RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
225. HOTEL INI KOK MAKIN MENGERIKAN


__ADS_3

Ternyata tidak mudah membersihkan darah yang sudah mengering dan setengah kering, selain bau yang menyengat juga darah itu menempel ke ubin dan kayu yang ada di kamar itu.


Untuk sprei, springbed, dan selimut sesuai dengan saran pak Jay harus dibuang saja,  karena jelas sprei dan springbed akan menyerap darah.


Hampir empat jam kami menggosok dan membersihkan perabot dan lantai yang terkena darah.  Kemudian air hasil membersihkan itu kami buang ke sungai.


Kalau kata pak Diran nggak papa kalau sisa darah itu kita buang ke sungai, karena sungai itu larinya akan ke laut juga.


Menjelang maghrib selesai sudah urusan dengan kamar nomor sepuluh, kami sudah melupakan yang namanya jejak misterius maupun darah yang menggenang, kami sangat capek untuk memikirkan hal-hal itu.


“Mas.. itu spring bed, selimut, sprei bantal dan yang lainnya mau ditaruh dimana” tunjuk mbak Tina pada springbed yang ada di taman belakang”


“Kita bawa ke lahan parkir dulu saja, nanti saya akan telepon pak Jay, agar dia kirim mobil untuk membuang barang-barang itu”


“Ayo kita angkat rame-rame barang-barang ini, keburu malam disini” ujar pak Diran


Springbed, prei, bantal selimut sudah kami taruh di lahan parkir hotel.


Setelah semua beres pak Diran pamit pulang, karena sudah dua hari ini dia belum pulang, karena sibuk ngurusi masalah di hotel ini. Dia juga meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi apabila dalam keadaan emergency.


Sore sudah berubah malam hari, kami yang kecapekan karena beberapa hari ini kurang tidur akhirnya secara tidak sengaja tertidur juga di ruang tamu hotel.


Sofa ruang utama hotel ini membuat kami tidak kuasa untuk membuka mata…..


*****


“BRAAKK!”


Aku terbangun dari tidur ketika aku mendengar suara keras seperti suara pintu yang dibanting. Mbak Tina, dan Jiang juga terbangun dari tidurnya.


“Astaga sudah pukul sembilan malam ini.. Gak terasa kita tidur lama sekali” kata Jiang kaget


“Mana pintu depan dan pagar belum ditutup juga… “ sambung mbak Tina


“Eh tadi kalian terbangun karena mendengar suara pintu tertutup dengan keras kan?”


“Jangan bilang kalian berdua bangun karena terbangun sendiri”


“Iya mas… Tina bangun karena dengar suara pintu yang dibanting dengan keras” jawab mbak Tina


“Eh Jiang, kamu apa tidak bisa lihat apapun disini?”


“Bisalah, tapi saat ini saya tidak bisa melihat apapun, yang artinya tidak ada apapun disini” jawab Jiang


“Eh suara pintu tertutup itu kira-kira dari mana ya?”


“Yang pasti dari salah satu pintu kamar yang mas Agus buka kan kan, yah bisa saja karena akibat angin mas” jawab mbak Tina berusaha berlogika


Perasaanku makin nggak enak ketika aku lihat bagian belakang masih dalam keadaan gelap gulita, kemudian aku melihat bagian parkiran yang juga gelap, karena lampu parkiran belum kami nyalakan.


“Eh mas.. Itu  springbed, selimut dan sprei masih ada diluar sana kan?” tanya mbak Tina


“Iya mbak… eh Jiang nyalakan lampu parkiran” kebetulan posisi Jiang dekat dengan saklar lampu


Akhirnya lampu parkiran itu nyala juga, dan tempat tidur dan yang lainya masih nampak tergeletak disana, tidak ada yang berubah sama sekali.


Berarti sekarang aku harus menyalakan lampu petromak yang ada di halaman belakang!


“Jiang… nyalakan lampu belakang yuk””


“Eh pak Agus nggak telpon pak Diran saja?”


“Heh Jiang… kamu ini kan penghuni alam ghaib, kenapa takut sama setan sih?”


