RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
126. NEKAT


__ADS_3

“Permisi suster…. “ Aku sudah ada di depan ruang administrasi… mumpung keadaan sudah sepi


“Iya bu… ada yang bisa kami bantu?” tanya suster yang raut wajahnya bikin iri aku aja!


“Begini sus… saya kerabat dari bapak Solikin yang ada di kamar nomor tiga.. Kabarnya pak Solikin belum bisa pulang dan harus menambah rawat inap disini?”


“Sebentar saya cek dulu bu….”


Suster itu kemudian melihat buku besar yang ada di depannya, kemudian dia masuk ke dalam… kelihatannya dia sedang mengecek file nya pak Solikin.


Tidak lama kemudian dia keluar dari ruangan dalam dengan membawa map yang berisi file milik pak Solikin.


“Benar bu…berdasarkan diagnosa dokter yang menangani pak Solikin memang belum diperbolehkan untuk pulang, dikarenakan masih adanya gejala gegar otak ringan yang dialami pak Solikin”


“Oh begitu ya sus… begini sus…terus terang kami keberatan dengan biaya rawat inap disini, makanya saya kesini untuk menanyakan.. apakah ada kemungkinan untuk bisa keluar dari sini tanpa menambah waktu rawat inap”


“Hmmm itu tergantung dari  dokter yang menangani pak Solikin, kami disini juga bekerja atas dasar informasi dari dokter yang bersangkutan”


“Begini sus.. apakah mungkin apabila kita meminta keringanan biaya dari rumah sakit ini?”


“Bisa bu… tapi pengurusanya ya harus dari awal ketika masuk ke sini, dan dengan menggunakan surat pengantar dari RT RW dan kelurahan”


“Kalau sekarang tidak bisa mengajukan surat keringanan biaya bu”


“Tapi sebentar bu…… hhmmm untuk biaya rawat inap pak Solikin ini sebenarnya sudah tidak perlu dipikirkan keluarganya lagi”


“Maksudnya bagaimana sus?”


“Jadi begini bu… ada seseorang yang yang sudah melakukan deposit untuk semua biaya yang dikenakan untuk pengobatan dan rawat inap pak Solikin


“Deposit…? maksudnya gimana sih sus…saya kok bingung?”


“Hmm sebentar… saya tanya ke bagian keuangan dulu bu…”


Suster yang penampilanya cantik itu kemudian menelepon bagian keuangan…


Aneh juga… kenapa ada orang yang melakukan deposit untuk pembayaran rawat inap dan pengobatan pak Solikin?


Kok sepertinya pak Solikin ini adalah seorang yang penting, sehingga ada orang yang tidak menginginkan pak solikin keluar dari rumah sakit ini.


Sepertinya ada yang melindungi pak Solikin…


Sebenarnya siapa dan apa yang dilakukan pak Solikin, sehingga ada orang yang membackup di belakangnya…


“Maaf bu.. agak lama menunggu ya…”


“jadi kemarin ada orang yang datang kesini, dan menaruh deposit yang cukup besar untuk seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan dan rawat inap pak Solikin”


“Jadi ibu dan keluarga tidak perlu pusing memikirkan biaya yang dibebankan rumah sakit” kata suster itu dengan tersenyum


“Maaf bu.. orang tersebut tidak meninggalkan nama sama sekali, kata bagian keuangan dia datang dan memberikan dana yang besar untuk digunakan pembayaran rawat inap dan dokter”


“Ya sudah sus… terimakasih banyak atas informasinya, akan saya beritahu ke keluarga saya agar mereka tidak usah khawatir tentang biaya rumah sakit ini”


Semakin kesini semakin aneh dengan pak Solikin…


Ada yang mencari pak Solikin, tetapi ada juga yang melindungi pak Solikin, hingga dia tidak diperbolehkan keluar dari rumah sakit ini.


Sebegitu penting nya pak Solikin ini sehingga ada orang yang memberikan deposit disini untuk tetap ada dirumah sakit ini.


