RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
209. PAK PANGAT PENGHIANAT


__ADS_3

“Mayat yang tadi itu sekarang ada di depan pintu” teriak salah satu dari empat orang itu


“Mayat apa Ki Gondrong?… kalian sama hantu saja gak takut, kok sama mayat kalian ketakutan seperti ini?” kata pak Cheng


“Profesi kami menangkap hantu, bukan menangkap mayat….!” bentak Ki Gondrong dapurane


“Oh gitu… ya sudah kalau begitu biarkan saja dia ada di depan pintu. Mayat itu kan bukan mencari kami, tetapi mencari kalian berempat hahahaha” jawab pak Cheng sambil membuang muka.


“Ada-ada saja kalian ini bapak-bapak pemburu hantu hihihihi” lanjut pak Cheng


Aku heran, dalam keadaan terjepit seperti ini, keempat orang itu masih berkilah bahwa mereka adalah pemburu hantu, bukan pemburu selain hantu.


Dan mereka masih saja bersikap sombong kepada kami, meskipun mereka dalam keadaan ketakutan.


“Kalian berempat ngapain ada disini… sana masuk ke dalam  dan teruskan pekerjaan kalian, kami disini sedang bekerja juga… jadi jangan ganggu kami dengan ketakutan kalian terhadap mayat yang kata kalian ada di depan pintu itu” kata pak Cheng lagi


“Kami disini bukanya takut..tetapi kami hanya ingin memberitahukan kepada kalian bahwa ada mayat yang sedang ada di depan pintu hotel…dan hal itu mengganggu konsentrasi kami dalam usaha menangkap mahluk halus yang mengganggu hotel ini” jawab Ki Gondrong


“Oh gitu…kalau begitu ya sudah… sekarang kami sudah tau, kalian sudah memberi tahu kepada kami.. Sekarang tinggalkan kami berempat disini, dan lakukan tugas masing-masing” jawab Jiang


“Dan ingat… saksi mata untuk apa yang kalian kerjakan ini ada empat orang… jadi kami berempat bisa mengadukan kepada pak Jay bahwa kalian ketakutan karena kata kalian ada mayat yang sedang berada di depan pintu ruangan utama”


Akhirnya dengan bersungut-sungut keempat orang itu kembali ke dalam bangunan utama… jelas mereka tidak akan berani apabila kami adukan apa yang mereka lakukan ini kepada pak Jay.


Aku tau bahwa memang ada mayat yang sedang duduk atau apalah di depan pintu ruangan utama, dan sesuai dengan yang dikatakan pak Cheng, bahwa energi yang ada di dalam mayat itu besar dan berbahaya….


Tetapi alasan kenapa energi yang berbahaya itu ada di dalam tubuh mayat, gunanya sebagai kendaraan agar dia bisa masuk ke area hotel ini, tetapi akibatnya dia tidak berbahaya sama sekali.


“Ssstt perhatikan anak-anak… saatnya sudah dimulai ..lihat disana di seberang sungai, lihatlah dengan dengan menggunakan seluruh panca indera kalian berdua Gus dan mbak Tina”


“Iya pak Cheng… yang kemarin mulai datang lagi.. Tapi apakah mereka datang dengan menggunakan kekuatan yang lebih dari pada kemarin?”


“Belum tau Jiang… kita tunggu dan kita lihat perkembangannya dulu…saya rasa mereka akan menambah kekuatan hanya untuk agar bisa masuk ke dalam wilayan hotel ini”


“Jiang…matika lampu petromaknya… agar kita bisa tau mereka ada dimana dan sedang melakukan apa” suruh pak Cheng


Keadaan halaman belakang yang tadinya ada dua lampu petromak yang nyala, sekarang sudah menjadi gelap gulita… karena Jiang sudah mematikan kedua lampu berbahan bakar minyak tanah itu.


Mulai saat ini aku merasa ada perbedaan udara dari pada sebelumnya… untuk kali ini lebih hawa disini menjadi lebih hangat dan membuat gelisah.


Kulirik mas Agus…. Ternyata dia sedang mengelap keringat yang menetes dari dahinya.


