
Ternyata benar dugaanku… orang itu Solikin….
Solikin menyuruh sopir mobil atau kenek yang bernama Mahmud untuk memuat Drum yang sudah siap di pinggir rumah.
Sik.. tadi aku baru ingat.. kalau gak salah kamera saku ini ada mode perekam videonya.. apa aku coba dulu untuk memvideo Solikin yang sedang bicara dengan supir mobil itu.
Setelah beberapa kali aku coba sebentar…
Hmm ternyata bisa untuk merekam… tapi hasilnya tidak seterang mode untuk memfoto… tapi nggak papa, mungkin nanti kalau dibutuhkan aku bisa memvideo kejadian yang ada disini
“Sekarang dimuat saja pak Mud” kata pak Solikin di sebelah mobil yang diparkir
“Apa nanti saya kirim ke tempat biasanya pak Solikin?” tanya supir yang bernama Mahmud itu
“Iyaaaaa.. ke tempat biasanya pak…ojo kuatir nanti tak tambahin ongkos buat sampean sama kenek hehehe” kata Solikin.
“Ini isinya penuh koyok biasane pak?”
“Iya pak Mahmud.. nek isine separuh.. aku yang rugi pak hehehe” jawab Solikin
“Yo wis pak Solikin… Dam Idam.. ayo turunkan papan buat menaikan drum…” perintah pak Mahmud
Dua bilah papan pajang diturunkan kenek mobil yang bernama Idam…
Papan yang panjangnya sepanjang bak pickup itu ditaruh sejajar, ujungnya ada bak mobil dan ujung lainnya di tanah, papan itu sejajar tidak berdempetan, mungkin dibatasi sekitar tiga puluh centimeter an.
Dua bilah papan itu digunakan untuk menaikan drum yang biasanya beratnya sampai 200 kg. dengan cara didorong, digelindingkan naik ke bak mobil menggunakan papan sebagai jalan naiknya.
Setelah dua bilah papan itu sudah terpasang, Idam dan Mahmud mulai menggeser drum yang sangat berat tu mendekati papan yang sudah mereka siapkan sebelumnya….
“HOEEEEGHH… HOEEGHHH… UUGH BAU APA INI!” teriak Mahmud tiba-tiba
“Janc****K hoeeeghhh.. uughh..\, bau sekali pak” sambung kenek mobil
“Aarrghhh drum ini isinya tai ya pak!” teriak Mahmud
“Ngawur ae… itu solar seperti biasanya!” jawab Solikin yang kelihatannya sedang menutup hidung sambil menahan bau
“Cepat kalian berdua naikan barang itu dan segera pergi dari ini…. juangkreeeek! perut saya mual mual!” teriak Solikin sambil menutup hidungnya
Memang bau yang berasal dari mas Agus itu sangat busuk, tadi aja aku juga hampir muntah ketika mas Agus entah dimana posisinya.
“Cepat naikan sekarang juga!” perintah Solikin kemudian lari menjauh dari posisi mobil…
“Hoeeekkk… hoeeeekkkk sialan.. bau apa ini!” teriak suara Solikin dari kejauhan.. keliatannya solikin sedang muntah-muntah
Kini Mahmud dan Idam menaikan drum solar yang sangat berat itu dengan tergesa gesa, sambil menahan bau yang busuk.
Kelihatannya mereka berdua sedang menahan muntah yang sewaktu waktu bisa saja keluar dari perutnya..
Aku yang awalnya ketakutan sekarang malah tersenyum melihat mereka yang berusaha mendorong drum yang sangat berat itu naik ke dua bilah papan.
Untungnya angin sepoi-sepoi disini berhembus dari dalam hutan atau dari belakangku menuju ke arah sungai, sehingga bau dari mas Agus tidak sampai mengganggu pernafasanku.
Dua orang itu dengan susah payah mendorong drum itu naik ke atas bak mobil…
Ketika drum itu sudah hampir dekat dengan bak mobil, tiba-tiba Inggrid muncul di sebelah papan kayu yang digunakan untuk memindahkan drum dari tanah menuju ke bak mobil.
Kedua orang itu dengan sangat kepayahan berusaha mendorong drum itu untuk masuk ke dalam bak mobil. mereka berdua tidak memperhatikan salah satu papan yang bagian sisinya sedang dikerjai oleh Inggrid.
Mungkin ini yang Inggrid pernah omongin kepadaku tentang keahlian yang dia pelajari disini, keahlian memotong kayu dengan energi yang dia miliki.