Aku rasa untuk mengetahui semua ini, aku dan mas Agus harus ada di rumah penggergajian dan juga kami harus ke rumah pak Solikin.


Siapa tau di rumah dia ada bukti yang tercecer…entah bukti apa.. yang penting sesuatu yang tidak biasanya ada di sebuah rumah pedesaan.


*****


“Waduh… kamu kok nekat gitu sih mbak Tina…”


“Tina kan tetap penasaran mas.. tapi akhirnya Tina bisa dapat informasi yang sangat berguna kan mas”


“Kayaknya kita harus menjauhi pak Solikin mbak”


“Jangan mas.. justru sebaliknya, kita harus dekati dia, dan menjadi orang kepercayaan pak Solikin”


“Tapi satu hal yang Tina ingin lakukan mas… Tina kepingin ke rumah penggergajian dan rumah pak Solikin”

__ADS_1


“Karena menurut perasaan Tina, disana kemungkinan ada barang bukti yang tercecer dan bisa kita gunakan untuk menyimpulkan sesuatu”


“Ah mbak Tina ini bikin pusing kepala saya saja mbak… saya saja berusaha menghindari rumah penggergajian, kok malah mbak Tina kepingin kesana”


“Mas AGus salah… justru disana itu adalah tempat paling aman. apalagi di rumah penggergajian.. disana itu tempat paling aman untuk bersembunyi”


“Mereka tidak akan mengira kita bersembunyi di sana dan berusaha melihat isi paket yang dimasukan ke kamar Burhan lewat pintu rahasia itu”


“Iya benar mbak tina, tapi kita harus lapor ke pak Jo dulu.. karena dia kan sekarang juga sedang mengikuti cerita kita tentang kasus aneh ini”


“Ya mas… Tina rasa kita tetap harus memberitahu pak Paijo.., tapi bagaimana kita bisa kontak pak Jo mas?”


“Cari dokter Joko dulu mbak….”


“Duuuuh, coba kalau tangan saya tidak ada jarum infusnya… saya sudah jalan kemana mana mbak”


“itu cairan infusnya sudah habis mas…. mungkin hari ini mas Agus udah gak diinfus lagi, wong udah sehat kok maunya diinfus terus”


“Tina mau lapor ke suster dulu kalau infusnya udah habis, takutnya darahnya mas Agus naik ke slang infus kalau jarumnya tidak dicopot atau cairan infusnya tidak diganti dengan yang baru”


“Kayaknya kita harus keluar dari rumah sakit ini mbak Tina, saya kok merasa kita disini itu tidak boleh beraktivitas sama sekali.. alias kita dikurung dan tidak boleh kemana mana”


“Itu juga yang tadi Tina pikir mas… tapi melihat keadaan yang seperti ini, diluar sana ada Mamad dan Wandi, kayaknya mas Agus ada di sini itu cukup aman”


“Gini saja mas…. Tina mau cari suster dulu, mau bilang kalau cairan infusnya mas Agus sudah habis. Mas AGus tunggu saja disini dulu”


Aku keluar menuju ke tempat suster jaga… pagi menjelang siang hari ini suasana rumah sakit lumayan ramai seperti biasanya.


Dengan ramainya orang seperti ini sebenarnya cukup bahaya juga, takutnya ada orang yang menyusup ke dalam dan melakukan tindak kejahatan kepada mas Agus.


Baru juga aku melangkah dan melewati kamar nomor delapan….dari kejauhan aku melihat sosok orang yang pernah aku kenal sebelumnya….


“Wandi!.... apa yang dia lakukan di rumah sakit ini!”


Dari kejauhan aku lihat pak Wandi sedang jalan di kerumunan orang, dia berjalan pelan dan akan masuk ke kamar nomor dua, sebelum kamar yang ditempati pak Solikin.


Untungnya aku masih memakai jaket parasut dan topi yang lumayan bisa menyamarkan tubuhku…


Wandi sedang berjalan dengan orang yang berperawakn tinggi besar dan berkulit hitam.


