RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
267.KEMARAHAN SOLIKIN


__ADS_3

“Mari sekarang kita sama-sama masuk ke dalam… karena nanti kita butuh banyak orang untuk memonitor tiap sisi hotel ini” kata pak Dollah


“Tapi sebelumnya kalian polisi dan pak Jay pemilik hotel ini akan saya buka dulu mata batin kalian, agar kalian bisa merasakan, bukan melihat tapi merasakan dengan peka adanya makhluk ghaib di sekitar kalian” Kata kyai Dollah yang menolak untuk dipanggil sebagai Kyai


“Kalian bisa merasakan dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan dan katakan, jadi nanti ketika kalian tau dimana ada demit yang sembunyi segera teriak kepada kami, agar kami segera musnahkan”


“Karena menurut saya disini masih ada beberapa iblis yang tidak ikut terpancing dan terbakar di kamar depan” kata pak Dollah


“Eh dokter Joko….dokter Joko dan pak Parlan. Kalau masih ada kerjaan lebih baik kembali ke rumah sakit saja” kata pak Jay


“Tidak apa-apa pak Jay… saya dan pak Parlan akan tunggu di luar sini saja, dan ada baiknya disini juga ada yang berjaga, karena hutan yang lebat ini bisa saja merupakan ancaman juga kan” kata dokter Joko


Akhirnya disepakati dokter Joko ada di depan bersama satu anggota kepolisian dan dua orang murid dari pak Dollah yang tidak mau dipanggil sebagai kyai Dollah.


Setelah pak Dollah melakukan sesuatu kepada semua anggota polisi yang ada disini, akhirnya kami bersama sama masuk ke dalam hotel, tujuan kami adalah bagian belakang hotel….


Pertama masuk ke hotel pasca ledakan tadi, bau busuk menyengat kembali aku cium.. Bau bangkai yang kemungkinan besar berasal dari organ dalam manusia dan binatang yang meledak tadi.


Beberapa kali mbak Tina dan pak Jay ingin muntah….


Sebelum kami melangkah ke belakang, pak Dollah berhenti sebentar di pintu yang membatasi ruangan utama dan kamar hotel yang ada di belakangnya…


“Ternyata kamu ada disana Solikin… untung kamu tidak ikut meledak bersama anak buahmu” kata pak Dollah


Di tengah halaman bagian belakang hotel ada bayangan yang bercahaya redup yang sedang berdiri, aku sendiri gak bisa melihat  dengan jelas bayangan siapa itu, tetapi kata pak Dollah itu bayangan Solikin.


Pak Dollah maju perlahan lahan menuju ke taman belakang ruang utama, kami dan rombongan juga mengikuti apa yang dilakukan pak Dollah.

__ADS_1


Hingga tinggal sekitar tiga meter pak Dollah berhenti, sekarang kami berhadap hadapan dengan Solikin yang berupa bayangan yang sedikit bercahaya.


“Dollah tolol…… Tugiyem goblok hihihi… masak bertahun tahun tidak bisa menebak siapa saya hahahaha”  kata Solikin


“Kamu Tugiyem.. Tiap siang membawakan makanan untuk pekerja disini, masak kamu tidak bisa merasakan siapa saya hahahah” kata Bayangan yang agak menyala itu sekali lagi


“Kalian lebih baik pergi dari sini sekarang.. Sebelum istriku datang dan menghabisi kalian semua….”


“Jayanto… kamu kira upahmu kepada kami itu layak?… Dasar penyiksa!.. Kamu kira upahmu itu cukup untuk kerja keras kami hahahah… setelah ini kamu yang akan saya habisi terlebih dahulu hahahaha”


“Solikin, pergilah dari sini, bertaubatlah cepat, karena pintu taubat masih terbuka bagi kamu… jangan menyia-nyiakan kesempatan ini Solikin” kata pak Dollah


“Hahaha jangan khotbah disini Dollah… kamu bukan apa-apa disini, kamu hanya semut yang akan saya tepuk sampai mati, dan akan saya kirim arwah kamu ke tempat palachur yang paling hina hahahaha….”