“Hehehe beda pak… saya memang dari alam ghaib, tapi saya takut dengan setan.. Di alam ghaib juga ada iblis dan setan pak. Pokoknya sama saja dengan alam manusia”


“Jangkrek Jiang… saya pikir kamu sama saja dengan mereka”


“Gimana… ayo kita nyalakan lampu petromak Jiang”


“Ya sudah pak.. Ayo kita ke belakang… tapi apa pak Agus saat ini bisa melihat munculnya makhluk halus yang ada disana?”


“Saat ini saya tidak bisa melihat apapun Jiang.. Tidak ada apapun di belakang sana”


“Mbak Tina ikut kita ke halaman belakang atau nunggu disini” tanyaku pada mbak Tina yang sedang duduk di sofa ruang utama

__ADS_1


“Ikut mas… serem juga disini … biasanya keadaan disini gak seserem ini mas”


Nggak tau malam ini rasanya berbeda dengan malam sebelumnya, ya jelas beda, karena baru saja ada orang bunuh diri disini, tentu saja bisa saja arwah orang itu ada di kamar sepuluh.


Tetapi anehnya hingga sekarang aku belum bisa melihat adanya ghaib yang ada disini.


Kami berjalan menuju halaman belakang dengan penerangan senter, senter aku arahkan ke tiap pintu  kamar yang ada disini. Semua pintu terlihat terbuka semua….


Kecuali pintu kamar nomor sepuluh!


Pintu kamar nomor sepuluh itu dalam keadaan tertutup!


“Eh Jiang …mbak Tina, tadi waktu kita selesai bersih-bersih, pintu kamar nomor sepuluh kita biarkan terbuka atau tertutup?”


“Tadi kan pintunya mas Agus buka, soalnya kan kata mas Agus agar udara yang ada di dalam keluar semua” jawab mbak TIna


“Ya sudah mbak… yah mungkin juga karena kena angin saja mbak”


Padahal disini sama sekali tidak ada angin, yang artinya pintu kamar nomor sepuluh itu menutup dengan sendirinya tanpa bantuan dari angin maupun sesuatu yang mendorong.


Aku yakin sekali pintu yang ada di tiap kamar disini itu sulit untuk didorong angin, karena  engsel pintu di tiap kamar disini ada semacam penahanannya, jadi kalau menutup harus didorong pelan, kalau didorong tiba-tiba malah sulit untuk menutup.


Hal ini memang adalah pengaman… berguna untuk anak-anak yang suka main dorong pintu seenaknya, agar tidak ada yang terjepit.


Tetapi apabila sampai ada  pintu disini yang menutup dengan keras berarti ada tenaga besar yang mendorong pintu itu dengan kuat!


Jiang sudah menyalakan dua lampu petromak, sekarang keadaan halaman belakang terang benderang, seehingga tidak nampak menakutkan lagi.


“Kita kembali ke ruang tamu saja… buat apa juga ada disini, kita kan tidak sedang patroli”


“Iya pak Agus… lebih baik balik ke ruang utama saja, saya kok merinding disini”


“Ah kamu ini Jiang…. Mosok penduduk alam ghaib bisa merinding juga sih” balas mbak Tina


Aku putuskan untuk kembali ke ruang utama karena aku merasa ada yang gak beres di dekat sungai, tadi aku samar samar mencium bau dupa… bau dupa yang sama ketika pak owo masih hidup.


Tapi aku gak tau apakah Tina dan JIang juga mencium bau dupa itu juga, karena mereka berdua  tidak berkata apa-apa tentang bau dupa sama sekali.


Ketika aku akan berbalik ke ruang utama… sudut mataku sempat melihat sesuatu di sekitar sungai… tapi sesuatu itu tidak jelas karena sekitar sungai itu sangat gelap.


“Mas Agus….apa kita perlu minta bantuan leluhur Tina yang ada di tengah hutan?” bisik mbak Tina


“Buat apa mbak… apa mbak Tina melihat sesuatu?”