Aku kembali ke kamar mas Agus dengan agak berlari…


Wandi dan mungkin satunya orang yang namanya Mamad, mereka pasti sedang mencari keberadaan mas Agus…


Sebentar lagi Wandi akan  bertemu dengan pak Solikin apabila mereka berdua masuk ke ke kamar nomor tiga.


“Mas… sebaiknya mas Agus pergi dari sini sekarang….!”


“Ada Wandi bersama orang yang kemungkinan besar bernama Mamad, mereka sekarang sudah ada di depan kamar nomor dua”


“Waduh… saya tidak bisa keluar dari sini mbak…. gimana kalau saya sembunyi di dalam kamar mandi saja?”


“Ya sudah mas…. dari pada keluar dari kamar ini dan bertemu dengan mereka, lebih baik sembunyi di dalam kamar mandi saja mas”


“Nanti Tina akan tunggu di tempat yang aman mas, setelah mereka berdua pergi, nanti Tina akan kasih kode ke mas Agus”


Kubantu mas Agus masuk ke dalam kamar mandi dengan cara aku bawa tiang botol infus ke dalam kamar mandi juga.


Setelah semuanya beres.. kemudian aku berjalan pelan keluar kamar sambil menunduk, agar wajahku tidak nampak oleh Wandi dan Mamad.


ketika aku menoleh ke arah kiri… ternyata tidak ada Wandi dan Mamad…


“Pasti mereka ada di kamar nomor Tiga”


Aku berjalan keluar menuju ke bangku yang ada di depan kamar sepuluh..


Untuk saat ini kamar sepuluh sedang ramai oleh orang yang sedang besuk, sehingga aku bisa sembunyi di antara pengunjung kamar sepuluh.


Ternyata benar yang kupikirkan.. dua orang itu keluar dari kamar nomor tiga… kemudian mereka berdua berjalan cepat menuju ke arahku.


Keliatnya mereka berdua sudah tau dimana kamar mas Agus berada….


Aku menyesal sudah memberi tahu keluarga pak Solikin dimana kamar mas Agus menjalani rawat inap disini.


Dari posisiku di kamar sepuluh… diantara orang-orang yang sedang bergerombol, aku bisa lihat Wandi dan orang yang kemungkinan adalah Mamad itu sekarang sudah ada di depan kamar nomor enam…

__ADS_1


Aku segera masuk bersama rombongan pembesuk yang ada di kamar sepuluh…


Aku tidak mau mengambil resiko dengan menampakan diriku di selasar rumah sakit… lebih baik aku tidak menampakan diri dulu hingga mereka berdua pergi dari sini.


Setelah aku ada di dalam kamar nomor sepuluh bersama rombongan pembesuk, aku coba untuk mengintip melalui pintu kamar sepuluh yang keadaanya terbuka.


Ternyata Wandi dan Mamad sekarang sudah ada di depan kamar Sebelas… sebentar lagi mereka akan tiba di kamar nomor dua belas tempat mas Agus berada.


Apa yang harus kulakukan dengan keadaan seperti ini… apakah aku harus berteriak untuk mengalihkan perhatian atau gimana?


Jangan… ini  rumah sakit, jangan sampai bikin keributan disini…lebih baik minta bantuan satpam saja…


Tapi kan posisi satpam jauh di depan saja, Jadi untuk saat ini aku yang harus bertindak sendiri apabila kedua orang itu menemukan mas Agus yang ada di dalam kamar mandi.


“Lebih baik aku keluar dari kamar sepuluh ini dan melakukan pengintaian sambil duduk di bangku depan kamar”


Aku keluar dari kamar, dan ternyata Wandi dan Mamad sudah ada di depan kamar dua belas, mereka sedang mengintip di jendela kamar.


Untungnya ada seorang suster yang ada di depan kamar sebelas.. suster itu melihat ke arah dua orang yang sedang mengintip di jendela kamar dua belas.


