
“Jadi sesuai dengan yang diomongkan oleh leluhur bu Tina mbah Sutinah tentang apa yang terjadi disini sudah jelas semua ya. Urusan kita hanya sebatas pada apa yang ada di sini” kata pak Diran
“Dan tadi yang lebih mengerikan adalah lubang dari pagar ghaib yang akibat dari watuadem itu semakin lama semakin besar akibat dari banyaknya aktifitas ghaib yang masuk ke sini”
“Tetapi untuk memperkecil lubang itu akan dilakukan oleh penduduk ghaib disini, dan tugas kita adalah membakar demit-demit yang berkeliaran disini”
“Bu Tina sebagai wakil dari penduduk ghaib disini juga harus melakukan apa yang disuruh mbah Sutinah agar tidak keluar dari area hotel untuk sementara ini, karena kekuatan energi dari bu Tina juga mempengaruhi keadaan disini” kata pak Diran
“Tentang tubuh mayat pak Pangat pak Diran… keliatnya itu adalah tubuh yang pernah memperlihatkan diri di lahan parkir itu pak”
“Iya pak Agus… karena energi yang ada itu sama dengan yang kita lihat di kamar nomor sepuluh” jawab pak Diran
“Tapi pak.. Bagaimana dia bisa masuk ke sini, terus bagaimana dia bisa keluar dari sini semudah itu?”
“Seharusnya dia kan tidak perlu keluar dari sini pak Diran, bisa saja dia sembunyi disini saja pak… karena dia sudah berhasil masuk ke sini kan?”
“Apa mungkin… apa mungkin dia mengikuti energi yang dimiliki bu Tina ketika kita ke kantor polisi?” kata pak Diran dengan nada ragu
“Gak mungkin pak… kalau dia mengikuti energi mbak Tina, seharusnya dia bisa dengan mudah masuk ke sini lagi sekarang”
“Ya sudahlah, kita harus lebih waspada lagi, karena tugas kita untuk melenyapkan demit yang ada di sekitar hotel ini” kata pak Diran
Mbah Sutinah sudah kembali ke asalnya setelah menjelaskan apa saja yang harus kami lakukan disini, karena apa yang kami lakukan disini berkaitan dengan keadaan pagar ghaib disini.
Selain itu, kami juga mempunyai tugas membakar demit-demit nakal yang berkeliaran di sekitar sini akibat dari terbukanya pagar ghaib disini.
Malam masih tersisa lima jam lagi hingga subuh datang, kami masih ada di ruang utama membahas masalah kedatangan tamu istimewa.
Tetapi ketika keadaan sedang tenang, karena kami diam, aku mendengar suara aneh di bagian belakang ruang utama, seperti ada suara orang yang memukul mukul pintu.
“Pak Agus… ada suara pintu atau kayu yang sedang dipukul pukul di bagian belakang… ayo kita ke sana pak Agus” kata pak Diran yang ternyata juga mendengar suara itu
“Eh itu kayaknya suara pintu pak, saya ikut juga pak… gara-gara tadi saya tidak bisa tidur lagi pak” kata mbak Tina
Akhirnya kami bertiga menuju ke bagian belakang hotel, tapi kami tetap berjalan dengan pelan tanpa bersuara. Yang ada hanya suara ngorok dari beberapa tamu yang menginap disini saja.
Dug….dug…dug…
Suara sesuatu yang dihantamkan ke bidang kayu itu masih terdengar, dan berulang ulang terus tidak berhenti. Suara itu kayaknya sesuatu yang dipukulkan dengan keras dan penuh tenaga.
Suara dug dug dug itu berbeda dengan suara mengetuk yang tok tok tok, padahal sama sama dipukulkan ke suatu bidang kayu.
Kalau dug dug dug lebih mirip dengan sesuatu yang besar dan tumpul dipukulkan ke sebuah bidang kayu datar. Sedangkan kalau suara ketukan tok tok tok lebih ke sesuatu yang agak runcing macam tulang jari yang dipukulkan ke bidang kayu datar.