“Mas…”


“Iya mbak Tina…. Saya juga merasa ada yang  berbeda mbak….semoga kita masih diberi kekuatan mbah Sastro mbak”


“Iya mas….”


“Hmmm saya rasa kita sekarang sedang dibantu entah oleh Sutinah teman saya atau oleh mbah Sastro yang dulu saya selamatkan itu” kata Jiang


“Sabar dulu Jiang… semoga kekuatan pagar ini masih seperti malam sebelumnya.. Dan semoga keempat badut bersorban itu tidak melakukan tindakan yang salah di depan sana”


Keadaan di halaman belakang, diantara sepuluh pondok yang ada di kiri kanan kami semakin tidak enak…. Mulai semakin panas, dan kayaknya aku mulai sesak nafas.


Nggak tau apa yang terjadi, tetapi ketika aku lirik mas Agus.. dia kayaknya sesak nafas juga… dan yang aneh itu mulai timbul rasa cemas…


Cemas, panas, sesak nafas, pusing.. Semua menjadi satu dan semua faktor itu membuat aku mulai kehilangan konsentrasi. Dan pak Cheng tau itu…


“Mbak Tina…. Agus… pegang tangan saya…. Keliatannya mereka yang mulai menyerang kalian berdua….mereka menyerang secara fisik dan psikis… meskipun mereka tidak bisa atau belum bisa melewati pagar yang ada di bagian rumah ini”


“Jiang… periksa setiap sisi bagian rumah ini… apakah mereka sudah menampakan diri atau belum seperti kemarin, karena hingga sekarang saya kok belum bisa melihat keberadaan mereka”

__ADS_1


Jiang berdiri dan kemudian dia mulai berjalan pelan menuju ke bagian paling belakang yang berbatasan dengan sungai.


Aku nggak tau apa yang sedang Jiang lakukan, karena aku sudah tidak bisa lihat lagi apa yang sedang dilakukan JIang di bagian halaman rumah yang dekat dengan sungai itu.


Pak Cheng sendiri sedang duduk dan memperhatikan ke mana Jiang tadi berjalan…


Tapi tidak sampai dua menit, Jiang sudah  nampak berjalan  ke arah kami dengan sedikit berlari, mungkin ada sesutu yang snagat penting sehingga dia agak sedikir berlari  untuk menghampiri kami.


“Ada apa disana Jiang?” tanya pak Cheng


“Di atas sungai ada awan gelap yang bergulung gulung dan sedang menuju ke arah sini… untuk saat ini berbeda dengan kemarin pak Cheng”


“Awan itu dari pengawal istana atau hanya dari Fong saja?”


“Ini saya tidak tau pak, karena saya tidak dan belum bisa merasakan energi yang ada di awan itu.. Awan itu masih bergulung gulung di atas sungai dan belum bergerak menuju ke sini”


“Hmm begini mbak Tina dan Agus… kalau yang menyerang itu adalah Fong dan suruhannya.. Saya tidak masalah, karena tidak melibatkan penjaga dan pasukan istana”


“Tetapi  apabila yang melakukan penyerangan itu adalah dari pengawal dan pasukan istana maka berarti kita akan berhadapan dengan hal yang mengerikan”


“Dan saya kira kita tidak akan mampu lagi untuk bertahan dalam keadaan seperti ini… “ kata pak Cheng


“Pak Cheng, saya rasa ada hal lain selain menyerang kita pak.. Pasti ada hal lain atau alasan lain kenapa mereka menyerang kita pak…” kata mas Agus yang wajahnya mulai banjir keringat dan nafas yang ngos ngosan


“Nanti saja kita pikirkan hal itu Gus…yang penting sekarang bagaimana cara mempertahankan diri apabila mereka mulai bisa mendobrak pagar ghaib yang ada di sini”


Ketika aku sedang  mendengarkan penjelasan dari pak Cheng, tiba-tiba ada suara di kepalaku.. Suara yang tidak asing dan aku kenal sebagai suara dari leluhurku mbak Sutinah…


Beberapa kali suara itu berdengung di kepalaku.. Suara yang memanggil namaku


“Pak Cheng tolong diam sejenak pak… ini ada suara di dalam kepala Tina… suara yang memanggil Tina pak…”


“Suara mbah Sutinah…”


“Berarti kita tinggal hotel ini kosong dengan empat orang dungu yang entah sedang  melakukan apa di ruangan utama itu mbak Tina?”