“Iya mas… tapi nggak jelas mas…. Di sana mas, di dekat sungai”


“IYa sama mbak… saya juga tadi sempat melihat sesuatu, tetapi sangat tidak jelas apa yang ada di sana itu”


Akhirnya kami kembali ke ruang utama yang berpenerangan lampu listrik yang berasal dari tenaga matahari. Nggak tau kenapa aku merasa di ruangan utama ini rasanya aman dari pada di belakang sana.


“Jiang tutup saja pintu kaca itu…kita disini saja hingga pagi”


Jiang menutup pintu yang membatasi bagian belakang dan ruangan utama hotel…


Kami bertiga duduk di sofa seperti sebelumnya, tetapi ketika aku menengok ke luar, ke parkiran. Ada yang aneh disana…


“Eh Jiang… sprei yang tadi kita taruh luar itu kita lipat dan kita taruh di atas tempat tidur atau di lahan parkiran saja?”


“Waduh saya lupa pak… tapi seingat saya, semua kita taruh bawah, ndak ada yang di atas springbed….memangnya kenapa pak?”


“Coba mbak Tina dan kamu lihat di luar  itu Jiang…”


“Mas….. kok sprei dan selimutnya bisa terlipat rapi di atas spring bed nya?” tanya Tina setelah melihat melalui kaca ruang utama


“Itu yang bikin saya merinding mbak…. Siapa yang melipat dan menaruh di atas kasur itu mbak”


Sprei, selimut dan spring bed itu memang terkena percikan darah juga, bahkan yang paling banyak itu di spring bednya, untungnya spring bed yang satunya masih bersih dan tidak terkena percikan darah sama sekali.


Dan kami tidak bersihkan bekas darah itu, karena pak Jay menyuruh membuang saja barang-barang yang terkena darah


Dan sekarang speri, dan selimut yang terkena darah itu  terlipat rapi di atas spring bed.


“Eh pak Agus… lebih baik telepon pak Diran saja pak”


“Heh Jiang… kenapa kamu sekarang jadi penakut, padahal dulu di dunia kamu, aku dan mbak Tina kamu selamatkan kan, tapi sekarang kenapa kamu jadi penakut kayak gini Jiang”

__ADS_1


“Nggak tau pak, setelah saya jadi manusia seperti ini , saya merasa bukan seperti saya yang sebelumnya pak” jawab Jiang


“Sudahlah…jangan dilihat, kita hanya tunggu hingga pagi hari saja, hingga matahari muncul”


Aku tau yang saat ini aku lihat adalah sesuatu yang ganjil, tapi kenapa baru sekarang, bukannya leluhur mbak Tina sudah melindungi daerah ini.


Atau  aku ajak Jiang untuk bertanya ke mbak Kunti yang ada di belakang itu, siapa tau dia tau sesuatu yang terjadi disini.


“Jiang… kamu bisa komunikasi dengn mahluk macam kunti atau pocong atau sejenisnya?”


“Kalau mahluk tingkat bawah seperti itu saya bisa pak, dan saya tidak takut sama sekali, tetapi kalau mahluk yang saya tidak bisa deteksi atau tidak bisa saya lihat jelas saya takut pak” jawab Jiang


“Ya sudah Jiang… ayo kita ke belakang, temui mbak Kun yang pernah berkomunikasi dengan pak Diran, coba kamu korek informasi apa yang sedang terjadi disini”


Jiang aku dan mbak Tina mendatangi pohon beringin tempat mbak Kun dan kerabatnya tinggal. Untung halaman belakang ini sudah terang, sehingga kami nggak ketakutan ketika harus lewat ke sana.


Satu lampu petromak kami bawa ke belakang, yah sebenarnya gak dibawa juga gak papa, karena keadaan di dekat pohon beringin ini masih terkena sinar lampu petromak.


Yah cuma untuk agar aku yakin bahwa tidak ada apa-apa di belakang sini….Tapi ketika kami harus melewati kamar nomor sepuluh , perasaan takut muncul  kembali.