Kami berjalan di halaman belakang sambil terus berusaha mendengarkan suara pukulan yang tidak berhenti sama sekali itu…. Tetapi hingga kami ada di depan kamar nomor lima dan enam, suara pukulan itu masih terdengar begitu jauh meskipun terasa pukulan itu sangat kuat.
Aku mengira pasti ini ada di kamar nomor sepuluh, kamar yang mungkin masih ada arwah dari pak Owo atau masih ada demit-demit haus darah yang masuk ke sana.
Tetapi sehingga kami dekat dengan kamar nomor sepuluh suara dug dug dug itu masih terasa jauh..dan kayaknya bukan dari kamar nomor sepuluh
“Pak Agus… sepertinya bukan berasal dari kamar sepuluh… apa mungkin di arah pinggir sungai?” bisik pak Diran
“Pak Diran, coba lihat itu pintu kamar sepuluh kayaknya terbuka sedikit pak” bisik mbak Tina
“Ayo kita ke pagar yang memisahkan sungai dengan halaman belakang hotel” kata pak Diran sambil agak berlari menuju ke arah belakang dekat dengan sungai.
Ketika kami sudah di pagar halaman belakang yang tertutup… di di pinggir pagar yang letaknya agak jauh di ujung aku lihat ada orang atau sosok yang sedang dalam posisi berlutut.
Yang mengerikan, sosok atau mungkin juga manusia itu sedang menghantamkan jidatnya ke pagar kayu berulang kali hingga berbunyi dug dug dug.
Tanpa dikomando pak Diran lari menghampiri mungkin manusia yang sedang menghantamkan kepalanya atau jidatnya ke pagar hotel berulang kali.
Suara pukulan kepala ke pagar kayu itu begitu keras dan mengerikan…
“Pak Agus.. tolong nyalakan senter dan sinari saya dan orang itu” kata pak Diran
__ADS_1
“Stooop …. Apa yang kamu lakukan disini pak” kata pak Diran setelah dekat dengan posisi orang yang ternyata laki-laki itu.
Tetapi orang itu tidak berhenti menjedot-njedotkan jidatnya di pagar kayu yang sangat kuat, pagar kayu yang memisahkan sungai dengan area hotel itu terlihat merah karena darah yang keluar dari kepala orang itu.
Orang itu tetap dalam posisi berlutut dan terus memukul mukulkan jidatnya ke pagar kayu.
Orang itu bukan orang yang dalam keadaan sadar pastinya, karena jelas sakit sekali memukul mukulkan jidatnya ke pagar kayu.
Pak Diran menarik orang itu ke arah belakang hingga keduanya terjerembab di pasir pantai. Nyala sinar lampu senter menerangi pak Diran dan orang jatuh tersungkur ke belakang itu
Aku yang masih berdiri di sebelah pak Diran dan orang yang terjerembab tentu saja kaget ketika kulihat jidat atau kepala orang itu sudah basah oleh darah.
“Tarik orang ini pak Agus… saya akan sadarkan dulu..sepertinya ada yang merasuki orang ini” kata pak Diran
“Mbak Tina…tolong pegang senter ini… saya akan bantu pak Diran dulu”
Kutahan orang yang sedang dipegang pak Diran, orang itu meronta ronta dan sesekali menggeram seperti suara binatang, tapi pak Diran berusaha memegang kepala orang itu.
Tangan orang yang sedang mengalami kerasukan itu menghantam ke segala arah, sambil teriak dengan suara bernada marah dan kadang suara itu berubah menjadi suara ketakutan dan kadang suara tangisan.
Tenaga orang ini luar biasa..aku yang sendirian ini akhirnya tidak bisa menahan beban dan tenaga orang yang sedang kerasukan.
Dan akhirnya lepas!... orang yang kepalanya berdarah darah itu berlari menuju ke arah hotel
“Bu Tina…hubungi Jiang..suruh dia ke sini sekarang” kata pak Diran yang berlari mengejar orang yang dalam keadaan kerasukan itu
Cara berlarinya aneh… tidak seimbang hingga beberapa kali orang itu terjatuh..
