ada orang yang tadi pagi itu..


Ok.. aku sekarang akan keluar ke depan rumah sakit…


*****


Aku berjalan menuju ke luar area rumah sakit… ternyata bakul pecel yang tadi pagi tidak jualan, siang ini yang buka hanya warung-warung yang menjual nasi campur dan bakso saja.


Sebelum aku menyeberang….kuperhatikan dulu di seberang jalan, apa masih ada motor yang kemarin pagi itu atau tidak.


Ternyata pinggir seberang jalan itu sepi….


Tidak ada motor yang terparkir di pinggir jalan.


“Keliatanya aman…”


Setelah kurasa aman… aku menyeberang jalan.. tujuanku salah satu warung yang menjual nasi campur model kayak warteg gitu.


Kuperhatikan satu persatu warung yang ada di depanku, ternyata ada satu warun yang nampak sepi, sedangkan yang lainya ada beberapa pembelinya.


Jadi kuputuskan untuk menuju warung yang sepi saja.. sekalian aku makan disini, agar tidak mengganggu mas Agus.


“Permisi bu…”


“Inggih mbak.. mau makan apa?” tanya penjual


“Ada sayur sop bu?”


“Ada mbak, ngersake (mau ) sop sama lauk apa mbak?”


“Sop dan ayam goreng, terus kasih sambel ya bu… eh minumnya es teh saja”


Suasana siang ini memang panas, akibatnya tidak ada orang yang berdiri atau kendaraan parkir di pinggir jalan.


Rata-rata mereka akan berteduh di warung untuk sekedar minum  atau melakukan  makan siang seperti aku ini.

__ADS_1


“Monggo mbak…” kata penjual makanan sambil memberikan nasi sop dan segelas es teh pesananku


“Mbaknya ini jaga pasien?” tanya penjual nasi


“Inggih bu, suami saya yang sakit, kena tabrak lari di desa”


“Waduh, piye ( gimana) keadaan suami nya mbak?”


“Sudah mendingan bu, sekarang tinggal kepalanya saja yang masih sakit”


Aku agak jengkel juga.. baru juga mau satu suapan tapi diajak ngomong terus sama penjualnya.


Tapi tidak papa, untuk teman ngobrol saja lah…


“Apa suaminya mbak Ini yang kerja di rumah penggergajian?”


Aku terdiam ketika ibu-ibu penjual itu berkata tentang asal mas Agus… kuurungkan suapan sendok..


Aku heran, bagaimana perempuan setengah gemuk ini bisa tau tentang mas Agus.


“Kok Ibu bisa tau?”


“Iya mbak… dari tadi itu ada beberapa orang yang mampir kesini”


“Mereka bicara tentang orang yang terkena tabrak lari…”


“Mereka itu siapa bu kalau saya boleh tau?” aku benar-benar penasaran juga akhirnya


“Waduh kurang tau saya mbak.. pokoknya mereka menunggu hingga orang yang jadi korban tabrak lari itu keluar dari rumah sakit”


“Salah satu orang itu mulutnya lebih panjang daripada hidungnya bu… dan dipanggil Kunyuk?”


“Iya betul mbak… orang yang nggak bisa dibilang ganteng itu yang sedikit sedikit keluar dari sini dan melihat ke arah gerbang rumah sakit”


“Memangnya ada berapa orang bu, kok ibu nyebut dengan kata mereka?”


“Pertama yang datang hanya dua orang mbak… yang jelek itu tadi dan temanya…”


“Tidak lama kemudian ada orang datang lagi.. dia jalan kaki ke sini.. orangnya sudah tua mbak”


“Eh yang datang dan sudah tua itu  dipanggil Yet atau No atau dipanggil dengan nama Wito?”


“Kayaknya Wito mbak.. iya namanya Wito… tapi yang dipanggil Yet atau No itu teman yang satunya. yang datang bersama orang yang tidak bisa dibilang ganteng itu hehehe….”


“Memangnya mbak kenal dengan mereka?”


“Saya tidak kenal bu… yang kenal adalah suami saya… mereka ngobrol apa aja disini?”


“Mereka bilang  kita harus tunggu Agus keluar dari sini… dan terus pantau keberadaanya”


“Kemudian yang jelek itu bilang… Agus satu satunya saksi mata yang berbahaya bagi mereka”


“Kemudian mereka pesan makanan…. tapi yang jelek itu tidak makan mbak, karena katanya barusan makan pecel”


“Setelah mereka makan, mereka bertiga pergi dari sini”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mohon maaf…


Saya tidak bisa update terlalu banyak dan mungkin besok saya tidak bisa update, karena saya sedang perjalanan ke bali.


Ibu saya kemarin maghrib meninggal.


Jadi mohon maaf

__ADS_1


Salam


Mbak Bashi


__ADS_2