
“Tanah dan wilayah disini benar-benar misterius… saya sampai sekarang belum bisa menganalisa.. Saya belum bisa menebak apapun yang ada disini, dan pak Jay pun tidur tanpa ada gangguan sama sekali” kata pak Watuadem
“Kita kembali ke halaman belakang dulu saja… saya masih kepingin memperhatikan bagian sungai yang sangat gelap itu”
“Saya penasaran dengan apa yang ada disana… sepertinya disana itu ada sebuah pemukiman… tapi sampai saat ini saya belum bisa menyentuh dan merasakan pemukiman itu” kata pak Watuadem..
“Sabar pak nanti bapak pasti bisa tau apa yang ada disini…. Lebih baik sekarang bapak bersama mas Agus dan mbak Tina ada di posisi belakang, biar saya dan Jiang ada disini” kata pak Cheng
Pak Cheng keliatanya tidak mau mengikuti kami ke bagian belakang hotel.. Apa dia sedang fokus pada mayat pak Pangat?
Tapi tadi bukannya mayat pak Pangat sudah terusir dengan suksesnya ketika bagian belakang ini juga mengalami serangan balik dari leluhurku.
Kini aku, mas Agus dan Watuadem ada di tengah taman… kami duduk duduk di tengah taman ditemani oleh lampu petromak.
Dan aku rasa saat ini belum saatnya bagi kami untuk menceritakan apa dan siapa kami sebenarnya, mungkin nanti ketika kami sudah benar-benar percaya kepada pak Watuadem… baru kami akan ceritakan apa dan siapa kamu sebenarnya.
“Saat ini tidak ada apa-apa disini… keadaan aman dan tenang.. Saya tidak merasakan adanya energi negatif sama sekali” kata pak watu
“Yah mungkin karena yang tadi itu sudah terusir pak… dan tidak akan kembali lagi ke sini” jawab mas Agus
“Siapa bilang makhluk kayak gitu itu tidak akan kembali lagi…. Mereka akan datang dengan kekuatan yang lebih, atau bisa saja mereka akan datang dengan cara lain untuk menaklukan hotel ini”
“Dan mereka akan datang hingga apa yang mereka inginkan tercapai… “ kata Watuadem sambil menerawang ke gelapnya situasi di bagian sungai dan seberang sungai
Malam ini tidak terjadi apa-apa setelah kejadian pertama tadi.. Pagi sebelum matahari terbit pak Jay sudah terbangun.
Aku … aku jelas gak tidur blas… tapi tadi sempat curi-curi tidur ketika hampir pagi… aku tidur di sofa ruang utama.. Disana ternyata aku bersama pak Cheng dan Jiang.
Pak Cheng dan Jiang ternyata tidur di ruang tamu juga setelah pagi menjelang pagi hari… ya wajarlah kami semalam tidak tidur sama sekali.
Sedangkan mas Agus ada di halaman belakang bersama Watuadem.. Nggak tau apa yang mereka omongkan ketika ada di belakang.
Pak Jay ada di halaman belakang … dia sekarang sedang ngobrol bersama Watuadem dan mas Agus… sedangkan teman pak jay yang bernama Robert bangun ketika matahari sudah terbit.
“Jay… luar biasa disini, aku bisa nyenyak tidur!.. Aku sama sekali tidak merasakan ada gangguan.. Hotel kamu ini luar biasa Jay” kata Robert yang berdiri di sebelah pak Jay
“Hehehe iya Bet.. tapi maaf.. Belum ada kopi atau teh hehehe, baru nanti siang akan datang logistic yang melayani kebutuhan perhotelan”
“Jadi besok saya harap semua sudah final.. Dan besok akan datang trainer untuk melatih pegawai yang akan mengurus di disini” kata pak Jay
“Pak Jay.. kalau boleh usul.. Tolong sediakan juga tenaga keamanan pak… kami tidak sanggup apabila harus begadang menjaga keamanan hotel ini heheheh” kata mas Agus
“Lho ya jelas itu… lalu buat apa saya buatkan pos penjagaan di dekat parkiran itu.. Besok mudah-mudahan semua sudah siap” jawab pak Jay
*****
Hari ini… tidak ada yang berarti.. Aku dan mas Agus sudah mulai tinggal di rumah peristirahatan Singgasana Adem Ayem… keadaan disini sudah makin baik…
Bahkan seorang Watuadem sendiri belum bisa menemukan kejanggalan yang ada di hotel ini…. Untuk sehari ini dia tetap bermalam disini, meskipun sama sekali tidak ada hal yang aneh.