Kemudian suster itu mendekati dua orang yang sedang mengintip di jendela kamar mas Agus.


Aku tidak tau apa yang mereka sedang bicarakan, tapi yang pasti suster itu membuka pintu kamar dua belas, kemudian melongok ke arah dalam.


Setelah itu menutup kembali.


Kemudian mereka bertiga terlibat percakapan lagi..,. tangan suster itu menunjuk ke arah awal dari dari selasar, kemungkinan besar suster itu menunjuk ke ruangan administrasi atau ke ruangan suster jaga.


Mungkin suster itu menyuruh mereka berdua untuk menanyakan ke ruang jaga atau ke ruangan administrasi untuk menanyakan perihal mas Agus.


Dan ternyata benar… setelah mereka bertiga terlibat percakapan. Wandi dan Mamad kemudian melangkah cepat menuju ke arahku… atau lebih tepatnya menuju ke arah ruangan yang tadi ditunjuk oleh suster itu.


Mereka sudah melewatiku… aku tunggu hingga dua orang itu agak jauh, baru kemudian aku masuk ke kamar dua belas.


“Mas…saya Tina…buka pintunya dulu mas” sambil kuketuk pintu kamar mandi tempat mas Agus berada.


“Gimana mbak.. apa mereka sudah pergi”


“Jangan tanya dulu mas.. sekarang mas Agus harus keluar dari sini, karena dua orang itu keliatnya menuju ke tempat jaga para perawat, mungkin sedang menanyakan dimana mas Agus berada”


“Sebentar lagi mereka juga akan  kesini juga”


“Lalu apa yang harus kita perbuat mbak?”


“Tina ada rencana untuk memindahkan mas Agus ke kamar nomor sepuluh, disana ada satu tempat tidur yang kosong… ayo sekarang kita bergerak mas!”


Setelah kubereskan tas ransel dan tas mas Agus secara cepat… kemudian kubantu mas Agus keluar dari kamar dua belas.


Dengan tertatih tatih karena membawa tiang infus..aku dan mas Agus menuju ke kamar nomor sepuluh yang jaraknya mungkin hanya sekitar lebih dari sepuluh meter.


Aku berani keluar dari kamar dua belas setelah semuanya kurasa aman…


Dan syukurlah kami berhasil masuk ke dalam kamar nomor dua belas. disini memang ada satu tempat tidur yang masih terlihat rapi.. karena belum ada yang menempati.


“Mas… disini saja dulu, Tina mau ke depan dulu.. karena pastinya dua orang yang sedang mencari mas Agus itu akan kesini lagi”


Ternyata benar juga.. tidak lama kemudian Wandi dan temannya yang hitam dan besar itu datang lagi.. mereka jalan dengan tergesa gesa sehingga tidak memperhatikan aku yang sedang duduk di bangku depan kamar sepuluh.


Tanpa sungkan, sungkan mereka berdua membuka pintu kamar dua belas, kemudian masuk ke dalamnya.


Hanya sebentar tidak lebih dari lima menit mereka keluar lagi, kemudian berjalan dengan terburu buru…


“Mereka pasti sudah keluar dari sini pak Wandi!” kata orang yang tinggi hitam


“Tidak Mungkin Mad… tadi kata suster mereka belum menyelesaikan administrasi, dan masih dalam perawatan, tidak mungkin mereka bisa keluar dari sini!” jawab Wandi


Mereka berdua melewati aku….mungkin mereka akan menuju ke ruang jaga suster lagi…


Untuk sementara ini mas Agus bisa selamat… tapi aku harus pikirkan lagi apa yang harus dilakukan setelah ini.


Karena Wandi bukan orang bodoh, dia pasti akan mengajak seorang suster kesini untuk melihat keadaan kamar nomor dua belas.


Dan setelah itu kemungkinan besar suster akan melakukan pencarian di sekitar kamar-kamar di ruang rawat inap ini.


Aku harus mencari akal.. agar aku dan mas Agus bisa lolos dari Wandi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2