Perasaan takut yang luar biasa mendadak muncul dan bulu kuduku pun berdiri!


Ada perasaan kuat yang menyuruh agar aku menoleh ke kamar nomor sepuluh, tapi pada akhirnya aku bisa menahan perasaan untuk menoleh.


Nggak tau dengan dua temanku yang lainya, apakah merasakan hal yang sama denganku, yang pasti kami bertiga melewati kamar sepuluh dengan jalan cepat.


“jangan  menoleh ke kamar  itu pak  dan bu Tina, nanti ketika kita kembali juga usahakan untuk tidak menoleh ke sana” kata Jiang ketika kami sudah sampai di samping pohon beringin


“Iya saya tau Jiang… saya tau ada sesuatu disana, tapi saya usahakan untuk tidak melihatnya”


“Eh mas… tadi Tina gak sengaja liat mas” kata mbak Tina dengan suara agak bergetar..


“Disana..d..di jendela kamar T..Tina melihat ada  p..pak …..”


“Sssttt sudah jangan sebutkan nama mbak… sudah pokoknya nanti kalau kembali jangan lihat ke sana lagi”


Kami sudah ada di bawah pohon beringin, lampu petromak yang aku bawa, kuletakan di bawah pohon, dan ini merupakan kesalahan besar.


Sebagian penghuni pohon pun pergi karena silau dengan lampu petromak yang aku bawa.


“Pak Agus… singkirkan lampu itu pak”


“Disingkirkan kemana Jiang.. Masak aku harus kembalikan lampu ini ke tengah taman dan melewati kamar ngeri itu?”


“Lha itu penghuni pohon pada lari pak…mereka tidak suka dengan cahaya terang pak”


“Lalu apa harus dimatikan saja lampu ini Jiang?”


“Matikan dulu saja pak, saya kan bawa senter pak”


Lampu petromak akhirnya aku padamkan , karena demit demit yang ada di pohon beringin itu terganggu dan marah karena cahaya terang dari lampu petromak ini.


Akhirnya keadaan gelap menyelimuti kami yang ada di sebelah pohon beringin… hanya cahaya samar dari satu lampu petromak yang ada tengah taman yang masih tersisa.


Aku nggak tau kunti yang mana yang kemarin aku dan pak Diran temui itu, karena menurutku semua kunti wajahnya hampir sama… kecuali mereka  berubah menjadi wajah terakhir ketika dia mati.


Demit -demit yang tadi berlarian sekarang sudah kembali ke sarangnya hehehe… mirip burung dara yang terbang kemudian balik ke kandangnya.


Jiang melihat ke atas dan berusaha berkomunikasi dengan salah satu dari mereka yang ada di atas itu.


“Gimana Jiang… apa kamu berhasil bicara dengan salah satu dari mereka?”


“Sudah saya ajak mereka bicara pak… tapi mereka semua tutup mulut, tidak ada yang mau menjawab pertanyaan saya tentang siapa yang mulai bikin ulah dan membunuh pak Owo dan keluarganya”


“Sik Jiang… kamu bilang mereka itu dibunuh?”


“Iya pak… saya yakin mereka itu dibunuh… mereka disusupi sesuatu yang mengakibatkan mereka melakukan bunuh diri.. Saya yakin itu pak, makanya saya tanya ke mereka ini, siapa yang bikin masalah dan membunuh keluarga pak Owo”


“Tapi kan gak mungkin kita cerita ke polisi bahwa keluarga itu mati karena disusupi sesuatu hingga mereka melakukan bunuh diri “ kata Jiang lagi


“Sebentar pak Agus.. saya coba komunikas dengan mbak Kun yang cantik yang ada di ujung itu…. Mbak Kun cantik itu dari tadi  memperhatikan kita lho pak”


“Sepertinya dia tau sesuatu, dan akan cerita ke saya, tapi kayaknya ada yang membuat dia tidak mau cerita” kata Jiang


“Akan saya coba paksa dan rayu dia Jiang, semoga dia mau cerita tentang yang terjadi dengan keluarga pak Owo”

__ADS_1


__ADS_2