Disini juga sudah ada penjaga keamanan hotel… ruanganya satpam hotel letaknya ada di ujung lahan parkiran.
Tadi bagian logistik hotel juga sudah datang dan sekarang mereka sedang menyiapkan dan menyediakan berbagai keperluan perhotelan, macam sabun, shampo, handuk, odol…pokoknya semua yang berhubungan dengan kamar hotel ini.
Pagar yang memisahkan wilayah sungai dan hotel juga sudah dibikin… pintu pagar ditutup apabila malam tiba demi keamanan tamu hotel.
Dibuatkan juga pintu samping… yang dulunya adalah tempat pembuatan palet…. Guna pintu samping ini untuk keluar masuknya karyawan, juga digunakan oleh beberapa pihak yang bekerja sama dengan pihak hotel, misalnya pihak catering, dan tentu saja pihak laundry.
Untuk sementara ini belum dipikirkan pembuatan dapur dan pembuatan tempat cuci atau laundry, maka dari hotel bekerja sama dengan catering kota dan laundry sehari jadi heheheh.
Pokoknya untuk sementara ini yang dulunya adalah rumah penggergajian dan sebagian tempat pembuatan palet, dijadikan ruangan utama tempat kami bekerja
Perusahaan trainer juga sudah mengirim tiga orang ke hotel ini….mereka mengajari kami bertindak tanduk sebagai karyawan hotel…pokoknya semua yang berhubungan dengan cara menghadapi customer hotel.
Selain itu mereka juga ngajari kami beberapa hal teknis untuk permasalahan perhotelan… aku di bagian terima tamu, termasuk bagian keuangan…..
Mas Agus, pak Cheng dan Jiang untuk sementara ini bertugas sebagai housekeeper, selama hotel ini masih belum buka secara normal… nanti dengan berjalanya waktu, pasti akan memerlukan karyawan baru.
__ADS_1
Dua hari ini setelah kejadian malam hari itu anehnya tidak ada yang terjadi di sekitar hotel ini.. Semua berjalan dengan lancar hingga saatnya grand opening hotel.
Semua sudah dipersiapkan… kami sedang menunggu kedatangan tamu yang katanya sudah ada beberapa keluarga yang akan kesini.
*****
Empat hari setelah pak Jay, Robert dan Watuadem bermalam disini hotel ini sudah siap menerima tamu…Kami berempat plus trainer sudah menunggu kedatangan tamu pertama kami di lobby atau di ruang utama hotel
“Semoga hari ini tidak ada apa-apa mas”
“Iya mbak… saya rasanya kok nderedeg mbak”
“Sama mas.. Tina rasanya nderedeg juga mas… eh mungkin ini efek karena hari pertama kita kerja disini mas”
“Mudah-mudahan mbak… asal bukan nderedeg perkara akan ada sesuatu yang terjadi disini”
“Semoga saja nggak mas… itu pak Cheng dan Jiang juga kayaknya nervous mas heheheh”
“Iya mbak.. Bayangkan kita harus melayani sepuluh keluarga yang siang ini katanya akan datang ke sini.
Siang ini kami sudah siap menerima kedatangan tamu… siang ini keadaan tiap pondok sudah siap untuk dihuni.. Semua peralatan standar hotel berbintang pun sudah disiapkan.
Untuk sementara waktu, pihak hotel bekerja sama dengan perusahaan catering untuk menyediakan sarapan hingga makan malam. Karena kawasan dapur kami belum siap sama sekali, sehingga untuk mempermudah maka hotel bekerja sama dengan perusahaan catering.
Untuk sarapan hingga makan malam.. Akan diantar ke pondokan masing-masing, karena disini belum dibuatkan ruangan yang digunakan untuk tempat makan prasmanan. Dan tugas mengantar makanan itu nanti akan menjadi tugas dari mas Agus, pak Cheng dan Jiang.
Pihak catering hanya menyediakan makanan, piring sendok, gelas dan sebagainya yang berhubungan dengan permakananan saja.
Pukul 12.15 sebuah mobil memasuki lahan parkir… dan itu adalah tamu pertama kami disini.
Sebuah keluarga dengan dua anak yang masih kecil keluar dari dalam mobil… heran juga, mereka mau saja datang ke sini untuk menikmati kembali ke alam heheheh.
Aku lakukan pekerjaan kami dari menerima tamu, mendata tamu, hingga memberikan sedikit penjelasan dan masukan tentang hotel ini hingga beberapa hal yang dilarang disini.
Termasuk masalah teknis seperti menyalakan air panas untuk mandi, kemudian teko untuk merebus air, termasuk penjelasan tentang penerangan yang memakai lampu minyak disini.