Entah apa yang dilakukan Inggrid, pokoknya dia memegang papan kayu yang semakin lama keliatanya semakin miring dan akhirnya…
__ADS_1
KRAAAAK…. BRAAAK!...
Drum itu jatuh karena salah satu papan kayunya putus…
Solikin yang tadi agak jauh dari posisi drum itu lari mendekati drum yang tergeletak di belakang mobil.
“HEIII APA YANG KALIAN LAKUKAN.. LIHAT DRUM ITU PECAH!” teriak Solikin
Ini adalah waktu yang tepat untuk mengabadikan mereka yang ada disana.. aku akan merunduk dan sesekali tengkurap agar bisa lebih dekat dengan objek.
Drum itu pecah yang artinya isi dari drum itu pasti berceceran di tanah…
Aku gunakan fasilitas zoom yang ada di kamera untuk mengambil gambar yang ada di depanku…
Untungnya mereka semua sedang sibuk dengan drum yang pecah, sehingga mereka tidak memperhatikan aku yang tidak jauh dari posisi disana.
“HEEEEH APA ISI DRUM ITU PAK SOLIKIN.. KENAPA ADA SERBUK PUTIH BERCECERAN CAMPUR DENGAN OLI!” teriak pak Mahmud
“APA YANG KAMU LAKUKAN INI SOLIKIN” teriak Mahmud lagi…
“DIAM.. CEPAT BANTU SAYA MEMBERESI INI!” teriak Solikin
“TIDAK.. KAMI HARUS PERGI DARI SINI, SAYA TIDAK TAU APA YANG KAMU KIRIM ITU, TAPI SEPERTINYA ITU BARANG BERBAHAYA…. AYO DAN CEPAT KITA PERGI DARI SINI DAM!” teriak pak Mahmud
Aku sedang sibuk mengambil gambar apa yang ada di tanah dan rumput , dan untungnya ada celah yang bisa aku gunakan untuk mengambil gambar..
Sesekali aku gunakan mode video untuk merekam kegiatan mereka yang sedang sibuk dengan drum yang pecah itu.
Sekarang posisiku tengkurap dengan jarak yang sangat dekat. mungkin sekitar kurang dari lima meter saja.,
Dengan menggunakan kamera ini aku bisa lihat ada semacam benda putih yang terbungkus rapi dalam plastik, dan plastik pembungkusnya saat ini dalam keadaan pecah, sehingga isi plastik itu berhamburan campur dengan oli.
“DIAM MAHMUD.. ATAU SAYA TEMBAK KAMU…” ancam pak Solikin sambil mengeluarkan senjata api dari balik jaketnya
Aku tentu saja kaget dan takut.. Solikin ternyata memiliki senjata api…!
Aku tidak tau dimana keberadaan mas Agus, semoga dia sekarang sudah diselamatkan Inggrid.
Ketika aku dalam keadaan ketakutan, dari jauh aku mendengar langkah kaki yang berjalan cepat menuju ke truk yang ada di sini.
Aku harus terus memfoto atau merekam mereka yang ada di depanku!...
Seseorang datang dengan berlari menuju ke arah mobil… siapa orang itu aku belum bisa melihat…
Tapi aku harus tetap mengambil gambar dan merekam apa yang ada di depanku!..
“DIAM DITEMPAT… KALIAN KAMI TAHAAN!” teriak suara yang aku kenal sebagai Paijo
“PAIJO.. APA YANG KAMU LAKUKAN!... KAMU PENGHIANAT!”... teriak Solikin
“DIAM SOLIKIN…KALIAN SEMUA KAMI TAHAN…!”teriak Paijo
“BUANG SENJATA APIMU SOLIKIN!....” teriak Paijo sekali lagi
Aku terus merekam kejadian demi kejadian yang ada di depanku.. sementara itu aku sampai saat ini belum melihat keberadaan Yetno dan Wito, begitu pula Wandi dan Mamad.
“Rekam terus Tina.. rekam terus” kata Inggrid yang tiba-tiba datang menghampiriku
“Nggrid.. aku gemetar dan ketakutan ini Nggrid.. kamu ini dari mana saja!”
“Inggrid habis kembalikan mas Agus….jangan khawatir tentang mas Agus, dia sudah ada di tempat yang aman, dan sekarang sedang membersihkan diri”
“Kamu tau dimana Wito, Yetno, Wandi dan Mamad Nggrid?”