Tapi yang bikin aku bingung bukan cara di lari, tetapi teriakan teriakan orang itu yang mirip suara binatang, dan tentu saja teriakan itu keras dan pasti akan membangunakan tamu yang lain
Akhirnya aku dan pak Diran berhasil menangkap orang laki=laki yang tadi sempat jatuh tersungkur di pasir ketika sedang berlari.
Dari arah halaman hotel muncul Jiang dan dua orang laki-laki tamu hotel yang mungkin keluar dari kamar karena terganggu teriakan orang tadi, mereka berdua tanpa rasa takut menghampiri kami bersama Jiang.
Sekarang empat orang berusaha memegang satu orang yang kerasukan. Masing-masing memegang satu tangan dan satu kaki orang yang kerasukan.
Dengan kekuatannya dia berusaha menepis pegangan keempat orang yang sedang berusaha memegang dengan kuat.
“Pegang dia, saya akan buang demit yang merasuki jiwanya… akan saya bakar juga hingga dia tidak akan menitis ke demit yang berikutnya”
Aku mendengar beberapa pintu kamar hotel terbuka… aku yakin tamu-tamu lain yang ada disini pada penasaran dengan teriakan orang yang sedang kami pegang ini.
Pak Diran memegang kepala orang itu…
Beberapa kali cahaya senter mbak Tina sempat mengenai wajah orang itu, dan mengerikan, bola mata orang itu berubah menjadi putih. Suara orang itu semakin keras ketika pak Diran memegang kepala orang itu dan menekannya.
Beberapa tamu hotel laki-laki mendekati kami yang sedang berusaha menyadarkan orang yang dalam keadaan kesurupan itu.
Sekarang malah ada seorang perempuan yang datang dan menangis.
Untungnya ada mbak Tina, sekarang perempuan itu dalam pelukan mbak Tina, kemungkinan besar perempuan itu adalah orang yang satu kamar dengan laki laki itu.
Pak Diran berusaha keras mengeluarkan keahlianya untuk mengeluarkan iblis yang ada di dalam tubuh laki itu, tapi hingga beberapa saat pak Diran belum juga berhasil.
“KAMU KELUARKAN AKUU HAHAHA, DAN ORANG INI AKAN MATI HAHAHAHA AARRGGHHHHH” teriak laki-laki itu dengan wajah beringas
Tetapi pak Diran tidak peduli dengan omongan orang yang sedang kerasukan itu, dia tetap memegang kepala orang itu dengan keras dan sesekali menekankan jarinya di kepala orang itu.
Orang yang kerasukan itu mengerang kesakitan tapi kemudian dia tertawa keras….. Sangat keras dan mengerikan.
“Kalian berempat siap-siap pegang yang kuat… saya sudah menguasai iblis ini, dan sebentar lagi akan saya keluarkan dan saya bakar” kata pak Diran kepada kami berempat
“Tapi orang ini nanti mati pak” kata salah satu tamu yang memegang bagian tangan kanan
Tapi sayangnya pak Diran tidak memperdulikan peringatan tamu itu… pak Diran tetap memegang kepala orang yang sedang kesurupan, sementara perempuan yang bersama mbak Tina semakin menangis dan membuat suasana makin gak karuan.
__ADS_1
Beberapa tamu hotel yang keluar pun ada yang melarang dan ada yang menyuruh pak Diran agar secepatnya mengambil tindakan atas bapak-bapak yang dalam keadaan kesurupan itu.
Tubuh pak Diran bergetar, suara doa yang dilantukan pak Diran, yang keluar dari mulut pak Diran semakin lama semakin cepat dan keras, hingga pada akhirnya pak Diran seperti sedang memegang sesuatu di atas kepala orang itu
“HAHAHA JANGAN COBA-COBA TARIK AKU KELUAR!, KARENA ARWAH ORANG INI SUDAH AKU KUASAI HAHAHA”teriak orang yang sedang kesurupan itu.
“SAYA SUDAH PERINGATKAN KAMU UNTUK KELUAR BAIK BAIK… KALAU KAMU TETAP BANDEL, MAKA SAYA AKAN BAKAR KAMU!” bentak pak Diran
Suara teriakan bernada marah keluar dari mulut orang yang dalam keadaan kesurupan itu. Tubuhnya meronta ronta semakin kuat, sehingga salah satu orang yang memegang kakinya terjengkang karena terkena tendangan orang itu.