Setelah selesai dengan urusan administrasi pendaftaran dan penjelasan, kemudian mas Agus mengantar tamu itu ke pondoknya.. Pondokan yang letaknya di nomor dua.. Yaitu pondokan pertama sebelah kanan dari ruangan utama.
Memang kalau diperhatikan area hotel ini tidak terlalu besar.. Hanya saja karena suasana di dalam hutan dan taman di tengah hotel ini yang asri menyebabkan tidak kelihatan sumpek.
Apalagi kalau pagi hingga sore hari bagian belakang dekat dengan sungai dibuka pagarnya, sehingga menambah kesan benar-benar alami…
Siang hingga sore semua berhasil kami lakukan dengan baik, tentu saja dengan pengawasan petugas trainer yang selalu mengawasi cara kerja kami.
Sore hari pihak catering datang.. Dua mobil box datang dan parkir di samping hotel…mereka menyiapkan segalanya di ruangan yang terbatas disini…
Sore menjelang malam mas Agus, pak Cheng dan jiang berkeliling pondok untuk menawarkan lampu apa yang akan digunakan, menggunakan lampu teplok atau lampu petromak, dan untuk sementara ini para tamu lebih memilih menggunakan lampu petromak yang terang.
Setelah selesai dengan penerangan.. Mas Agus dan Timnya mulai mengantar makan malam ke masing-masing kamar. Dan selama makan malam, pihak catering menunggu hingga selesai, makan malam ini dibatasi hingga pukul delapan malam.
Semua selesai pada pukul sembilan malam… setelah enam pondokan minta untuk merubah penerangan menjadi lampu teplok .. agar tidak terlalu terang apabila mereka tidur. Sisanya akan mencoba mematikan dan menyalakan lampu minyak yang ada di kamarnya.
Malam ini setelah semua aktivitas kami selesai, para Trainer pun pulang.. Besok pagi setelah subuh mereka sudah ada disini untuk persiapan pagi yang sibuk lagi
“Huff hari pertama ini capek sekali ya kalian bertiga….?”
“Iya mbak Tina.. tapi gak capek sih.. Kan kerjanya tidak terus menerus..” jawab Jiang
“Hanya empat kamar yang masih menggunakan lampu petromak mbak” timpal mas Agus
“Nanti mbak Tina tidur saja dulu di kamar.. Biar kami yang bergantian jaga disini” kata pak Cheng
“Iya pak.. Tapi sesuai dengan instruksi dari trainer, hanya satu orang saja yang jaga disini selain satpam hotel pak”
“Iya mbak..saya tau… tetapi kita ini kan ada di hotel yang luar biasa, bukan sebuah hotel yang biasa-biasa saja.. Ya kita harus bisa jaga disini selain satpam itu” jelas pak Cheng
“Oh iya… katanya Watuadem mau datang ke sini lagi ya malam ini…. Tapi kok belum muncul batang hidungnya ya? Tanya Jiang
__ADS_1
“Kemarin bilangnya mau datang tengah malam mas.. Eh nanti mas Agus tolong bilang ke satpam, kalau ada pak Watuadem datang, suruh dia masuk saja, dan bilang bahwa Watuadem itu orangnya pak Jay”
“Iya mbak.. Nanti saya ke depan sekalian ajak ngobrol satpam..kasihan dia harus sendirian di depan hotel heheheh” jawab mas Agus
Untuk malam ini setelah jam sebelas malam, yang jaga di ruang utama bergantian.. Sebagian bisa istirahat dan tidur… apabila di kamar pondokan itu butuh sesuatu, mereka bisa gunakan aiphone yang ada di tiap kamar untuk menghubungi ruangan utama.
Karena hotel ini tidak buka dua puluh empat jam.. Maka urusan administrasi dan pendaftaran aku tutup.. Sehingga yang bekerja malam hanya bagian teknis saja.
Aku sebenarnya butuh istirahat, hanya saja aku penasaran apa yang akan terjadi disini, karena sudah beberapa hari ini tidak terjadi sesuatu apapun disini.
“Mbak Tina lebih baik istirahat dulu.. Atau gini saja, kalau ada sesuatu disini mbak Tina akan kami bangunkan” kata pak Cheng
“Pak Cheng.. Saya mau ke depan pak..saya mau beritahu satpam kalau Watuadem akan datang tengah malam” kata mas Agus
“Nggak usah ke sana mas kalau hanya untuk beritahu.. Kan ada aiphone mas”
“Hehe iya mbak Tina, hanya saja gak enak kalau bicara lewat aiphone, sekalian saya mau ajak ngobrol satpamnya, kasihan dia sendirian di sana”
Mas Agus berlari kecil menuju ke pos penjagaan yang tidak terlalu besar, tetapi di dalamnya lengkap ada kamar mandi, TV dan ada dispenser juga.