“Iya pak…. Mbah Sutinah menyuruh kita sekarang juga pergi ke tengah hutan… tapi lewat mana pak.. Agar tidak ketahuan empat orang dungu yang sekarang mungkin sedang sibuk dengan mayatnya pak pangat itu?”


“Kita lewat pintu belakang saja mbak Tina” usul mas Agus


“Pak Cheng… pintu belakang yang tembus dengan sungai itu masih bisa dibuka atau tidak?” kata mas Agus panik


“Bisa.. belm diembok Gus…. ayo kita ke sana secepatnya” jawab pak Cheng


Kami berjalan menuju ke ujung halaman belakang… ke sebuah pintu yang tembus dengan bagian tanah bagian belakang yang kemarin aku dan mas Agus masuki.


Pintu yang tembus dengan jalan setapak untuk menuju ke desa sebelah sungai.


Suara di kepalaku ini terus menerus menyuruhku untuk secepatnya menuju ke tengah hutan…


Aku tidak tau kenapa begitu percaya dengan suara yang muncul di kepalaku, kenapa aku tidak curiga bahwa suara itu bisa saja berasal dari Fong yang berusaha memperdaya aku untuk keluar dari area hotel.


Aku yakin suara itu berasal dari mbah Sutinah, karena suara ini menyuruhku untuk menuju ke tengah hutan, dimana tengah hutan itu adalah daerah kekuasaan dari leluhurku.


Pintu belakang sudah dibuka, setelah kami keluar, Jiang menutup pintu itu lagi agar orang-orang dungu itu tidak curiga bahwa kami melarikan diri dari hotel ini.


Dengan berjalan tergesa gesa, aku di depan bersama mas Agus.. kami menembus hutan yang ada di samping  rumah penggergajian yang sekarang menjelma menjadi sebuah hotel yang Indah.


Dalam keadaan gelapnya malam, aku sudah tidak peduli lagi dengan mayat pak Pangat yang bisa saja mengikuti kami setelah mengendus bahwa kami menuju ke tengah hutan.


Aku menuju ke titik dimana aku dan mas Agus biasanya  bertemu dengan mbah Leluhur.

__ADS_1


“Pak Cheng.. Kita diam disini dulu saja. Karena setelah ini keadaan disini akan berubah menjadi halaman rumah mbah Sutinah.. lalu  bagaimana dengan pak Cheng dan Jiang?”


“Tenang saja mbak Tina…meskipun kami juga berasal dari dunia itu, tetapi saat ini kami ada di dalam tubuh dua orang pribumi, dan hanya mbak Tina dan Agus saja yang bisa melihat kami dalam wujud Cheng dan Jiang yang sebenarnya”


“Dan nanti apabila ada di rumah Sutinah.. Wujud kami ya seperti ini.. Tapi nanti Sutinah akan tau siapa kami yang sebenarnya”


Aku dan ketiga temanku menunggu sesuatu yang berubah… dan tidak sampai lima menit, datanglah kabut seperti sebelum sebelumnya..


Seperti malam-malam sebelumnya ketika aku dan mas Agus ke alam ghaib… sekarang kami sudah ada di desa mbah leluhurku.


Keadaan desa ini tidak seperti sebelumnya.. Untuk saat ini keadaan disini sedang hiruk pikuk.. Ramai sekali..Orang-orang sedang berlarian kesana kemari.


Beberapa pemuda berpakaian hitam-hitam dengan ikat kepala semacam udeng sedang berlari menuju ke satu arah yang sama.


“Keadaan disini sepertinya sedang tidak baik mbak… kita ke tempat Sutinah dulu saja” kata Jiang


Kami berjalan cepat menuju ke rumah mbah leluhurku.. Karena aku dan mas Agus sudah pernah beberapa kali kesini, maka kami tidak kesulitan untuk mencari rumah mbah Sutinah.