__ADS_1
“Yetno dan Wito tadi meringkus satu teman Paijo di hutan depan rumah, kelihatan bakal ramai nanti disini.. pokoknya tetap mengambil gambar dan jangan berhenti” kata Inggrid
“Inggrid tinggal saja kesini setelah tau anak buah Paijo sekarang dalam kekuasaan Yetno dan Wito”
Paijo mengambil senjata api milik Solikin…. dan membuangnya jauh ke tengah hutan.
Paijo mendekati Solikin yang masih dalam keadaan tenang, sepertinya Solikin tau bahwa dia akan bisa mengatasi Paijo
Aku dengan gemetar tetap terus merekam keadaan yang ada di depanku…
“Hehehe kamu hanya sendirian Paijo.. anak buahmu sudah kami ringkus… “ kata Solikin dengan suara yang mengerikan
“Anak buah saya?… tidak masalah!”
“Kamu dan anak buahmu yang akan ringkus duluan Solikin hahahah”
“Hmm saya awalnya sempat tertipu dengan dus yang ada di dalam kamar… ternyata paket itu ada di dalam drum itu… kamu memang licik Solikin…”
“Sekarang kalian saling ikat…kamu berdua pasang borgol ini …cepat!” Kata paijo sambil melempar sebuah borgol kepada supir dan kenek yang tidak tau apa-apa sama sekali
“Setelah saling ikat, kalian berdua masuk ke mobil melalui pintu penumpang… sebelumnya lempar kesini kunci mobilnya.. ingat jangan main-main dengan saya, atau kalian berdua akan saya tembak”
Sopir dan kenek itu hanya korban saja, mereka hanya diperintah Solikin untuk mengambil drum dan mengantarkan ke suatu tempat yang sudah disepakati.
Sopir dan kenek itu masuk ke dalam mobil melalui pintu penumpang, kemudian mereka melempar kunci mobil ke arah Paijo.
Sebenarnya kasihan juga supir dan kenek ini…
“Sekarang kamu solikin… urusanmu sekarang dengan saya….”
“Apa maumu Paijo!”
“Hehehe… santai dulu saja Solikin… mana anak buahmu yang akan menyelamatkan kamu?”
“Maumu apa Paijo… kamu mau pembagian penjualan? ok akan kita bagi setengah setengah.. ayo lepaskan saya dan kita lanjutkan pengiriman ini”
“Hehehe buat apa setengah-setengah… kamu sudah ada dalam kekuasaanku kok ya masih berani menawar… “
“Maumu berapa Paijo.. cepat.. hari sudah semakin pagi.. paket ini ditunggu di pelabuhan kota S pada pukul delapan pagi, karena akan dikirim lewat kapal pagi ini!”
“Tidak ada yang akan kemana mana Solikin… kamu tenang saja karena kamu akan mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama”
Apa yang sebenarnya sedang ditunggu Paijo.. dia kayaknya sedang menunggu seseorang.
Apakah dia sedang menunggu anak buahnya? bukanNya anak buahnya sudah dilumpuhkan Wito dan Yetno… lalu bagaimana dengan arwah Kunyuk.. dimana Kunyuk berada?
“Tina…. kamu jangan bergerak sama sekali, karena Wito dan Yetno akan menyergap Paijo… dari arah belakang!”
“Nggrid.. kamu tau tidak dimana Kunyuk berada?”
“Tau.. dia sekarang tidak berani mendekat.. karena tadi sempat Inggrid ancam ketika dia akan melapor ke Solikin karena tadi sebelum kejadian ini dia melihat kamu yang sedang mengambil gambar hehehe”
Apa yang dikatakan Inggrid ternyata benar.. dari ujung depan rumah ada dua orang yang berjalan pelan menuju ke arah Paijo yang sedang menodongkan senjata ke arah Solikin.
Dua orang itu pasti Yetno dan Wito… mereka berjalan mengendap-endap mendekati Paijo yang berdiri membelakangi dua orang yang sekarang posisinya semakin dekat dengan Paijo.
Ketika kedua orang itu akan melakukan pemukulan kepada Paijo…. mendadak dari arah belakang mereka ada satu orang yang membawa balok besar.
Seseorang itu tiba-tiba sudah ada di belakang Wito dan Yetno.
Dan tanpa sempat menoleh, seseorang yang aku belum jelas siapa itu memukul Wito dan Yetno dengan keras!
“BOOOUUHG…! BOOUUGHH…!”
__ADS_1
“Hiiiii…!” Aduh kenapa aku sempat memekik ketika balok besar itu menghajar bagian belakang Wito dan Yetno!...
Kedua orang itu tumbang hampir bersamaan!