Tapi tidak lama kemudian tamu hotel laki-laki yang tadi hanya menonton ikut membantu memegang anggota tubuh orang yang dalam keadaan kerasukan.
Sekarang sudah ada enam orang yang sedang berusaha memegang tubuh yang terus menerus meronta ronta.
“SEKARANG KELUAR ATAU SAYA BAKAR!” perintah pak Diran
Tidak ada jawaban dari orang yang sedang kesurupan itu, dia terus saja meronta dan berteriak semakin liar dan mengerikan.
Mbak Tina mengajak perempuan tadi menangis itu menjauh dari kami.
Pak Diran tetap menekan kepala orang itu dan kemudian seperti sedang memegang sesuatu dia menarik sesuatu itu dari atas kepala orang itu.
Orang itu meronta dengan gerakan semakin buas dan semakin liar.
Pak Diran tetap berdiri dengan kuda-kuda di kedua kakinya, kedua kakinya seperti seorang karateka yang sedang akan melakukan serangan.
Tangan kanan pak Diran tetap menggenggam dan menarik sesuatu dari atas kepala orang itu, perlahan-lahan terus pak Diran terus menarik sesuatu.
Kini tangan kanan pak Diran sudah sekitar tiga puluh sentimeter di atas kepala orang itu, kemudian tangan kiri pak Diran yang dari tadi hanya dia letakan di atas pahanya itu menepuk genggaman tangan kanan pak Diran dengan sangat keras.
Tepukan tangan pak Diran itu mengakibatkan suara keras menggelegar di sekeliling kami yang memegang orang itu.
Suara keras menggelegar yang hampir sama dengan ketika pak Diran dan pak Hendrik mengeluarkan setan yang ada di dalam tubuh perempuan.
Setelah bunyi ledakan, tiba-tiba muncul bau busuk di sekitar kami berada…. Meskipun hanya sebentar, tetapi bau itu tentu saja mengagetkan kami.
“Orang ini pingsan pak” kata salah satu tamu yang tadi ikut memegang
“Maaf bapak-bapak… saya bisa minta tolong sekali lagi untuk membawa bapak yang pingsan ini ke lobby hotel, agar saya lebih enak dalam menyadarkannya” kata pak Diran
*****
Di lobby hotel setelah bapak bapak yang tadi membantu kami kembali ke kamar masing-masing.
Hanya ada aku, pak Diran, Jiang, mbak Tina, dan perempuan yang ternyata adalah istri dari laki-laki yang tadi kerasukan itu.
Laki-laki yang tadi kerasukan itu sekarang dalam keadaan pingsan, dan kami ditidurkan di lantai ruangan utama dengan kepala disanggah satu buah bantal.
Pak Diran sedang duduk bersila di samping orang yang ternyata bernama Cipto yang berasal dari kota M dan menginap di kamar nomor lima.
Darah segar masih saja keluar dari dahi dan sekitar kepala pak Cipto, meskipun sudah berkali kali dibersihkan.
Bisa jadi dahi atau kepala orang ini retak, karena kita tidak tau sudah berapa lama dia memukulkan dahi dan kepalanya di pagar hotel.
“Bagaimana suami saya pak?” tanya perempuan yang ada di sebelah mbak Tina
“Setan yang tadi itu sangat kuat bu, tapi sudah saya bakar bu… hanya saja bagian dahi dan kepala bapak ini yang sangat mengkhawatirkan… lebih baik dibawa ke rumah sakit saja” kata pak Diran
“Ayo tolong saya untuk bawa suami saya ke rumah sakit pak” kata perempuan itu kemudian menangis lagi
“Bagaimana pak Agus.. apa pak Agus bisa bisa antar?” tanya pak Diran
“Pak Diran, lebih baik Tina telponkan ambulance saja, karena takutnya ada apa-apa dengan kepalanya dan perlu penanganan khusus pak” kata mbak Tina
“Eh telepon dokter Joko saja mbak Tina”
__ADS_1
“Iya mas… sebentar akan Tina telponkan dokter Joko”