Pun Jiang juga tau arah rumah mbah Sutinah…


Beberapa saat kemudian kami sudah ada di depan rumah mbah Sutinah.. Disana juga ada mbah Sastro dan beberapa orang tua lainya… mereka sedang berdiri di depan pintu dan kayaknya sedang menunggu seseorang datang.


“Apa yang sedang terjadi dini mbah?” ketika kami sudah ada di depan rumah mbah Sutinah


“Ada serangan dari benteng china itu… mereka mencari kalian berdua nduk Tina dan mas Agus…”


“Kalian akan aman disini… karena pagar ghaib yang ada di rumah penggergajian itu tidak lagi akan runtuh… akibat serangan yang bertubi tubi disini dan di alam kalian”


“Kalau kalian ada disini, kami akan fokus hanya mempertahankan kalian disini, dan pertahanan  di dunia kalian  akan kami biarkan terbuka saja” kata mbah Sutinah


“Tapi  disana ada orang-orang yang mengaku sebagai pemburu hantu mbah… apa yang akan terjadi dengan mereka mbah?”


“Paling-paling mereka akan kesurupan nduk.. Pokoknya kalian tenang saja disini”


“Eh Sutinah… sebenarnya tujuan mereka menyerang desa ini lagi apa, dan siapa mereka itu Nah” tanya Jiang yang merupakan teman mbah Sutinah


“Mereka pengawal istana…. Suruhan pimpinan atas pengaruh dari Fong untuk mencari pembunuh anak mereka.. Tapi serangan ini bersifat diam-diam dengan pasukan khusus yang mengerikan itu” jawab mbah Sutinah


“Penduduk yang ada disana di dalam tembol china itu tidak pernah mengetahui adanya serangan ini, yang penduduk disana tau… anak pimpinan mereka yang cantik itu masih ada…..”


“Yang  menyerang daerah ini adalah pasukan khusus mereka atas dasar dari info teman nduk Tina dan mas Agus yang tertangkap… teman kalian mengkhianati kalian”


“Terus apa yang harus kami lakukan Mbah Sutinah?” tanya Jiang


“Tenang saja Jiang.. Tetap disini saja sementara waktu… hingga mereka yang ada di dunia manusia sudah tau bahwa kalian tidak ada disana..”


“Pemuda dan jawara disini sedang memukul mundur penyerang penyerang khusus itu…mereka tidak akan bisa melawan pemuda dan jawara yang ada disini… selama ini selama bertahun tahun bahkan puluhan tahun mereka tidak bisa menaklukan jawara penduduk disini” kata mbah Sutinah.


“Mbah Sutinah.. Menurut mbah Sutinah.. Teman kami yang sekarang tertangkap itu bagaimana keadaanya?”


“Heheheh nduk.. Ora usah mikir temanmu… mbahmu ini bisa membaca pikiran temanmu ketika mbah mu ini bertemu dengan dia… pada intinya dia punya maksud terselubung dengan mengajak kalian kesini…. Dan untungnya kalian bertemu dengan  Cheng dan Jiang ini” Jawab mbah Sutinah


“Maksud saya gini mbah.. Bagaimana nasib pak Pangat disana?”


“Hehehe begini nduk… kalau Fong ingin tau dimana kalian berada…. Bagaimana cara mengetahuinya?... satu satunya cara adalah dengan mendapatkan informasi dari Pangat kan?”


“Dan satu lagi… mbah… seberapa pentingkah Tina dan mas Agus ini bagi mereka yang ada disana”


“Bukan bagi mereka nduk…. Tapi bagi Fong.. eh apa Jiang belum cerita tentang alasan Fong mengejar koe nduk?”


“Nggak mbah… Jiang dan pak Cheng gak cerita apa-apa pada kami berdua”

__ADS_1


“Nanti biar Jiang yang cerita nduk.. Pokoknya pada intinya Pangat teman kalian ini ingin menyerahkan kalian kepada Fong” jawab mbah Sutinah


__ADS_2