Kulirik tangan pak Dolah… tasbih yang ada di tangan kanannya dia putar dengan kencang, tapi tangan dia tidak bergerak sama sekali, dia pasti akan melakukan sesuatu dengan Solikin.


“Upsss gak usah putar-putar tasbih itu Dollah…. Saya tau apa yang akan kamu lakukan, dasar tolol”


“Ilmu kamu itu jauh dibawah ku Dollah.. Jadi jangan coba-coba melakukan sesuatu yang tidak berguna Dollah! hahahaha”


Tidak ada jawabah dari pak Dollah, yang tangan kanannya sedang memutar tasbih sedang tangan kirinya seperti sedang memberi kode kepada bu Tugiyem yang persis ada di belakang pak Dollah.


Aku gak paham kode apa yang sedang dia katakan kepada bu Tugiyem, tapi aku rasa pak Dollah sedang berusaha untuk menangkap iblis Solikin yang mulai berkata kata ngawur.


Solikin masih mengata-ngatai pak Dollah dengan kata-kata yang kasar, aku gak tau apa tujuan dari Solikin yang terus saja mengolok olok pak Dollah dan bu Tugiyem, apakah dia mempunyai dendam kepada mereka berdua.


“ALLAHU AKBAR!!!!” teriak pak Dollah

__ADS_1


WUUIZZZHHHH………..Pak Dollah menyabetkan tasbih yang dia pegang ke arah Solikin


Tanpa ada tanda-tanda sebelumnya, dan dengan tiba-tiba pak Dolah menyabetkan tasbih yang dipegang ke arah arwah bayangan Solikin yang masih ngoceh gak karuan.


“SEKARANG TUGIYEM!” teriak pak Dollah tiba-tiba…….Kemudian bu Tugiyem maju ke depan dan menyerang Solikin dengan energinya…


 “ARRGGHHH HAHAHAH KAMU KIRA BISA MELAWAN AKU DOLLAH TUGIYEM HAHAHA!” dengan mudah Solikin menghindar dari pukulan energi yang dilepas bu Tugiyem.


Solikin bisa menghindar dari bu Tugiyem, tetapi tiba-tiba pak Diran berlari cepat ke depan dan menarik arwah Solikin dengan tenaganya. Bukan menyerang melainkan berusaha mengikat Solikin.


Pak Hendrik juga maju ke depan dan berbuat sama dengan yang dilakukan pak Diran, rupanya Solikin sekarang sedang diikat oleh energi dari pak Diran, pak Hendrik dan bu Tugiyem.. Mereka bertiga menahan agar arwah Solikin tidak bisa lepas begitu saja!


“LEPASKAN AKU!… LEPASKAN AKU ATAU KALIAN SEMUA MATI DISINI…AARRRGHGH!....CEPAT LEPASKAN AKU ATAU SEKARANG JUGA KALIAN AKAN DIBUNUH AARRRGHHH!!!!!” teriak Solikin


Arwah Solikin meronta ronta berusaha melepaskan ikatan energi dari  mereka bertiga.


…..JJJDHUUUUAARRRRR!!!!!......................suara keras disertai cahaya yang mirip kilat menghantam pak Diran, pak Hendrik dan bu Tugiyem.


Mereka bertiga tersungkur,  dan berguling guling ke belakang…..dan arwah Solikin akhirnya lenyap begitu saja.


Keadaan kembali menjadi sunyi sepi dan gelap…


“Astaghfirullah…bagaimana keadaan kalian” tanya pak Dollah


“Uuugghh saya baik baik saja… untung kilat itu tidak mengenai saya” kata pak Diran yang berusaha berdiri meskipun masih tertatih tatih


Pak Hendrik sedang duduk di tanah sambil menggoyang goyangkan kepalanya, tetapi bu Tugiyem masih tersungkur di tanah.. Dia belum bergerak sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2