
Aku dalam perjalanan dari rumah Tina menuju ke desa sebelah sungai, sebenarnya desa itu punya nama, tetapi aku selalu lupa untuk menanyakan apa nama desa itu.
Lebih enak aku menyebutnya sebagai desa sebelah sungai saja, lebih mudah diingat kayaknya.
Perjalan pagi ini ke desa sebelah sungai melalui jalur utama memang lumayan jauh, sudah hampir dua puluh menit aku belum menemukan jembatan besi yang dikatakan Tina.
Tapi ndak papa paling tidak aku kepingin tau penjelasan pak Solikin dengan tanpa ada Burhan bersamaku.
Bisa saja pak Solikin sungkan untuk cerita kepada aku karena selalu ada Burhan di rumah penggergajian.
Semakin jauh dari desa Tina sekarang di samping kiriku mulai muncul sungai, dan kemungkinan besar sungai ini adalah yang melewati bagian belakang rumah penggergajian.
Kulihat jam tangan ku ternyata aku sudah jalan sekitar tiga puluh menit heheheh….cukup lama dan jauh juga.
Tapi di kejauhan sudah mulai terlihat sebuah jembatan kuno yang terbuat dari besi yang sebagian besinya sudah berkarat
“Jadi ini yang disebut dengan jembatan besi, heheheh karena sebagian besar bahanya terbuat dari besi”
“Dan kemungkinan besar jembatan ini sudah ada pada zaman penjajahan Belanda”
Ku belokan motor untuk melintasi jembatan yang aspal jalan nya sudah banyak yang terkelupas. Perlahan lahan akhirnya aku bisa sampai di ujung jembatan.
Waduuh apa jalan ini masih jauh ya, karena di depanku sekarang adalah jalan lurus yang di kanan kiri adalah persawahan yang masih hijau.
Setelah persawahan di kejauhan ada pohon-pohon yang rimbun, kemungkinan besar desa itu ada disana, ada di pohon-pohon yang rimbun di kejauhan itu.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, kini di kiri kananku sudah ada pohon-pohon yang rindang.
Tidak jauh kemudian di sebelah kiri ada gapura yang tidak terlalu besar dengan cat yang sudah terkelupas.
“Nah ini baru desa yang kumaksud”
Terus terang aku bingung juga dengan jalan desa melalui depan desa, karena beberapa kali aku masuk ke desa ini dari jalan belakang kan.
Pelan pelan kutelusuri jalan desa gang demi gang, sampai aku bertemu dengan ibu-ibu yang sedang jalan.
“Permisi bu, saya mau tanya alamat pak Solikin”
“Oh pak Solikin, masnya lurus saja hingga ketemu perempatan, nanti belok kanan, setelah ada warung kelontong lurus saja dan belok kanan lagi”
“Empat rumah dari sana itu rumah pak Solikin”
Kujalankan motor setelah kuucapkan terima kasih kepada ibu yang kelihatannya sedang akan belanja itu.
Nah kalau jalan yang tadi dijelaskan ibu itu aku tahu hehehe, itu kan memang melewati rumah bu Tugiyem dan anaknya yang bernama Anik.
Mudah-mudahan bu Tugiyem dan Anik tidak ada di depan rumah, jadi aku tidak perlu mampir dan berbasa basi dengan mereka.
Kalau dari sini aku sudah tau dimana rumah pak Solikin, karena beberapa kali aku lewat sini untuk mampir ke rumah pak Solikin dan bu Tugiyem.
Kulewati rumah bu Tugiyem yang ternyata masih sepi, bahkan toko kelontongnya pun belum buka. tidak jauh dari sana aku pun sampai di rumah pak Solikin
Tapi apa dia sudah masuk kerja, apakah dia sudah sembuh, ah lebih baik kulihat saja di rumahnya.
Kalau memang dia sudah sembuh, aku bisa bicara dengan istrinya saja tentang apa sakitnya dia, kalau dia masih ada di rumahnya aku bisa bebas tanya tentang Yetno saudara bakul pecel.
“Assalamualaikum……Assalamualaikum…..”
“Waalaikum salam….”
__ADS_1
Nah yang jawab bukan suara laki-laki, itu pasti istri pak Solikin. Berarti dia sudah ada di rumah penggergajian untuk bekerja. Berarti bisa jadi dia sudah sembuh dari sakitnya.
“Oh ada pak Agus….”
“Lho bukannya suami saya sudah ada di penggergajian pak?”
“Oh maaf bu , saya dari kemarin soalnya ndak kesana, karena saya baru datang dari kota”
“Hmmm kalau boleh saya mau tanya tentang sakitnya pak Solikin bu, apakah beliau sudah sehat?”
Perempuan tua itu hanya menghela nafas , kemudian diam di ambang pintu rumahnya.
Ada perubahan yang mencolok dari wajahnya ketika kutanya tentang kesehatan pak Solikin suaminya.
“Sebenarnya bapak belum sembuh, hanya saja kemarin kernet truk yang namanya Burhan itu datang kesini”
“Saya tidak tau apa yang dia katakan kepada suami saya, yang pasti suami saya hari ini bekerja seperti biasanya”
“Yah mungkin Burhan juga tidak mau kalau kerjaan ini terbengkalai hingga dua hari bu, karena bos kami itu kan keras juga orangnya”
“Eh maaf bu, sebenarnya pak Solikin sakit apa bu?”
“Saya juga ndak tau pak, yang pasti kemarin pagi suami saya tidak bisa bangun dari tidurnya, punggung dan dadanya terasa sakit sekali sehingga dia harus seharian berbaring”
“Memangnya apa yang dilakukan pak Solikin sampai punggung dan dadanya sakit bu?”