Ruangan pos satpam itu mungkin hanya berukuran sekitar tiga kali tiga saja, dan penjaganya akan bergantian tiap enam jam sekali, penjaga hotel ini berasal dari perusahaan outsourcing yang ada di kota S, sehingga lebih profesional daripada ambil orang dari sekitar sini.
Ketika mas Agus sudah ada di pos satpam.. Aku lihat ada sepeda motor yang datang.. Lampu motor itu ada di pintu gerbang hotel yang malam ini tertutup.
“Pak Cheng, ada yang datang pak… apa mungkin itu Watuadem?”
“Iya mbak… siapa lagi kalau dia.. Kan dia janji akan ke sini tengah malam.. Tapi sekarang ini kan belum tengah malam mbak hehehe”
Ternyata yang datang benar si watuadem.. Dia memakai jaket tebal dan memakai topi juga.. Dia membawa tas ransel yang entah apa isinya, mungkin hanya pakaian dia selama dia ada disini.
“Pak Watu.. hehehe kok naik motor.. Apa ndak dingin pak?”
“Nggak dingin kok mbak., enak gini bisa menikmati suasana malam, eh malam ini belum terjadi sesuatu?”
“Belum dan semoga tidak ada yang terjadi pak.. Karena hotel sekarang dalam keadaan penuh”
“Hmm iya sih mbak.. Kalau sebelum sebelumnya kan hanya ada kita, jadi apabila ada apa-apa kan hanya kita yang terkena, tapi sekarang keadaan hotel sedang penuh”
“Eh saya langsung ke belakang saja ya.. Saya nanti sama mas Agus saja..mbak Tina bisa istirahat.. Dan seperti sebelumnya, pak Cheng dan Jiang ada di ruangan utama” kata Watuadem
“Ya sudah pak… nanti kalau ada apa-apa tolong Tina dibangunkan ya”
Aku lebih baik istirahat saja, disini sudah cukup orang untuk melakukan sesuatu yang mendesak.
Di hotel ini ada dua kamar yang bisa digunakan untuk tidur.. Dan aku menempati kamar yang dulu digunakan mas Agus, hanya saja untuk saat ini kamar disini sudah dilakukan renovasi sehingga sekarang jauh lebih modern daripada sebelumnya.
AGUS POV
Aku bersama watu adem duduk di taman belakang, seharusnya tidak boleh, karena kata trainer akan mengganggu kenyamanan tamu apabila mereka tau di sekitar kamar mereka ada orang lain yang sedang ngobrol atau sedang duduk.
“Eh pak Watu.. sepertinya kita jangan ada disini pak… trainer bilang tamu akan merasa tidak nyaman apabila mendengar seseorang berbicara dan sedang duduk duduk di sekitar kamar mereka”
“Ya sudah mas.. Kita duduk di dekat pintu sini saja.. Kita ambil kursi plastik dan kita amati bagian belakang hotel ini dari sini saja mas”
“Ya lebih baik dari sini saja pak.. “
“Kemarin saya ketemu saka Jay.. saya ceritakan saja apa yang terjadi malam itu ketika Jay dan Robert ada disini.. . saya juga cerita tentang mayat hidup yang pernah ditemui oleh empat pemburu hantu abal-abal itu”
“Pak Jay bilang apa pak?”
“Paj Jay hanya bisa menghela nafas … dia tentu saja tidak tau apa yang harus dilakukan.. Karena dia buta sama sekali tentang dunia ghaib”
“Dia cuma bisa bilang… tolong saya dan hotel saya Bro… besok sudah ada sepuluh keluarga yang sewa kamar disana, gitu yang dia bilang ke saya mas”
“Saya ini sebenarnya bukan seorang yang bisa melawan mereka, saya hanya orang yang bisa melihat dan mungkin bisa berkomunikasi dengan mereka”
“Ya sudah kalau begitu pak Watu… tetap saja tidak ada perlawanan dari sini, kita coba untuk bicara dengan mereka saja pak”
__ADS_1
Waduh… gawat juga kalau kayak gini…. Juangkreeeek!
Ternyata pak Watu ini cuma bisa lihat dan hanya bisa mengajak bicara saja… lalu apabila ada sesuatu yang datang kesini.. Apa yang harus kami lakukan?