“Saya tidak tau pak, sebelumnya dia malam-malam memang keluar rumah, katanya pamit mau mancing. Karena sudah kebiasaan suami saya itu kalau tidak bisa tidur selalu pamit untuk mancing”
“Biasanya dia berapa hari sekali mancingnya?”
“Jarang kok pak Agus, tapi akhir-akhir ini semenjak pak Karyo meninggal, suami saya kalau malam sering keluar untuk mancing”
“Wah pasti dapat ikan banyak ya bu, karena di desa saya, orang-orang kalau mancing ya tengah malam gitu”
“Oh gitu. terus gimana cerita tentang suami itu tadi?”
“Kemudian waktu pulang tubuh dia lemas banyak keringat dingin…. badan gemetar dan mengeluh dada dan punggungnya sakit”
“Setelah saya beri teh hangat, kemudian dia tidur, hingga paginya pak Agus dan Burhan kesini itu”
Kejadian dia pergi memancing bersamaan dengan ketika aku aku mimpi buruk… tapi apakah ada hubunganya dengan mimpiku? dan apakah ada hubunganya dengan pocong yang menyerangku?
Aku yakin pak Solikin tidak pergi untuk memancing, dia pasti sedang melakukan sesuatu…..
Tapi apakah semua ini adalah kelakuan dari Solikin, aku kok ragu ya rasanya….
Tapi apabila benar, apakah niat jahat Solikin ini diketahui oleh Burhan?
Semua masih membingungkan, karena kata pak Pangat, bahwa ada tiga orang yang berbuat jahat, dan ada satu orang yang berusaha mencegahnya.
“Tapi pagi ini bagaimana keadaan bapak bu?”
“Yah katanya tubuhnya masih lemas, dan dia masih mengeluh dadanya sakit, cuma tadi malam setelah bicara dengan Burhan, paginya bapak berangkat kerja juga”
“Ya sudah… kalau gitu saya pamit dulu bu, saya akan ke penggergajian bu”
Kujalankan motor kembali ke arah desa Tina, karena sayangnya jembatan bambu yang menghubungkan desa ini dengan rumah penggergajian tidak bisa dilalui oleh motor.
Wah… aku harus melewati rumah bu Tugiyem lagi…. bisa gawat kalau sampai di depan rumah ada beliau.
__ADS_1
Motor kujalankan perlahan lahan…
Terus…dan terus … hingga di depanku sudah terlihat toko kelontong bu Tugiyem yang sudah buka.
Pelan-pelan aku mulai lewat di depan toko bu Tugiyem, tiba-tiba, njemunuk, mak bedunduk, mak jegagik, mak kluwer, mak sliwer,....
“Mas Aguuuuuus……”
Anik yang ada di depan toko memanggilku dengan keras!
“Eh halo dik Anik… hehehe, saya baru mau mampir kok kalah cepat sama panggilanya dik Anik”
“Hihihi bisa aja mas Agus ini. Ehmm mau ketemu sama ibu ya?”
“B..boleh… dimana ibu dik, tolong panggilkan”
Juangkreeek… malah nyangsang nang kene rek. huuuff. yo wis lah pokoke ada bahan pembicaraan untuk ibu Tugiyem hihihihi.
Nanti aku coba tanya tentang Yetno, atau bisa saja aku tanya tentang Solikin, Mamad, Burhan dan Purwandi.
Anik berlari kecil ke dalam rumah, Sepagi ini Anik sudah berpakaian rapi dan nampak cantik….
Waduh… apa yang akan kukatakan kepada bu Tugiyem kalau dia melihatku dalam keadaan kurang tidur dan kumus-kumus ini.
Hmmm lebih baik kukatakan bahwa aku sedang antri di rumah pak Pangat saja setelah aku dari rumah sakit untuk kontrol lukaku tadi malam.
“Waaah ada nak Agus…. dari mana pagi-pagi gini nak?”
“Selamat pagi bu Tugiyem… Saya dari rumah pak Solikin bu. Tapi sebelumnya saya saya dari rumah sakit untuk kontrol luka saya, kemudian saya ke pak Pangat juga”
“Hmmm pak Pangat orang pintar dari desa N itu?”
“Desa N itu mana bu hehehe, saya lho ndak tau nama desa-desa disini”
“Nak Agus ini ada ada saja, desa N itu ya desa setelah hutan itu lho nak”
“Ayo kita masuk dulu, ngobrol di dalam saja nak…..”
Aku masuk ke rumah bu Tugiyem bersama Anik dan ibunya…..
Setelah dipersilahkan duduk, Anik menuju ke dalam karena disuruh ibunya untuk membuatkan aku teh hangat.
“Saya tau yang namanya pak Pangat itu nak, dia terkenal di daerah sini dan luar kota juga”
“Eh apakah ini ada hubunganya dengan luka akibat pocong itu?”
“Iya bu, bahkan tidak itu juga, saya sempat mimpi mengerikan juga”
Kuceritakan kepada bu Tugiyem mimpi yang sempat mendatangiku akhir-akhir ini….
Termasuk apa yang dikatakan pak Pangat, tapi tentu saja tentang Tina jelas kusembunyikan dari bu Tugiyem hehehe.
“Hmmm apa yang disebutkan pak pangat itu kemungkinan benar nak….”
“Saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan waktu ada pak Wandi, Mamad, Solikin, dan Burhan yang hanya sekali-kali datang itu”
“Tapi jelas saya tidak mau berburuk sangka dulu nak…”
“Oh iya nak, saya baru ingat……”
__ADS_1
“Ada satu lagi orang yang hanya sempat kerja disana selama tiga hari saja… Namanya Yetno”
“Orang itu kasihan karena sering dimarahi oleh pak Wandi, bahkan Burhan pun tidak suka dengan Yetno, mungkin karena dia ceroboh”